Jakarta | Penanganan kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, difokuskan pada tiga pekerjaan utama: memadamkan api, membuka akses jalan, serta membangun sumur bor untuk mendukung ketersediaan air. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan fokus operasi tersebut di Jakarta pada Jumat, 16 Oktober 2026. Ketiga langkah itu menjadi bagian dari upaya menangani kebakaran di kawasan taman nasional.
Pemadaman api menjadi pekerjaan yang secara langsung diarahkan untuk menangani titik kebakaran. Dalam operasi ini, petugas berupaya memadamkan api sebagai salah satu fokus utama. Sementara itu, pembukaan akses jalan mendukung pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Akses yang dibuka dapat membantu memperlancar pergerakan petugas dan kebutuhan operasi menuju lokasi yang perlu ditangani. Karena itu, pekerjaan membuka jalan ditempatkan sebagai bagian penting dalam rangkaian penanganan, berdampingan dengan upaya pemadaman.
Fokus ketiga adalah pembangunan sumur bor. Langkah ini dimaksudkan untuk mendukung ketersediaan air, yang diperlukan dalam kegiatan penanganan kebakaran. Sumur bor menjadi salah satu upaya untuk menunjang kebutuhan air bagi operasi pemadaman. Dengan demikian, penyediaan akses dan dukungan air melengkapi pekerjaan inti berupa pemadaman api. Ketiga fokus tersebut mencakup penanganan langsung terhadap api sekaligus dukungan operasional yang dibutuhkan di kawasan.
Pernyataan Menteri Kehutanan itu menegaskan bahwa operasi di Taman Nasional Tanjung Puting tidak hanya diarahkan pada pemadaman. Pembukaan akses jalan dan pembangunan sumur bor juga termasuk dalam prioritas yang disampaikan. Ketiganya merupakan rangkaian pekerjaan yang saling menunjang: pemadaman menjadi sasaran penanganan, akses jalan mendukung pergerakan operasi, dan sumur bor menopang ketersediaan air. Fokus tersebut menjadi gambaran langkah yang ditempuh untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di kawasan konservasi itu. Tidak ada rincian lain yang disampaikan dalam keterangan tersebut mengenai penyebab kebakaran maupun dampaknya, sehingga perhatian tetap pada tiga pekerjaan utama yang dinyatakan menteri.
Petugas yang menangani kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting dibagi ke dalam tiga kelompok dengan tugas berbeda. Kelompok pertama membuka jalan menuju area terdampak, kelompok kedua membangun sumur bor sebagai sumber air, sedangkan kelompok ketiga berfokus memadamkan api. Pembagian tersebut membuat pekerjaan lapangan memiliki sasaran yang jelas, terutama ketika akses menuju titik kebakaran terbatas dan kebutuhan air harus dipenuhi di lokasi. Setiap kelompok menjalankan peran yang saling berkaitan, bukan bekerja secara terpisah. Jalur yang dibuka membantu petugas bergerak, sementara sumur bor mendukung ketersediaan air untuk operasi pemadaman. Dengan pengaturan ini, tenaga dan kegiatan dapat diarahkan sesuai kebutuhan penanganan di lapangan.
Menurut Raja Juli, pembagian tugas itu dimaksudkan untuk mempercepat penanganan kebakaran sekaligus memastikan petugas dapat menjangkau lokasi dan memperoleh sumber air. Akses menjadi kebutuhan awal karena personel dan peralatan harus dapat dibawa mendekati area yang terbakar. Pekerjaan membuka jalan membantu mengurangi hambatan perjalanan, sehingga kelompok pemadam dapat bergerak menuju sasaran. Namun, jangkauan saja tidak cukup apabila pasokan air sulit diperoleh. Karena itu, pembangunan sumur bor menjadi bagian dari upaya menyediakan sumber air lebih dekat dengan lokasi kerja. Kedua kebutuhan tersebut ditangani bersamaan melalui kelompok yang memiliki tanggung jawab khusus, sementara upaya pemadaman berlangsung sebagai fokus operasional lainnya.
Dalam praktiknya, akses, pasokan air, dan pemadaman saling menunjang. Jalan yang dapat dilalui memberi ruang bagi petugas untuk membawa perlengkapan dan mencapai titik kerja; sumber air memberi dukungan bagi kegiatan pemadaman; dan kelompok pemadam menggunakan dukungan tersebut untuk menangani api. Jika salah satu unsur belum tersedia, pekerjaan kelompok lain dapat menghadapi kendala, misalnya perjalanan yang terhambat atau kebutuhan air yang belum terpenuhi. Pembagian menjadi tiga kelompok memungkinkan hambatan akses dan air ditangani sebagai bagian dari operasi, bukan sekadar persoalan tambahan. Koordinasi di kelompok diperlukan agar lokasi yang dijangkau, sumber air yang disiapkan, dan kegiatan pemadaman dapat saling terhubung selama penanganan berlangsung di kawasan taman nasional.
