Jakarta | Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan kekurangan dokter dan keterbatasan akses layanan kesehatan bukan persoalan yang hanya dialami Indonesia. Menurutnya, tantangan serupa muncul di berbagai negara, termasuk negara maju yang memiliki sistem kesehatan dan sumber daya lebih besar. Ia menyampaikan pandangan tersebut setelah berbincang dengan para menteri kesehatan dari berbagai belahan dunia. Pengalaman itu, kata Budi, menunjukkan bahwa kelangkaan tenaga medis merupakan persoalan luas yang dihadapi banyak pemerintah.
Kesimpulan tersebut didasarkan pada pertemuannya dengan 72 menteri kesehatan dari berbagai negara. Dalam diskusi itu, para pejabat membagikan tantangan yang mereka hadapi dalam menjaga layanan kesehatan tetap tersedia bagi masyarakat. Budi menyebut keluhan mengenai kekurangan dokter muncul berulang kali dalam percakapan tersebut. Situasi itu memperlihatkan bahwa kebutuhan terhadap tenaga medis terus menjadi perhatian bersama, meskipun kondisi ekonomi, jumlah penduduk, dan bentuk sistem kesehatan setiap negara berbeda.
Budi mengatakan tidak ada negara yang memiliki kelebihan tenaga medis. Dengan demikian, persoalan bukan sekadar distribusi dokter yang kurang merata di satu wilayah, tetapi juga terbatasnya jumlah tenaga kesehatan dibandingkan dengan kebutuhan pelayanan. Dampaknya dapat dirasakan masyarakat melalui akses yang lebih sulit dan waktu tunggu yang panjang untuk memperoleh layanan. Antrean yang terjadi di berbagai tempat, menurut gambaran tersebut, berkaitan dengan tekanan yang dihadapi fasilitas kesehatan dalam melayani jumlah pasien.
Pernyataan itu disampaikan Budi saat ditemui di Jakarta Utara pada Jumat, 30 Oktober 2026. Ia menekankan bahwa pengalaman bertukar pandangan dengan para mitranya memberi gambaran tentang kesamaan tantangan lintas negara, tanpa menghapus perbedaan situasi masing-masing. Negara maju pun tidak otomatis terbebas dari kekurangan dokter atau kendala akses. Pengakuan tersebut menjadi konteks penting dalam memahami persoalan tenaga medis sebagai isu global yang memerlukan perhatian, perencanaan, serta upaya berkelanjutan dari pemerintah dan penyelenggara layanan kesehatan.
Selain membahas kekurangan tenaga kesehatan, para menteri kesehatan juga menyampaikan persoalan lain yang dihadapi di negara masing-masing: sebagian warga masih kesulitan memperoleh layanan kesehatan secara optimal. Keluhan tersebut menunjukkan bahwa tantangan pelayanan tidak hanya berkaitan dengan jumlah dokter atau tenaga medis, tetapi juga dengan kemampuan sistem menyediakan pemeriksaan dan tindakan dalam waktu yang dibutuhkan. Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa persoalan akses dan waktu tunggu turut menjadi perhatian dalam percakapannya dengan sejumlah mitra dari negara lain.
Denmark menjadi salah satu contoh yang disebut Budi setelah ia berkunjung ke negara tersebut. Menurut penuturannya, pasien di sana dapat menghadapi antrean yang cukup panjang untuk memperoleh tindakan medis. Gambaran ini memperlihatkan bahwa bahkan di negara dengan tingkat pembangunan tinggi, warga tidak selalu dapat segera menjalani prosedur yang diperlukan. Mereka mungkin harus menunggu sebelum mendapatkan penanganan, sehingga akses yang tersedia secara formal belum tentu berarti layanan dapat diterima dengan cepat.
Pengalaman tersebut juga mengingatkan bahwa status sebagai negara maju tidak otomatis menjamin ketersediaan tenaga kesehatan yang memadai ataupun akses cepat terhadap tindakan medis. Sistem kesehatan dapat menghadapi tekanan dalam mengatur kapasitas, tenaga, dan permintaan pasien, dengan dampak berupa waktu tunggu yang panjang. Karena itu, persoalan antrean bukan semata-mata gambaran kondisi di negara berpenghasilan lebih rendah. Keluhan dari para menteri menunjukkan bahwa berbagai negara, termasuk negara maju, tetap perlu mencari cara agar layanan lebih mudah dijangkau dan pasien tidak terlalu lama menunggu. Pernyataan Budi menegaskan bahwa masyarakat dapat harus menanti cukup lama untuk memperoleh tindakan, meskipun mereka tinggal di negara yang sering dipandang memiliki sistem kesehatan mapan. Perbedaan konteks antarnegara tentu perlu diperhatikan, tetapi pengalaman tersebut memberi gambaran bahwa mutu layanan juga perlu dinilai dari kecepatan dan kemudahan pasien mengaksesnya, bukan hanya dari status ekonomi atau reputasi nasional.
Dalam penjelasannya mengenai antrean layanan kesehatan di sejumlah negara, Budi menyampaikan bahwa pasien tidak selalu dilayani berdasarkan urutan kedatangan semata. Fasilitas kesehatan dapat memilah pasien menurut tingkat urgensi kondisi medisnya. Penilaian tersebut membantu tenaga kesehatan menentukan siapa yang perlu segera diperiksa atau ditangani, terutama ketika jumlah pasien melampaui kapasitas layanan yang tersedia.
Pasien dengan kondisi kritis atau kebutuhan medis mendesak biasanya memperoleh prioritas lebih tinggi. Sementara itu, orang yang kondisinya dinilai tidak mendesak dapat diminta menunggu lebih lama sebelum mendapatkan pemeriksaan lanjutan, prosedur, atau tindakan tertentu. Kebijakan semacam ini dimaksudkan untuk mengarahkan sumber daya yang terbatas kepada pasien yang berisiko mengalami dampak paling serius apabila penanganannya ditunda.
Budi menyebut bahwa waktu tunggu bagi pasien yang tidak termasuk kategori prioritas dapat berkisar sekitar satu hingga tiga bulan. Sebagai gambaran, seseorang mungkin menunggu satu bulan, pasien lain dua bulan, sementara pasien lainnya dapat menunggu sampai tiga bulan untuk memperoleh layanan yang dibutuhkan. Rentang itu menunjukkan bahwa penundaan dapat berlangsung cukup lama, tetapi bukan berarti setiap pasien harus menunggu selama periode yang sama.
Lama antrean dapat berbeda menurut tingkat urgensi, jenis layanan, kondisi pasien, serta ketersediaan tenaga dan fasilitas di masing-masing tempat. Karena itu, angka satu, dua, atau tiga bulan sebaiknya dipahami sebagai contoh rentang waktu yang disampaikan, bukan patokan seragam untuk seluruh pasien atau semua negara yang dibicarakan. Pasien dengan keadaan yang memburuk juga dapat dinilai kembali, sehingga tingkat prioritas dan rencana penanganannya berpotensi berubah. Pemilahan berdasarkan urgensi membantu menjelaskan bagaimana antrean dikelola, sekaligus mengapa sebagian orang memperoleh tindakan lebih cepat daripada pasien lain.
Budi menyampaikan bahwa kelangkaan dokter dan antrean untuk memperoleh layanan kesehatan bukan hanya menjadi persoalan di satu negara. Keluhan serupa, menurut keterangannya, juga muncul dari berbagai negara, termasuk negara-negara maju. Dengan demikian, tekanan untuk menjaga akses layanan tetap memadai turut dirasakan oleh para menteri kesehatan di negara yang kerap dipandang memiliki sistem kesehatan lebih mapan.
Dalam rangkaian keluhan yang ia dengar, keterbatasan jumlah dokter menjadi salah satu hal yang disoroti. Pada saat yang sama, masyarakat di sejumlah negara juga menghadapi kesulitan untuk mendapatkan layanan kesehatan secara optimal. Kedua persoalan itu berkaitan dengan pengalaman warga saat mencari pertolongan, baik berupa keterbatasan tenaga medis maupun antrean yang harus dihadapi sebelum layanan dapat diperoleh.
Budi menggambarkan bahwa persoalan tersebut menjadi bahan tekanan bagi para pejabat yang bertanggung jawab atas urusan kesehatan. Para menteri kesehatan di negara maju pun, menurutnya, menghadapi tuntutan dan keluhan mengenai antrean serta keterbatasan layanan. Keterangan ini menunjukkan bahwa isu akses pelayanan kesehatan dibicarakan lintas negara, bukan semata-mata sebagai keluhan yang hanya terdengar di satu wilayah.
Ia juga mengaitkan tekanan tersebut dengan cerita yang disampaikan para sejawatnya mengenai kekurangan dokter dan sulitnya memperoleh layanan secara optimal. Keluhan-keluhan itu menjadi bagian dari gambaran yang ia dengar dalam pembicaraan bersama para menteri kesehatan. Budi menegaskan bahwa keadaan tersebut turut menjadi beban bagi mereka, termasuk pejabat kesehatan di negara-negara maju. Dengan demikian, antrean panjang dan keterbatasan layanan bukan hanya menjadi perhatian masyarakat yang berusaha memperoleh perawatan, tetapi juga menjadi tekanan yang dihadapi para menteri kesehatan di berbagai negara.
Baca juga: Tingkatkan Literasi Kesehatan, Koramil Trucuk Bojonegoro dan Puskesmas Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis | Sambut HUT TNI ke-81, Kodim 1710/Mimika Gelar Bakti Kesehatan | TNI Raih Empat Rekor MURI Melalui Berbagai Kegiatan Bersama Masyarakat






