Kota Ternate | Antrean kendaraan terlihat memanjang di SPBU Batu Anteru, Kota Ternate, Maluku Utara. Sepeda motor dan mobil mengular hingga ratusan meter untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM), termasuk Pertalite. Panjang antrean tersebut menunjukkan banyak kendaraan menunggu giliran di lokasi pengisian. Kondisi ini menjadi gambaran situasi yang dihadapi pengendara di SPBU tersebut, tanpa mengubahnya menjadi perkiraan mengenai jumlah kendaraan atau lamanya setiap orang menunggu.
Di kendaraan yang mengantre, sepeda motor dan mobil sama-sama menempati barisan menuju tempat pengisian BBM. Antrean yang terbentang ratusan meter membuat proses menunggu terlihat jelas dari panjang barisan kendaraan. Pengendara yang datang untuk mengisi BBM harus mengikuti antrean sebelum memperoleh giliran. Situasi di Batu Anteru itu tercatat di wilayah Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, dengan kendaraan yang terus memanjang dalam barisan.
Gambaran antrean tersebut berpusat pada panjangnya barisan kendaraan dan tujuan para pengendara, yakni mengisi BBM di SPBU Batu Anteru. Sepeda motor maupun mobil berada dalam antrean yang sama-sama mengular hingga ratusan meter. Tidak ada keterangan tambahan mengenai jumlah pasti kendaraan, durasi antrean, ataupun faktor yang membuat barisan itu terbentuk. Karena itu, kondisi di lokasi dapat dijelaskan secara terbatas pada kendaraan yang menunggu giliran dan panjang antrean yang mencapai ratusan meter.
Yus, seorang sopir angkutan kota, mulai mengantre di SPBU sekitar pukul 05.00 WIT untuk mendapatkan Pertalite. Ia harus menunggu sebelum dapat masuk ke area pengisian. Waktu terus berjalan, sementara Yus masih berada dalam antrean. Sekitar pukul 08.00 WIT, setelah menunggu kurang lebih tiga jam sejak mulai mengantre, kendaraannya baru masuk ke area SPBU. Perjalanan dari awal antrean hingga tiba di dalam area tersebut menjadi bagian pertama dari waktu tunggunya.
Namun, masuk ke area SPBU belum berarti Yus dapat langsung mengisi bahan bakar. Ia masih harus menunggu sekitar setengah jam sebelum gilirannya tiba. Setelah melalui waktu tunggu itu, Yus akhirnya mengisi Pertalite pada pukul 08.30 WIT. Dengan demikian, rangkaian menunggunya dimulai sekitar pukul 05.00 WIT, berlanjut hingga masuk area sekitar pukul 08.00 WIT, lalu berakhir saat pengisian dilakukan setengah jam kemudian.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa waktu yang dibutuhkan Yus tidak berhenti ketika ia mencapai area SPBU. Ia terlebih dahulu menghabiskan sekitar tiga jam untuk mengantre, kemudian masih menunggu sekitar tiga puluh menit sebelum dapat mengisi Pertalite. Urutan waktunya jelas: mulai mengantre pada sekitar pukul 05.00 WIT, masuk area SPBU sekitar pukul 08.00 WIT, dan mengisi bahan bakar pada pukul 08.30 WIT. Sebagai sopir angkutan kota, Yus harus menjalani proses menunggu itu sebelum memperoleh Pertalite. Ia menyampaikan bahwa dirinya mulai mengantre sejak pagi dan baru bisa mengisi setelah menunggu hingga sekitar pukul 08.30 WIT. Kisah Yus menggambarkan lamanya waktu yang ia lalui di SPBU, dari awal antrean sampai akhirnya mendapat kesempatan mengisi. Tidak ada jeda lain yang disebutkan dalam urutan tersebut: setelah masuk area SPBU, ia masih menanti sekitar setengah jam. Barulah pada pukul 08.30 WIT pengisian Pertalite berlangsung.Pihak SPBU Batu Anteru membantah bahwa antrean panjang kendaraan terjadi karena kekurangan stok Pertalite. Menurut operator SPBU, Nasarudin, kondisi tersebut berkaitan dengan pola penjualan bahan bakar di wilayah itu. Ia menyampaikan bahwa penjualan Pertalite saat itu difokuskan di SPBU Batu Anteru, sehingga pengendara yang membutuhkan jenis bahan bakar tersebut datang ke lokasi yang sama. Keterangan ini merupakan penjelasan dari pihak operator, dan tidak dengan sendirinya membuktikan penyebab antrean melalui pemeriksaan terpisah.
Nasarudin juga mengatakan bahwa SPBU lain tidak melayani penjualan Pertalite pada periode tersebut. Dengan pilihan lokasi yang disebut terbatas, permintaan dari para pengendara terkumpul di satu tempat dan berpotensi membuat antrean terlihat lebih panjang. Namun, informasi mengenai layanan di SPBU lain tersebut disampaikan berdasarkan keterangan operator Batu Anteru; kondisi masing-masing SPBU tidak dijelaskan secara terpisah dalam pernyataan itu. Karena itu, penjelasan tersebut perlu dipahami sebagai versi pihak pengelola, bukan sebagai gambaran yang telah diverifikasi secara independen.
Dalam keterangannya, Nasarudin menyebut pelayanan Pertalite di SPBU Batu Anteru berlangsung sampai Sabtu. SPBU kemudian tutup pada Minggu, sehingga masyarakat tidak dapat memperoleh layanan di lokasi itu pada hari tersebut. Jadwal itu menjadi bagian penting untuk memahami pengalaman pengendara yang mencari Pertalite, terutama apabila mereka datang ketika layanan telah berakhir atau saat SPBU tidak beroperasi. Meski demikian, pernyataan mengenai hari pelayanan dan penutupan tersebut tetap merujuk pada keterangan operator. Informasi itu tidak memastikan berapa banyak stok tersedia, berapa lama antrean berlangsung, atau apakah ada penyebab lain yang turut memengaruhi situasi. Dengan demikian, bantahan soal kekurangan stok dan penjelasan mengenai pemusatan penjualan sebaiknya dicatat sebagai klaim dari pihak SPBU, sementara pengendara masih menanti kejelasan mengenai akses bahan bakar di lokasi lain.
Selain keluhan di lokasi lain, antrean panjang kendaraan juga dilaporkan terjadi di SPBU Wonomulyo, yang berada di Jalan Trans Sulawesi, Kabupaten Polewali Mandar. Dalam keterangan sumber, barisan kendaraan di sana dapat memanjang hingga sekitar dua kilometer. Panjangnya antrean membuat pengendara harus menunggu cukup lama sebelum memperoleh bahan bakar, sementara kendaraan yang terus berdatangan menambah kepadatan di sekitar stasiun pengisian. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan antrean Pertalite tidak hanya dirasakan di satu titik, tetapi juga menjadi perhatian warga di kawasan lain.
Antrean pembeli BBM di SPBU Wonomulyo disebut telah menjadi pemandangan sehari-hari. Pengendara yang melintas maupun warga setempat dapat menyaksikan kendaraan berbaris untuk mengisi bahan bakar. Meski wilayah tersebut memiliki empat SPBU, sebagaimana disebutkan dalam sumber, keberadaan beberapa stasiun pengisian itu belum serta-merta menghilangkan antrean. Permintaan yang tinggi dan waktu tunggu yang panjang tetap menjadi bagian dari pengalaman masyarakat. Bagi pengendara yang perlu melanjutkan perjalanan atau menjalankan pekerjaan, waktu yang habis di jalur antrean dapat mengganggu kegiatan sehari-hari dan menambah beban perjalanan.
Situasi ini membuat warga berharap ada langkah yang lebih nyata untuk mengatasi masalah, bukan sekadar penanganan sementara. Pemerintah dan Pertamina diharapkan meninjau kondisi pasokan serta distribusi BBM, sekaligus memastikan pelayanan di SPBU dapat merespons kebutuhan masyarakat secara lebih baik. Informasi yang jelas mengenai ketersediaan bahan bakar juga dapat membantu pengendara merencanakan perjalanan dan mengurangi ketidakpastian saat mencari BBM. Harapan tersebut disampaikan oleh warga dan pengendara di kedua daerah yang terdampak antrean. Mereka menginginkan solusi konkret agar akses terhadap Pertalite lebih lancar, antrean tidak terus mengular, dan waktu masyarakat tidak banyak tersita hanya untuk menunggu giliran mengisi bahan bakar.






