Evakuasi Udara Pembalap Moto2 Usai Kecelakaan di Sirkuit Mandalika

Evakuasi Udara Pembalap Moto2 Usai Kecelakaan di Sirkuit Mandalika

Mataram | Seorang pembalap Moto2 asal Spanyol mengalami kecelakaan saat mengikuti sesi kualifikasi di Sirkuit Pertamina Mandalika, Nusa Tenggara Barat, pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Peristiwa tersebut menjadi perhatian dalam rangkaian kegiatan balap karena terjadi ketika para peserta sedang menjalani salah satu tahapan penting sebelum perlombaan.

Setelah insiden itu, pembalap tersebut dievakuasi melalui jalur udara dari kawasan sirkuit. Evakuasi ini merupakan bagian dari penanganan setelah kecelakaan dan dilakukan untuk mendukung proses pemeriksaan serta penanganan lebih lanjut. Informasi awal yang tersedia belum memuat identitas pembalap secara terperinci, urutan kejadian, maupun penyebab kecelakaan.

Kecelakaan itu berlangsung dalam sesi kualifikasi, bukan pada saat balapan utama. Sesi tersebut biasanya menjadi kesempatan bagi setiap pembalap untuk mencatat waktu terbaik dan menentukan posisi awal pada perlombaan, sehingga insiden yang terjadi di dalamnya dapat memengaruhi jalannya agenda kompetisi. Namun, keterangan mengenai kondisi lintasan, faktor yang mendahului kecelakaan, serta tingkat cedera pembalap belum tercantum dalam informasi yang tersedia. Karena itu, perkembangan mengenai penanganan pembalap dan laporan resmi terkait kejadian tersebut masih menunggu keterangan dari pihak berwenang atau penyelenggara. Evakuasi udara dari Sirkuit Pertamina Mandalika menandai bahwa insiden tersebut ditangani melalui prosedur lanjutan, sementara rincian lain mengenai kecelakaan akan bergantung pada hasil pemeriksaan dan pembaruan informasi berikutnya.

Setelah kecelakaan yang terjadi di Sirkuit Mandalika, tim medis di lokasi segera melakukan penanganan awal terhadap pembalap Moto2 yang terlibat. Pemeriksaan dan pemantauan dilakukan sebagai bagian dari prosedur keselamatan untuk menilai langkah perawatan yang diperlukan setelah insiden di lintasan. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, tim medis merekomendasikan agar pembalap memperoleh penanganan lebih lanjut di rumah sakit rujukan.

Rekomendasi itu menjadi pertimbangan utama dalam menentukan proses evakuasi. Rumah sakit rujukan dipandang memiliki fasilitas dan tenaga medis yang sesuai untuk melanjutkan pemeriksaan serta memberikan perawatan berdasarkan kebutuhan pasien. Keputusan tersebut bukan semata-mata tindakan administratif, melainkan bagian dari protokol medis yang diterapkan ketika seorang pembalap memerlukan pengawasan atau penanganan lanjutan di luar fasilitas kesehatan yang tersedia di area sirkuit.

Atas dasar rekomendasi medis tersebut, pembalap kemudian dievakuasi melalui jalur udara. Penggunaan transportasi udara memungkinkan proses pemindahan menuju fasilitas rujukan dilakukan secara terencana dan efisien. Selama proses tersebut, aspek keselamatan dan kebutuhan pemantauan medis tetap menjadi perhatian utama. Evakuasi dilakukan setelah koordinasi tim medis di sirkuit, pihak penyelenggara, serta unsur terkait lainnya.

Informasi mengenai rekomendasi perawatan lanjutan dan evakuasi udara menunjukkan bahwa langkah yang diambil mengikuti penilaian tenaga medis di lokasi. Namun, sumber yang tersedia tidak menjelaskan secara spesifik jenis cedera, tingkat keparahan, maupun kondisi kesehatan pembalap setelah kecelakaan. Karena itu, keterangan mengenai keadaan pembalap sebaiknya merujuk pada pembaruan resmi dari tim, rumah sakit, atau pihak penyelenggara. Langkah ini penting untuk memastikan informasi yang disampaikan tetap akurat dan tidak menimbulkan kesimpulan medis yang belum dikonfirmasi.

