Jakarta | Kepala Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, memperingatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat mengguncang pasar tenaga kerja secara luas, meskipun dampaknya tidak selalu muncul sekaligus. Ia menggambarkan perubahan tersebut sebagai “tsunami yang bergerak lambat”: gelombang yang mungkin berkembang bertahap, tetapi berpotensi mengubah pekerjaan, keterampilan yang dibutuhkan, dan peluang karier dalam skala besar. Peringatan itu disampaikan dalam laporan bertanggal Minggu, 18 Oktober 2026.
Menurut Georgieva, pekerja muda yang baru memasuki dunia kerja merupakan kelompok yang paling perlu diperhatikan. Mereka berhadapan dengan pasar yang sedang berubah ketika masih membangun pengalaman, mengembangkan keahlian, dan mencari pijakan awal dalam karier. Dalam laporannya, ia menyoroti kerentanan kaum muda terhadap perubahan yang dibawa AI, terutama karena pekerjaan tingkat awal dapat menjadi salah satu bagian yang paling cepat terdampak oleh otomatisasi dan penggunaan teknologi baru.
AI berpotensi mengambil alih sebagian tugas rutin yang selama ini menjadi pintu masuk bagi pekerja pemula. Jika perusahaan mengurangi kebutuhan terhadap tugas-tugas tersebut, kesempatan memperoleh pengalaman kerja pertama bisa menyempit. Namun, perubahan itu tidak berarti seluruh pekerjaan akan hilang. Dalam banyak bidang, teknologi juga dapat mengubah cara tugas dilakukan, menciptakan kebutuhan akan kemampuan baru, serta meningkatkan produktivitas. Tantangannya adalah memastikan pekerja muda memiliki akses pada pelatihan dan kesempatan untuk menyesuaikan diri.
Istilah “tsunami yang bergerak lambat” menekankan bahwa perubahan pasar kerja dapat berlangsung tanpa satu titik kejadian yang dramatis. Perusahaan mungkin mengadopsi AI secara bertahap, sementara dampaknya terakumulasi pada jenis pekerjaan, perekrutan, dan jalur karier. Karena itu, tanda-tandanya perlu dipantau sejak dini oleh pembuat kebijakan, lembaga pendidikan, dan dunia usaha.
Peringatan Georgieva menempatkan perhatian pada kesiapan menghadapi transisi, bukan sekadar pada teknologi itu sendiri. Kebijakan yang mendukung pendidikan, pelatihan ulang, dan akses terhadap pekerjaan bermutu dapat membantu kaum muda menghadapi perubahan. Tanpa persiapan, kesenjangan keterampilan yang dimiliki pencari kerja dan kebutuhan pemberi kerja berisiko semakin besar. Pesan utamanya ialah bahwa dampak AI mungkin berkembang perlahan, tetapi cakupannya dapat luas, sehingga generasi yang baru memulai karier perlu memperoleh dukungan sejak awal.
Bagi banyak pekerja muda, awal karier biasanya dibangun melalui tugas-tugas rutin dan berulang. Pekerjaan semacam ini memberi kesempatan untuk memahami proses kerja, mengembangkan keterampilan dasar, dan menunjukkan kemampuan sebelum beralih ke tanggung jawab yang lebih kompleks. Kristalina Georgieva, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), menyoroti bahwa jalur bertahap tersebut dapat berubah seiring kemajuan kecerdasan buatan. Jika sistem AI mengambil alih sebagian tugas pemula, kesempatan untuk memperoleh pengalaman kerja pertama dan belajar langsung di lingkungan profesional pun dapat ikut terpengaruh.
Perubahan itu berlangsung dalam skala luas. IMF memperkirakan sekitar 40 persen pekerjaan di dunia akan berubah akibat perkembangan AI. Perubahan tersebut tidak selalu berarti pekerjaan lenyap: sebagian peran dapat berkembang, sebagian mengalami pengurangan, dan sebagian lainnya mungkin hilang. Teknologi juga bisa mengubah isi pekerjaan tanpa menghapus seluruh jabatan, misalnya dengan mengotomatisasi tugas tertentu sementara pekerja tetap menangani tanggung jawab yang memerlukan penilaian, komunikasi, atau pengawasan. Karena itu, angka tersebut menggambarkan besarnya paparan terhadap perubahan, bukan ramalan bahwa semua pekerjaan terkait akan berakhir.
Dampak diperkirakan lebih besar di negara maju, tempat banyak pekerjaan memiliki tugas yang dapat diotomatisasi. Pekerja berketerampilan menengah dapat menghadapi risiko khusus ketika sebagian besar kegiatan harian mereka bersifat rutin atau mengikuti pola yang dapat diproses oleh perangkat AI. Namun, Georgieva menegaskan bahwa dampaknya bukan semata-mata penurunan permintaan tenaga kerja. AI juga menggeser kebutuhan tenaga kerja yang sudah ada: perusahaan mungkin memerlukan lebih sedikit waktu manusia untuk tugas tertentu, tetapi lebih banyak keterampilan untuk mengelola, memeriksa, dan melengkapi hasil teknologi. Tantangannya adalah membantu pekerja muda memperoleh keterampilan dan pengalaman yang relevan agar tetap memiliki jalur menuju posisi lebih tinggi di pasar kerja yang berubah.
