Sebaran Karbon Monoksida Terpantau di Indonesia, Peneliti BRIN Jelaskan Sumber dan Risikonya

Sebaran Karbon Monoksida Terpantau di Indonesia, Peneliti BRIN Jelaskan Sumber dan Risikonya

Jakarta | Citra satelit NASA memperlihatkan sebaran karbon monoksida (CO) di sejumlah wilayah Indonesia. Pada peta yang menjadi dasar pemberitaan ini, konsentrasi gas tampak pekat dan ditandai warna merah gelap. Gambaran tersebut masih terlihat hingga Sabtu pagi, 17 Oktober 2026, menurut keterangan yang menyertai citra. Temuan ini memberi petunjuk mengenai keberadaan CO di atmosfer pada waktu pengamatan, tetapi perlu dibaca sesuai konteks data yang ditampilkan. Peta satelit bukan gambaran bahwa gas secara harfiah mengepung seluruh wilayah Indonesia, dan warna pada peta tidak dengan sendirinya menjelaskan tingkat paparan yang dialami masyarakat di permukaan.

Informasi yang tersedia menekankan hasil pengamatan dari citra satelit, bukan pengukuran langsung di setiap daerah. Karena itu, visualisasi sebaran dapat membantu menunjukkan area yang terpantau, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan kondisi kualitas udara di suatu lokasi tertentu tanpa data pendukung. Perbedaan waktu pengamatan, cakupan peta, serta kondisi setempat juga penting ketika menafsirkan gambaran atmosfer. Pembaca sebaiknya membedakan indikasi CO yang terlihat dari ruang angkasa dan informasi mengenai paparan aktual, yang memerlukan pemantauan serta pengukuran yang sesuai di dekat permukaan.

Warna merah gelap pada peta menandai bagian yang tampak menonjol dalam visualisasi, namun tidak boleh diartikan sebagai angka konsentrasi atau kategori risiko kesehatan tertentu apabila keterangan tersebut tidak disertakan. Citra ini menjadi dasar untuk mencermati sebaran CO di berbagai wilayah Indonesia pada periode yang dilaporkan. Untuk memahami dampak dan sumbernya, temuan satelit perlu dipadukan dengan penjelasan peneliti serta data pemantauan lain yang relevan. Dengan demikian, informasi awal tersebut dapat disampaikan secara tepat: citra NASA memperlihatkan CO yang masih tampak pekat hingga Sabtu pagi, sementara rincian mengenai besaran paparan maupun konsekuensi bagi warga tidak dapat ditetapkan hanya dari tampilan peta.

Albertus Sulaiman, peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, menjelaskan bahwa kebakaran lahan dan hutan di sejumlah wilayah menjadi salah satu pemicu terpantau dan tersebarnya karbon monoksida (CO) di Indonesia. Titik-titik kebakaran yang dimaksud berada di beberapa pulau, mulai dari Kalimantan dan Sumatra hingga Papua. Dengan demikian, keberadaan CO tidak hanya berkaitan dengan satu lokasi, melainkan dapat mengikuti aktivitas pembakaran yang terjadi di berbagai kawasan.

Menurut penjelasan Albertus, pembakaran lahan gambut dapat menghasilkan gas CO ketika proses pembakarannya berlangsung tidak sempurna. Artinya, bahan organik pada gambut tidak terbakar sepenuhnya, sehingga karbon monoksida terbentuk sebagai salah satu hasil proses tersebut. Penjelasan ini menerangkan kaitan kebakaran gambut dan kemunculan CO tanpa menyatakan bahwa setiap kebakaran menghasilkan jumlah gas yang sama. Kondisi pembakaran dan karakteristik lokasi dapat berbeda, sehingga temuan sebaran perlu dipahami berdasarkan pemantauan, bukan disimpulkan hanya dari adanya api.

Karbon monoksida merupakan gas yang perlu diperhatikan dalam pemantauan kualitas udara. Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau, sehingga keberadaannya tidak selalu dapat dikenali melalui pengamatan langsung oleh masyarakat. Ketika kebakaran berlangsung di lahan atau hutan, asap dan gas hasil pembakaran dapat terbawa ke wilayah lain mengikuti pergerakan udara. Karena itu, pemantauan sebaran membantu memberikan gambaran mengenai lokasi yang terdampak dan perubahan kondisi atmosfer. Informasi tersebut juga dapat menjadi dasar untuk menelaah hubungan kejadian kebakaran dan konsentrasi CO yang terukur.

Keterangan Albertus menempatkan kebakaran hutan dan lahan, khususnya pembakaran gambut yang tidak sempurna, sebagai salah satu sumber yang menjelaskan temuan karbon monoksida di sejumlah wilayah Indonesia. Namun, pengamatan terhadap sebaran gas tetap perlu dibaca bersama informasi mengenai sumber emisi serta kondisi atmosfer saat pengukuran dilakukan. Dengan pendekatan itu, data pemantauan dapat digunakan secara lebih tepat untuk memahami dampak kebakaran dan mendukung upaya pengendalian, termasuk pencegahan pembakaran lahan serta penanganan titik api di berbagai daerah.

