Panggung “Kebun Hantu” Menggambarkan Tubuh dan Memori di Bawah Kendali Algoritma

Panggung “Kebun Hantu” Menggambarkan Tubuh dan Memori di Bawah Kendali Algoritma

Jakarta | Teater kontemporer “Kebun Hantu” dipentaskan di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada Senin malam. Pertunjukan ini mengangkat dampak algoritma platform digital terhadap ruang intim, tubuh, dan memori manusia modern. Melalui bahasa panggung, “Kebun Hantu” menghadirkan refleksi mengenai kehidupan masyarakat yang semakin terikat pada gawai serta sistem digital yang mengatur cara manusia berhubungan dengan dunia di sekitarnya.

Pementasan tersebut menempatkan tubuh sebagai salah satu ruang yang mengalami perubahan ketika aktivitas sehari-hari berlangsung di bawah pengaruh algoritma. Gerak, kehadiran, dan pengalaman personal dipertemukan dengan mekanisme platform yang bekerja melalui data, pilihan, dan pengulangan. Dalam kerangka itu, ruang intim tidak lagi sepenuhnya terpisah dari teknologi digital. Percakapan, perhatian, dan pengalaman yang semula berlangsung secara personal dapat tersusun melalui perangkat yang selalu berada dekat dengan tubuh.

Dengan menempatkan keterikatan pada gawai sebagai fokus, pertunjukan ini menggambarkan keseharian yang dibentuk oleh layar dan jaringan digital. Kehadiran teknologi tidak hanya terlihat dalam penggunaan perangkat, tetapi juga dalam cara manusia mengalami ruang, mengingat peristiwa, serta memaknai kedekatan. Melalui pementasan tersebut, tubuh, ruang intim, dan memori dipertemukan dalam gambaran kehidupan yang berada di bawah kendali algoritma.

Bait-bait puitis dalam pertunjukan “Kebun Hantu” tidak hadir semata-mata sebagai hiasan bahasa. Setiap larik dipenuhi jargon siber, istilah pemrograman, serta ungkapan yang mengingatkan penonton pada antarmuka aplikasi dan arus data. Bahasa tersebut membentuk suasana panggung yang asing sekaligus akrab, sebab ia meniru cara perangkat digital berbicara kepada penggunanya. Kalimat-kalimat puitis itu terdengar seperti perintah, notifikasi, atau hasil pencarian, tetapi juga menyimpan kegelisahan mengenai manusia yang berusaha memahami dirinya melalui sistem teknologi.

Aktor Badri memandang dunia digital sebagai ruang yang membuat penggunanya semakin diarahkan oleh algoritma. Dalam pandangannya, algoritma seolah-olah memahami segala hal: kebiasaan, pilihan, kebutuhan, bahkan emosi manusia. Perasaan dipetakan menjadi data, sementara keputusan yang tampak personal perlahan dipengaruhi oleh rekomendasi dan pola yang bekerja di balik layar. Gagasan ini diterjemahkan ke dalam dialog yang berulang, seakan-akan tokoh tidak lagi berbicara berdasarkan kehendaknya sendiri. Mereka hanya mengulang bahasa yang telah disediakan oleh perangkat dan sistem yang mengatur perhatian.

Repetisi tersebut terlihat semakin kuat melalui adegan yang menyerupai patung. Tubuh para pemain berhenti, kaku, dan kehilangan keluwesan, sementara dialog atau gerak tertentu terus diulang. Gambaran itu menunjukkan orang-orang yang perlahan kehilangan hubungan dengan tubuh dan identitasnya sendiri. Mereka hadir secara fisik, tetapi kesadaran dan ingatan seolah tertinggal di dalam layar. Di sinilah tema ruang intim, tubuh, dan memori saling bertaut: ruang pribadi tidak lagi sepenuhnya aman ketika gawai ikut mengatur ritme kehidupan. Ketergantungan terhadap perangkat digital menjadikan manusia terjebak dalam siklus penggunaan, pengulangan, dan pengawasan. “Kebun Hantu” kemudian memperlihatkan bahwa hilangnya identitas tidak selalu berlangsung secara dramatis; ia dapat muncul melalui kebiasaan kecil ketika seseorang menyerahkan ingatan, pilihan, dan perhatian kepada mesin.

Menurut Badri, latar belakang psikologis serta trauma fisik para pemeran diolah menjadi bagian penting dari naskah. Pengalaman tersebut tidak sekadar dicantumkan sebagai cerita biografis, tetapi diterjemahkan ke dalam bahasa panggung melalui gestur, suara, ritme, keheningan, dan hubungan antartubuh. Proses ini membuat tubuh para pemain berfungsi sebagai sumber material artistik sekaligus ruang penyimpanan pengalaman. Para pemeran yang tercantum dalam sumber ialah Bambang Wahyudin, Parulian, Marina Novianti, dan Yuli Goplumb.

Eksplorasi itu kemudian melahirkan refleksi mengenai “arsip tubuh”, yakni kumpulan jejak pengalaman yang tersimpan dalam gerak, ingatan, luka, dan kebiasaan tubuh. Namun, arsip tersebut digambarkan gagal menjadi dirinya sendiri. Kegagalan itu membuka pertanyaan tentang identitas, ingatan, serta kemungkinan tubuh untuk mengendalikan atau justru dikendalikan oleh sistem di luar dirinya. Di panggung, persoalan tersebut tidak disampaikan melalui penjelasan tunggal, melainkan melalui susunan adegan dan tindakan yang memungkinkan penonton menafsirkan hubungan tubuh dan memori.

Penciptaan pertunjukan berlangsung sekitar 10 bulan, sejak tahap reading hingga terbentuk menjadi karya yang siap dipentaskan. Rentang persiapan yang panjang memberi ruang bagi pengembangan materi, pengujian bentuk, dan pematangan hubungan antarpemeran. Hasilnya adalah pertunjukan berdurasi lebih dari satu jam, atau sekitar 70 menit. Badri berharap penonton tidak hanya menyaksikan rangkaian adegan, tetapi juga membawa pulang sesuatu yang dapat dicerna atau dipikirkan setelah pertunjukan berakhir.

Setelah rangkaian pementasan sebelumnya, “Kebun Hantu” dijadwalkan kembali hadir untuk memberi kesempatan kepada masyarakat menyaksikan karya yang mempertemukan gagasan tentang tubuh, memori, dan pengaruh algoritma. Pementasan lanjutan ini menjadi bagian dari keberlangsungan program artistik yang mengajak penonton berhadapan dengan pengalaman panggung secara langsung, sekaligus menelusuri cara teknologi memengaruhi cara manusia mengingat, merasakan, dan memahami dirinya.

Pertunjukan tersebut merupakan hasil kolaborasi Kantor Teater dan Trippicandid. Kerja sama kedua pihak ini menghadirkan “Kebun Hantu” sebagai karya yang tidak hanya menawarkan pengalaman pertunjukan, tetapi juga membuka ruang refleksi mengenai hubungan tubuh manusia, rekaman ingatan, serta sistem digital yang semakin hadir dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pementasan berikutnya, penonton kembali memiliki ruang untuk mengikuti proses artistik yang menggabungkan isu sosial dan perkembangan teknologi dalam satu pengalaman teatrikal.

Baca juga: Dedy Luqman Hakim: “Viralitas Boleh Menjadi Alarm, Tetapi Palu Hakim Tidak Boleh Digerakkan Algoritma” | Harmoni dari Desa Leran Kalitidu Bojonegoro: Dusun Sido Kumpul Menuju Panggung Nasional KASAD Award 2026