Jakarta | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan hujan telah mengguyur sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan setelah pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC). Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan informasi tersebut di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (21/10). Ia menyebut hujan dengan intensitas tinggi tercatat di Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Menurut Faisal, operasi tersebut menggunakan dua bahan untuk penyemaian awan, yakni dry ice atau es kering dan natrium klorida (NaCl), yang umum dikenal sebagai garam. Bahan-bahan itu disebarkan dalam rangkaian kegiatan OMC untuk mendukung proses pembentukan hujan pada kondisi atmosfer yang dinilai memungkinkan. Pelaksanaan operasi melibatkan pemantauan cuaca, termasuk perkembangan awan dan pergerakan sistem atmosfer di wilayah sasaran.
Laporan hujan setelah OMC menunjukkan bahwa presipitasi terjadi di beberapa daerah yang menjadi perhatian. Namun, urutan waktu tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa operasi merupakan satu-satunya penyebab turunnya hujan. Hujan juga dipengaruhi berbagai faktor alam, seperti kelembapan udara, suhu, kestabilan atmosfer, serta ketersediaan awan yang berpotensi menghasilkan presipitasi. Karena itu, penilaian terhadap dampak operasi perlu mempertimbangkan data cuaca dan kondisi atmosfer secara menyeluruh.
Informasi BMKG ini memberi gambaran mengenai perkembangan cuaca di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan, sekaligus menjelaskan metode yang digunakan dalam kegiatan modifikasi cuaca. Intensitas hujan dan cakupan wilayahnya dapat berbeda-beda, sehingga pemantauan lanjutan tetap diperlukan untuk mengetahui perubahan kondisi dari waktu ke waktu. Masyarakat di daerah terdampak dapat mengikuti pembaruan resmi BMKG dan memperhatikan peringatan cuaca setempat, terutama apabila hujan lebat berpotensi disertai angin kencang atau berdampak pada aktivitas harian.
Dengan demikian, laporan tersebut mencatat adanya hujan berintensitas tinggi di tiga provinsi setelah OMC yang memadukan penyemaian dry ice dan NaCl. Keterangan itu menjadi informasi awal tentang hasil pengamatan cuaca, bukan kesimpulan bahwa seluruh hujan yang terjadi semata-mata dihasilkan oleh operasi. Evaluasi lebih lanjut berdasarkan pengamatan meteorologi diperlukan untuk memahami hubungan kegiatan penyemaian awan, kondisi atmosfer, dan hujan yang tercatat di lapangan.
Faisal bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Wakil Kepala Badan Pengelola Gambut Nasional mendatangi Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, serta Kalimantan Selatan. Kunjungan tersebut dilakukan untuk menangani persoalan kebakaran hutan dan lahan yang kembali menjadi perhatian di sejumlah wilayah. Peninjauan lapangan membantu para pejabat melihat kondisi titik kebakaran, kebutuhan penanganan, serta dampak asap terhadap kawasan sekitar. Koordinasi antarlembaga diperlukan agar langkah pemadaman dan pengendalian dampak dapat disesuaikan dengan keadaan setempat. Upaya itu berlangsung ketika wilayah terdampak masih menghadapi risiko kebakaran, sementara perubahan cuaca turut memengaruhi kondisi lahan dan penyebaran asap.
Menurut Faisal, kebakaran meningkat di sejumlah lokasi dalam rentang dua hingga empat minggu sebelum musim hujan tiba. Periode menjelang hujan tersebut menjadi masa yang perlu diwaspadai karena api dapat berkembang ketika lahan masih kering, sedangkan asap berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan menurunkan kualitas udara. Informasi mengenai perkembangan kebakaran menjadi dasar untuk menentukan prioritas penanganan bersama pemerintah daerah dan petugas di lapangan. Karena itu, pemantauan kondisi atmosfer maupun titik panas tetap penting, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut dan pernah mengalami kebakaran. Kedatangan para pejabat dimaksudkan untuk memperkuat respons terhadap situasi tersebut, bukan hanya meninjau dampak yang sudah terjadi.
Dalam menghadapi kepadatan asap, BMKG mencoba menerapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan menggunakan es kering atau dry ice serta penyebaran garam natrium klorida (NaCl). Langkah ini ditujukan untuk membantu mengurangi kepekatan asap melalui upaya modifikasi kondisi atmosfer. Penerapannya merupakan bagian dari penanganan yang memerlukan pemantauan dan koordinasi, seiring tindakan langsung untuk mengendalikan sumber api. Modifikasi cuaca tidak menggantikan pemadaman di darat, tetapi dapat menjadi salah satu dukungan ketika asap mengganggu wilayah terdampak. Hasil operasi dan kondisi cuaca perlu terus diamati agar pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Dengan demikian, upaya mengurangi asap kebakaran hutan dan lahan memadukan respons lapangan, pemantauan, serta dukungan teknologi cuaca.
