Kota Yogyakarta | Pemerintah Kota Yogyakarta mengoptimalkan Lomba Mural Pelajar 2026 sebagai salah satu upaya untuk mengikis aksi vandalisme di ruang publik. Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah bagi pelajar untuk menyalurkan kreativitas, tetapi juga diarahkan untuk memperbaiki tampilan visual pada sejumlah sudut kota yang memiliki dinding kosong atau kurang terawat.
Melalui lomba tersebut, ruang-ruang yang sebelumnya berpotensi menjadi sasaran coretan liar dapat dialihkan menjadi media edukasi dan ekspresi seni. Pemerintah kota mendorong peserta menghadirkan karya mural yang memiliki pesan positif, relevan dengan kehidupan pelajar, serta mampu memperkuat kepedulian terhadap kebersihan dan keindahan lingkungan perkotaan.
Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta Budi Santosa Asrori menjelaskan bahwa dinding kosong dapat dimanfaatkan sebagai kanvas seni urban. Pernyataan itu disampaikan Budi di Yogyakarta pada saat memberikan keterangan mengenai pelaksanaan Lomba Mural Pelajar 2026. “Dinding kosong ini kita manfaatkan untuk menjadi kanvas seni urban, sehingga bisa menghasilkan karya yang menarik, mencegah vandalisme, sekaligus memperindah lanskap Kota Yogyakarta,” kata Budi.
Pemanfaatan dinding kosong melalui mural menempatkan pelajar sebagai bagian dari upaya penataan ruang publik. Alih-alih membiarkan bidang tembok tampil tanpa fungsi atau dipenuhi coretan yang tidak terarah, pemerintah menyediakan ruang yang dapat dikelola secara kreatif dan bertanggung jawab. Karya para peserta diharapkan memperkaya suasana visual kota sekaligus menyampaikan pesan yang mudah diterima masyarakat.
Konsep tersebut memperlihatkan bahwa penanganan vandalisme dapat dilakukan melalui pendekatan yang melibatkan generasi muda. Lomba mural memberikan kesempatan kepada pelajar untuk berkarya dalam ruang yang terarah, sementara hasilnya dapat dinikmati warga dan pengguna jalan. Dengan demikian, kegiatan ini menghubungkan pembinaan kreativitas, edukasi publik, dan penataan lingkungan dalam satu program Pemerintah Kota Yogyakarta.
Lomba Mural Pelajar Yogyakarta diselenggarakan pada 9 dan 10 Oktober 2026 sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-270 Kota Yogyakarta. Penyelenggaraan pada dua hari tersebut menempatkan kegiatan mural sebagai salah satu agenda yang hadir dalam momentum penting bagi kota. Pelajar menjadi peserta utama dalam kompetisi seni yang berlangsung di ruang publik, sehingga aktivitas berkarya dapat disaksikan dalam lingkungan perkotaan.
Pelaksanaan lomba di ruang publik mempertemukan pelajar dalam suasana kompetisi yang terbuka dan berhubungan langsung dengan kehidupan kota. Mereka tidak berkarya di ruang yang terpisah dari masyarakat, melainkan memanfaatkan bidang tembok yang tersedia sebagai tempat untuk menuangkan gagasan melalui seni mural. Kehadiran para peserta sekaligus memperlihatkan bahwa ruang kota dapat menjadi bagian dari kegiatan kreatif pelajar.
Kegiatan ini juga menunjukkan dukungan pemerintah terhadap pemanfaatan tembok kota secara kreatif. Dinding yang sebelumnya kosong dapat digunakan sebagai media untuk menghasilkan karya seni melalui proses yang terarah dan melibatkan pelajar. Dukungan tersebut menegaskan adanya ruang bagi kegiatan seni di lingkungan perkotaan, terutama ketika karya dibuat dalam kerangka kompetisi dan menjadi bagian dari peringatan hari ulang tahun kota.
Dengan demikian, Lomba Mural Pelajar berlangsung dalam konteks perayaan HUT ke-270 Kota Yogyakarta sekaligus menghadirkan kompetisi seni di ruang publik. Jadwal pelaksanaan pada 9 dan 10 Oktober 2026 menjadi penanda bahwa kegiatan ini terintegrasi dengan agenda peringatan kota. Pertemuan para pelajar dan penggunaan tembok kota secara kreatif memperlihatkan keterkaitan kegiatan seni, ruang publik, serta dukungan pemerintah dalam penyelenggaraannya.