Tim pembuka jalan telah membuka sekitar 1,8 kilometer jalan setapak menuju Shelter Pesalat sebagai salah satu langkah awal untuk mendukung penanganan kebakaran. Pembukaan akses ini diperlukan agar personel dapat mencapai area kerja dengan lebih mudah, sekaligus membawa peralatan dan pasokan air yang dibutuhkan di sekitar titik kebakaran. Kondisi jalur menuju lokasi menjadi pertimbangan penting, karena kelancaran mobilisasi berpengaruh pada kecepatan tim dalam menjalankan upaya pemadaman dan pemantauan.
Jalan setapak tersebut membantu menghubungkan area yang sebelumnya lebih sulit dijangkau dengan Shelter Pesalat. Dengan akses yang tersedia, tim dapat merencanakan pergerakan secara lebih teratur, termasuk pengangkutan perlengkapan dan kebutuhan operasional. Ketersediaan jalur juga mendukung koordinasi antarpersonel, terutama ketika peralatan perlu dipindahkan atau pasokan air harus diarahkan ke lokasi yang membutuhkan. Pembukaan sekitar 1,8 kilometer ini menjadi bagian dari persiapan lapangan, bukan hanya pekerjaan untuk membuka lintasan.
Selain menyiapkan akses, tim juga mengidentifikasi titik-titik sumber air yang dapat digunakan untuk mendukung penanganan kebakaran. Penentuan lokasi sumber air dilakukan bersama dengan perencanaan penempatan flexible tank atau portable tank, sehingga air dapat ditampung dan disiapkan lebih dekat dengan jalur operasi. Tim turut memetakan jalur suplai air serta lokasi yang direncanakan untuk pembangunan sumur bor. Seluruh unsur tersebut perlu dipertimbangkan sebagai satu rangkaian agar pengambilan, penampungan, dan penyaluran air dapat berlangsung secara terarah.
Sumber air direncanakan berada di beberapa lokasi, dengan masing-masing titik diarahkan untuk menunjang kebutuhan menuju Shelter Pesalat. Pengaturan ini memungkinkan tim menilai pilihan pasokan berdasarkan kondisi medan dan jarak ke area penanganan. Penentuan titik, jalur, serta lokasi tangki dan sumur bor juga membantu mengantisipasi kebutuhan air selama kegiatan berlangsung. Dengan akses setapak dan rencana suplai yang disiapkan secara terpadu, mobilisasi personel, peralatan, dan air diharapkan lebih tertata. Persiapan tersebut menjadi dukungan penting bagi kerja lapangan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, sembari tim menyesuaikan pelaksanaan dengan keadaan aktual dan kebutuhan di sekitar Shelter Pesalat.
Raja Juli Antoni bersama jajaran terkait turun langsung meninjau penentuan lokasi sarana air untuk mendukung penanganan kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting. Peninjauan dilakukan dengan memperhatikan akses menuju titik yang memerlukan dukungan air serta kebutuhan teknis di lapangan. Dari Tanjung Harapan, rombongan berjalan kaki melalui jalan setapak yang baru dibuka menuju Shelter Pesalat. Perjalanan tersebut memberi kesempatan bagi tim untuk melihat langsung kondisi jalur dan area yang direncanakan sebagai bagian dari upaya mendukung penanganan kebakaran. Kehadiran jajaran terkait juga menjadi bagian dari koordinasi dalam menentukan penempatan sarana, sehingga langkah yang disiapkan dapat disesuaikan dengan kondisi lokasi dan kebutuhan petugas.
Di area peninjauan, tim memantau pembuatan embung yang dirancang untuk menampung air. Air dari penampung itu nantinya akan disalurkan ke titik api sesuai kebutuhan penanganan di lapangan. Pemantauan mencakup proses pengerjaan serta kesiapan pemasangan sarana pendukung agar rencana distribusi air dapat dijalankan. Penentuan lokasi dan pengaturan alur penyaluran menjadi perhatian penting, mengingat akses di kawasan tersebut mengandalkan jalur yang perlu dilalui langsung oleh petugas. Dengan melihat kondisi secara langsung, tim dapat memastikan tahapan pekerjaan dan dukungan yang diperlukan tetap terkoordinasi. Sarana penampung air ini disiapkan sebagai salah satu dukungan operasional, tanpa mengesampingkan kebutuhan penanganan lain yang berjalan di kawasan taman nasional.
Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa pemasangan dilakukan pada malam itu agar sarana dapat digunakan.
Baca juga: Cegah Karhutla Sejak Dini, TNI Intensifkan Patroli Udara di Taman Nasional Way Kambas | TNI Kerahkan Tiga Batalyon Teritorial Pembangunan Perkuat Penanganan Karhutla di Kalbar | Penanganan Karhutla di Wilayah Kalbar Terus Membaik, Titik Api Turun