Kristalina Georgieva menilai bahwa pemerintah perlu menyesuaikan sistem pendidikan dengan perubahan yang dibawa kecerdasan buatan dan teknologi. Pendidikan tidak cukup dipandang sebagai tahap yang berakhir ketika seseorang lulus atau memasuki dunia kerja. Menurut usulannya, pekerja perlu memperoleh kesempatan untuk terus memperbarui keterampilan sepanjang karier, melalui pelatihan, pendidikan lanjutan, dan jalur pembelajaran yang dapat diakses ketika tuntutan pekerjaan berubah. Pendekatan ini membantu pekerja beradaptasi, termasuk saat tugas tertentu berkurang atau bergeser akibat penggunaan AI.
Penyesuaian tersebut juga berkaitan dengan kemampuan negara menjaga stabilitas ekonomi. Jika perubahan pasar kerja berlangsung cepat dan pekerja sulit menemukan pekerjaan baru, pengangguran dan ketidakpastian pendapatan dapat meningkat. Dampaknya tidak hanya dirasakan rumah tangga dan perusahaan. Gangguan pada pasar tenaga kerja berpotensi mengurangi penerimaan pajak, karena pendapatan dan kegiatan ekonomi melemah, sementara kebutuhan belanja pemerintah untuk dukungan sosial dapat bertambah. Kombinasi penerimaan yang lebih rendah dan tekanan pengeluaran tersebut dapat memperburuk kondisi keuangan pemerintah, sehingga investasi dalam keterampilan dan transisi kerja menjadi bagian dari upaya mengelola risiko fiskal.
Perhatian terhadap perubahan peluang kerja juga mencakup lulusan baru. Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam menyoroti menyusutnya kesempatan bagi mereka yang baru menyelesaikan pendidikan tinggi. Data yang dilaporkan menunjukkan bahwa proporsi lulusan universitas di Singapura yang memperoleh pekerjaan penuh waktu turun dari 79,4 persen pada 2024 menjadi 74,4 persen pada 2025. Penurunan ini menjadi tanda bahwa memasuki pasar kerja semakin menantang bagi lulusan, sekalipun mereka telah memiliki kualifikasi akademik.
Tharman juga menyampaikan kekhawatiran bahwa pekerjaan pertama setelah kelulusan kini menghadapi permintaan yang menurun. Perubahan kebutuhan perusahaan, termasuk penerapan teknologi baru, dapat membatasi jumlah posisi awal yang biasanya menjadi pintu masuk bagi pekerja muda. Situasi ini penting diperhatikan karena pekerjaan pertama memberi kesempatan untuk membangun pengalaman, mengembangkan keterampilan praktis, dan memperoleh pijakan bagi kemajuan karier. Jika akses tersebut menyempit, lulusan berisiko menghadapi masa tunggu lebih panjang atau harus menerima pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang studinya. Karena itu, pembelajaran berkelanjutan perlu disertai jalur transisi yang jelas, kemitraan pendidikan dengan pemberi kerja, serta dukungan bagi lulusan untuk memperoleh pengalaman dan kompetensi yang relevan. Dengan langkah demikian, sistem dapat merespons perubahan permintaan tanpa mengabaikan kelompok yang paling awal merasakan dampaknya.
Shanmugaratnam memperingatkan bahwa dampak kecerdasan buatan terhadap pekerja muda perlu ditangani sejak awal. Jika respons terlambat, lulusan baru dapat menghadapi kesulitan lebih besar untuk memperoleh pekerjaan pertama, sekaligus kehilangan kesempatan penting untuk membangun keterampilan di lingkungan kerja. Pengalaman awal bukan hanya soal mendapatkan penghasilan atau mencantumkan posisi dalam riwayat kerja. Pengalaman itu memberi ruang bagi pekerja untuk belajar dari rekan dan atasan, memahami standar profesional, serta mengembangkan kemampuan yang sulit diperoleh hanya melalui pendidikan formal.
Menurut kekhawatirannya, lulusan yang terpaksa menunggu hingga tahun berikutnya untuk bersaing dengan angkatan baru berisiko kehilangan lebih dari setahun dalam pembentukan keterampilan. Masa tersebut dapat membantu membangun atribut tak berwujud, seperti penilaian, komunikasi, kemampuan bekerja sama, dan kepercayaan diri. Jika kesempatan memasuki dunia kerja tertunda, perkembangan kualitas-kualitas tersebut juga bisa terhambat. Shanmugaratnam turut menyoroti dampak yang lebih luas terhadap kepercayaan anak muda terhadap masa depan: prospek pekerjaan yang tidak pasti dapat membuat mereka meragukan peluang untuk berkembang dan berkontribusi.






