Jakarta | Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperkuat inovasi serta kepemimpinan agar mampu menjaga daya saing di tengah perubahan pasar dan perkembangan teknologi digital. Perubahan perilaku konsumen, pola transaksi, dan persaingan usaha menuntut UMKM untuk terus menyesuaikan cara kerja, tanpa mengabaikan kebutuhan menjaga keberlangsungan operasional. Dalam situasi tersebut, kemampuan membaca perubahan dan meresponsnya secara tepat menjadi bagian penting dari kesiapan usaha menghadapi tantangan maupun peluang baru.
Wakil Sekretaris Umum APINDO, Aditya Warman, menyampaikan bahwa kapasitas pemimpin usaha berperan penting dalam mengarahkan bisnis melewati dinamika tersebut. Pemimpin tidak hanya bertugas memastikan kegiatan sehari-hari berjalan, tetapi juga perlu mengembangkan peluang dan mendorong terciptanya nilai tambah. Dengan kepemimpinan yang adaptif, pelaku UMKM dapat menilai kebutuhan pasar, mengambil keputusan dengan lebih terarah, serta mengajak tim untuk menjalankan perubahan yang diperlukan. Inovasi pun dapat diterapkan secara bertahap, sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing usaha, baik dalam produk, layanan, maupun proses kerja.
Gagasan tersebut disampaikan dalam pelatihan bertema “The SME’s Innopreneur Shifting: Empowering Innopreneur Genome” bagi aparatur sipil negara dan pelaku usaha di Ternate, Maluku Utara, pada Sabtu. Kegiatan ini menjadi wadah untuk membahas penguatan kapasitas kewirausahaan dan kepemimpinan dalam menghadapi perubahan. Bagi UMKM, pengembangan kemampuan tersebut dapat membantu usaha lebih siap beradaptasi dengan perkembangan digital dan perubahan tuntutan konsumen. Penggunaan teknologi, misalnya, perlu disertai pemahaman mengenai manfaatnya bagi kegiatan usaha, bukan sekadar mengikuti tren. Dengan demikian, inovasi dapat mendukung efisiensi sekaligus membuka ruang untuk menjangkau pelanggan dan pasar yang lebih luas.
Dorongan APINDO menempatkan kepemimpinan dan inovasi sebagai unsur yang saling melengkapi. Pemimpin yang mampu mengelola operasional, mengenali potensi, dan mendorong pembaruan dapat membantu UMKM membangun ketahanan usaha. Upaya ini relevan bagi pelaku bisnis yang ingin mempertahankan keberlangsungan sekaligus memperkuat posisi di tengah persaingan yang terus berkembang.
Aditya menjelaskan bahwa kapasitas innopreneur bertumpu pada empat unsur: toolset, skillset, mindset, dan mental set. Keempatnya perlu dipahami sebagai rangkaian yang saling melengkapi, bukan sebagai istilah yang berdiri sendiri. Dalam paparannya, penekanan utama adalah peran bersama unsur-unsur itu dalam membangun kapasitas pelaku usaha untuk menjalankan bisnis dan merespons tantangan. Kerangka ini memberi perhatian pada kemampuan yang dibutuhkan wirausaha inovatif agar tidak hanya mengelola kegiatan usaha sehari-hari, tetapi juga mampu menyesuaikan diri ketika keadaan berubah. Aditya menempatkan empat unsur tersebut sebagai landasan untuk memperkuat kapasitas usaha.
Secara keseluruhan, toolset dan skillset berkaitan dengan penguatan kemampuan teknis dan manajerial yang diperlukan dalam kegiatan usaha. Kapasitas ini membantu pelaku UMKM mengelola proses bisnis secara lebih baik, sekaligus mendukung penerapan gagasan dalam praktik. Namun, uraian Aditya menempatkan toolset dan skillset sebagai bagian dari empat unsur kapasitas innopreneur, tanpa memberikan definisi khusus yang membatasi arti masing-masing. Penekanan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kemampuan praktis perlu berjalan bersama aspek lain, sehingga pelaku usaha dapat mengembangkan cara kerja dan pengelolaan yang sesuai dengan kebutuhan bisnis. Penguatan kapasitas teknis dan manajerial menjadi salah satu dasar bagi usaha untuk bertumbuh dan beradaptasi.
Mindset dan mental set turut melengkapi landasan itu dengan mendukung kapasitas berinovasi serta ketangguhan menghadapi perubahan. Dalam lingkungan usaha yang terus bergerak, kemampuan untuk berinovasi penting agar UMKM dapat mencari peluang dan menanggapi tantangan. Ketangguhan juga diperlukan ketika pelaku usaha menghadapi perubahan kondisi, sehingga mereka dapat terus menjalankan dan menyesuaikan usahanya. Aditya menyoroti keempat unsur tersebut secara terpadu; karena itu, penguatan innopreneurship tidak hanya terkait keterampilan teknis atau pengelolaan, tetapi juga kapasitas untuk berinovasi dan bertahan di tengah perubahan. Kerangka ini menegaskan pentingnya pengembangan kapasitas secara menyeluruh sebagai bagian dari upaya memperkuat daya saing UMKM.
