Makassar | Sulawesi Investment and Business Forum (SIBF) 2026 menghadirkan 43 proyek potensial yang ditawarkan kepada investor dalam negeri maupun luar negeri. Inisiatif ini membuka ruang bagi pelaku usaha untuk mengenali peluang investasi di kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua), sekaligus menjajaki potensi kerja sama lintas wilayah. Forum tersebut difasilitasi oleh Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan sebagai bagian dari upaya mempertemukan pemilik proyek, pemerintah, dan calon mitra bisnis dalam satu agenda promosi. Penawaran proyek menjadi salah satu daya tarik utama kegiatan, karena memberikan gambaran konkret mengenai peluang yang dapat ditindaklanjuti oleh investor. Dengan menghadirkan peserta dari berbagai daerah dan negara, SIBF 2026 juga memperluas kesempatan untuk membangun komunikasi awal serta mengenali kebutuhan dan kapasitas masing-masing pihak.
Forum berlangsung di Makassar pada 28–29 Oktober 2026. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernasi Wimanda, menyampaikan bahwa kegiatan ini dimaksudkan untuk memperkuat promosi investasi dan perdagangan antarwilayah. Fokus tersebut mencerminkan pentingnya menghubungkan potensi daerah dengan sumber pembiayaan, mitra usaha, dan akses pasar yang lebih luas. Melalui forum, investor dapat memperoleh informasi mengenai proyek-proyek yang ditawarkan, sedangkan pelaku usaha dan pemangku kepentingan daerah berkesempatan menyampaikan keunggulan serta peluang kolaborasi. Pertemuan langsung seperti ini dapat mendukung proses penjajakan, mempertemukan kebutuhan dengan penawaran, dan mendorong tindak lanjut bisnis setelah acara. Promosi tidak hanya diarahkan pada investasi, tetapi juga pada perdagangan yang dapat menghubungkan produk unggulan antardaerah maupun dengan pasar internasional.
SIBF 2026 mengusung tema “Advancing Sulampua's Potential: From Regional Strengths to Global Value Chains”. Tema tersebut menjadi kerangka untuk membawa kekuatan dan potensi lokal menuju keterhubungan yang lebih luas dalam rantai nilai global. Arah pembahasan ini mencakup perluasan akses pasar, peningkatan daya saing produk unggulan daerah, serta penguatan jejaring bisnis. Dengan mempertemukan investor dan pemangku kepentingan, forum diharapkan membantu memperkenalkan produk serta proyek kepada calon mitra yang relevan. Perluasan jaringan dapat membuka peluang kolaborasi, sementara akses pasar yang lebih baik memberi ruang bagi produk daerah untuk menjangkau pembeli baru. Pada akhirnya, promosi yang terarah dapat memperkuat posisi Sulampua sebagai kawasan dengan potensi investasi dan perdagangan yang dapat dikembangkan melalui kemitraan, inovasi, dan hubungan bisnis berkelanjutan.
Menurut Rizki, promosi investasi dan perdagangan dalam SIBF 2026 diarahkan untuk mendorong kerja sama yang memberi dampak nyata bagi perekonomian daerah. Forum ini mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, investor, dan mitra perdagangan dalam satu ruang dialog. Pertemuan tersebut memungkinkan para pihak mengenali kebutuhan, peluang, serta langkah tindak lanjut yang dapat mempercepat realisasi investasi. Pada saat bersamaan, hubungan antarpelaku diharapkan memperluas akses pasar dan membuka peluang ekspor produk unggulan kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua. Dengan demikian, promosi tidak hanya mengenalkan potensi, tetapi juga menghubungkannya dengan mitra yang dapat mendukung pengembangan usaha dan perdagangan secara berkelanjutan.
Untuk membuat proses tersebut lebih terarah, penyelenggara menyiapkan tiga langkah. Pertama, memetakan proyek investasi dan UMKM unggulan secara lebih terintegrasi. Pemetaan ini membantu menyajikan potensi daerah dengan informasi yang jelas, sekaligus mengidentifikasi kebutuhan dukungan dan kesiapan setiap proyek. Data yang tersusun baik dapat membantu investor memahami peluang yang tersedia dan memudahkan pelaku UMKM mencari jalur pengembangan. Kedua, penyelenggara akan memperkuat kolaborasi dengan mitra strategis, termasuk lembaga keuangan dan pembiayaan. Kerja sama tersebut ditujukan untuk menyiapkan proyek secara lebih matang serta merancang skema pendanaan yang sesuai, sehingga peluang yang dibahas dalam forum memiliki pijakan untuk ditindaklanjuti.
