Ratusan Sekolah dan Perkantoran Jaksel Berlatih Menghadapi Gempa

Ratusan Sekolah dan Perkantoran Jaksel Berlatih Menghadapi Gempa

Jakarta | Simulasi kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi berlangsung serentak pada Rabu di 112 sekolah dan 10 kantor pemerintah di Jakarta Selatan. Salah satu lokasi pelaksanaan kegiatan tersebut adalah Kantor Wali Kota Jakarta Selatan. Latihan ini diselenggarakan untuk meningkatkan kewaspadaan sekaligus memperkuat kesiapan warga sekolah dan aparatur pemerintah apabila menghadapi keadaan darurat. Kegiatan tersebut merupakan latihan, bukan respons terhadap gempa yang benar-benar terjadi.

Pelaksanaan di berbagai lokasi dimaksudkan agar pemahaman mengenai kesiapsiagaan dapat menjangkau lebih banyak lingkungan, termasuk tempat belajar dan tempat pelayanan publik. Sekolah dan kantor pemerintah memiliki banyak orang yang beraktivitas setiap hari, sehingga penting bagi penghuninya untuk memahami bahwa keadaan darurat memerlukan perhatian, koordinasi, dan respons yang terencana. Melalui simulasi, peserta dapat membangun kesadaran tentang perlunya bersikap serta mempersiapkan diri sebelum risiko muncul.

Di lingkungan sekolah, kegiatan kesiapsiagaan juga menjadi kesempatan untuk mengenalkan pentingnya keselamatan kepada murid, guru, dan tenaga kependidikan. Sementara itu, latihan di kantor pemerintah mendorong aparatur untuk menempatkan keselamatan pegawai dan masyarakat sebagai perhatian dalam pengelolaan keadaan darurat. Meski berlangsung dalam bentuk simulasi, kegiatan semacam ini dapat membantu peserta membayangkan situasi yang mungkin dihadapi dan memahami bahwa kesiapan tidak hanya bergantung pada petugas, tetapi juga pada pengetahuan setiap orang.

Diselenggarakannya latihan secara serentak di 122 lokasi menunjukkan upaya membangun kesiapsiagaan dalam skala luas di Jakarta Selatan. Fokus kegiatan bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan membiasakan masyarakat agar lebih peka terhadap potensi bahaya dan mengetahui pentingnya mengikuti arahan yang berlaku ketika keadaan darurat terjadi. Dengan latihan yang melibatkan sekolah serta kantor pemerintah, pesan mengenai kewaspadaan dapat diterima oleh kelompok masyarakat yang beragam. Simulasi pada Rabu itu menjadi bagian dari penguatan budaya aman, yakni kesiapan yang dibangun melalui pemahaman, perhatian, dan latihan secara terencana sebelum bencana benar-benar terjadi.

Simulasi gempa dilaksanakan secara bertahap dengan mengikuti bunyi sirene sebagai penanda tindakan yang perlu dilakukan peserta. Ketika sirene pertama terdengar, pegawai dan peserta di dalam ruangan segera menghentikan kegiatan, tetap tenang, lalu mempraktikkan perlindungan mandiri. Mereka berlindung di bawah meja yang kokoh, berpegangan pada kaki meja bila memungkinkan, dan menjauh dari jendela, lemari, serta benda yang berisiko jatuh. Jika tidak tersedia meja, peserta merapat ke bagian tembok yang kokoh dan melindungi diri dari barang yang dapat bergeser atau pecah. Langkah ini melatih respons awal saat guncangan terjadi dan membantu mengurangi kemungkinan tertimpa benda di sekitarnya.

Selama berlindung maupun bersiap meninggalkan ruangan, peserta diminta melindungi kepala dan tengkuk menggunakan kedua tangan atau benda pelindung yang tersedia. Perlindungan tersebut penting karena bagian kepala dan leher rentan mengalami cedera akibat reruntuhan ringan, pecahan kaca, atau benda yang terjatuh. Peserta tetap berada pada posisi aman sampai sirene kedua berbunyi, tidak berlari, tidak saling mendorong, dan mengikuti arahan petugas. Setelah bunyi penanda berikutnya terdengar, mereka bergerak keluar gedung melalui jalur evakuasi yang telah ditetapkan. Penggunaan tangga menjadi pilihan, sementara lift tidak digunakan dalam latihan untuk menghindari risiko terjebak apabila terjadi gangguan listrik atau kerusakan.

Setibanya di luar, peserta melanjutkan perjalanan menuju titik kumpul yang sudah ditentukan sebelumnya. Mereka berjalan tertib, menjaga jarak, serta tetap memperhatikan keselamatan orang lain di sepanjang rute. Di lokasi tersebut, petugas dapat memastikan peserta berkumpul dan memberi arahan lanjutan sebelum dinyatakan aman. Simulasi juga mencakup latihan penanganan serta penyelamatan korban luka oleh tim tanggap darurat. Tim mempraktikkan pemeriksaan kondisi korban, pemberian pertolongan awal sesuai kemampuan, dan pemindahan menuju area aman tanpa menambah risiko cedera. Rangkaian dari berlindung, evakuasi, hingga penanganan korban memberi kesempatan bagi peserta dan petugas untuk memahami peran masing-masing, mengenali jalur penyelamatan, serta membangun koordinasi yang diperlukan dalam menghadapi keadaan darurat gempa.

