Kota Pahlawan Gedung Nasional Indonesia | Eko Suwondo resmi dikukuhkan sebagai Ketua Dewan Pengurus Daerah Masyarakat Tradisi Nusantara (Matra) Kota Surabaya untuk periode 2026–2031. Prosesi pengukuhan berlangsung di Gedung Nasional Indonesia, Jalan Bubutan, Surabaya, pada Sabtu (10/10). Momentum tersebut menandai dimulainya kepengurusan baru Matra Surabaya untuk menjalankan amanah organisasi selama lima tahun ke depan.
Pengukuhan ini menjadi bagian penting dalam keberlanjutan peran Matra di tingkat daerah. Dengan terbentuknya kepengurusan periode 2026–2031, organisasi tersebut memasuki tahap baru dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan kebudayaan di Kota Surabaya. Kepemimpinan Eko Suwondo diharapkan menjadi dasar bagi pelaksanaan amanah organisasi sesuai dengan tujuan Matra.
Rangkaian prosesi pengukuhan turut ditandai dengan pengibaran bendera pataka. Bendera tersebut menjadi simbol organisasi sekaligus bagian dari tata pelaksanaan acara pengukuhan kepengurusan baru. Kehadirannya memperkuat makna seremonial peralihan dan pengesahan kepemimpinan Matra Surabaya untuk masa jabatan lima tahun.
Berlangsungnya pengukuhan di Gedung Nasional Indonesia menegaskan dimulainya masa kerja kepengurusan yang dipimpin Eko Suwondo. Periode 2026–2031 akan menjadi ruang bagi Matra Surabaya untuk melanjutkan amanah sosial dan kebudayaan yang diemban organisasi. Prosesi ini sekaligus menjadi penanda resmi bahwa kepengurusan baru telah dikukuhkan dan siap menjalankan tanggung jawabnya.
Pengesahan kepemimpinan Eko Suwondo sebagai pimpinan Matra Surabaya untuk periode 2026–2031 ditandai dengan pembacaan Surat Keputusan Nomor 21/SK-DPD/DPW Matra Jatim/X/2026. Dokumen tersebut dibacakan oleh Sekretaris DPW Matra Jawa Timur dalam rangkaian acara pengukuhan. Pembacaan surat keputusan menjadi penanda resmi atas mandat organisasi yang diberikan kepada Eko Suwondo untuk memimpin Matra Surabaya selama masa kepengurusan tersebut.
Prosesi pengesahan itu turut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah setempat. Kehadiran unsur Forkopimda memperlihatkan bahwa agenda pengukuhan berlangsung dengan keterlibatan perwakilan berbagai unsur daerah. Dalam kesempatan yang sama, unsur militer juga hadir melalui Kapten Inf. Setiawan Prihartono dari Kodim 0830 Surabaya serta Kol. Mar. Surya Afandi Noviyanto yang mewakili Komandan Pasmar.
Kehadiran para perwakilan tersebut menggambarkan dukungan dan soliditas lintas sektor dalam agenda yang berkaitan dengan Matra Surabaya. Dukungan itu menjadi bagian dari suasana pengesahan mandat kepemimpinan Eko Suwondo, tanpa mengubah kedudukan surat keputusan sebagai dasar resmi pengukuhan. Keterlibatan unsur pemerintahan daerah dan militer juga menunjukkan adanya perhatian bersama terhadap peran organisasi dalam menjaga ketahanan budaya bangsa.
Dengan demikian, pengukuhan periode 2026–2031 berlangsung melalui penetapan mandat yang dibacakan secara resmi serta disaksikan oleh unsur-unsur terkait. Rangkaian tersebut menempatkan kepemimpinan Eko Suwondo dalam konteks organisasi Matra Surabaya, sekaligus memperlihatkan kehadiran dukungan lintas sektor sebagaimana tercermin dari partisipasi jajaran Forkopimda dan perwakilan militer. Informasi itu menjadi gambaran mengenai soliditas yang menyertai proses pengesahan kepemimpinan tersebut.
Eko Suwondo memandang kebudayaan bukan sekadar unsur pelengkap dalam kehidupan kota, melainkan penyangga yang membantu masyarakat menghadapi perubahan sosial. Di tengah ritme masyarakat urban yang cepat, kebudayaan dapat berperan sebagai jangkar moral. Nilai-nilai yang lahir dari tradisi memberi arah ketika warga berhadapan dengan berbagai pilihan, perbedaan kepentingan, dan tantangan kehidupan bersama.