Langkah ketiga adalah meningkatkan promosi dan fasilitasi bisnis melalui market sounding, business matching, serta pendampingan. Market sounding dapat menguji minat dan masukan calon mitra terhadap proyek maupun produk unggulan sebelum proses kerja sama dilanjutkan. Business matching mempertemukan pelaku usaha dengan investor atau calon pembeli yang relevan, sehingga komunikasi dapat berfokus pada kebutuhan konkret. Pendampingan kemudian membantu pihak terkait menavigasi tahapan berikutnya, mulai dari penyempurnaan rencana hingga penjajakan kesepakatan. Rangkaian kegiatan ini diharapkan membuat forum tidak berhenti pada pertukaran gagasan. Dengan pemetaan, dukungan pembiayaan, dan fasilitasi yang saling melengkapi, SIBF dapat mendorong kerja sama yang lebih siap direalisasikan serta memperkuat peluang investasi dan ekspor di Sulampua.
SIBF 2026 dirancang sebagai forum yang mempertemukan beragam pihak untuk membuka peluang investasi dan perdagangan di kawasan Sulampua. Kegiatan ini diikuti sekitar 350 peserta, yang berasal dari pemerintah pusat dan daerah, lembaga investasi dan pembiayaan, pemilik proyek, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), investor, serta mitra perdagangan domestik maupun internasional. Keberagaman peserta tersebut menjadi modal penting bagi terjadinya pertukaran informasi dan penjajakan kerja sama lintas sektor.
Melalui rangkaian promosi proyek investasi dan produk unggulan, peserta dapat memperoleh gambaran mengenai potensi yang tersedia di Sulawesi, Maluku, dan Papua. Pemilik proyek berkesempatan memperkenalkan rencana serta kebutuhan pendanaan kepada lembaga pembiayaan dan calon investor. Sementara itu, pelaku UMKM dan mitra perdagangan dapat mengenali produk lokal yang berpotensi dipasarkan lebih luas. Forum ini juga memberi ruang bagi pemerintah untuk menyampaikan informasi tentang peluang, kebijakan, dan dukungan yang relevan bagi pengembangan usaha.
Pertemuan bisnis menjadi salah satu agenda untuk mempertemukan calon mitra secara lebih terarah dan membuka peluang tindak lanjut. Selain itu, empat sesi diskusi atau talkshow dijadwalkan membahas berbagai isu dan potensi yang berkaitan dengan investasi serta perdagangan. Pertukaran pandangan dalam sesi tersebut dapat membantu peserta memahami tantangan, kebutuhan, dan peluang kolaborasi dari sudut pandang berbeda. Dengan demikian, kegiatan tidak hanya berfungsi sebagai ruang promosi, tetapi juga sebagai sarana membangun pemahaman bersama.
Rangkaian acara turut mencakup kunjungan langsung ke lokasi investasi. Melalui kunjungan ini, peserta dapat melihat kondisi proyek dan potensi kawasan secara lebih dekat, sehingga informasi yang diperoleh tidak terbatas pada paparan di ruang pertemuan. Perpaduan promosi, diskusi, pertemuan bisnis, dan peninjauan lapangan menjadikan SIBF 2026 sebagai fasilitasi untuk mengenalkan proyek kepada pihak terkait. Interaksi tersebut diharapkan membantu mempertemukan pemilik peluang dengan investor, lembaga pembiayaan, pemerintah, pelaku UMKM, dan mitra perdagangan yang berpotensi mendukung realisasi kerja sama di Sulampua.
Di sisi perdagangan, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam rangkaian SIBF 2026 mencatat komitmen ekspor senilai Rp450 miliar. Capaian tersebut menjadi salah satu hasil penting dari upaya mempertemukan pelaku usaha daerah dengan calon mitra internasional, sekaligus menunjukkan potensi produk Sulampua untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Nilai itu merupakan komitmen yang tercatat selama kegiatan, bukan pernyataan bahwa seluruh transaksi telah terealisasi atau seluruh barang sudah dikirim ke negara tujuan.
Kesepakatan dan minat dagang yang dihimpun melibatkan 31 UMKM serta 44 pembeli dari 20 negara. Pertemuan penjual dan pembeli memberi ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, berdiskusi mengenai kebutuhan pasar, dan menjajaki peluang kerja sama. Komitmen ekspor yang terbentuk mencerminkan hasil penjajakan tersebut, dengan realisasi selanjutnya bergantung pada tindak lanjut, pemenuhan persyaratan perdagangan, serta kesepakatan komersial masing-masing pihak.
UMKM peserta berasal dari empat provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara. Keragaman asal peserta memperlihatkan cakupan pengembangan usaha lintas wilayah dalam kegiatan ini.
Baca juga: Janji Keuntungan dan Pemberangkatan Umrah Dipersoalkan, Dugaan Investasi MCI Tuban Dilaporkan | Lanud Sjamsudin Noor Kerahkan Tangki Portable dan Gambut Injection di Kawasan Ring I Bandara Sjamsudin Noor Atasi Titik Api Karhutla | TNI Perkuat Penanganan Karhutla di Kawasan IKN Melalui Darat dan Udara