Pelaku UMKM membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengarahkan usaha sekaligus tanggap terhadap perubahan pasar. Kemampuan membaca peluang menjadi salah satu bekal penting: pemilik usaha perlu mencermati perubahan kebutuhan, kebiasaan, dan pilihan pelanggan, lalu menilai apakah kondisi tersebut dapat menjadi ruang untuk mengembangkan produk atau layanan. Pengamatan pasar yang dilakukan secara berkelanjutan membantu usaha menentukan prioritas dan menghindari keputusan yang hanya didasarkan pada asumsi. Dengan memahami siapa pelanggan yang dilayani dan persoalan yang ingin mereka atasi, UMKM dapat menyusun penawaran yang lebih relevan serta menetapkan arah usaha secara lebih terukur.
Pemahaman pelanggan juga perlu disertai penggunaan data dalam pengambilan keputusan. Informasi penjualan, tanggapan pelanggan, dan perkembangan permintaan dapat menjadi bahan pertimbangan ketika pelaku usaha memilih produk yang perlu dikembangkan, menentukan sasaran pemasaran, atau meninjau proses kerja. Data tidak menggantikan penilaian pemimpin usaha, tetapi dapat membantu memperjelas kondisi dan menguji asumsi sebelum keputusan diambil. Langkah ini perlu diikuti strategi pertumbuhan yang realistis, dengan tujuan dan prioritas yang sesuai kapasitas usaha. Kepemimpinan yang baik berarti mampu menetapkan arah, mengelola sumber daya, serta meninjau perkembangan agar strategi dapat disesuaikan ketika situasi berubah.
Dalam penekanan APINDO, pemanfaatan teknologi digital dapat mendukung upaya UMKM memperkuat daya saing. Perangkat digital, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dapat dipertimbangkan untuk membantu meningkatkan efisiensi, memperluas jangkauan pasar, dan mendukung pengambilan keputusan bisnis. Teknologi tersebut sebaiknya dipilih berdasarkan kebutuhan usaha dan digunakan sebagai sarana pendukung, bukan sebagai pengganti pemahaman terhadap pelanggan maupun pertimbangan pemilik usaha. Pelaku UMKM perlu mengenali tujuan yang ingin dicapai sebelum menerapkan solusi digital, kemudian menilai kesesuaiannya dengan proses dan kemampuan yang tersedia. Dengan menggabungkan kepemimpinan, pemahaman pasar, pemanfaatan data, dan teknologi secara terarah, usaha dapat membangun landasan yang lebih kuat untuk merencanakan pertumbuhan dan merespons peluang secara cermat.
APINDO memandang penguatan sumber daya manusia sebagai unsur penting dalam upaya meningkatkan daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah. Namun, peningkatan kapasitas pelaku usaha tidak cukup dilakukan melalui pelatihan yang berdiri sendiri. Proses tersebut perlu disertai pendampingan yang berkelanjutan agar pengetahuan dapat diterapkan sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing usaha. Dengan demikian, pelaku UMKM dapat memperoleh arahan ketika menghadapi tantangan, sekaligus membangun kepercayaan diri untuk mengambil keputusan bisnis secara lebih terencana.
Pendampingan juga perlu mencakup pengembangan kompetensi yang relevan dengan perubahan pasar dan perkembangan teknologi. Kemampuan mengelola keuangan, memahami kebutuhan konsumen, memanfaatkan kanal digital, menjaga mutu produk, serta merancang strategi pemasaran dapat membantu UMKM menjalankan usaha secara lebih efektif. Pendekatan yang tepat sebaiknya memperhatikan perbedaan skala, sektor, dan tingkat kesiapan usaha. Materi dan metode pembelajaran yang kontekstual memungkinkan pelaku usaha mengembangkan kemampuan secara bertahap, sementara evaluasi berkala membantu mengidentifikasi dukungan lanjutan yang masih diperlukan.
Menurut APINDO, upaya ini akan lebih kuat apabila melibatkan kolaborasi dunia usaha, pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya. Pemerintah dapat mendukung melalui kebijakan serta akses terhadap program pengembangan, sedangkan perguruan tinggi dan lembaga pendidikan dapat berkontribusi melalui pengetahuan, riset, dan pendampingan. Dunia usaha dapat membuka ruang berbagi pengalaman, jejaring, dan peluang kemitraan. Koordinasi antarpihak dibutuhkan agar dukungan tidak berjalan terpisah, melainkan saling melengkapi dan menjawab kebutuhan nyata UMKM di berbagai daerah.
APINDO berharap kegiatan penguatan kapasitas dan kolaborasi tersebut dapat mendorong UMKM mengembangkan model bisnis yang adaptif terhadap perubahan, meningkatkan produktivitas, serta memperluas jangkauan pasar.
Baca juga: TNI Fair 2026, Stand Pusterad Dipadati Ribuan Pengunjung Hadirkan Edukasi dan Beragam Inovasi | Pantau Langsung Perkembangan Karhutla, Komandan Lanud Sjamsudin Noor Bersama Forkopimda Kalsel Turun ke Lapangan Uji Fungsi Inovasi Injeksi Air | Siaga Hadapi Karhutla, Dandim 1710/Mimika Tekankan Pentingnya Sinergitas






