Semarang | Tasripin dikenal sebagai pengusaha es asal Semarang yang berhasil mengumpulkan kekayaan besar pada masa kolonial Belanda. Namanya kerap disebut dalam kisah perkembangan industri es di Jawa, ketika produksi dan distribusi es menjadi usaha bernilai penting di tengah perubahan kehidupan perkotaan. Ia bahkan dikenang sebagai salah satu orang terkaya pada zamannya. Koran De Nieuwe Vorstenlanden pada 8 September 1919 memuat catatan mengenai kekayaan Tasripin. Berita itu menyebut bahwa ketika ia meninggal pada 1919, hartanya diperkirakan mencapai 45 juta gulden. Angka tersebut memberi gambaran mengenai skala kekayaan yang dapat dihimpun seorang pengusaha lokal dalam perekonomian kolonial.
Untuk memahami besarnya jumlah itu, salah satu cara yang dapat digunakan adalah membandingkannya dengan harga kebutuhan pokok pada masa tersebut. Pada waktu itu, satu liter beras dilaporkan berharga sekitar 6 sen. Dengan memakai perbandingan itu, 45 juta gulden setara dengan nilai 750 juta liter beras: 45 juta dibagi 0,06 gulden menghasilkan 750 juta. Perhitungan ini bukan penyesuaian resmi atas nilai mata uang, melainkan pendekatan sederhana berdasarkan daya beli beras. Meski terbatas, ukuran tersebut membantu pembaca masa kini membayangkan betapa besar jumlah harta yang diberitakan.
Jika harga beras saat ini diasumsikan sekitar Rp13.000 per liter, nilai 750 juta liter beras mencapai kurang lebih Rp9,75 triliun, atau sekitar Rp9,7 triliun setelah dibulatkan. Perkiraan inilah yang sering digunakan untuk menggambarkan kekayaan Tasripin dalam satuan rupiah masa kini. Namun, angka tersebut tidak boleh dianggap sebagai nilai kekayaan yang tercatat langsung dalam rupiah ataupun konversi pasti dari gulden ke rupiah. Harga beras, daya beli, struktur ekonomi, dan nilai mata uang berubah dari masa ke masa. Karena itu, taksiran hampir Rp10 triliun sebaiknya dipahami sebagai ilustrasi berdasarkan perbandingan harga beras, sementara angka 45 juta gulden tetap merupakan jumlah yang diberitakan pada 1919.
Pada masa Tasripin, usaha es memiliki peluang besar karena lemari es dan mesin pendingin belum tersedia seperti sekarang. Ketiadaan peralatan tersebut membuat es sulit diperoleh dan menjadikannya barang yang bernilai tinggi. Bagi masyarakat yang membutuhkan es, pasokan dari pabrik menjadi penting, sementara keterbatasan akses dapat mendorong tingginya permintaan. Keadaan ini membuka ruang bagi pengusaha yang mampu memproduksi dan menyediakan es secara teratur. Perkembangan usaha Tasripin dapat dibaca dalam konteks kebutuhan tersebut, meskipun catatan yang tersedia tidak merinci jumlah produksi, harga, ataupun kelompok pelanggan pabriknya.
Jejak pabrik es Tasripin tercatat di Ungaran, Semarang. Kabar mengenai keberadaan pabrik itu dimuat surat kabar De Locomotief pada 25 Juli 1902. Catatan tersebut menunjukkan bahwa usaha esnya telah beroperasi di wilayah itu pada awal abad ke-20. Delapan tahun kemudian, Tasripin mendirikan pabrik lain di kawasan Petelan, Semarang. Perluasan dari Ungaran ke Petelan menandai pertumbuhan usahanya, sekaligus menunjukkan bahwa kegiatan produksi esnya tidak terbatas pada satu lokasi saja. Namun, informasi yang ada hanya memastikan keberadaan kedua pabrik dan tidak menjelaskan secara terperinci kapan pabrik pertama mulai dibangun atau bagaimana proses perluasannya berlangsung.
Pemberitaan De Locomotief pada 5 September 1910 menyebut pabrik Petelan sebagai yang terbesar di sana. Pabrik tersebut juga dikabarkan dioperasikan langsung oleh Tasripin, yang lahir pada 1834. Keterangan tentang ukuran dan pengelolaan ini memberi gambaran mengenai skala usaha yang berhasil ia bangun di Semarang. Di tengah keadaan ketika es sulit didapat, keberadaan pabrik besar berpotensi menjawab kebutuhan pasar dan memperkuat posisi usaha tersebut. Meski demikian, kabar surat kabar itu tidak memberikan angka kapasitas produksi maupun penjualan, sehingga ukuran keberhasilan bisnisnya tidak dapat dihitung secara pasti hanya dari catatan tersebut. Yang dapat ditegaskan ialah adanya pabrik di Ungaran pada 1902, disusul pendirian pabrik Petelan yang terbesar di kawasan itu pada 1910. Rangkaian informasi ini memperlihatkan pertumbuhan usaha es Tasripin secara bertahap, dengan tetap bertumpu pada fakta yang tercatat dalam pemberitaan sezaman.
Kekayaan Tasripin tidak hanya berasal dari penjualan es. Di samping mengembangkan usaha pabrik es, ia menjalankan kegiatan bisnis lain yang memberi sumber pemasukan tambahan. Tasripin memiliki rumah penjagalan dan terlibat dalam jual-beli kulit hewan. Ragam usaha tersebut memperlihatkan bahwa penghasilannya bertumpu pada sejumlah bidang, bukan semata-mata pada satu komoditas. Pabrik es tetap menjadi bagian penting dari perjalanan usahanya, sementara perdagangan hasil hewan dan kegiatan penjagalan turut menyokong kekuatan ekonominya.
Dari berbagai kegiatan bisnis itu, Tasripin disebut memperoleh pemasukan bulanan sekitar 30 ribu hingga 40 ribu gulden. Angka tersebut memberi gambaran tentang besarnya skala usaha yang ia kelola pada masa itu. Kekayaannya juga tercermin dari kepemilikan banyak rumah dan tanah di Semarang. Pada saat yang sama, pabrik es miliknya semakin tersebar, memperluas jangkauan usaha di luar satu lokasi. Perpaduan aset berupa properti dan jaringan usaha menunjukkan bahwa keberhasilannya mencakup pengembangan bisnis sekaligus penghimpunan kekayaan dalam bentuk tanah dan bangunan.
Setelah Tasripin meninggal pada 1919, keluarganya meneruskan bisnis es yang telah ia bangun. Namun, keterangan mengenai perjalanan usaha keluarga tersebut setelah masa itu tidak diketahui lebih lanjut, sehingga kelanjutan dan perubahan bisnisnya tidak dapat dipastikan. Dalam catatan sejarah, Tasripin dikenang sebagai orang terkaya dari kalangan pribumi di Indonesia. Penilaian tersebut berkaitan dengan luasnya kekayaan yang ia miliki, termasuk rumah, tanah, serta berbagai sumber pemasukan. Kisahnya juga menempatkan usaha es sebagai titik awal penting bagi keberhasilannya, meskipun kekayaan yang terkumpul kemudian ditopang oleh diversifikasi ke bidang lain. Dengan demikian, perjalanan bisnis Tasripin menggambarkan bagaimana industri es dapat menjadi landasan bagi kegiatan usaha yang lebih luas dan pembentukan kekayaan besar.
Selain Tasripin, Kwa Wan Hong menjadi salah satu pelaku penting dalam perkembangan industri es di Jawa. Ia hidup sezaman dengan Tasripin dan menetap di Semarang. Sejumlah sumber menyebut Kwa sebagai “raja es” sekaligus perintis industri es pertama di Indonesia. Pada 1895, ia mendirikan pabrik Hoo Hien, yang memproduksi es secara lokal dan membantu memperluas ketersediaannya bagi masyarakat. Kehadiran pabrik tersebut menandai perubahan dari penggunaan es yang terbatas menjadi produk yang dapat dipasarkan lebih luas.
Sejarawan Denys Lombard, dalam Nusa Jawa Silang Budaya (1999), menerangkan bahwa proses pembuatan es di pabrik Kwa memanfaatkan reaksi kimia. Campuran garam dan amonia digunakan untuk mendinginkan air hingga membeku. Pemberitaan De Nieuwe Vorstenlanden pada 17 Juli 1901 menyebut pabrik Kwa membantu membuat es lebih terjangkau serta mengubah kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsinya. Sumber yang sama juga mengaitkan perkembangan usaha tersebut dengan lahirnya industri es krim pertama pada masa kolonial. Besarnya kekayaan Kwa tidak diketahui secara pasti, tetapi ia dilaporkan memiliki banyak tanah, rumah, dan pabrik es di berbagai daerah. Catatan itu menunjukkan luasnya jangkauan usahanya, meski tidak memberikan angka kekayaan yang dapat dipastikan.
Pelaku usaha lain yang tercatat dalam sejarah industri es di Jawa ialah Robert Chevalier, yang menjalankan bisnisnya di Magelang. Sejak 1920, ia mengelola usaha es melalui NV Magelangsche IJs en Mineralwater Fabriek. Perusahaan itu memiliki tiga pabrik es, memperlihatkan bahwa produksi telah berkembang melampaui satu lokasi dan melayani kebutuhan di wilayah tersebut. Namun, perjalanan usahanya terhenti ketika Jepang datang pada 1942; perusahaan mengalami kebangkrutan.