Menurut penjelasan Faisal, pelaksanaan modifikasi cuaca diawali dengan memahami kondisi atmosfer dan keberadaan asap di wilayah sasaran. Dalam situasi tertentu, asap tertahan oleh lapisan inversi pada ketinggian sekitar 6.000 hingga 7.000 kaki. Lapisan ini membatasi pergerakan udara vertikal, sehingga asap tidak mudah naik dan menyebar ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Untuk membantu mengatasi kondisi tersebut, dry ice digunakan guna membongkar atau melemahkan lapisan inversi. Langkah ini ditujukan agar asap dapat bergerak naik, bukan sekadar tertahan dekat permukaan.
Setelah asap naik, panas matahari berpeluang mendorong penguapan dan mendukung proses pembentukan awan hujan. Namun, penyemaian tidak dilakukan hanya berdasarkan perkiraan umum atau jadwal tetap. BMKG terlebih dahulu memantau keadaan atmosfer untuk menentukan apakah awan dan kondisi udara memungkinkan intervensi. Ketika awan sasaran tersedia dan dinilai sesuai, bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) dilepaskan untuk membantu proses pertumbuhan butir air di dalam awan. Dengan demikian, penggunaan dry ice untuk menangani lapisan inversi dan penyemaian awan memakai NaCl merupakan tahapan dengan tujuan berbeda dalam rangkaian operasi.
Pertimbangan tersebut didukung oleh pengukuran radiosonde, yaitu instrumen yang dibawa ke atmosfer untuk memperoleh data profil suhu dan tekanan udara pada berbagai ketinggian. Dari data itu, petugas dapat mengidentifikasi perubahan suhu terhadap ketinggian serta memperkirakan posisi lapisan inversi. Informasi ini membantu BMKG menentukan titik dan ketinggian pelaksanaan penyemaian secara lebih terarah, sekaligus menilai kondisi atmosfer sebelum operasi dilakukan. Pemantauan tidak berhenti pada awan: kualitas udara di permukaan juga diperiksa, termasuk konsentrasi PM2.5. Pengukuran partikulat ini memberikan gambaran tentang kondisi udara yang dihirup masyarakat, sementara pengamatan atmosfer memberi konteks mengenai pergerakan asap dan peluang terbentuknya hujan. Kedua jenis pemantauan itu melengkapi evaluasi pelaksanaan modifikasi cuaca dan membantu petugas menyesuaikan tindakan dengan kondisi yang terukur, bukan semata-mata asumsi.Faisal melaporkan bahwa jarak pandang di sejumlah wilayah membaik setelah operasi modifikasi cuaca dilakukan. Perubahan tersebut terlihat pada beberapa titik yang sebelumnya mengalami gangguan akibat asap. Menurutnya, kondisi pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa jarak pandang bertambah, sementara kualitas udara juga mengalami perbaikan. Laporan ini menggambarkan perubahan kondisi setelah operasi berlangsung, tanpa menyatakan bahwa seluruh wilayah telah terbebas dari asap atau gangguan jarak pandang.
Salah satu contoh yang disampaikan Faisal berada di Sumatra Selatan. Sebelumnya, bandara di wilayah tersebut tertutup asap sehingga jarak pandang terganggu. Setelah operasi dilakukan, bandara itu kembali terbuka dan dapat diamati dengan lebih jelas. Perbaikan jarak pandang tersebut berlangsung bersamaan dengan membaiknya kualitas udara. Contoh ini menunjukkan perubahan yang terpantau di lokasi, namun tidak berarti kondisi yang sama terjadi serentak di seluruh wilayah Sumatra Selatan. Pemantauan tetap diperlukan untuk melihat perkembangan situasi.
Faisal juga menjelaskan pemantauan asap kebakaran yang sempat mencapai wilayah Jakarta. Asap terpantau berada pada ketinggian lebih dari empat kilometer dan terlihat selama sekitar lima hingga enam jam. Setelah itu, pergerakannya menjauh dari Jabodetabek, Banten, dan Jawa Barat. Ia menegaskan bahwa posisi asap pada ketinggian tersebut membuatnya tidak dirasakan di permukaan. Dengan demikian, keberadaan asap yang terpantau di atas Jakarta tidak sama dengan kondisi asap yang dirasakan langsung oleh warga di bawahnya.
Baca juga: TNI Salurkan Dukungan Peralatan Penanganan Karhutla ke Kalimantan Tengah | Panglima TNI Tinjau JS Kunisaki, Dukung Penanganan Karhutla di Kalimantan | Hercules TNI AU Mendarat di Lanud Sjamsudin Noor Bawa Kekuatan Baru dari Kemhan RI, Penanganan Karhutla Kalimantan Selatan Kian Diperkuat






