Jakarta | Dalam beberapa tahun terakhir, terlihat di Amerika Serikat perubahan pilihan sebagian anak muda terhadap perangkat komunikasi. Sejumlah dari mereka mulai melirik ponsel fitur, yakni telepon dengan fungsi dasar seperti panggilan dan pesan, sebagai alternatif smartphone yang kaya aplikasi. Pilihan ini tidak berarti semua pengguna muda meninggalkan teknologi cerdas atau menolak konektivitas. Sebaliknya, sebagian orang mencari perangkat yang lebih sederhana untuk kebutuhan tertentu, atau menggunakannya berdampingan dengan smartphone. Perubahan ini menjadi bahan perhatian karena memperlihatkan bahwa kebiasaan digital dapat beragam bahkan di kelompok usia yang sering dianggap selalu terhubung. Pengamatan tersebut terutama berkaitan dengan pasar Amerika Serikat, bukan gambaran tentang Indonesia.
Influencer Jose Briones menjelaskan bahwa salah satu alasan sebagian anak muda tertarik pada ponsel sederhana adalah rasa jenuh terhadap layar smartphone. Perangkat yang terus menampilkan notifikasi, aplikasi, dan konten dapat membuat pengguna merasa harus selalu memeriksa ponsel. Dalam situasi itu, ponsel fitur menawarkan pilihan dengan lebih sedikit gangguan digital. Pengguna tetap dapat menghubungi orang lain, tetapi tidak selalu memiliki akses langsung ke berbagai layanan yang menyita perhatian. Bagi sebagian anak muda, batasan tersebut justru menjadi daya tarik: mereka dapat mengatur waktu menggunakan perangkat dan memberi ruang bagi kegiatan lain. Alasan ini menggambarkan pengalaman sebagian individu, bukan pendapat yang mewakili seluruh Gen Z.
Memilih ponsel fitur juga tidak selalu berarti meninggalkan smartphone sepenuhnya. Ada pengguna yang memakai perangkat sederhana saat akhir pekan, ketika bepergian, atau pada waktu tertentu untuk mengurangi paparan layar, tetapi tetap menyimpan smartphone untuk pekerjaan, belajar, navigasi, dan kebutuhan praktis lainnya. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa pilihan perangkat dapat disesuaikan dengan konteks, bukan sekadar penolakan terhadap teknologi. Meski pembicaraan tentang ponsel fitur dan anak muda menguat di Amerika Serikat, hal itu tidak serta-merta membuktikan kebiasaan yang sama sedang berkembang di Indonesia. Kebiasaan digital di setiap negara dipengaruhi akses, kebutuhan, budaya, dan kondisi pasar yang berbeda. Karena itu, fenomena tersebut lebih tepat dipahami sebagai pilihan sebagian anak muda untuk mencari keseimbangan, bukan perubahan seragam dalam perilaku satu generasi.
Di tengah penggunaan smartphone yang semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari, sebagian anak muda mulai merasa jenuh dengan perangkat yang mereka gunakan. Rasa bosan itu membuat ponsel jadul kembali masuk dalam pertimbangan, bukan semata sebagai benda nostalgia, melainkan sebagai pilihan perangkat dengan cara kerja yang berbeda. Ponsel fitur, atau feature phone, menawarkan ruang fungsi yang lebih terbatas dibandingkan smartphone. Perbedaan tersebut menjadi inti dari daya tarik yang sedang dipertimbangkan: perangkat ini tidak menyediakan keluasan fungsi seperti telepon pintar, dan karena itu pengalaman penggunaannya pun tidak sama. Perubahan minat ini menunjukkan bahwa tidak semua anak muda menganggap fitur yang semakin banyak selalu menjadi hal yang mereka cari.
Kecenderungan tersebut dapat dipahami sebagai respons terhadap kejenuhan memakai smartphone, bukan sebagai penolakan menyeluruh terhadap teknologi. Saat sejumlah anak muda menengok kembali ponsel fitur, perhatian mereka tertuju pada batas kemampuan perangkat itu. Feature phone tetap dapat dipakai sebagai ponsel, tetapi fungsinya tidak seluas smartphone. Dengan demikian, pembicaraan tentang ponsel jadul bukan berarti kedua jenis perangkat menawarkan kemampuan yang setara. Justru keterbatasan fungsi menjadi pembeda yang jelas di keduanya. Bagi sebagian orang, mempertimbangkan perangkat yang lebih sederhana dapat menjadi cara untuk mengubah jenis pengalaman dalam menggunakan ponsel, meski pilihan tersebut berarti menerima fungsi yang lebih terbatas.
