Mengenal Kendaraan RAR Polri untuk Evakuasi Korban Kecelakaan

Mengenal Kendaraan RAR Polri untuk Evakuasi Korban Kecelakaan

Jakarta | Dalam penanganan kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan kendaraan mengalami kerusakan berat, waktu dan ketepatan tindakan sangat menentukan keselamatan korban. Pada kondisi tertentu, penumpang atau pengemudi dapat terjepit di dalam kabin akibat pintu terlipat, atap runtuh, atau bagian bodi bergeser. Situasi seperti ini tidak selalu dapat ditangani dengan membuka pintu secara biasa, sebab tindakan yang keliru berisiko memperparah cedera dan menghambat proses evakuasi. Untuk membantu petugas menghadapi keadaan tersebut, Kepolisian menggunakan kendaraan Road Accident Rescue, yang dikenal dengan singkatan RAR. Kendaraan ini dirancang sebagai dukungan operasional di lokasi kecelakaan, terutama ketika diperlukan upaya penyelamatan teknis terhadap korban yang terjebak dalam kendaraan.

Karena itu, RAR bukan mobil derek biasa yang fungsi utamanya memindahkan kendaraan mogok atau mengangkut mobil rusak. Kendaraan ini membawa perlengkapan yang membantu petugas membuka akses ke kabin dan mengevakuasi korban dengan lebih terencana. Peralatan penyelamatan dapat mencakup perangkat pemotong dan pembentang hidraulis, alat untuk menstabilkan kendaraan, serta perlengkapan pendukung lain sesuai kebutuhan operasi. Dengan alat tersebut, petugas terlatih dapat membuat ruang yang cukup untuk mengeluarkan korban tanpa menggerakkan bagian kendaraan secara sembarangan. Pemilihan alat dan langkah kerja disesuaikan dengan kondisi kendaraan, posisi korban, serta potensi bahaya di sekitar tempat kejadian. RAR dengan demikian mendukung tindakan penyelamatan, bukan sekadar penanganan atau pemindahan kendaraan.

Di lokasi kecelakaan, petugas terlebih dahulu menilai keadaan, mengamankan area, dan menentukan cara terbaik untuk menjangkau korban. Kendaraan yang rusak dapat dibuat stabil sebelum bagian tertentu dipotong atau dibuka, sementara tim medis dapat bersiap memberikan pertolongan. Koordinasi ini penting karena korban mungkin mengalami cedera yang tidak tampak, sehingga proses evakuasi perlu dilakukan secara hati-hati dan mengikuti prosedur keselamatan. Kehadiran RAR membantu menyediakan perlengkapan yang dibutuhkan tanpa harus menunggu alat lain didatangkan dari tempat berbeda. Meski demikian, keberhasilan penanganan tetap bergantung pada keterampilan petugas, komunikasi antartim, dan penilaian kondisi di lapangan. Peran utama RAR ialah mendukung penyelamatan korban yang terjepit agar dapat dikeluarkan dengan aman dan memperoleh pertolongan lanjutan secepat mungkin.

Korlantas Polri menyelenggarakan pelatihan penggunaan kendaraan RAR untuk tahun anggaran 2026 di Taman Lalu Lintas Cibubur, Jakarta Timur, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Kegiatan ini melibatkan personel kepolisian dari sejumlah Polda, sehingga peserta dapat memperoleh pemahaman dan pengalaman langsung mengenai penggunaan kendaraan tersebut. Pelatihan menjadi bagian dari upaya menyiapkan petugas agar mampu mendukung penanganan kecelakaan dengan lebih terarah. Kendaraan RAR beserta perlengkapannya perlu dipahami secara menyeluruh sebelum digunakan dalam situasi tugas, terutama ketika petugas harus membantu proses evakuasi korban. Melalui kegiatan terstruktur ini, peserta berlatih mengenali fungsi kendaraan dan perlengkapan yang tersedia, sekaligus memahami pentingnya mengikuti prosedur yang berlaku. Pembekalan tersebut ditujukan untuk memperkuat kesiapan personel dalam menjalankan tanggung jawab di lapangan.

Materi pelatihan mencakup penjelasan mengenai pengoperasian kendaraan RAR dan penggunaan perlengkapan pendukungnya. Selain menerima materi, peserta mengikuti praktik langsung agar dapat menerapkan pengetahuan yang diberikan. Kombinasi penjelasan dan latihan membantu personel memahami tahapan kerja, mengenali fungsi peralatan, serta mengetahui cara menggunakannya secara tepat. Praktik juga memberi kesempatan untuk memperjelas hal-hal yang mungkin belum dipahami ketika materi disampaikan. Dengan demikian, kegiatan tidak hanya berfokus pada pengenalan kendaraan, tetapi juga pada kemampuan peserta menjalankan langkah operasional secara tertib. Pemahaman terhadap fungsi setiap perlengkapan penting agar penggunaannya sesuai kebutuhan dan tidak menyimpang dari ketentuan. Dalam pelatihan, peserta diarahkan untuk mencermati prosedur secara saksama sebagai bekal ketika menghadapi tugas penanganan kecelakaan.