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) berperan dalam proses evakuasi udara pembalap Moto2 yang mengalami kecelakaan di Sirkuit Mandalika. Lembaga tersebut mengerahkan sumber daya dan personel untuk memastikan korban dapat segera dipindahkan dari area medis di dalam kompleks sirkuit menuju fasilitas kesehatan yang memiliki kemampuan penanganan lebih lanjut. Evakuasi dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pembalap, akses menuju rumah sakit, serta kebutuhan untuk mempercepat penanganan medis.

Kepala Kantor SAR Mataram, Muhamad Hariyadi, menyampaikan bahwa evakuasi awal menggunakan helikopter Dauphin HR-3601 milik Basarnas. Helikopter tersebut menjadi sarana transportasi utama untuk membawa pembalap dari lokasi kejadian ke rumah sakit rujukan. Penggunaan jalur udara dinilai membantu memangkas waktu perjalanan, terutama ketika penanganan membutuhkan kecepatan dan koordinasi yang terukur.

Menurut keterangan Muhamad Hariyadi, pembalap diterbangkan dari helipad Medical Center Sirkuit Mandalika menuju RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Proses ini menunjukkan adanya koordinasi tim medis sirkuit, Basarnas, dan pihak rumah sakit dalam menangani situasi darurat setelah kecelakaan. Sebelum penerbangan dilakukan, korban berada di Medical Center untuk memperoleh penanganan awal dan persiapan medis yang diperlukan selama proses pemindahan.

Informasi tersebut disampaikan oleh Muhamad Hariyadi pada Minggu, 11 Oktober 2026. Keterangan mengenai penggunaan helikopter Dauphin HR-3601 dan rute evakuasi itu menjadi bagian penting dari penjelasan terkait respons darurat di Sirkuit Mandalika. Basarnas, melalui Kantor SAR Mataram, menjalankan fungsi pencarian dan pertolongan dengan mendukung pemindahan korban secara cepat, terkoordinasi, dan sesuai kebutuhan operasional di lapangan.

Proses evakuasi udara pembalap Moto2 setelah kecelakaan di Sirkuit Mandalika berlangsung dalam waktu yang relatif singkat. Berdasarkan catatan waktu yang tersedia, helikopter lepas landas dari helipad Medical Center Sirkuit Mandalika pada pukul 11.09 WITA. Keberangkatan tersebut menandai dimulainya perjalanan menuju RSUD Provinsi NTB untuk memperoleh penanganan medis lebih lanjut.

Helikopter kemudian mendarat di RSUD Provinsi NTB pada pukul 11.24 WITA. Selisih waktu lepas landas dan waktu pendaratan menunjukkan bahwa penerbangan berlangsung selama 15 menit. Rangkaian waktu tersebut memberikan gambaran jelas mengenai perpindahan pembalap dari fasilitas medis di area sirkuit menuju rumah sakit rujukan di tingkat provinsi.

Setibanya di RSUD Provinsi NTB, pembalap langsung menerima penanganan medis intensif. Tim dokter rumah sakit memberikan perawatan dengan dukungan personel Kantor SAR Mataram. Penanganan dilakukan setelah pembalap tiba melalui jalur evakuasi udara, sehingga proses medis dapat segera dilanjutkan di fasilitas yang dituju.

Kronologi ini mencakup tiga tahap utama, yaitu keberangkatan dari helipad Medical Center Sirkuit Mandalika, penerbangan selama 15 menit, dan kedatangan di RSUD Provinsi NTB. Informasi waktu tersebut juga menunjukkan kesinambungan koordinasi fasilitas medis di sirkuit, layanan evakuasi udara, rumah sakit, serta personel Kantor SAR Mataram dalam mendukung penanganan pembalap.

Setelah mendapatkan penanganan medis intensif di RSUD Provinsi NTB, pembalap kemudian kembali ke Sirkuit Mandalika.