Pengamatan Briones mengenai kecenderungan ini dapat dibaca sebagai tanda bahwa hubungan anak muda dengan smartphone tidak selalu bergerak menuju penggunaan perangkat yang semakin canggih. Rasa bosan dapat mendorong mereka menimbang kembali perangkat lama, termasuk ponsel fitur, tanpa harus menganggapnya sebagai pengganti yang memiliki kemampuan sama. Ponsel jadul kembali dilirik karena hadir dengan lingkup fungsi yang lebih sempit daripada smartphone, dan fakta itu perlu tetap menjadi bagian dari gambaran tren tersebut. Minat ini juga tidak berarti semua anak muda akan beralih atau bahwa feature phone menjadi pilihan yang dominan. Yang terlihat adalah sebagian dari mereka mulai mempertanyakan kembali perangkat yang digunakan, lalu memasukkan ponsel dengan fungsi terbatas ke dalam pertimbangan. Kecenderungan itu menggambarkan perubahan minat yang muncul di tengah kejenuhan, bukan kesimpulan bahwa satu jenis ponsel lebih unggul daripada yang lain.
Perubahan minat terhadap ponsel sederhana membuka peluang bagi HMD Global, perusahaan pemegang merek Nokia yang pernah sangat populer dan banyak terjual pada awal 2000-an. Bagi sebagian konsumen, perangkat dengan fungsi dasar menawarkan pilihan yang berbeda dari smartphone modern yang semakin kompleks. Pergeseran perhatian ini membuat feature phone kembali terlihat di tengah pasar yang selama ini berfokus pada perangkat pintar.
Salah satu tanda yang menonjol terlihat di Amerika Serikat. Pada 2022, penjualan feature phone di negara tersebut melonjak hingga puluhan ribu unit per bulan. Capaian itu terjadi ketika penjualan global feature phone justru sedang menurun. Perbedaan arah tren di Amerika Serikat dan kondisi dunia menunjukkan bahwa permintaan tidak bergerak seragam di setiap pasar. Meski belum mengubah gambaran global, kenaikan tersebut memberi ruang bagi HMD Global untuk menjangkau konsumen yang mencari perangkat lebih sederhana.
Namun, pasar feature phone secara keseluruhan masih banyak ditopang oleh kawasan lain. Timur Tengah, Afrika, dan India menjadi wilayah penting bagi kategori ini. Menurut Counterpoint Research, negara-negara di kawasan tersebut menyumbang 80 persen pasar pada tahun sebelumnya. Angka ini memberi konteks tentang besarnya peran pasar berkembang, sekaligus menjelaskan mengapa penjualan di Amerika Serikat dapat meningkat tanpa menghapus dominasi kawasan tersebut.
Kondisi itu menempatkan HMD Global dalam posisi yang menarik. Perusahaan dapat memanfaatkan pengenalan konsumen terhadap nama Nokia, sambil memperhatikan kebutuhan yang berbeda pasar Amerika Serikat dan wilayah yang selama ini menjadi basis utama feature phone. Popularitas Nokia pada masa lalu juga menjadi bagian dari daya tarik merek, terutama ketika sebagian konsumen mempertimbangkan perangkat dengan fungsi yang lebih terarah.
Meski demikian, kenaikan penjualan di satu negara perlu dibaca secara proporsional. Lonjakan bulanan di Amerika Serikat merupakan sinyal adanya minat, bukan bukti bahwa seluruh pasar sedang tumbuh. Dengan pasar global yang melemah dan penjualan yang terkonsentrasi di Timur Tengah, Afrika, serta India, peluang bagi HMD Global bergantung pada kemampuannya merespons pola permintaan di tiap wilayah. Tren ini memperlihatkan bahwa ponsel fitur masih memiliki tempat, meskipun posisinya berbeda dari smartphone.
Kondisi pasar smartphone di Indonesia memberikan konteks lokal yang berbeda dari perkembangan penggunaan ponsel fitur di Amerika Serikat. Dalam beberapa tahun terakhir, pasar domestik berada dalam tekanan seiring melemahnya daya beli masyarakat. Ponsel pintar tetap menjadi perangkat penting untuk komunikasi, pekerjaan, pendidikan, dan layanan digital, tetapi keputusan pembelian dapat tertunda ketika rumah tangga lebih berhati-hati mengatur pengeluaran. Karena itu, pelemahan pasar perlu dibaca sebagai gambaran kinerja industri dan permintaan di Indonesia, bukan sebagai bukti bahwa konsumen secara luas beralih ke jenis perangkat tertentu.
Data IDC Worldwide Quarterly Mobile Phone Tracker menunjukkan bahwa pasar smartphone Indonesia turun 14,3 persen pada 2023. Pengiriman perangkat pada tahun tersebut tercatat hanya sekitar 35 juta unit.
50 kunjungan