Kabupaten Karangasem | Kebakaran hutan dan lahan di lereng Gunung Agung, Bali, telah padam. Peristiwa tersebut terjadi di Dusun Kedampal, Desa Datah, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, dan berdampak pada kawasan hutan lindung. Api pertama kali muncul pada Sabtu (24/10), sekitar pukul 12.00 WITA. Setelah penanganan dan pemantauan dilakukan, kondisi di lokasi dinyatakan terkendali. Informasi bahwa kebakaran sudah padam disampaikan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem, I Made Aditya Sugiharta, pada Rabu (28/10).
Aditya menyatakan bahwa kebakaran di lereng Gunung Agung tersebut sudah padam. Keterangan ini menjadi perkembangan penting setelah api dilaporkan terjadi beberapa hari sebelumnya di wilayah Desa Datah. Area yang terdampak mencapai sekitar 18 hektar hutan lindung. Meski api telah padam, pemantauan tetap menjadi bagian penting untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali muncul, terutama di kawasan yang sebelumnya terbakar. Informasi mengenai luas dampak dan status kebakaran membantu memberikan gambaran tentang skala peristiwa kepada masyarakat, sekaligus menegaskan kondisi terbaru yang disampaikan oleh BPBD Karangasem.
Pemantauan yang dilakukan sehari sebelum keterangan pada Rabu itu tidak menemukan titik api di lokasi. Hasil tersebut mendukung pernyataan bahwa kebakaran telah padam, sekaligus menunjukkan bahwa pemeriksaan lapangan tetap dilakukan setelah kejadian. Tidak ditemukannya titik api pada pemantauan tersebut bukan berarti lokasi tidak perlu diperhatikan, mengingat area yang terdampak cukup luas dan berada di kawasan hutan lindung. Informasi yang tersedia berfokus pada waktu awal kebakaran, lokasi, luas area terdampak, serta hasil pemantauan terakhir. BPBD Karangasem menyampaikan status padam berdasarkan kondisi yang terpantau, sementara pengawasan di sekitar lokasi membantu memastikan perkembangan situasi dapat diketahui. Dengan demikian, kebakaran di lereng Gunung Agung tidak lagi dilaporkan aktif dalam keterangan tersebut.
Keseluruhan area hutan lindung di kawasan Gunung Agung yang terbakar mencapai 18 hektar. Angka tersebut mencakup total lahan yang terdampak api dalam peristiwa kebakaran hutan dan lahan ini. Luas itu merupakan keterangan mengenai cakupan area terbakar secara keseluruhan, bukan rincian luas untuk setiap jenis vegetasi. Informasi yang tersedia menyebutkan bahwa area hutan lindung tersebut terdampak kebakaran, dengan total luasan mencapai 18 hektar. Angka ini menjadi ukuran yang dilaporkan untuk menggambarkan area hutan lindung Gunung Agung yang terbakar. Tidak ada rincian tambahan mengenai pembagian luasan berdasarkan lokasi atau tutupan lahan yang disampaikan dalam keterangan tersebut.
Vegetasi yang terdampak meliputi hutan alam yang ditumbuhi pohon cemara dan sonokeling. Selain kawasan berhutan, area terbakar juga mencakup semak belukar serta rumput ilalang. Jenis-jenis vegetasi tersebut merupakan tutupan lahan yang disebutkan dalam keterangan mengenai kebakaran di hutan lindung Gunung Agung. Informasi itu menjelaskan ragam vegetasi yang berada di dalam area terdampak, tetapi tidak merinci berapa hektar hutan alam, semak belukar, atau ilalang yang terbakar secara terpisah. Karena itu, keseluruhan angka 18 hektar tetap merujuk pada total area, tanpa pembagian berdasarkan jenis tanaman atau tutupan lahan. Tidak ada keterangan mengenai jumlah pohon yang terdampak maupun luasan khusus untuk cemara dan sonokeling.
Nilai kerugian akibat kebakaran tersebut belum diketahui. Dengan demikian, angka 18 hektar hanya menunjukkan luas keseluruhan area hutan lindung yang terbakar, bukan nilai kerugian dalam bentuk uang. Keterangan yang ada juga tidak menyertakan perkiraan nilai kerusakan pada vegetasi maupun rincian penilaian lainnya. Tanpa informasi resmi mengenai nilai kerugian, besaran tersebut belum dapat dinyatakan. Informasi yang dapat dipastikan dalam laporan ini terbatas pada luas area terdampak dan jenis vegetasi yang disebutkan, yakni hutan alam dengan pohon cemara dan sonokeling, semak belukar, serta rumput ilalang. Rincian tersebut menjaga uraian tetap berpegang pada data yang tersedia, tanpa menambahkan perkiraan mengenai dampak atau nilai kerusakan kebakaran.