Fokus utama pelatihan adalah membekali petugas agar memahami pengoperasian kendaraan RAR dan perlengkapannya sesuai standar operasional prosedur. Kepatuhan pada SOP membantu menjaga keteraturan pelaksanaan tugas, mendukung penggunaan peralatan secara benar, serta mengurangi risiko kesalahan dalam proses kerja. Bagi personel dari berbagai Polda, pembekalan ini juga menjadi kesempatan untuk menyamakan pemahaman mengenai cara menggunakan fasilitas RAR. Pengetahuan yang diperoleh melalui materi dan praktik diharapkan dapat diterapkan secara konsisten saat kendaraan digunakan dalam mendukung evakuasi korban kecelakaan. Kesiapan petugas bukan hanya ditentukan oleh ketersediaan kendaraan, melainkan juga oleh kemampuan memahami fungsi, batas penggunaan, dan prosedur pengoperasiannya. Karena itu, pelatihan penggunaan RAR berperan dalam memperkuat kompetensi personel dan mendukung pelaksanaan tugas kepolisian secara terukur, aman, serta sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.

AKP Hermawan menjelaskan bahwa spesifikasi kendaraan RAR yang digunakan pada tahun ini pada dasarnya masih dipertahankan seperti sebelumnya. Dengan demikian, rancangan utama kendaraan tetap mengacu pada kebutuhan operasional tim penyelamatan, terutama ketika personel harus menangani evakuasi korban kecelakaan dan membawa peralatan pendukung ke lokasi. Kesinambungan spesifikasi tersebut membantu personel mengenali fungsi kendaraan serta memahami penempatan perlengkapan yang tersedia, tanpa perlu beradaptasi dengan perubahan mendasar pada susunan kendaraan.

Kendaraan RAR itu berbasis light truck dengan konfigurasi 10 roda. Pada bagian atas terdapat mini crane yang mendukung pekerjaan pengangkatan dalam proses penyelamatan. Fasilitas ini menjadi salah satu komponen penting ketika penanganan di lokasi memerlukan bantuan alat untuk memindahkan atau mengangkat benda yang menghalangi akses. Selain itu, kendaraan dilengkapi sejumlah kompartemen untuk menyimpan peralatan penyelamatan. Penyimpanan yang terorganisasi membuat perlengkapan dapat dibawa bersama kendaraan dan ditata berdasarkan kebutuhan, sehingga personel dapat mencari serta mengambil alat secara lebih tertib saat bertugas. Kombinasi basis truk, mini crane, dan ruang penyimpanan itu dirancang untuk menunjang mobilitas sekaligus kesiapan tim dalam operasi RAR.

Meski spesifikasi kendaraan dipertahankan, pemanfaatannya tetap bergantung pada kemampuan personel. Hermawan berharap para personel Polda yang mengikuti pelatihan dapat menjalankan tugas dengan baik dan menggunakan peralatan RAR secara benar sesuai standar operasional prosedur (SOP). Harapan tersebut mencakup pemahaman terhadap fungsi setiap perlengkapan, cara penggunaannya, serta tata kerja yang harus diikuti dalam penanganan. Penggunaan alat yang sesuai prosedur penting agar kegiatan penyelamatan berlangsung terarah dan risiko kesalahan dapat dikendalikan. Pelatihan karena itu menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengenal perangkat yang tersedia dan mempraktikkan penggunaannya secara tepat. Dengan bekal tersebut, kendaraan dan perlengkapannya diharapkan dapat mendukung pelaksanaan tugas di lapangan, sementara personel tetap bekerja berdasarkan prosedur yang berlaku dan kebutuhan keselamatan dalam proses evakuasi korban kecelakaan.

Dalam pembaruan perlengkapan kendaraan RAR Polri, alat bantu pernapasan disiapkan untuk mendukung petugas saat mengevakuasi korban dari ruang tertutup yang dipenuhi asap pekat. Perlengkapan ini relevan ketika kecelakaan melibatkan kendaraan yang terbakar, sehingga asap dapat memenuhi kabin atau area di sekitar lokasi. Kondisi serupa juga dapat muncul di lingkungan lain dengan kualitas udara yang membahayakan pernapasan. Di ruang yang terbatas, jarak pandang dapat berkurang dan petugas mungkin harus bekerja dekat dengan sumber asap sambil mencari serta mengeluarkan korban. Karena itu, kesiapan perlengkapan pernapasan menjadi bagian penting dari dukungan evakuasi, bukan sekadar tambahan untuk menghadapi situasi yang tidak biasa.

Hermawan menjelaskan bahwa asap dapat mengurangi daya hirup petugas. Paparan tersebut berpotensi membuat proses penyelamatan semakin sulit, terutama apabila petugas harus memasuki ruang tertutup untuk menjangkau korban. Udara yang tercemar asap juga dapat membatasi kemampuan petugas untuk bergerak dan bekerja secara efektif. Dalam keadaan seperti itu, perlindungan pernapasan membantu petugas menghadapi kondisi udara yang tidak aman ketika menjalankan tugas evakuasi.

Baca juga: Aksi Kemanusiaan Di Laut Lepas, KRI WSH-991 Evakuasi 11 Warga Papua Nugini | Akses Darat Terhambat, Pangkoops TNI Habema Perintahkan Evakuasi Udara Ibu Sinta dari Mbua | Perkuat Kesiapsiagaan Dalam Menangani Karhutla, Personel Lanud Sjamsudin Noor Asah Kemampuan Operasikan Kendaraan Pemadam Kebakaran