Dari Bali hingga Bintan: Lokasi Indonesia dalam Drama Korea

Dari Bali hingga Bintan: Lokasi Indonesia dalam Drama Korea

Jakarta | Sejumlah produksi drama Korea pernah memanfaatkan lokasi di Indonesia untuk menghadirkan suasana yang berbeda dari latar Korea Selatan. Lanskap tropis, pantai, kawasan wisata, dan lingkungan perkotaan memberi pilihan visual yang beragam bagi cerita. Kehadiran lokasi Indonesia bukan sekadar hiasan: dalam beberapa produksi, tempat-tempat tersebut membantu membangun suasana, memperkuat perjalanan tokoh, atau memberi konteks pada hubungan mereka. Perbedaan iklim, warna alam, dan tata ruang membuat adegan terasa memiliki identitas tersendiri, sekaligus memperluas dunia cerita bagi penonton.

Indonesia dapat hadir dalam drama Korea melalui beberapa cara. Ada produksi yang datang untuk mengambil gambar secara langsung, memanfaatkan pemandangan dan fasilitas setempat sebagai bagian dari visual cerita. Ada pula kisah yang mengaitkan suatu lokasi dengan pekerjaan, perjalanan, atau kehidupan tokoh, sehingga Indonesia menjadi bagian dari alur, bukan hanya latar yang terlihat sesaat. Dalam bentuk lain, keterlibatan Indonesia dan Korea dapat muncul melalui kolaborasi produksi. Ragam pendekatan ini menunjukkan bahwa penggunaan lokasi tidak selalu berarti hal yang sama bagi setiap drama.

Bali, Bintan, dan Jakarta menjadi tiga lokasi yang dibahas dalam artikel ini. Bali dikenal dengan citra tropis dan kawasan wisatanya, sementara Bintan menawarkan bentang pantai serta suasana resor yang dapat mendukung adegan bernuansa liburan atau perjalanan. Jakarta menghadirkan karakter berbeda melalui lingkungan perkotaan, aktivitas masyarakat, dan suasana metropolitan. Perbedaan tersebut memungkinkan masing-masing tempat memberi warna visual yang khas. Ketiganya juga memperlihatkan bahwa Indonesia tidak dapat dipandang sebagai satu latar yang seragam, karena setiap lokasi memiliki suasana dan kemungkinan penceritaan yang berlainan.

Ketika lokasi Indonesia masuk ke dalam drama Korea, penonton memperoleh gambaran tentang ruang yang melampaui lingkungan sehari-hari para tokoh di Korea Selatan. Kehadiran tempat-tempat ini dapat menciptakan kontras, memperluas skala cerita, sekaligus menghubungkan narasi dengan pengalaman perjalanan atau kerja lintas negara. Dampaknya bergantung pada cara produksi menggunakan lokasi: apakah sebagai latar visual, bagian penting dari kehidupan tokoh, atau hasil kerja sama antarnegara. Dengan demikian, Bali, Bintan, dan Jakarta memberi pintu masuk untuk melihat bagaimana Indonesia tampil dalam produksi Korea melalui beragam fungsi dan nuansa.

Dalam What Happened in Bali, yang juga dikenal dengan judul Memories in Bali, Bali bukan sekadar latar indah, melainkan bagian langsung dari kehidupan tokoh utama. Drama yang dibintangi Ha Ji Won, Jo In Sung, So Ji Sub, dan Park Ye Jin ini mengikuti Soo Jung, agen perjalanan asal Korea yang bekerja di pulau tersebut. Pekerjaannya mempertemukannya dengan wisatawan dan membawanya ke dalam hubungan cinta yang rumit. Karena itu, Bali hadir sebagai ruang tempat rutinitas profesional, pertemuan penting, dan konflik personal tokoh berkembang secara beriringan.

Suasana tropis, pantai, serta kawasan wisata Bali memberi kontras visual dan emosional terhadap kehidupan perkotaan di Korea Selatan. Pemandangan terbuka dan ritme destinasi liburan membuat kisah para tokohnya terasa berbeda dari drama yang sepenuhnya berlangsung di lingkungan kota. Pada saat yang sama, latar wisata tidak menghapus ketegangan cerita: hubungan antartokoh tetap dipengaruhi ambisi, perbedaan kepentingan, dan pilihan pribadi. Perpaduan tersebut membuat Bali berfungsi sebagai unsur naratif, bukan hanya sebagai pemandangan yang mempercantik gambar.

Nuansa wisata juga menonjol dalam drama romantis Prince’s First Love, yang dibintangi Sung Yu Ri, Cha Tae Hyun, dan Kim Nam Jin. Ceritanya berpusat pada Kim Yu Bin, seorang pemandu wisata yang menjalin hubungan dengan Choi Gun Hee, pria dari keluarga kaya. Perbedaan latar belakang mereka, ditambah kehadiran orang ketiga, menjadi sumber konflik dalam kisah cinta tersebut. Salah satu lokasi yang dikaitkan dengan produksinya ialah Pantai Balangan di Bali selatan. Tebing dan panorama laut di kawasan ini memberi ruang bagi adegan romantis sekaligus memperkuat citra Bali sebagai destinasi liburan. Pemandangan pesisir dapat mendukung suasana intim, sementara lanskapnya menghadirkan skala visual yang khas. Namun, keterangan resmi yang menjelaskan alasan khusus pemilihan Pantai Balangan masih terbatas. Dengan demikian, kaitan lokasi dapat dibahas melalui perannya dalam membangun suasana dan citra wisata, tanpa menganggap motif produksi tertentu telah dipastikan.

Worlds Within (2008) menampilkan Hyun Bin dan Song Hye Kyo sebagai Jung Ji Oh dan Joo Joon Young, dua sutradara drama televisi yang bekerja di industri hiburan Korea. Ceritanya mengikuti kehidupan mereka di tengah tuntutan produksi, hubungan dengan rekan kerja, serta persoalan pribadi yang berkembang seiring perjalanan karier. Karena berpusat pada proses pembuatan drama, serial ini juga memperlihatkan lingkungan kerja para kru dan dinamika di balik layar, bukan hanya kisah romantis kedua tokohnya. Perpaduan urusan profesional dan personal tersebut memberi ruang bagi latar yang beragam untuk mendukung alur cerita.

Salah satu lokasi Indonesia yang disebut dalam kaitan dengan produksi Worlds Within adalah Pulau Bintan, di Kepulauan Riau. Pulau ini dikenal dengan garis pantai, kawasan resor, dan pemandangan lautnya. Unsur tersebut menghadirkan suasana tropis yang berbeda dari latar urban Korea yang banyak terlihat dalam kisah tentang pekerjaan Ji Oh dan Joon Young. Kontras visual lingkungan kota dan pesisir dapat memberi variasi pada tampilan serial, sekaligus menunjukkan bagaimana lokasi di luar Korea dapat muncul dalam produksi drama televisi Korea. Bintan menawarkan lanskap yang terasa lapang dan santai, berlawanan dengan ritme kota serta kesibukan lokasi kerja yang menjadi bagian penting cerita.

Meski demikian, informasi yang tersedia tidak menjelaskan secara terperinci pertimbangan produksi di balik pemilihan Bintan. Rincian mengenai keputusan kreatif, kebutuhan teknis, anggaran, biaya perjalanan, maupun proses perizinan tidak terkonfirmasi. Karena itu, faktor-faktor tersebut tidak dapat dinyatakan sebagai alasan faktual mengapa lokasi ini digunakan. Yang dapat disampaikan dengan hati-hati ialah bahwa Bintan disebut sebagai salah satu lokasi yang terkait dengan produksi, sementara pantai dan resornya memberi latar tropis yang berbeda dari suasana perkotaan Korea. Kehadiran lokasi ini memperluas variasi visual drama, tanpa perlu mengasumsikan motif produksi yang belum didukung keterangan jelas. Dengan demikian, Bintan menjadi bagian menarik dari pembahasan tentang lokasi Indonesia dalam drama Korea, di samping tempat-tempat lain yang dikenal penonton melalui tayangan televisi.

Berbeda dari tiga judul sebelumnya, Saranghae, I Love You hadir sebagai kolaborasi Indonesia–Korea yang mempertemukan cerita, pemain, dan lokasi dari kedua negara. Drama ini dibintangi Tim Hwang sebagai Kim Young Min dan Revalina S. Temat sebagai Ayu. Kehadiran dua pemeran utama tersebut menjadi bagian penting dari kisah tentang pertemuan seorang penyanyi Korea dengan perempuan Indonesia, serta hubungan lintas budaya yang berkembang setelah mereka berkenalan.

Kim Young Min datang ke Bali sebagai penyanyi Korea. Di pulau itu, ia bertemu Ayu, perempuan Indonesia yang kemudian menjadi sosok penting dalam kehidupannya. Pertemuan mereka menjadi titik awal cerita, sementara pengalaman dan latar masing-masing tokoh ikut membentuk hubungan yang terjalin. Dengan demikian, Indonesia tidak sekadar hadir sebagai nama tempat yang disebut dalam alur. Kehidupan Ayu dan kedekatannya dengan Kim Young Min membawa unsur Indonesia masuk ke dalam perkembangan cerita dan relasi para tokohnya.

Pengambilan gambar Saranghae, I Love You berlangsung di Indonesia dan Korea Selatan. Jakarta dan Bali tampil di layar sebagai bagian dari ruang cerita.