Menurut Albertus, terpantau atau meluasnya keberadaan karbon monoksida (CO) hingga Pulau Jawa tidak serta-merta dapat dijelaskan sebagai dampak kebakaran lahan gambut di Kalimantan. Temuan sebaran gas tersebut perlu dibaca secara hati-hati, tanpa langsung menghubungkan seluruh keberadaannya dengan satu sumber kebakaran. Kebakaran lahan gambut dapat menjadi bagian dari konteks yang dibahas, tetapi informasi itu saja tidak cukup untuk memastikan bahwa sumber tersebut menjadi penyebab tunggal CO yang terpantau di wilayah lain.

Albertus juga mengaitkan keberadaan CO dengan kebakaran gunung yang terakumulasi bersama polusi udara. Keterangan ini menunjukkan bahwa penjelasan mengenai sebaran CO dapat melibatkan lebih dari satu sumber atau kondisi pencemar, bukan hanya kebakaran gambut. Dalam konteks tersebut, kebakaran gunung disebut sebagai faktor yang dapat ikut berkontribusi ketika dampaknya terakumulasi dengan polusi udara. Namun, pernyataan itu tidak berarti bahwa setiap pengukuran CO di suatu wilayah dapat dipastikan berasal dari kebakaran tertentu.

Karena itu, pengamatan mengenai CO di Jawa sebaiknya tidak ditafsirkan sebagai bukti langsung bahwa kebakaran lahan gambut di Kalimantan adalah penyebabnya. Penjelasan Albertus menekankan perlunya mempertimbangkan sumber lain, termasuk kebakaran gunung dan polusi udara yang terakumulasi. Tanpa informasi yang cukup untuk mengidentifikasi kontribusi masing-masing sumber, kesimpulan tentang asal CO perlu disampaikan secara terbatas. Pembedaan keberadaan gas yang terpantau dan kepastian sumbernya penting agar masyarakat tidak menyederhanakan persoalan pencemaran udara menjadi hubungan sebab-akibat tunggal. Dengan demikian, sebaran CO yang terpantau di Jawa menggambarkan isu yang perlu dipahami melalui beberapa kemungkinan sumber, sebagaimana dikaitkan Albertus, bukan semata-mata melalui dugaan kebakaran gambut di Kalimantan.

Menurut Albertus, salah satu upaya untuk mereduksi karbon monoksida (CO) adalah mengembalikan hutan gambut ke kondisi alaminya. Pemulihan ekosistem ini penting karena gambut yang tetap basah dan berfungsi sebagaimana mestinya lebih tahan terhadap kekeringan serta kebakaran. Dalam keadaan alami, gambut secara ekologis dapat memproduksi hujan sendiri. Proses tersebut membantu menjaga kelembapan kawasan dan mengurangi kemungkinan terjadinya kemarau panjang. Dengan demikian, pengembalian fungsi gambut bukan hanya berkaitan dengan kondisi tutupan hutan, tetapi juga mendukung kestabilan lingkungan yang dapat menekan sumber emisi CO.

Ketika gambut mengering, kawasan tersebut menjadi lebih rentan terbakar. Kebakaran hutan dan lahan dapat melepaskan polutan ke udara, termasuk karbon monoksida, sehingga pemulihan gambut juga berpotensi menanggulangi risiko kebakaran. Albertus menekankan pentingnya menjaga ekosistem agar siklus ekologisnya kembali bekerja. Kemampuan gambut mempertahankan kelembapan dan mendukung pembentukan hujan menjadi bagian dari fungsi tersebut. Karena itu, upaya pemulihan dapat dipahami sebagai langkah untuk mengurangi kondisi yang memicu kebakaran, sekaligus membantu membatasi paparan polutan yang dihasilkan ketika hutan dan lahan terbakar.

Bahaya CO bagi manusia tidak selalu mudah dikenali: gas ini tidak berwarna dan tidak berbau, dapat meracuni darah, serta dikenal sebagai “silent killer”. EPA menjelaskan bahwa dampaknya berbeda menurut tingkat paparan. Pada konsentrasi rendah, paparan dapat menyebabkan kelelahan pada orang sehat dan nyeri dada pada penderita penyakit jantung. Konsentrasi sedang dapat mengganggu penglihatan dan fungsi otak, serta menimbulkan gejala mirip flu. Gejala tersebut biasanya mereda setelah seseorang keluar dari ruangan. Pada konsentrasi tinggi, dampaknya dapat berupa pusing, sakit kepala hebat, mual, kebingungan, dan gangguan koordinasi. Paparan pada tingkat ini juga dapat berujung pada kematian. Perbedaan dampak tersebut menunjukkan bahwa kadar CO di lingkungan berkaitan langsung dengan risiko kesehatan yang dapat dialami, dari keluhan awal hingga akibat yang mengancam jiwa.