Upaya pemadaman kebakaran hutan di lereng Gunung Agung melibatkan warga setempat dan Bhabinkamtibmas. Mereka berusaha mengendalikan api yang terlihat di bagian bawah lereng, dengan mengerahkan tenaga serta peralatan yang tersedia. Kehadiran warga menjadi bagian penting dari respons awal di lapangan, terutama karena kobaran berada di kawasan yang tidak mudah dicapai. Petugas dan masyarakat berupaya bekerja di area yang masih dapat dijangkau, sambil memperhatikan keadaan sekitar dan keselamatan selama proses pemadaman berlangsung. Kondisi medan menuntut kehati-hatian dalam setiap langkah, sehingga upaya tidak dapat dilakukan secara merata ke seluruh bagian lereng. Penanganan di bagian bawah menjadi langkah yang memungkinkan dilakukan saat itu.
Sementara itu, titik api di bagian atas lereng tidak dapat dijangkau oleh warga maupun petugas. Kondisi medan yang sulit serta akses menuju lokasi yang tidak memungkinkan menjadi kendala utama dalam upaya pemadaman langsung di area tersebut. Karena keterbatasan itu, tim tidak dapat menjangkau sumber api untuk melakukan penanganan secara langsung. Perbedaan kondisi bagian bawah dan bagian atas lereng membuat upaya di lapangan harus menyesuaikan dengan area yang dapat dimasuki. Situasi tersebut juga membatasi jangkauan pemadaman, meskipun warga setempat dan Bhabinkamtibmas telah berupaya menangani api di lokasi yang dapat dicapai. Informasi mengenai kendala akses ini menjelaskan mengapa titik api di bagian atas tetap berada di luar jangkauan tim.
Setelah melakukan upaya di area yang dapat dijangkau, tim gabungan kemudian melakukan pemantauan dari lokasi yang telah ditentukan. Pemantauan ini dilakukan sebagai langkah untuk mengawasi kondisi kebakaran, khususnya bagian lereng yang tidak dapat dimasuki secara langsung. Dengan berada di titik pemantauan, tim dapat mengamati keadaan di sekitar lokasi tanpa harus memaksakan akses melalui medan yang sulit. Langkah tersebut menjadi bagian dari penanganan lapangan ketika pemadaman langsung tidak memungkinkan di seluruh area. Warga dan petugas tetap menghadapi keterbatasan jangkauan, sehingga pemantauan dilakukan dari tempat yang sudah ditetapkan. Upaya ini membantu tim mengikuti perkembangan kondisi di lereng sambil mempertimbangkan kendala medan dan akses menuju titik api bagian atas.
Pemantauan kondisi pascakebakaran di lereng Gunung Agung melibatkan sejumlah unsur pemerintah dan masyarakat setempat. KRPH Abang turut memantau kawasan hutan lindung yang terdampak, bersama Tim Reaksi Cepat BPBD Karangasem dan personel Polsek Abang. Bhabinkamtibmas Desa Datah juga terlibat dalam koordinasi di lapangan, sementara Kepala Dusun Kedampal dan Ketua Kelompok Tani Hutan Werdi Tunggal membantu menyampaikan informasi mengenai kondisi wilayah serta situasi di sekitar lokasi kebakaran.
Koordinasi lintas unsur tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan titik api dan asap setelah kebakaran dilaporkan padam. Berdasarkan pemantauan saat kejadian, titik api maupun kepulan asap masih berada cukup jauh dari permukiman warga. Kondisi itu menjadi salah satu informasi penting dalam menilai situasi di sekitar kawasan terdampak dan menentukan langkah pemantauan berikutnya. Meski demikian, pemeriksaan tetap diperlukan untuk memastikan tidak ada perubahan kondisi yang berpotensi mengancam lingkungan hutan maupun warga di sekitar lereng. Informasi lapangan dari petugas dan unsur setempat menjadi bagian dari upaya menjaga kewaspadaan bersama.
Pemantauan lanjutan dilakukan oleh KRPH Abang, kepala wilayah Dusun Kedampal, serta masyarakat setempat. Keterlibatan mereka membantu memastikan perkembangan kondisi kawasan dapat diketahui secara berkelanjutan, termasuk apabila muncul kembali asap atau tanda-tanda api. Warga yang tinggal di sekitar wilayah tersebut juga dapat menyampaikan informasi kepada aparat dan petugas terkait bila melihat perubahan yang perlu ditindaklanjuti.
Baca juga: Satgas Karhutla TNI Kawal Penyaluran Bantuan Korporasi untuk Desa Terdampak di Melawi | Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas






