Kabupaten Ciamis | Perum Bulog Kantor Cabang Ciamis mencatat realisasi penyerapan gabah kering panen (GKP) sebesar 140 ribu ton hingga 8 Oktober 2026. Capaian tersebut menunjukkan kemampuan Bulog dalam menyerap hasil panen petani di wilayah kerja Priangan Timur dengan jumlah yang jauh melampaui sasaran yang telah ditetapkan oleh kantor pusat.
Kantor pusat sebelumnya menetapkan target penyerapan sebesar 74 ribu ton. Dengan realisasi mencapai 140 ribu ton, pencapaian Bulog Ciamis berada pada tingkat 187 persen dari target tersebut. Selisih target dan realisasi memperlihatkan bahwa penyerapan gabah petani telah berlangsung secara signifikan di wilayah kerja yang menjadi tanggung jawab kantor cabang tersebut.
Angka 140 ribu ton itu menjadi gambaran kinerja penyerapan GKP petani di kawasan Priangan Timur. Capaian tersebut tidak hanya mencerminkan terpenuhinya target administratif, tetapi juga menunjukkan besarnya volume gabah yang berhasil dihimpun melalui pelaksanaan penyerapan oleh Perum Bulog Kantor Cabang Ciamis. Perbandingan dengan target 74 ribu ton mempertegas posisi realisasi yang berada jauh di atas rencana awal.
Realisasi hingga 8 Oktober 2026 juga memberikan indikasi bahwa penyerapan gabah di wilayah kerja Priangan Timur berjalan dengan hasil yang kuat. Dalam catatan kinerja tersebut, jumlah gabah kering panen yang terserap telah mencapai hampir dua kali lipat target kantor pusat. Dengan demikian, capaian 140 ribu ton menjadi tolok ukur utama kinerja Bulog Ciamis dalam menyerap produksi petani sepanjang periode pelaporan.
Pencapaian penyerapan gabah Bulog Ciamis hingga Oktober 2026 didukung oleh strategi yang menempatkan jaringan pembelian di tingkat produksi sebagai prioritas. Melalui penguatan koordinasi dengan kelompok tani, penggilingan, penyuluh, dan pemerintah daerah, Bulog dapat memperoleh informasi mengenai jadwal panen, volume gabah, serta kebutuhan petani. Langkah tersebut membuat proses pembelian lebih cepat dan membantu mencegah hasil panen menumpuk terlalu lama di tingkat petani.
Strategi ini diterapkan di wilayah Priangan Timur yang mencakup Kabupaten Ciamis, Tasikmalaya, Garut, dan Pangandaran. Kawasan tersebut merupakan salah satu lumbung padi Jawa Barat karena memiliki lahan pertanian luas dan produksi gabah yang melimpah pada setiap musim tanam. Karakteristik wilayah yang tersebar membutuhkan jaringan kerja yang kuat agar pembelian tidak hanya terpusat di sekitar gudang, tetapi dapat menjangkau sentra produksi hingga daerah yang relatif jauh dari fasilitas penyimpanan.
Kesiapan sarana pergudangan juga menjadi faktor penting dalam mendukung penyerapan. Kapasitas gudang, pengaturan keluar-masuk komoditas, serta ketersediaan fasilitas penanganan gabah dipersiapkan untuk menerima pasokan dalam jumlah besar ketika panen raya berlangsung. Dengan perencanaan tersebut, gabah yang telah memenuhi persyaratan kualitas dapat segera ditimbang, diuji, dan disimpan secara tepat, sehingga risiko penurunan mutu dapat ditekan.
Untuk mempercepat pelaksanaan di lapangan, Bulog mengerahkan personel ke berbagai titik produksi. Petugas tidak hanya menjalankan proses pembelian, tetapi juga mendampingi petani dalam memahami standar kualitas dan mekanisme penyerahan hasil panen. Kehadiran langsung ini memperkuat komunikasi sekaligus memastikan gabah terserap pada waktu yang dibutuhkan. Pembelian dengan harga yang layak memberikan kepastian pendapatan bagi petani, menjaga semangat produksi, dan memperkuat peran Priangan Timur sebagai pemasok beras penting bagi Jawa Barat.