Pandangan tersebut menempatkan tradisi dalam makna yang lebih luas daripada pertunjukan atau perayaan. Eko menegaskan, “Tradisi tidak hanya menjadi tontonan seni, tetapi juga panduan etika dalam kehidupan sehari-hari.” Pernyataan itu menunjukkan bahwa kebudayaan memiliki hubungan langsung dengan perilaku warga. Tradisi dapat mengajarkan penghormatan, tanggung jawab, kebersamaan, serta cara membangun hubungan yang selaras di tengah keberagaman masyarakat.
Bagi Eko, pelestarian kebudayaan juga berkaitan erat dengan upaya menjaga identitas kultural Surabaya. Kota ini memiliki memori sejarah panjang tentang perjuangan bangsa, sehingga berbagai warisan budaya yang berkembang di dalamnya tidak dapat dipisahkan dari pengalaman kolektif masyarakat. Ingatan mengenai perjuangan tersebut menjadi bagian penting dari karakter Surabaya dan perlu dirawat agar tetap dipahami oleh generasi berikutnya.
Identitas itu semakin penting karena Surabaya dihuni oleh masyarakat yang beragam. Perbedaan latar belakang, asal-usul, dan pengalaman sosial seharusnya tidak menjadi jarak, melainkan kekuatan yang memperkaya kehidupan kota. Dalam pandangan Eko, kebudayaan dapat menjadi ruang bersama untuk mempertemukan keragaman tersebut. Melalui pemahaman terhadap sejarah dan tradisi, warga dapat merawat rasa memiliki terhadap kota sekaligus menghormati identitas sesama.
Dengan demikian, kebudayaan ditempatkan sebagai bagian dari praktik kehidupan sehari-hari, bukan hanya agenda seremonial. Menjaga tradisi berarti merawat nilai, ingatan, dan etika yang membentuk masyarakat Surabaya. Perspektif ini menegaskan bahwa kemajuan kota perlu berjalan seiring dengan keteguhan identitas serta kesadaran sejarah warganya.
Dalam masa kepemimpinan Eko Suwondo untuk periode 2026–2031, Matra Surabaya menyiapkan tiga agenda utama yang diarahkan pada penguatan kebudayaan secara inklusif dan berkelanjutan. Agenda tersebut tidak hanya berfokus pada kegiatan seremonial, tetapi juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga, memahami, dan mengembangkan nilai budaya di lingkungan masing-masing.
Agenda pertama adalah membangun kesadaran kultural di tingkat akar rumput melalui pendekatan yang membumi. Matra Surabaya akan berupaya menghadirkan kebudayaan dalam ruang kehidupan sehari-hari, sehingga masyarakat dapat mengenali tradisi, kesenian, serta nilai lokal tanpa merasa berjarak dengan aktivitas budaya. Pendekatan ini dapat dilakukan melalui diskusi warga, kegiatan komunitas, pertunjukan sederhana, dan pendampingan yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat. Dengan cara tersebut, kesadaran budaya diharapkan tumbuh dari pengalaman langsung, bukan sekadar pemahaman teoritis.
Agenda kedua berkaitan dengan upaya merangkul Pemerintah Kota Surabaya untuk memperluas ruang ekspresi bagi seniman lokal. Ruang publik, fasilitas komunitas, dan berbagai agenda kota diharapkan dapat dimanfaatkan secara lebih terbuka untuk menampilkan karya seni. Kolaborasi dengan pemerintah juga penting untuk menciptakan ekosistem yang memberi kesempatan kepada seniman dari beragam latar belakang untuk berkarya, berinteraksi dengan warga, dan memperkenalkan potensi kebudayaan Surabaya kepada khalayak yang lebih luas.
Agenda ketiga ialah mendorong pendidikan budi pekerti berbasis kearifan lokal di berbagai ruang publik. Nilai gotong royong, penghormatan terhadap sesama, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan dapat dikenalkan melalui kegiatan budaya, pendidikan masyarakat, serta program komunitas. Matra Surabaya bertekad menerjemahkan visi kebudayaan ke dalam tindakan nyata melalui kolaborasi budayawan, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat.

