Asap Karhutla Bergeser dari Jabodetabek, BMKG Catat Kondisi Udara Beragam

Asap Karhutla Bergeser dari Jabodetabek, BMKG Catat Kondisi Udara Beragam

Jakarta | Pada Sabtu, sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai bergerak menjauhi Jawa bagian barat, termasuk kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Perubahan arah sebaran tersebut terlihat dalam pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), setelah asap sempat terdeteksi memasuki wilayah itu sehari sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaan asap di suatu kawasan dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer, sehingga pemantauan perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menyampaikan keterangan tersebut di Jakarta pada Sabtu. Menurutnya, citra satelit pada Jumat (16/10) memperlihatkan asap karhutla sempat memasuki wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jabodetabek, dalam waktu singkat. Namun, asap itu tidak bertahan lama di kawasan tersebut. Pemantauan yang sama juga menunjukkan bahwa lintasan asap tidak serta-merta berarti kualitas udara di permukaan ikut terdampak. Dalam peristiwa ini, keberadaan asap yang terpantau dari satelit tidak menimbulkan dampak terhadap kualitas udara permukaan di Jabodetabek.

Pada Sabtu pagi hingga siang, BMKG kembali memantau pergerakan sebaran asap dan melihat pergeseran berlangsung secara bertahap. Asap bergerak menjauhi Jawa bagian barat seiring melemahnya pergerakan angin. Perubahan tersebut menjadi bagian dari pola atmosfer yang memengaruhi arah dan jarak sebaran asap, meskipun laju pergeserannya tidak selalu sama dari waktu ke waktu. Karena itu, gambaran yang diperoleh dari pemantauan pada satu waktu dapat berbeda dengan kondisi beberapa jam kemudian.

Penjelasan BMKG tersebut membedakan deteksi asap pada citra satelit dan kondisi udara yang dirasakan di permukaan. Citra satelit membantu memperlihatkan sebaran asap di atmosfer, sedangkan informasi mengenai kualitas udara permukaan diperlukan untuk mengetahui kondisi udara di wilayah yang dihuni masyarakat. Dalam kasus ini, asap terpantau sempat memasuki Jabodetabek, tetapi berlangsung singkat dan tidak bertahan cukup lama hingga berdampak pada kualitas udara permukaan. Pergerakan yang terpantau pada Sabtu pun mengarah menjauh dari kawasan itu.

Pemantauan berkala tetap diperlukan karena sebaran asap dapat berubah mengikuti kondisi angin dan atmosfer. Dengan memperhatikan informasi terbaru dari BMKG, masyarakat dapat memahami perkembangan pergerakan asap tanpa menyamakan setiap deteksi satelit dengan penurunan kualitas udara di permukaan. Keterangan Guswanto memberikan gambaran bahwa pada Jumat asap sempat melintas, sementara pantauan Sabtu menunjukkan pergeseran bertahap menjauhi Jawa bagian barat.

Pergeseran sebaran asap karhutla menjauh dari Jabodetabek tidak berarti seluruh sisa asap telah hilang dari wilayah sekitarnya. Pengamatan masih mendeteksi asap di pesisir barat Banten, terutama pada lapisan atmosfer atas dengan ketinggian sekitar 10.000–18.000 kaki. Temuan tersebut menggambarkan keberadaan asap di udara bagian atas, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan keadaan udara yang dihirup masyarakat di permukaan. Karena itu, informasi mengenai lokasi dan ketinggian asap perlu dibaca bersama data kualitas udara di masing-masing kawasan.

Guswanto menegaskan bahwa asap yang terpantau di lapisan atas tidak otomatis meningkatkan konsentrasi polutan di permukaan. Kondisi pada kedua lapisan dapat berbeda, sehingga keberadaan asap di ketinggian tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa kualitas udara darat memburuk secara merata. Pengukuran PM2.5 di Kemayoran, Jakarta, menunjukkan rentang 46,7–109,7 mikrogram per meter kubik. Rentang yang cukup lebar itu berada dalam kategori sedang hingga tidak sehat, bergantung pada nilai yang tercatat pada waktu pengukuran. Data tersebut memberikan gambaran spesifik untuk lokasi dan periode pemantauan, bukan ukuran tunggal bagi seluruh wilayah Jabodetabek.

Perbedaan antarlokasi juga terlihat pada Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup. Marunda tercatat memiliki nilai 49, termasuk kategori baik, sedangkan Tanah Abang berada pada angka 60 atau kategori sedang. Di sisi lain, Kelapa Gading mencatat 103, Menteng 116, dan Kebun Jeruk 120; ketiganya masuk kategori tidak sehat. Variasi angka ini menunjukkan bahwa kualitas udara di Jabodetabek tidak seragam pada saat pemantauan. Sebagian titik masih berada dalam kategori baik atau sedang, sementara titik lain mencatat tingkat pencemaran yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, kondisi di satu stasiun tidak seharusnya dianggap mewakili semua kawasan. Warga dapat merujuk pembaruan pengukuran untuk lokasi terdekat, sembari membedakan data permukaan dari pantauan asap di lapisan atas. Dengan pembacaan yang memperhatikan konteks tersebut, laporan sebaran asap maupun angka PM2.5 dan ISPU dapat dipahami secara lebih tepat tanpa menyamaratakan keadaan udara di seluruh kawasan.BMKG mengimbau masyarakat agar tetap memantau perkembangan kualitas udara di lingkungan masing-masing, terutama ketika informasi mengenai asap karhutla beredar. Imbauan tersebut disampaikan Guswanto. Pemantauan secara berkala membantu warga memahami kondisi yang benar-benar terjadi di sekitar tempat tinggal atau tempat beraktivitas, sebab kualitas udara dapat berbeda satu lokasi dan lokasi lainnya. Karena itu, masyarakat sebaiknya merujuk pada informasi pemantauan yang relevan dengan wilayahnya, bukan hanya menyimpulkan keadaan dari gambaran umum atau kabar mengenai sebaran asap.

Perbedaan asap yang terpantau di lapisan atas atmosfer dan polutan yang diukur dekat permukaan menjadi hal penting untuk dipahami. Pengamatan asap di ketinggian menunjukkan keberadaan partikel pada lapisan tertentu, tetapi tidak dengan sendirinya menggambarkan kadar polutan yang sedang dihirup masyarakat di permukaan. Kondisi di permukaan dipengaruhi oleh keadaan setempat dan perlu dinilai melalui pengukuran kualitas udara pada tingkat tersebut. Dengan demikian, informasi tentang asap di lapisan atas dan hasil pemantauan polutan permukaan saling melengkapi, tetapi keduanya tidak dapat dianggap sebagai ukuran yang identik.

Hasil pemantauan di sejumlah titik Jakarta juga menunjukkan bahwa kondisi kualitas udara tidak selalu seragam. Angka atau kategori yang tercatat di satu lokasi belum tentu mewakili seluruh wilayah, sehingga membaca hasil dari satu titik saja dapat menghasilkan gambaran yang kurang lengkap. Perbedaan ini menjadi alasan bagi warga untuk memperhatikan data dari titik pemantauan yang paling dekat serta mengikuti pembaruan dari sumber resmi. BMKG meminta masyarakat tetap dan mengikuti perkembangan, tanpa serta-merta mengaitkan keberadaan asap pada lapisan atas dengan kondisi udara di setiap kawasan. Dengan memantau informasi setempat secara rutin, warga dapat memperoleh gambaran yang lebih sesuai mengenai kualitas udara di sekitarnya.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menyampaikan bahwa sebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terpantau di sejumlah wilayah Indonesia. Area yang disebut mencakup sebagian besar Sumatera dan Kalimantan, kemudian Sulawesi Tengah hingga Sulawesi Selatan, Maluku, serta Papua. Keterangan ini menunjukkan bahwa pemantauan asap tidak hanya mencakup satu kawasan, melainkan beberapa bagian dari wilayah barat, tengah, dan timur Indonesia. BMKG mencatat kondisi tersebut dalam pemantauan yang disampaikan kepada publik, dengan sebaran yang dinyatakan masih terlihat di wilayah-wilayah tersebut.

Menurut Andri, keadaan itu berkaitan dengan jumlah titik panas yang masih tinggi. Titik panas menjadi salah satu informasi yang dipantau BMKG dalam melihat kondisi terkait karhutla di berbagai daerah. Catatan mengenai jumlah dan sebarannya memberikan gambaran mengenai wilayah yang terpantau memiliki titik panas, sekaligus menjadi konteks bagi laporan tentang sebaran asap. Namun, keterangan yang disampaikan dalam laporan ini terbatas pada wilayah pemantauan dan angka titik panas, tanpa menguraikan penyebab lain maupun dampak yang mungkin terjadi. Karena itu, informasi tersebut perlu dipahami sesuai cakupan data yang dirilis BMKG.

Dalam catatan BMKG pada 16 Oktober 2026, terdapat 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla