Jakarta | Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat penelitian untuk memperkirakan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam rentang tiga hingga enam bulan ke depan. Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan rencana tersebut setelah mengikuti rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa. Upaya ini diarahkan untuk menyediakan dukungan riset bagi penanganan karhutla, terutama dalam perencanaan jangka menengah dan panjang.
Menurut Arif, Presiden Prabowo Subianto meminta BRIN melakukan riset yang dapat membantu pemerintah menangani karhutla. Arahan itu mendorong penguatan kemampuan untuk memperkirakan potensi kebakaran jauh sebelum kejadian berlangsung, bukan hanya menanggapi kondisi ketika api telah muncul. Rentang prediksi tiga hingga enam bulan menjadi bagian dari upaya memahami kemungkinan risiko secara lebih awal dan memperluas waktu bagi pihak terkait untuk menyiapkan langkah penanganan.
Prediksi dalam jangka tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun respons yang lebih terencana. Informasi mengenai potensi karhutla berpeluang membantu pengambil kebijakan menilai kapan kewaspadaan perlu ditingkatkan dan bagaimana persiapan dapat disesuaikan dengan perkiraan risiko. Namun, prediksi merupakan dukungan berbasis riset, bukan kepastian bahwa kebakaran akan terjadi di lokasi atau waktu tertentu. Karena itu, hasil penelitian perlu dipahami sebagai salah satu masukan dalam proses pengambilan keputusan.
Penguatan riset juga menempatkan kebutuhan jangka menengah dan panjang sebagai perhatian. Dengan perkiraan yang menjangkau beberapa bulan, pemerintah memiliki dasar untuk mempertimbangkan langkah sebelum periode berisiko, sekaligus meninjau kebutuhan penanganan secara lebih menyeluruh. BRIN menjalankan penelitian sesuai arahan Presiden, sementara informasi yang disampaikan Arif menegaskan peran riset dalam mendukung upaya menghadapi karhutla. Rencana ini menjadi bagian dari pengembangan kapasitas prediksi agar penanganan dapat didukung oleh informasi yang lebih dini dan terukur. Meski demikian, rincian metode, cakupan wilayah, maupun bentuk tindak lanjut riset tidak disampaikan dalam keterangan tersebut. Fokus yang disampaikan adalah memperkirakan potensi kebakaran untuk beberapa bulan ke depan serta menopang penanganan dalam horizon waktu lebih panjang.Riset BRIN untuk memprediksi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus berkembang. Pengembangan model tersebut kini memasuki proses validasi, sebagai bagian dari upaya menilai kesiapan hasil riset sebelum digunakan untuk mendukung perencanaan antisipasi. Tahap ini menandai kemajuan dari penelitian yang sebelumnya masih berfokus pada pengembangan kemampuan prediksi. Dengan demikian, model yang disusun diarahkan agar dapat memberi gambaran mengenai kemungkinan kejadian karhutla dalam rentang waktu mendatang.
Arif menjelaskan bahwa sasaran pengembangan tersebut adalah memperkirakan potensi karhutla hingga tiga atau enam bulan ke depan. Perkiraan dengan rentang beberapa bulan ini diharapkan memberi waktu lebih luas bagi pihak terkait untuk menyiapkan langkah pencegahan dan penanganan. Informasi mengenai potensi kejadian dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menyusun rencana, terutama ketika antisipasi perlu dilakukan sebelum kebakaran benar-benar terjadi. Kemampuan memperkirakan kondisi lebih awal juga penting agar kesiapsiagaan tidak hanya bergantung pada respons setelah munculnya kejadian.
Meski demikian, prediksi yang sedang dikembangkan tetap perlu melalui proses validasi. Arif menyampaikan perkembangan riset dan tujuan jangka prediksi tersebut, tanpa menyebutkan rincian metode validasi. Karena itu, tahap ini dapat dipahami sebagai bagian dari penyempurnaan dan penilaian terhadap model, bukan sebagai keterangan bahwa seluruh hasilnya telah siap diterapkan. Informasi mengenai prediksi tiga hingga enam bulan ke depan menunjukkan arah manfaat yang hendak dicapai, sementara proses validasi masih menjadi bagian dari perjalanan penelitian.
Jika nantinya dapat mendukung perencanaan, model prediksi karhutla berpotensi membantu langkah antisipatif disusun lebih dini. Rentang waktu tersebut memberi kesempatan untuk mempertimbangkan kebutuhan dan tindakan yang relevan sebelum potensi kebakaran meningkat. Namun, perkiraan tetap berfungsi sebagai masukan untuk perencanaan, bukan kepastian bahwa kebakaran akan terjadi di lokasi atau waktu tertentu. Pengembangan yang berlanjut hingga tahap validasi menjadi penting agar hasil riset dapat dinilai lebih lanjut sebagai dukungan bagi upaya kesiapsiagaan. Dengan fokus pada prediksi beberapa bulan ke depan, BRIN berupaya mengembangkan informasi yang dapat dimanfaatkan untuk menyiapkan antisipasi karhutla secara lebih terencana.
Selain mengembangkan model untuk memperkirakan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), BRIN juga meneliti pola perambatan api di lokasi kejadian. Kajian ini diperlukan karena kebakaran tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi yang memicu munculnya api, tetapi juga oleh keadaan lingkungan di sekitarnya. Perubahan cuaca, karakteristik vegetasi, kondisi lahan, serta faktor lain dapat memengaruhi bagaimana api bergerak dan meluas. Dengan mempelajari faktor-faktor tersebut, peneliti berupaya memperoleh pemahaman lebih baik mengenai proses penyebaran api di suatu kawasan.
Hasil riset pola perambatan api diharapkan dapat membantu memperkirakan arah dan jangkauan penyebaran kebakaran. Informasi tersebut dapat menjadi bahan bagi pihak terkait untuk menyiapkan langkah antisipasi sebelum api mencapai wilayah yang lebih luas atau area yang berisiko. Perkiraan arah perambatan juga berpotensi mendukung penentuan prioritas pemantauan dan kesiapan sumber daya di lapangan. Dengan demikian, kajian ini melengkapi model prediksi potensi kebakaran: model memberikan gambaran mengenai kemungkinan terjadinya kebakaran, sedangkan analisis perambatan membantu memahami kemungkinan perkembangan api setelah kebakaran muncul.
Untuk memperkuat kajian tersebut, BRIN merencanakan kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi. Kerja sama ini diarahkan untuk mengembangkan penelitian prediksi kebakaran sekaligus memperdalam analisis pola perambatan api. Kolaborasi dapat mempertemukan kepakaran, data, dan pendekatan penelitian dari beragam bidang, sehingga pemahaman mengenai risiko karhutla dapat dibangun secara lebih menyeluruh. Pengembangan metode dan pertukaran hasil kajian juga diharapkan mendukung penyusunan informasi yang relevan bagi upaya pencegahan serta kesiapan penanganan. Kemampuan memprediksi potensi kebakaran dinilai penting bukan semata-mata untuk merespons kejadian setelah api muncul, melainkan juga untuk membantu mencegah kebakaran dan mengurangi dampaknya. Karena itu, penguatan riset dan kemitraan menjadi bagian penting dalam mendukung langkah antisipatif yang lebih terencana.
BRIN melakukan pemantauan titik api setiap hari dengan memanfaatkan citra satelit. Pengamatan rutin tersebut menjadi bagian dari kegiatan lembaga dalam menyediakan informasi mengenai indikasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Citra satelit digunakan untuk mengenali titik api di berbagai wilayah, sehingga informasi yang diperoleh dapat disusun dan disampaikan kepada pihak yang berkepentingan. Pemantauan harian ini melengkapi pengembangan prediksi karhutla untuk jangka waktu hingga enam bulan ke depan, dengan fungsi yang berbeda: pengamatan mencatat kondisi yang terdeteksi, sedangkan prediksi membantu menyediakan perkiraan untuk periode mendatang.
Informasi hasil deteksi titik api dibagikan kepada lembaga terkait, lain Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kehutanan. Penyampaian informasi tersebut ditujukan untuk mendukung penanganan karhutla oleh lembaga yang memiliki kepentingan dan tugas terkait. Dengan demikian, hasil pengamatan dari citra satelit tidak hanya menjadi bahan pemantauan di BRIN, tetapi juga dapat diteruskan sebagai informasi pendukung kepada instansi yang memerlukannya. Rincian mengenai temuan harian maupun tindak lanjutnya tetap bergantung pada informasi yang tersedia dari masing-masing lembaga; pemantauan ini sendiri merupakan salah satu sumber informasi yang dapat dibagikan.
Arif menjelaskan bahwa BRIN memiliki kewenangan terkait pemanfaatan satelit dan citra satelit untuk berbagai keperluan. Salah satu pemanfaatan tersebut adalah mendeteksi titik api. Kewenangan itu menjadi dasar bagi BRIN untuk menggunakan pengamatan berbasis satelit dalam kegiatan pemantauan, sekaligus menyampaikan informasi yang relevan kepada lembaga terkait. Penggunaan citra satelit untuk deteksi titik api merupakan bagian dari pemanfaatan teknologi pengamatan untuk memperoleh informasi mengenai karhutla.
Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla






