Kabupaten Mimika | Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, saat ini membina 58 siswa. Jumlah tersebut mencerminkan kegiatan pendidikan yang menjangkau anak-anak dari sejumlah wilayah, bukan hanya dari satu lingkungan sekitar sekolah. Para siswa datang dari berbagai distrik di Mimika, sehingga ruang belajar mempertemukan peserta didik dengan latar tempat tinggal yang beragam. Cakupan asal tersebut menjadi salah satu gambaran penting mengenai jangkauan sekolah dalam mendampingi siswa di kabupaten ini. Informasi mengenai jumlah siswa dan wilayah asal mereka disampaikan Kepala Sekolah, Ajeng Wulandari, dalam peringatan ulang tahun pertama Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika.
Para siswa berasal dari Kuala Kencana, Mimika Baru, Kwamki Narama, Mimika Timur, hingga Mimika Barat Jauh. Sebaran ini mencakup sejumlah kawasan di Mimika, termasuk wilayah yang berjauhan satu sama lain. Dengan latar wilayah yang berbeda, para siswa mengikuti pendidikan di satu sekolah dan menjalani kegiatan belajar sesuai jenjang masing-masing. Keterangan tentang asal siswa memberi gambaran mengenai keragaman komunitas yang terwakili dalam lingkungan sekolah. Angka 58 siswa tersebut mencakup peserta didik dari berbagai distrik, yang kini memperoleh pembinaan melalui program pendidikan Sekolah Rakyat di Mimika.
Dalam kegiatan pendidikannya, 58 siswa itu terbagi ke dalam enam rombongan belajar. Mereka menempuh pendidikan pada jenjang SMP dan SMA, sehingga pembinaan sekolah mencakup dua jenjang pendidikan menengah. Pembagian rombongan belajar menjadi bagian dari pengaturan kegiatan belajar bagi seluruh siswa, sementara asal mereka tetap tersebar di berbagai wilayah dan distrik. Paparan Ajeng Wulandari pada peringatan ulang tahun pertama sekolah menegaskan dua hal utama: jumlah siswa yang dibina saat ini dan luasnya wilayah asal para peserta didik. Data tersebut memberikan gambaran tentang komposisi siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika pada tahun pertama penyelenggaraannya.Untuk memastikan 58 siswa dari berbagai distrik Mimika memperoleh dukungan yang memadai, Sekolah Rakyat ditopang tenaga pendidikan dan operasional dengan peran yang saling melengkapi. Sebanyak 10 guru menjalankan pembelajaran, sementara empat wali asrama mendampingi kebutuhan siswa selama tinggal di lingkungan sekolah. Ada pula 12 wali asuh yang memberi perhatian dan bimbingan personal, termasuk membantu siswa beradaptasi dengan rutinitas serta kehidupan bersama. Dukungan harian turut diberikan oleh 13 staf pendukung, yang mencakup juru masak, petugas kebersihan, dan petugas keamanan. Kehadiran tim ini membantu menjaga kegiatan belajar dan keseharian siswa berlangsung secara teratur, aman, dan didukung sesuai kebutuhan.
Dalam pembelajaran, sekolah menggunakan kurikulum nasional dengan pendekatan multi-entry dan multi-exit. Pendekatan ini memberikan keluwesan bagi siswa untuk memulai proses pendidikan dan menyelesaikannya sesuai kecepatan belajar masing-masing. Karena latar belakang serta kesiapan belajar siswa beragam, perkembangan mereka tidak harus bergerak dalam rentang waktu yang seragam. Guru dapat memperhatikan kemampuan dan kemajuan setiap siswa, kemudian menyesuaikan dukungan agar mereka dapat mengikuti materi secara bertahap. Dengan demikian, pendidikan tetap mengacu pada kurikulum nasional, sekaligus memberi ruang bagi proses belajar yang lebih sesuai dengan kondisi individu.
Penerimaan siswa juga berangkat dari data sosial, bukan hasil tes akademik. Cara ini memungkinkan jangkauan program mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan anak, alih-alih menjadikan capaian akademik awal sebagai satu-satunya tolok ukur. Setelah masuk sekolah, siswa memperoleh dukungan pembelajaran dan pendampingan dari para guru, wali asrama, wali asuh, serta staf operasional. Perpaduan seleksi berbasis data sosial, kurikulum nasional yang fleksibel, dan dukungan lintas peran membentuk lingkungan pendidikan yang memperhatikan perbedaan titik awal siswa. Tujuannya ialah memberi kesempatan kepada setiap anak untuk belajar, berkembang, dan menuntaskan pendidikan menurut kemajuan mereka, dengan pendampingan yang sesuai sepanjang proses tersebut.