Kompetisi mural pelajar di Yogyakarta diikuti oleh puluhan tim dari berbagai jenjang pendidikan. Berdasarkan data yang tersedia, terdapat 74 tim peserta yang ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Seluruh peserta membawa gagasan kreatif untuk mengolah dinding kosong di sejumlah lokasi kota menjadi karya visual yang memiliki pesan edukatif, khususnya mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan menolak tindakan vandalisme.
Peserta terbagi ke dalam dua kategori utama. Kategori SMP/MTs diikuti 50 tim yang berasal dari 36 sekolah. Perwakilan pada jenjang ini mendapatkan ruang untuk menyampaikan pandangan mereka melalui ilustrasi, simbol, warna, dan pesan yang relevan dengan kehidupan pelajar. Keterlibatan sekolah dari berbagai wilayah menunjukkan bahwa kegiatan tersebut menjangkau komunitas pendidikan yang cukup beragam.
Sementara itu, kategori SMA/SMK/MA diikuti 25 tim dari 12 sekolah. Para peserta tingkat menengah atas menuangkan ide kreatif melalui mural yang dikerjakan secara berkelompok di sejumlah tembok kota. Karya-karya itu tidak hanya menampilkan kemampuan artistik, tetapi juga menjadi sarana untuk menyampaikan ajakan merawat fasilitas publik serta menggunakan ruang kota secara bertanggung jawab.
Data partisipasi tersebut disajikan sesuai sumber, termasuk penyebutan jumlah 74 tim dan rincian 50 tim pada kategori SMP/MTs serta 25 tim pada kategori SMA/SMK/MA. Dengan demikian, angka keseluruhan dan perincian kategori ditampilkan sebagaimana tercatat tanpa koreksi maupun asumsi tambahan. Kehadiran para pelajar dalam lomba ini memperlihatkan bahwa dinding kota dapat dimanfaatkan sebagai media komunikasi publik yang positif. Melalui proses merancang dan melukis bersama, peserta berkesempatan mengembangkan kreativitas, kerja sama, serta kepedulian terhadap kebersihan dan estetika lingkungan perkotaan.
Peserta lomba mural pelajar Yogyakarta memvisualisasikan gagasan mereka di sepanjang tembok jalan protokol yang berada pada sejumlah lokasi strategis Kota Yogyakarta. Dinding-dinding tersebut tidak lagi dipandang sebagai bidang kosong, melainkan ruang publik yang dapat menampung pesan edukatif, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan. Karya para pelajar hadir di kawasan SMP Negeri 1, SMP Negeri 8, SMP Negeri 10, MA Negeri 1 Yogyakarta, serta area Makam Terban. Pemilihan lokasi itu membuat mural lebih mudah terlihat oleh warga, pengguna jalan, dan komunitas sekolah yang melintas setiap hari.
Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Yogyakarta, Hasyim, menyampaikan bahwa lomba tersebut merupakan bentuk dukungan nyata pemerintah daerah untuk menggali potensi seni siswa di luar jam pelajaran formal. Menurutnya, kegiatan semacam ini memberi kesempatan kepada pelajar untuk mengembangkan kemampuan, menyampaikan gagasan, serta bekerja secara kreatif dalam ruang yang terbuka bagi masyarakat. Proses pembuatan mural juga mendorong keterlibatan siswa dalam menjaga lingkungan sekolah dan kawasan perkotaan melalui cara yang positif.
Keberadaan karya di berbagai ruas strategis memperlihatkan hubungan ekspresi seni pelajar dan pemanfaatan ruang kosong di kota. Tembok yang sebelumnya berpotensi menjadi sasaran coretan dapat diisi dengan visual yang lebih terarah, komunikatif, dan memiliki nilai edukasi. Dengan demikian, mural menjadi bagian dari upaya memperindah Kota Yogyakarta sekaligus mengurangi vandalisme, sebagaimana tujuan kegiatan yang disampaikan oleh pihak terkait. Pesan yang disajikan melalui karya pelajar pun dapat terus dinikmati dan dibaca oleh masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.

