Jakarta | Daryono, anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia, menyebut asap kebakaran hutan dan lahan dari luar daerah secara meteorologis berpeluang bergerak hingga DKI Jakarta. Kemungkinan tersebut berkaitan dengan pola angin pada musim angin timuran, ketika arah dan kecepatan angin dapat membawa massa udara dari wilayah lain menuju kawasan ibu kota. Sumber asap yang dibahas dapat mencakup kebakaran di Kalimantan, selain wilayah lain yang berada dalam jalur pergerakan udara. Penjelasan ini menggambarkan potensi yang dapat terjadi berdasarkan kondisi atmosfer, bukan laporan bahwa asap tertentu sudah teramati di Jakarta.
Penting untuk membedakan kemungkinan pergerakan asap dengan kepastian bahwa asap karhutla telah mencapai ibu kota. Keterangan Daryono tidak menetapkan bahwa kondisi udara Jakarta saat ini dipengaruhi kebakaran di Kalimantan, dan tidak dengan sendirinya membuktikan asal suatu polutan. Asap yang terlihat atau peningkatan pencemar di suatu wilayah dapat memiliki beragam penyebab. Karena itu, penentuan sumber membutuhkan pemeriksaan tersendiri, termasuk membandingkan data kualitas udara, pengamatan lapangan, dan kondisi meteorologi pada waktu kejadian. Tanpa bukti tersebut, hubungan kebakaran di luar daerah dan kualitas udara Jakarta sebaiknya diperlakukan sebagai dugaan yang masih perlu diuji.
Untuk menilai apakah asap berpeluang mencapai DKI Jakarta pada waktu tertentu, analisis perlu menggunakan data angin aktual, bukan hanya gambaran umum musim. Informasi arah dan kecepatan angin, perubahan cuaca, serta lokasi dan waktu kebakaran dapat membantu memperkirakan jalur sebaran. Pemodelan atmosfer dan pemantauan kualitas udara juga dapat menunjukkan apakah massa udara dari kawasan terdampak bergerak menuju ibu kota dan apakah konsentrasi pencemar berubah selama periode tersebut. Hasilnya perlu diperiksa secara berkala karena pola angin dapat bergeser, sementara intensitas kebakaran dan kondisi atmosfer juga berubah. Dengan demikian, pernyataan tentang peluang tetap berada pada ranah meteorologis sampai didukung pengukuran dan analisis yang mengonfirmasi perjalanan serta sumber asap.
Pada musim kemarau, angin timuran kerap menjadi pola dominan di Indonesia. Secara umum, aliran udara dari arah timur atau tenggara dapat membawa asap dan partikel dari wilayah kebakaran ke arah barat. Namun, pola umum ini tidak cukup untuk memastikan ke mana polusi akan bergerak pada suatu waktu tertentu. Arah angin dapat berubah menurut lokasi, ketinggian, waktu pengamatan, serta keadaan atmosfer yang sedang berlangsung.
Karena itu, kondisi angin di Kalimantan belum tentu sama dengan kondisi di Laut Jawa maupun Jakarta. Perbedaan tekanan, bentuk permukaan, dan dinamika cuaca setempat dapat menghasilkan arah serta kecepatan angin yang berbeda dalam jarak yang relatif berdekatan. Angin permukaan yang terukur di satu daerah juga tidak selalu menggambarkan aliran udara pada lapisan yang lebih tinggi. Untuk menilai kemungkinan asap mencapai wilayah lain, pengamatan perlu mencakup beberapa lokasi dan ketinggian, bukan hanya satu titik.
Partikel halus seperti PM2.5 dapat terbawa naik melalui turbulensi dan konveksi. Proses tersebut dapat mengangkat partikel hingga ratusan, bahkan ribuan meter, bergantung pada kondisi atmosfer dan intensitas pemanasan. Pada ketinggian itu, arah angin mungkin berbeda dari angin yang dirasakan di permukaan. Asap yang terbawa di lapisan atas dapat mengikuti jalur berbeda, kemudian turun kembali ketika kondisi udara mendukung pencampuran vertikal. Dengan demikian, jalur sebaran tidak selalu tampak dari arah angin dekat tanah.
Pola angin juga dapat berubah sementara akibat gangguan atmosfer, terbentuknya daerah bertekanan rendah, atau sirkulasi siklonik. Masa peralihan monsun dapat menghadirkan pola yang lebih bervariasi dibandingkan aliran musiman yang dominan. Perubahan semacam itu dapat membuka kemungkinan aliran udara menuju Laut Jawa dan Jakarta, tetapi kemungkinan bukan bukti bahwa asap kebakaran tertentu benar-benar telah mencapai wilayah tersebut. Kepastian memerlukan analisis gabungan atas data angin berlapis, citra satelit, pengukuran PM2.5, serta pemodelan transportasi partikel. Informasi tersebut membantu membedakan potensi pergerakan asap dari sumber polusi yang telah teridentifikasi secara langsung.
Asap kebakaran hutan dan lahan yang bergerak jauh dari sumbernya tidak selalu mempertahankan konsentrasi maupun komposisi awal. Selama perjalanan, partikel dapat tersebar ke volume udara yang lebih besar sehingga mengalami pengenceran. Asap juga bercampur dengan polutan setempat, termasuk emisi kendaraan dan kegiatan industri. Pada saat yang sama, reaksi kimia di atmosfer dapat mengubah sebagian kandungannya, sementara hujan dan proses pengendapan membawa partikel keluar dari udara. Karena itu, keberadaan asap di suatu wilayah tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa konsentrasi polutan di sana meningkat tajam.
Dampak yang mungkin dirasakan di Jakarta bergantung pada beberapa kondisi yang berubah dari waktu ke waktu. Jumlah dan jenis emisi di lokasi kebakaran menentukan banyaknya partikel yang dilepaskan. Kecepatan serta arah angin memengaruhi jarak dan waktu tempuh asap, sedangkan curah hujan dapat membantu menghilangkan partikel dari atmosfer. Stabilitas atmosfer turut menentukan apakah polutan menyebar, terperangkap dekat permukaan, atau terangkat ke lapisan udara yang lebih tinggi. Dengan demikian, prediksi pergerakan asap perlu dibaca bersama data meteorologi dan pengukuran kualitas udara, bukan hanya berdasarkan kemungkinan jalur angin.
Secara ilmiah, partikel PM2.5 yang berasal dari pembakaran biomassa dapat dibedakan dari emisi kendaraan melalui analisis komposisi kimia, karakteristik aerosol, dan penelusuran pola angin. Namun, pemantau PM2.5 konvensional umumnya mengukur konsentrasi partikel halus, bukan langsung memastikan sumber setiap partikel. Jika asap telah bercampur dengan polusi lokal, satu angka pengukuran saja belum cukup untuk menyatakan bahwa karhutla merupakan penyebabnya. Penentuan sumber memerlukan data tambahan, seperti analisis sampel, pemodelan sebaran, dan pembandingan dengan kondisi di wilayah lain. Daryono menegaskan bahwa ia belum mengetahui apakah asap karhutla benar-benar telah sampai di Jakarta. Ia meminta kondisi tersebut diperiksa, sehingga dugaan perlu diuji melalui pemantauan dan bukti yang memadai sebelum disimpulkan sebagai kejadian polusi akibat kebakaran.Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah warga Jakarta mengaku merasakan kabut tipis, terutama pada malam hari setelah pukul 20.00 WIB. Udara tampak berkabut dan sebagian warga menyebut baunya serta sensasi di udara menyerupai kabut asap. Pengalaman tersebut menjadi perhatian di tengah kabar mengenai potensi pergerakan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menuju Jakarta. Namun, kesan visual maupun bau saja belum cukup untuk memastikan asal polutan. Kabut dapat dipengaruhi berbagai kondisi, termasuk kelembapan dan pencemar dari sumber lokal, sehingga dugaan keterkaitan dengan karhutla masih perlu diuji melalui data dan keterangan resmi.
Pemantauan IQAir pada Jumat menunjukkan kualitas udara sempat berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Pada pagi hari, indeks kualitas udara (AQI) tercatat mencapai 186, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 107 mikrogram per meter kubik. Pada pukul 12.00 WIB, AQI berada di angka 169 dan PM2.5 tercatat 81 mikrogram per meter kubik. Konsentrasi tersebut setara dengan 16,2 kali nilai panduan harian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menurut data yang dirujuk. Angka-angka ini menggambarkan paparan partikel halus pada waktu pengukuran, tetapi tidak dengan sendirinya mengidentifikasi penyebab atau menunjukkan bahwa asap berasal dari wilayah karhutla tertentu.
Menjelang tengah malam, pembacaan sensor menunjukkan kondisi yang berkisar dari sedang hingga tidak sehat bagi kelompok sensitif, dengan AQI rata-rata sekitar 110–140. Jakarta Selatan dan Jakarta Barat cenderung mencatat tingkat polusi lebih tinggi dibandingkan kawasan pusat atau utara.
Baca juga: Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla | Menembus Asap Karhutla Kalsel, Personel Lanud Sjamsudin Noor dan Kekuatan Udara Bergerak, Heli TNI AU dan Gabungan Dikerahkan, Wujud Negara Hadir | Siang Hingga Dini Hari, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Terus Bergerak, Terjang Padamkan Api di Lahan Gambut




