Operasi di Kampung Bahari Libatkan KRL, Tiga Perjalanan Sempat Terlambat

Operasi di Kampung Bahari Libatkan KRL, Tiga Perjalanan Sempat Terlambat

Jakarta | Operasi pemberantasan narkoba di Kampung Bahari, Jakarta Utara, pada Minggu (1/11) melibatkan mobilisasi petugas menuju kawasan Tanjung Priok. Dalam kegiatan tersebut, Polri bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) menggerebek bandar narkoba. Untuk mendukung pergerakan personel, perjalanan kereta luar biasa (KLB) Commuter Line relasi Jakarta Kota–Tanjung Priok dijalankan sekitar pukul 06.25 WIB.

VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menjelaskan bahwa perjalanan khusus itu dilakukan atas koordinasi dengan kepolisian. Keterangan tersebut disampaikan pada Minggu (1/11/2026). Menurutnya, layanan KLB digunakan untuk mengangkut petugas yang akan menuju Tanjung Priok, sehingga pengoperasiannya berkaitan langsung dengan kebutuhan mobilisasi dalam operasi kepolisian.

Perjalanan KLB berbeda dari layanan reguler yang beroperasi mengikuti jadwal rutin. Kereta luar biasa dapat dijalankan untuk kebutuhan tertentu, termasuk mendukung pergerakan petugas, dengan pengaturan yang dikoordinasikan bersama pihak terkait. Dalam kejadian ini, KAI Commuter menyebut koordinasi dengan kepolisian sebagai dasar pelaksanaan perjalanan pada pagi hari tersebut.

Penggunaan Commuter Line untuk membawa petugas juga menjadi konteks penting dalam memahami dampak kegiatan terhadap perjalanan kereta di sekitar lokasi. Operasi di Kampung Bahari berlangsung di area yang berdekatan dengan jalur menuju Tanjung Priok, sementara perjalanan KLB dijadwalkan pada pagi hari. Karena itu, pengaturan operasional perlu disesuaikan dengan kebutuhan perjalanan khusus sekaligus kondisi layanan bagi penumpang.

KAI Commuter menyampaikan bahwa perjalanan tersebut memang disiapkan untuk membantu petugas mencapai tujuan operasi. Penjelasan perusahaan mengaitkan keberadaan KLB dengan koordinasi antarlembaga, bukan sebagai layanan tambahan reguler bagi masyarakat. Informasi ini memberi gambaran mengenai alasan kereta relasi Jakarta Kota–Tanjung Priok beroperasi di luar pola perjalanan biasanya pada sekitar pukul 06.25 WIB.

Dengan demikian, KLB tersebut merupakan sarana mobilisasi petugas dalam rangka mendukung operasi Polri dan BNN di Kampung Bahari. Keterangan Karina Amanda menegaskan bahwa perjalanan dilakukan berdasarkan koordinasi dengan kepolisian dan diarahkan untuk mengangkut personel menuju Tanjung Priok.

Sejumlah polisi turun dari kereta rel listrik (KRL) dengan membawa perlengkapan masing-masing saat operasi di Kampung Bahari berlangsung. Kehadiran petugas melalui jalur kereta menjadi salah satu bagian dari upaya mendekati lokasi dari arah yang berbeda. Pada saat bersamaan, petugas lain bergerak menuju kawasan tersebut menggunakan kendaraan lain, termasuk sepeda motor. Pergerakan melalui beberapa moda itu dilakukan untuk mendukung penggerebekan yang menyasar sejumlah titik di wilayah Kampung Bahari.

Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Bismo Teguh Prakoso menjelaskan, penggerebekan dilakukan dari berbagai sisi. Salah satu jalur yang digunakan adalah area rel di Kampung Bahari, sehingga KRL turut dimanfaatkan dalam operasi. Menurut Bismo, pendekatan dari sejumlah arah tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan operasi secara serempak, bukan kegiatan yang hanya berpusat pada satu akses masuk. Petugas bergerak sesuai kebutuhan di lapangan dan menggunakan sarana yang tersedia untuk mencapai lokasi sasaran.

Operasi tersebut melibatkan petugas gabungan dari Badan Narkotika Nasional (BNN), Bareskrim Polri, Polda Metro Jaya, serta Korps Brigade Mobil (Brimob). Keterlibatan berbagai unsur itu menunjukkan adanya koordinasi lintas lembaga dalam pelaksanaan kegiatan. Masing-masing petugas mengambil bagian dalam rangkaian operasi, baik yang memasuki kawasan melalui jalur rel maupun yang menuju lokasi dengan kendaraan lain. Bismo menyebut kegiatan dilakukan serempak dengan kolaborasi berbagai pihak.

Penggunaan KRL dalam pergerakan petugas menjadi salah satu aspek yang menonjol dari operasi tersebut, karena jalur rel ikut menjadi akses menuju kawasan yang didatangi. Namun, pengerahan petugas tidak terbatas pada kereta. Kendaraan lain, termasuk sepeda motor, juga digunakan untuk mendukung mobilitas tim di lapangan. Dengan bergerak dari berbagai sisi secara bersamaan, aparat menjalankan penggerebekan sebagai operasi gabungan yang melibatkan sejumlah lembaga. Keterangan Bismo menegaskan bahwa pola tersebut dirancang melalui koordinasi dan pelaksanaan serentak oleh unsur-unsur yang terlibat.

KAI Commuter menjelaskan bahwa perjalanan Kereta Luar Biasa (KLB) yang digunakan untuk mobilisasi kepolisian dalam operasi di Kampung Bahari tidak berdampak pada layanan reguler Commuter Line menuju Tanjung Priok. Dengan demikian, penggunaan perjalanan khusus tersebut tidak membuat seluruh layanan KRL di jalur itu terganggu. Kereta reguler tetap beroperasi, meskipun sejumlah perjalanan mengalami keterlambatan ketika kegiatan penggerebekan berlangsung di kawasan tersebut.

Menurut keterangan perusahaan, terdapat tiga perjalanan Commuter Line relasi Jakarta Kota–Tanjung Priok yang mengalami keterlambatan. Rentang keterlambatan tercatat 4 hingga 19 menit. Gangguan waktu perjalanan itu dikaitkan dengan kerumunan warga yang berada di area rel saat penggerebekan berlangsung. Kondisi tersebut membuat perjalanan pada relasi terkait perlu menyesuaikan situasi di lapangan, sehingga waktu tempuh beberapa kereta menjadi lebih lama dari jadwal yang seharusnya.

Keterangan tersebut membedakan dampak perjalanan KLB untuk mobilisasi kepolisian dari keterlambatan yang dialami tiga kereta reguler. KAI Commuter menyatakan perjalanan KLB tidak mengganggu layanan reguler menuju Tanjung Priok, sementara keterlambatan terbatas terjadi karena adanya warga yang berkerumun di rel. Karena itu, kejadian ini tidak berarti semua perjalanan Commuter Line di kawasan tersebut mengalami gangguan. Informasi mengenai jumlah kereta dan durasi keterlambatan juga menunjukkan bahwa dampaknya terjadi pada perjalanan tertentu, bukan seluruh layanan.

KAI Commuter menyampaikan permohonan maaf kepada para pengguna yang terdampak atas ketidaknyamanan selama perjalanan. Perusahaan meminta maaf atas waktu tunggu yang lebih panjang pada tiga perjalanan tersebut, sekaligus menjelaskan pemicu keterlambatan agar penumpang memperoleh informasi yang jelas. Bagi pengguna relasi Jakarta Kota–Tanjung Priok, keterangan ini menegaskan bahwa layanan tetap berjalan, tetapi beberapa kereta sempat tiba atau melanjutkan perjalanan lebih lambat. Permohonan maaf itu ditujukan kepada pelanggan yang merasakan dampak langsung, tanpa menyatakan bahwa keseluruhan operasional KRL menuju Tanjung Priok terhenti atau terganggu.

Bismo mengatakan, saat penggerebekan berlangsung, transaksi narkoba masih ditemukan di salah satu lapak yang berada di pinggir rel. Temuan itu menunjukkan bahwa aktivitas terlarang tersebut belum sepenuhnya berhenti meskipun operasi penertiban dilakukan. Lokasi lapak yang berdekatan dengan jalur kereta menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut, karena area itu masih dimanfaatkan untuk transaksi. Keterangan Bismo menegaskan bahwa operasi tidak hanya menyasar tempat yang diduga digunakan, tetapi juga bertujuan menghentikan kegiatan yang masih berlangsung di lapangan.

Menurut Bismo, penindakan akan terus dilakukan di berbagai tempat. Operasi di Kampung Bahari bukanlah akhir dari upaya aparat untuk menangani peredaran narkoba, melainkan bagian dari langkah yang berkelanjutan. Pengejaran terhadap bandar juga akan diteruskan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa aparat masih berupaya menelusuri pihak-pihak yang diduga mengendalikan kegiatan itu, sekaligus menindaklanjuti informasi yang ditemukan selama operasi. Namun, Bismo tidak merinci lokasi berikutnya maupun waktu pelaksanaan kegiatan lanjutan. Karena itu, fokus pernyataannya berada pada komitmen untuk melanjutkan operasi dan pengejaran, bukan pada rincian hasil penindakan tertentu.

Bismo juga menyampaikan bahwa lapak-lapak di lokasi tersebut akan dibongkar agar tidak kembali disalahgunakan. Pembongkaran dipandang sebagai langkah untuk mencegah tempat yang sama dipakai lagi untuk aktivitas serupa setelah penggerebekan. Penertiban fisik itu melengkapi operasi dan pengejaran, dengan tujuan mengurangi peluang penggunaan kembali area pinggir rel sebagai tempat transaksi. Ia menekankan pentingnya memastikan lapak tidak lagi menjadi sarana bagi kegiatan yang melanggar hukum. Dengan demikian, langkah yang disampaikan mencakup penindakan di lokasi, upaya mengejar bandar, serta pembongkaran lapak.

Baca juga: Koops TNI Habema Amankan Kampung Balamai atas, Pangkoops: Ketegasan untuk Melindungi Masyarakat dan Menjaga Ruang Damai | Lanud Sjamsudin Noor Dukung Operasi Modifikasi Cuaca, Perkuat Upaya Penanganan Karhutla Kalimantan | Kodim 1714/Puncak Jaya Gandeng Masyarakat Binaan Membangun Jembatan Merah Putih di Kampung Kulok Enggame