Capaian penyerapan gabah hingga Oktober 2026 oleh Bulog Kancab Ciamis menunjukkan bahwa penguatan cadangan pangan tidak berlangsung melalui kerja satu pihak saja. Hasil tersebut ditopang kerja sama Bulog dan kelompok tani, mitra penggilingan, pemerintah daerah, serta penyuluh pertanian di wilayah kerja terkait. Masing-masing unsur berperan memastikan gabah hasil panen dapat dihimpun secara teratur, sesuai ketentuan, dan tersalurkan ke mekanisme pengadaan pemerintah.
Kolaborasi tersebut membantu memperlancar alur penyerapan dari tingkat produsen hingga penyimpanan. Kelompok tani menjadi penghubung penting dalam pengumpulan informasi panen dan kebutuhan pemasaran, sedangkan mitra penggilingan mendukung proses pengolahan gabah agar memenuhi persyaratan pengadaan. Pemerintah daerah dan penyuluh pertanian turut membantu koordinasi, pendampingan, serta penyampaian informasi kepada petani mengenai ketentuan pembelian yang berlaku. Dengan koordinasi yang berjalan, potensi hasil panen yang tidak terserap dapat ditekan.
Gabah yang berhasil dihimpun berkontribusi terhadap penguatan Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Ketersediaan cadangan yang memadai diperlukan untuk mendukung penyaluran beras dalam berbagai situasi, termasuk ketika pasokan perlu diperkuat atau harga mengalami tekanan. Pada saat yang sama, penyerapan di tingkat produsen membantu menjaga kestabilan harga gabah. Kehadiran pembeli melalui skema pengadaan pemerintah dapat mengurangi ketidakpastian yang biasanya dihadapi petani ketika menjual hasil panen.
Bagi petani, penyerapan tersebut juga berkaitan dengan kepastian pasar dan jaminan pemasaran hasil produksi. Harga pembelian mengikuti ketentuan pemerintah, sehingga transaksi memiliki acuan yang lebih jelas dan tidak sepenuhnya bergantung pada perubahan harga harian di lapangan. Kepastian ini dapat membantu petani menyusun perencanaan usaha, mengelola pendapatan, serta mempertahankan kegiatan produksi pada musim berikutnya. Karena itu, kerja sama penyerapan gabah tidak hanya memperbesar cadangan beras pemerintah, tetapi juga mendukung perlindungan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Capaian penyerapan gabah di Ciamis hingga Oktober 2026 menjadi bagian dari kinerja pengadaan pangan Perum Bulog yang mencatat rekor secara nasional. Di daerah tersebut, Bulog telah menyerap sekitar 140 ribu ton gabah. Angka ini menunjukkan peran penting Ciamis sebagai salah satu sentra produksi padi dalam mendukung penguatan cadangan beras pemerintah, sekaligus membantu menjaga kesinambungan penyerapan hasil panen petani.
Secara nasional, pengadaan beras Bulog pada 2026 mencapai 4.115.014 ton setara beras. Realisasi tersebut setara dengan 102,88 persen dari penugasan pemerintah yang ditetapkan sebesar 4 juta ton. Capaian itu memperlihatkan bahwa pelaksanaan penugasan berjalan melampaui target, meskipun proses pengadaan berlangsung di tengah dinamika produksi, perubahan musim, serta kebutuhan stabilisasi pasokan di berbagai wilayah.
Kinerja 2026 juga meningkat signifikan dibandingkan realisasi 2025 yang tercatat sebesar 3.191.969 ton setara beras. Jika dibandingkan dengan rekor sebelumnya pada 2012, yakni sekitar 3,65 juta ton setara beras, capaian terbaru tersebut menempatkan pengadaan Bulog pada tingkat tertinggi sejak lembaga itu berdiri. Peningkatan ini mencerminkan kontribusi berbagai kantor wilayah dan cabang, termasuk Ciamis, dalam mengonsolidasikan pasokan dari petani dan mitra pengadaan.
Rekor tersebut tidak hanya menggambarkan besarnya volume beras yang berhasil dihimpun, tetapi juga memperkuat kapasitas Bulog dalam menjalankan fungsi pelayanan publik. Beras hasil pengadaan dapat menjadi instrumen penting untuk mendukung program pemerintah, menjaga ketersediaan stok, serta merespons kebutuhan masyarakat ketika terjadi tekanan pada pasokan dan harga pangan.
Direktur Utama Perum Bulog Letnan Jenderal TNI (Purn) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan apresiasi kepada seluruh insan Bulog serta para pemangku kepentingan yang telah berkontribusi. Penghargaan itu ditujukan kepada petani, mitra pengadaan, pemerintah daerah, dan pihak lain yang mendukung tercapainya kinerja nasional tersebut.

