Palembang | Kualitas udara di Palembang, Sumatera Selatan, menunjukkan perbaikan setelah sebelumnya mencapai kategori berbahaya di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Perubahan ini menandai bahwa kondisi udara telah keluar dari tingkat paling ekstrem yang sempat terjadi. Namun, perbaikan tersebut belum berarti udara kembali aman untuk dihirup atau telah berada dalam kategori sehat. Warga tetap perlu mencermati perkembangan kualitas udara, terutama karena paparan polusi partikulat dapat berdampak pada kesehatan.
Pada Minggu, 18 Oktober, kualitas udara Palembang berada pada level kuning, yang dikategorikan tidak sehat bagi kesehatan masyarakat. Dengan demikian, meskipun statusnya tidak lagi berada pada tingkat berbahaya, kondisi tersebut masih menunjukkan adanya risiko paparan polutan. Perhatian khusus diperlukan bagi kelompok yang lebih rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan gangguan pernapasan atau kondisi kesehatan tertentu. Penurunan tingkat pencemaran perlu dipahami sebagai perkembangan positif, bukan sebagai tanda bahwa masyarakat dapat mengabaikan kualitas udara.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, menyampaikan bahwa tren perubahan kualitas udara terus menurun dalam beberapa hari terakhir. Keterangan tersebut menggambarkan arah perbaikan yang terpantau, tetapi tidak menghilangkan pentingnya memantau kondisi dari waktu ke waktu. Nilai PM2.5 dan kategori kualitas udara dapat berubah mengikuti perkembangan kabut asap serta kondisi atmosfer. Karena itu, masyarakat sebaiknya mengikuti informasi terbaru dari sumber pemantauan resmi dan menyesuaikan kegiatan luar ruang apabila kondisi memburuk. Selama kualitas udara masih berada dalam kategori tidak sehat, langkah mengurangi paparan tetap relevan. Perkembangan ini menunjukkan penurunan dari situasi ekstrem, sementara pemulihan menuju udara yang aman dan sehat belum dapat dipastikan hanya dari perubahan kategori pada satu hari.
Pemantauan kualitas udara di Stasiun PM2.5 Musi 2, Palembang, mencatat konsentrasi partikulat halus sebesar 88,6 mikrogram per meter kubik pada Minggu pukul 14.00 WIB. Berdasarkan kategori yang dilaporkan, nilai tersebut termasuk dalam tingkat tidak sehat. Angka ini menggambarkan kondisi pada waktu dan lokasi pengukuran tersebut, sehingga tidak serta-merta mewakili kualitas udara di seluruh wilayah Palembang atau pada jam lainnya. Meski demikian, hasil stasiun pemantauan memberikan gambaran terukur mengenai konsentrasi polutan di sekitar titik pengamatan.
PM2.5 merupakan partikel udara dengan ukuran diameter lebih kecil dari atau sama dengan 2,5 mikrometer. Ukurannya yang sangat halus membuat partikel ini dapat bertahan di udara dan terhirup bersama pernapasan. Karena itu, pemantauan PM2.5 menjadi salah satu cara untuk menilai keberadaan partikulat halus di atmosfer. Hasil pengukuran dinyatakan dalam mikrogram per meter kubik (µg/m³), yakni ukuran massa partikel yang terkandung dalam setiap meter kubik udara. Pada pembacaan di Musi 2, konsentrasi yang tercatat adalah 88,6 µg/m³.
Pengukuran konsentrasi tersebut menggunakan metode penyinaran sinar beta, yang dikenal sebagai beta attenuation monitoring. Secara umum, alat mengukur perubahan sinar beta ketika melewati material partikulat yang terkumpul pada media pengambilan sampel. Perubahan itu digunakan untuk memperkirakan massa partikel, lalu menghasilkan nilai konsentrasi dalam satuan mikrogram per meter kubik. Dengan metode ini, hasil dapat disajikan sebagai angka yang dapat dipantau dan dibandingkan menurut waktu pengukuran, selama konteks serta kategorinya diperhatikan. Untuk data Minggu pukul 14.00 WIB di Stasiun PM2.5 Musi 2, hasil akhirnya menunjukkan 88,6 µg/m³ dan berada pada kategori tidak sehat. Informasi tersebut merupakan catatan pemantauan pada satu waktu tertentu, bukan perkiraan untuk semua jam atau seluruh lokasi di kota. Pembaruan pengukuran berikutnya diperlukan untuk melihat perubahan konsentrasi secara lebih lengkap.