Di Sekolah Rakyat Mimika, pembinaan siswa berlangsung tidak hanya melalui kegiatan belajar di kelas. Mereka juga tinggal di lingkungan asrama yang dirancang aman, bersih, dan teratur. Pengaturan kehidupan harian membantu siswa memperoleh waktu istirahat yang cukup, mengikuti jadwal belajar, serta membangun kebiasaan hidup bersama. Kebutuhan dasar dipenuhi melalui penyediaan makanan bergizi secara teratur, disertai pemantauan kondisi kesehatan dan layanan kesehatan berkala. Ketika diperlukan, siswa dapat memperoleh perhatian dan tindak lanjut sesuai kebutuhan masing-masing. Pendampingan selama 24 jam memberi rasa aman bagi siswa sekaligus memungkinkan pengasuh mengetahui perubahan kondisi mereka. Dengan dukungan tersebut, asrama menjadi bagian penting dari proses pendidikan sehari-hari.
Peran wali asuh melengkapi dukungan tersebut melalui pendampingan yang dekat dan berkelanjutan. Mereka membantu siswa mempelajari keterampilan hidup, seperti menjaga kebersihan diri dan ruang bersama, mengatur waktu, merawat perlengkapan, serta bekerja sama dengan teman. Dalam keseharian, pendidikan moral diberikan melalui pembiasaan sikap hormat, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian. Wali asuh juga menyediakan ruang bagi siswa untuk menyampaikan kesulitan atau perasaan, sehingga dukungan emosional dapat diberikan secara tepat. Pendekatan ini membantu anak beradaptasi dengan lingkungan baru dan belajar menyelesaikan persoalan secara lebih mandiri. Pemantauan rutin memungkinkan pendamping mengenali kebutuhan akademik maupun pribadi, lalu berkoordinasi dengan pihak terkait bila diperlukan.
Perubahan positif dilaporkan terlihat pada kesehatan fisik, karakter, disiplin, dan rasa percaya diri siswa. Asupan makanan, perhatian kesehatan, serta rutinitas asrama mendukung kondisi tubuh yang lebih terjaga, sementara bimbingan harian memperkuat kebiasaan dan sikap positif. Kepercayaan diri juga tumbuh melalui kesempatan untuk mencoba kemampuan, tampil, dan berpartisipasi dalam berbagai perlombaan. Sejumlah capaian menjadi penanda perkembangan tersebut. Siswa meraih juara umum tingkat kabupaten pada cabang atletik, sementara beberapa siswa dikukuhkan sebagai anggota Paskibraka tingkat provinsi dan kabupaten. Prestasi lainnya turut dicapai di bidang seni dan olahraga. Ragam pengalaman dan pencapaian ini memberi ruang bagi siswa untuk mengenali potensi, melatih ketekunan, serta membangun kebanggaan atas usaha mereka.
Kehadiran Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika menjadi bagian dari upaya memastikan anak-anak di Mimika memperoleh hak dasar mereka atas kehidupan dan pendidikan yang layak. Bagi anak yang tumbuh dalam keluarga prasejahtera, akses terhadap pendidikan bermutu dapat membuka pilihan masa depan yang lebih luas. Sekolah ini tidak hanya menyediakan kegiatan belajar, tetapi juga berupaya menghadirkan lingkungan yang mendukung perkembangan anak secara utuh. Melalui pendidikan yang konsisten dan pendampingan, anak-anak diharapkan memiliki bekal pengetahuan, keterampilan, serta kepercayaan diri untuk menentukan arah hidup. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar memutus rantai kemiskinan antargenerasi dengan membuka kesempatan yang lebih adil bagi setiap siswa.
Sekolah ini dirancang sebagai ruang tumbuh yang aman dan memberdayakan, terutama bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera yang berada pada desil satu dan desil dua. Di lingkungan yang mendukung, siswa dapat belajar, mengembangkan potensi, dan membangun hubungan sosial yang positif. Pendekatan tersebut penting agar pendidikan tidak berhenti pada penguasaan materi pelajaran, tetapi juga membantu anak mengenali kemampuan diri serta berani merancang masa depan. Dengan dukungan yang tepat, mereka diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang mampu berkontribusi bagi keluarga dan masyarakat. Dalam jangka panjang, anak-anak ini diharapkan dapat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing, sekaligus ikut memperluas peluang bagi generasi berikutnya.
Sebagai sekolah rintisan, Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika diresmikan dan mulai beroperasi pada 10 Oktober 2025. Untuk sementara, kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan menumpang di bangunan rumah susun Wisma Atlet.
Baca juga: Babinsa 1714-01/Mulia Ulia Pererat Kemanunggalan TNI–Rakyat Melalui Anjangsana dan Bantuan Sembako di Kampung Kulon Enggame, Distrik Pagaleme | Irjen TNI Berikan Briefing kepada Pati Mabes TNI Bahas Berbagai Isu Terkini | Wapang TNI Dampingi Menhan RI dalam Rapat Kerja Bersama Komisi I DPR RI