Bagi BPBD DKI Jakarta, latihan gempa di sekolah dan perkantoran bukan sekadar simulasi untuk memindahkan orang keluar dari gedung. Kegiatan ini menjadi uji kesiapsiagaan penghuni maupun pengelola bangunan saat menghadapi keadaan darurat. Melalui latihan, peserta dapat melihat apakah prosedur evakuasi dipahami, jalur keluar dapat digunakan, dan koordinasi berlangsung dengan baik. Hasil pengamatan juga membantu mengidentifikasi bagian yang masih perlu diperbaiki sebelum terjadi bencana sesungguhnya.

Latihan tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk mengevaluasi penerapan mitigasi bencana dan kecukupan fasilitas gedung. Unsur yang diperhatikan mencakup kesiapan jalur evakuasi, akses menuju titik berkumpul, serta ketersediaan perlengkapan pendukung keselamatan. Evaluasi tidak hanya berkaitan dengan kondisi sarana, tetapi juga cara orang di dalam gedung merespons arahan. Dengan demikian, kegiatan ini dapat memberikan gambaran lebih utuh mengenai kemampuan bangunan dan penghuninya menghadapi risiko gempa.

Di Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, kesiapan itu didukung dengan pembentukan struktur pengelola gedung tanggap bencana. Setiap lantai memiliki penanggung jawab yang bertugas mengarahkan proses evakuasi ketika situasi darurat terjadi. Pembagian tanggung jawab tersebut membantu memastikan arahan menjangkau seluruh bagian gedung, termasuk orang yang mungkin tidak mengetahui jalur keluar atau prosedur yang berlaku. Dalam latihan, peran tiap penanggung jawab dapat diuji sekaligus menjadi bahan untuk memperjelas koordinasi antarlantai.

Sekitar 50 personel BPBD dikerahkan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan. Peserta lainnya mencakup pengelola gedung, penghuni, dan pengunjung, sehingga simulasi melibatkan orang-orang dengan tingkat pengetahuan berbeda mengenai lingkungan bangunan. Keterlibatan berbagai pihak ini penting untuk menguji apakah informasi keselamatan dapat dipahami secara luas, bukan hanya oleh petugas yang telah mendapat pembekalan. Latihan juga memberi kesempatan kepada peserta untuk mengenali arahan dan alur evakuasi di tempat mereka beraktivitas.

Dengan menguji prosedur dan fasilitas secara langsung, pengelola dapat mengetahui aspek yang berjalan efektif serta kendala yang muncul selama evakuasi. Temuan tersebut dapat digunakan untuk memperkuat kesiapan, memperbaiki pengaturan tanggap darurat, dan memastikan setiap orang memahami perannya. Evaluasi berkala menjadi bagian penting agar upaya mitigasi tidak berhenti pada penyediaan rencana, tetapi benar-benar siap diterapkan saat gempa terjadi.

Pelaksanaan simulasi gempa di sekolah dan perkantoran Jakarta Selatan dinilai berlangsung tertib dan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Setiap tahapan latihan berjalan dengan baik, mulai dari penyampaian arahan hingga proses peserta meninggalkan ruangan dan bergerak menuju area aman. Penilaian tersebut menunjukkan bahwa kegiatan dapat dilaksanakan secara terkoordinasi, sekaligus memberi kesempatan kepada peserta untuk mempraktikkan tindakan yang perlu dilakukan ketika terjadi gempa.

Peserta terlihat aktif mengikuti rangkaian simulasi, sementara pegawai dinilai telah memahami jalur evakuasi serta lokasi titik kumpul yang aman. Pengetahuan mengenai rute dan tempat berkumpul menjadi unsur penting dalam kesiapsiagaan, sebab keputusan yang tepat dan pergerakan yang teratur dapat membantu mengurangi kebingungan saat keadaan darurat. Latihan juga memberi ruang bagi setiap lingkungan untuk mengenali kembali prosedur yang berlaku dan melihat bagian yang masih perlu diperkuat.

Wali Kota Jakarta Selatan Syafrin Liputo menekankan bahwa latihan seperti ini perlu dilakukan secara rutin, baik di lingkungan kerja maupun pendidikan. Pengulangan kegiatan dapat membantu membangun budaya siaga, sehingga kesiapsiagaan tidak hanya dipahami sebagai aturan tertulis, tetapi menjadi kebiasaan yang diterapkan oleh warga sekolah dan pegawai. Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap mengingat bencana dapat terjadi sewaktu-waktu. Kewaspadaan perlu disertai pemahaman mengenai langkah yang harus diambil dan kepatuhan terhadap arahan keselamatan, tanpa menimbulkan kepanikan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan.

Baca juga: Sambut HUT TNI Ke-81, Kodim Bojonegoro bersama Polkes bekali Ratusan Pelajar Jurus Penyelamat ‘AMAN–CPR’ | Hercules TNI AU Kembali Tiba di Lanud Sjamsudin Noor, Bawa Ratusan APD Bantuan Kemhan RI dan Masker Dari Puskes TNI AU Untuk Perkuat Penanganan Karhutla Kalsel