Gas Air Mata dari Simulasi Pengendalian Massa Ganggu Kegiatan Belajar Siswa di Cilegon

Gas Air Mata dari Simulasi Pengendalian Massa Ganggu Kegiatan Belajar Siswa di Cilegon

Cilegon | Belasan siswa SMP-SMK Al Hadid di Cilegon terdampak gas air mata ketika Polres Cilegon menggelar latihan pengendalian massa pada Kamis, 8 Oktober 2026, sekitar pukul 10.00 WIB. Latihan tersebut berlangsung di dekat lingkungan sekolah, sementara kegiatan belajar mengajar sedang berjalan di dalam ruang kelas. Asap dari gas air mata kemudian terbawa angin hingga masuk ke sejumlah ruang kelas dan mengganggu kegiatan belajar siswa.

Peristiwa itu terjadi saat para siswa dan guru berada dalam proses pembelajaran. Asap yang masuk ke ruangan membuat kegiatan belajar tidak dapat berlangsung sebagaimana mestinya. Belasan siswa menjadi bagian dari warga sekolah yang terdampak oleh pelaksanaan simulasi tersebut, meskipun latihan diselenggarakan oleh kepolisian di area sekitar sekolah.

Polres Cilegon melaksanakan latihan pengendalian massa sebagai kegiatan simulasi pada pagi hari itu. Lokasi latihan yang berada di dekat SMP-SMK Al Hadid membuat asap gas air mata mencapai ruang belajar ketika proses pendidikan masih berlangsung. Masuknya asap ke dalam kelas menjadi perhatian karena berdampak langsung pada aktivitas siswa di sekolah. Peristiwa ini menempatkan kegiatan pembelajaran dan pelaksanaan latihan pengendalian massa dalam waktu serta lokasi yang berdekatan, sehingga asap yang terbawa angin dapat masuk ke area kelas.

Setelah asap dari simulasi pengendalian massa terbawa angin ke lingkungan sekolah, sejumlah siswa SMP Al-Hadid mulai merasakan gangguan kesehatan. Keluhan yang muncul lain pusing, sesak napas, dan mata pedih akibat paparan asap. Kondisi tersebut mengganggu kegiatan belajar mengajar karena siswa kesulitan berkonsentrasi dan membutuhkan pemeriksaan serta pertolongan medis.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Al-Hadid, Farid Jami'in, menjelaskan bahwa asap mulai dirasakan di area sekolah sekitar pukul 10.00 atau 10.30 WIB. Menurut keterangannya, asap terbawa angin dari kantor kepolisian menuju lingkungan sekolah. Paparan itu kemudian membuat sejumlah siswa merasa pusing. Pihak sekolah memantau kondisi para siswa dan mengupayakan penanganan bagi mereka yang mengalami keluhan lebih berat.

Sedikitnya 10 siswa memperoleh penanganan medis setelah terpapar asap tersebut. Dua siswa dibawa ke RS Hermina untuk mendapatkan perawatan. Sementara itu, delapan siswa lainnya mendapat penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan, yakni RSKM, RS Kurnia, Eka Hospital, dan puskesmas. Sebagian dari delapan siswa tersebut juga menjalani rawat jalan sesuai kondisi masing-masing. Penanganan itu dilakukan untuk memastikan keluhan seperti pusing, sesak napas, dan mata pedih dapat segera diperiksa serta ditangani oleh tenaga kesehatan. Peristiwa tersebut turut menjadi perhatian sekolah karena paparan asap berlangsung saat siswa mengikuti kegiatan belajar, sehingga aktivitas pendidikan di lingkungan SMP Al-Hadid ikut terganggu.

Polres Cilegon mengakui bahwa gas air mata digunakan dalam latihan simulasi pengendalian massa. Penggunaan tersebut dilakukan sebagai bagian dari skenario untuk membubarkan massa aksi dalam kegiatan latihan kepolisian. Namun, pelaksanaan simulasi itu kemudian berdampak pada kegiatan belajar siswa di sekitar lokasi. Gas yang dilepaskan tidak sepenuhnya berada di area latihan, sehingga menimbulkan keluhan dari masyarakat yang berada di dekat tempat tersebut.

Kasi Humas Polres Cilegon AKP Imam Maryono menerangkan bahwa gas air mata terbawa angin ke arah para siswa. Menurut keterangan tersebut, para siswa kemungkinan sedang menonton latihan ketika arah angin membawa gas menuju mereka. Kondisi itu membuat sebagian siswa mengalami rasa perih pada mata. Kepolisian menyampaikan penjelasan tersebut pada Sabtu, 10 Oktober 2026, ketika merespons informasi mengenai dampak simulasi terhadap lingkungan sekitar.

Selain mata yang terasa pedih, muncul pula keluhan sesak napas dari warga dan siswa yang terdampak. Menanggapi situasi itu, Polres Cilegon menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat umum serta para siswa yang mengalami gangguan akibat gas tersebut. Permintaan maaf itu disampaikan sebagai bentuk tanggapan atas ketidaknyamanan yang timbul selama latihan. Kepolisian tetap menjelaskan bahwa gas air mata digunakan dalam konteks simulasi pembubaran massa aksi, sementara dampaknya terhadap siswa terjadi setelah gas terbawa angin ke arah mereka. Pernyataan tersebut tidak mengubah konteks kejadian sebagai penggunaan gas dalam latihan, maupun memastikan bahwa seluruh siswa berada di lokasi untuk menyaksikan simulasi.

Setelah kejadian tersebut, Polres Cilegon menyampaikan bahwa pihaknya telah mendatangi para siswa yang menjadi korban paparan gas air mata dalam kegiatan simulasi pengendalian massa. Kunjungan itu dilakukan untuk mengetahui kondisi para siswa sekaligus menyampaikan perhatian kepolisian terhadap dampak yang muncul setelah kegiatan berlangsung. Perwakilan kepolisian juga mendatangi rumah masing-masing korban untuk menyampaikan permintaan maaf kepada siswa dan keluarga mereka.

Dalam pertemuan dengan para korban dan keluarga, Polres Cilegon menjamin seluruh biaya pengobatan yang diperlukan akibat kejadian tersebut. Jaminan itu mencakup kebutuhan penanganan medis bagi siswa yang terdampak, sesuai dengan keperluan yang disampaikan kepada pihak kepolisian. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab kepolisian setelah penggunaan gas air mata dalam simulasi mengganggu kegiatan belajar di lingkungan sekolah.

Selain menjamin biaya pengobatan, kepolisian juga memberikan bantuan kepada masing-masing pihak yang terdampak. Bantuan tersebut diserahkan kepada para siswa dan pihak lain yang mengalami dampak dari kejadian itu. Polres Cilegon menyatakan bahwa langkah mendatangi korban, meminta maaf, menjamin biaya pengobatan, dan memberikan bantuan dilakukan setelah menerima informasi mengenai siswa yang terdampak oleh kegiatan simulasi pengendalian massa.