Pada awal hingga pertengahan Oktober 2026, kondisi udara di Palembang sempat berada dalam situasi yang sangat mengkhawatirkan. Data pemantauan di wilayah Musi 2 dan Talang Betutu menunjukkan konsentrasi PM2.5 berkisar dari sekitar 493 hingga lebih dari 1.000 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut menggambarkan lonjakan partikulat yang jauh melampaui tingkat yang dapat disebut aman. Dalam periode itu, kualitas udara di kawasan pemantauan tersebut berada jauh di zona sangat berbahaya, sebelum kemudian dilaporkan membaik. Besarnya konsentrasi ini menjadi konteks penting untuk memahami perubahan kualitas udara yang terjadi di Palembang.
Rentang angka tersebut menandai betapa tinggi beban PM2.5 yang tercatat pada masa kabut asap menyelimuti kota. Pada saat itu, Palembang dikepung kabut asap karhutla, sementara pengukuran di Musi 2 dan Talang Betutu mencatat nilai yang sangat besar. Konsentrasi PM2.5 sebesar 493 mikrogram per meter kubik saja sudah menunjukkan kondisi yang jauh dari normal; catatan yang melampaui 1.000 mikrogram per meter kubik memperlihatkan bahwa tingkat pencemaran dapat mencapai nilai yang lebih ekstrem. Karena itu, angka-angka tersebut menjadi pembanding bagi kondisi terbaru saat kadar partikulat mulai turun.
Data pada awal hingga pertengahan Oktober itu juga memberi gambaran mengenai skala perubahan yang terjadi. Ketika kadar PM2.5 berada pada rentang 493 hingga lebih dari 1.000 mikrogram per meter kubik, kualitas udara di area pemantauan jelas berada pada zona sangat berbahaya. Situasi tersebut berlangsung dalam konteks Palembang yang dikepung kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Tanpa perlu menambahkan dugaan penyebab lain, catatan dari Musi 2 dan Talang Betutu menunjukkan bahwa polusi partikulat sempat melonjak tajam. Dengan demikian, penurunan kadar PM2.5 yang terjadi setelah periode tersebut merupakan perubahan dari kondisi awal yang sangat buruk, bukan sekadar pergeseran kecil pada angka pemantauan.
Wandayantolis mengaitkan penurunan status indeks kualitas udara di Palembang dengan operasi modifikasi cuaca yang dilaksanakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selama dua hari berturut-turut, pada 15–16 Oktober 2026. Upaya tersebut dilakukan untuk mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. Keterangan ini memberi konteks terhadap perubahan kondisi udara yang berangsur terlihat di wilayah tersebut.
Menurut Wandayantolis, penyemaian dry ice dalam rangkaian operasi itu membuat kualitas udara Palembang berangsur membaik. Jarak pandang juga meningkat secara signifikan. Perbaikan tersebut tercermin pada penurunan status indeks kualitas udara, meskipun kadar PM2.5 masih berada pada level tidak sehat. Dengan demikian, perubahan status tidak serta-merta berarti seluruh persoalan polusi telah berakhir atau udara telah kembali sepenuhnya bersih.
Operasi yang berlangsung pada 15 dan 16 Oktober itu menjadi salah satu langkah penanganan kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera Selatan. Penjelasan Wandayantolis menempatkan pelaksanaan modifikasi cuaca dan penyemaian dry ice sebagai faktor yang berkaitan dengan membaiknya kondisi di Palembang. Perkembangan jarak pandang turut menjadi indikator yang disebutkan dalam keterangannya, karena peningkatannya berlangsung cukup nyata setelah operasi tersebut.
Meski demikian, informasi yang disampaikan narasumber berfokus pada kaitan operasi BNPB dan perubahan kondisi udara, bukan uraian teknis pelaksanaannya. Karena itu, penurunan status indeks dan membaiknya jarak pandang dapat dipahami sebagai perkembangan yang dilaporkan setelah upaya tersebut, tanpa menyimpulkan rincian metode atau dampak lain di luar keterangan yang tersedia. Pengamatan terhadap kualitas udara tetap penting, terutama karena PM2.5 masih berada pada kategori tidak sehat. Situasi itu menunjukkan bahwa perbaikan yang terjadi perlu dibaca secara proporsional: kondisi telah bergerak ke arah lebih baik menurut penjelasan narasumber, tetapi risiko paparan partikel halus belum sepenuhnya hilang.
Baca juga: Penanganan Karhutla di Wilayah Kalbar Terus Membaik, Titik Api Turun | Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas






