Kabupaten Kendal | Di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, sebuah UMKM menghadirkan tas kulit anyaman dengan rancangan yang eksklusif. Produk ini memperlihatkan bagaimana kerajinan lokal dapat dikembangkan menjadi barang dengan karakter visual kuat, tanpa melepaskan hubungan dengan lingkungan sosial tempat pembuatannya berlangsung. Setiap tas memadukan material kulit dan teknik anyaman, sehingga menghasilkan tampilan yang memiliki nilai desain sekaligus mencerminkan ketelitian dalam proses pengerjaan.
Kegiatan produksi tersebut turut melibatkan warga lokal dalam berbagai tahapan pembuatan. Keterlibatan ini membuka ruang bagi masyarakat untuk memanfaatkan keterampilan kerajinan sebagai kegiatan yang produktif. Prosesnya tidak hanya berfokus pada hasil akhir berupa tas, tetapi juga memberi kesempatan kepada warga untuk belajar, bekerja, dan mengembangkan kemampuan tangan melalui pekerjaan yang membutuhkan ketekunan serta perhatian terhadap detail.
Di warga yang terlibat terdapat mantan penggembala kerbau dan sapi. Mereka memperoleh kesempatan untuk beralih atau tetap berkarya melalui keterampilan mengolah bahan dan membuat kerajinan. Pengalaman sebelumnya menjadi bagian dari perjalanan mereka, sementara kegiatan produksi tas memberi ruang baru untuk menjalankan pekerjaan dengan kemampuan yang dapat terus diasah. Hal serupa juga berlaku bagi ibu rumah tangga yang dapat berpartisipasi dalam proses pembuatan sesuai dengan keterampilan dan kesempatan yang dimiliki.
Dengan demikian, tas kulit anyaman dari Kendal tidak hanya menawarkan desain eksklusif kepada konsumen. Produk tersebut juga menggambarkan pertemuan kreativitas, keterampilan warga, dan pemanfaatan potensi lokal. Setiap hasil kerajinan membawa nilai yang lebih luas karena proses pembuatannya melibatkan masyarakat setempat. Kehadiran UMKM ini menunjukkan bahwa produk dengan tampilan bernilai desain dapat berjalan berdampingan dengan upaya menggerakkan ekonomi masyarakat melalui ruang kerja dan kegiatan berkarya yang tersedia di lingkungan sekitar.
Perwakilan UMKM, Desi Panca, menjelaskan bahwa proses produksi tas kulit eksklusif ini melibatkan lima perajin lokal. Mereka terdiri atas tiga laki-laki dan dua perempuan yang bekerja dengan pembagian tugas sesuai keterampilan masing-masing. Pola kerja tersebut membuat setiap perajin dapat berkontribusi secara optimal, sekaligus menjaga agar seluruh tahapan pembuatan tas tetap berlangsung di lingkungan setempat.
Para perajin laki-laki bertanggung jawab membentuk dan merakit tas. Mereka mengolah bagian-bagian kulit, menyesuaikan ukuran, menyusun komponen, serta memastikan setiap bagian terpasang dengan kuat dan rapi. Pekerjaan ini membutuhkan ketelitian, ketahanan fisik, dan pemahaman terhadap struktur tas agar produk yang dihasilkan tidak hanya menarik, tetapi juga kokoh ketika digunakan.
Sementara itu, dua perajin perempuan, yang merupakan ibu rumah tangga, mengerjakan anyaman kulit dari rumah. Pekerjaan tersebut dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan waktu yang tersedia. Anyaman yang dikerjakan dengan tangan menjadi salah satu unsur penting dalam tampilan tas, karena menghadirkan detail khas yang membedakannya dari produk kulit biasa.
Menurut penjelasan Desi, pola kerja dari rumah memungkinkan para ibu tetap berkarya tanpa meninggalkan tanggung jawab merawat anak. Mereka dapat mengatur waktu menyelesaikan anyaman dan mendampingi keluarga. Dengan demikian, keterlibatan dalam produksi tidak mengharuskan mereka memilih memperoleh penghasilan dan menjalankan peran domestik.
Para perajin laki-laki juga memiliki latar belakang pekerjaan yang berbeda sebelum bergabung dalam usaha tersebut. Sebelumnya, mereka bekerja sebagai penggembala kerbau dan sapi. Setelah memperoleh pelatihan dari dinas terkait, mereka beralih profesi dan memanfaatkan keterampilan baru itu untuk mengerjakan tas kulit. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pelatihan dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal. Dari pembagian peran ini, produksi tas tidak hanya menghasilkan barang bernilai, tetapi juga menciptakan ruang kerja yang menyesuaikan kondisi dan pengalaman para perajinnya.
Pembuatan tas dimulai dari lembaran kulit sapi yang telah melalui proses penyamakan. Lembaran tersebut kemudian dipotong sesuai kebutuhan pola dan diserut secara presisi. Tahap penyerutan dilakukan agar ketebalan kulit tetap seragam pada setiap bagian yang digunakan. Keseragaman ini menjadi bagian penting dalam proses pengerjaan, terutama ketika kulit akan dirangkai menjadi tas kulit anyaman. Setelah dipotong dan diserut, bahan disiapkan berdasarkan rancangan model yang telah ditentukan oleh pemilik usaha.
Produksi dilakukan dalam jumlah terbatas untuk menjaga eksklusivitas setiap produk. Setiap model dibuat berdasarkan rancangan pemilik usaha, sehingga bentuk dan susunan detailnya mengikuti konsep yang telah disiapkan. Pilihan warna yang tersedia juga dibuat terbatas, bukan dalam banyak variasi. Pengaturan jumlah produksi dan warna tersebut menjadi bagian dari cara UMKM ini menghadirkan koleksi yang tidak dibuat secara massal. Dengan demikian, pengerjaan tas berlangsung sesuai rancangan dan ketersediaan bahan yang telah ditetapkan.
Selain tas kulit anyaman, UMKM tersebut juga memamerkan koleksi pendukung berupa busana dan kain batik. Koleksi ini menampilkan aksen prada dalam beberapa warna, lain merah muda, hijau, dan biru. Aksen tersebut disebut berbeda dari prada emas atau perak yang selama ini dikenal secara konvensional. Kehadiran busana dan kain batik memperlihatkan jenis produk lain yang ditampilkan bersama koleksi tas. Seluruh koleksi dipamerkan sebagai bagian dari hasil karya UMKM, dengan penggunaan bahan, rancangan, serta aksen warna yang telah ditentukan dalam proses pembuatannya.
Selain menghadirkan produk berbahan kulit, UMKM asal Kendal ini memiliki rekam jejak sosial melalui keterlibatan perajin penyandang disabilitas dalam proses produksinya. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kegiatan usaha tidak hanya diarahkan pada penciptaan barang bernilai ekonomi, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi masyarakat dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam. Pelibatan perajin disabilitas menjadi bagian dari perjalanan usaha yang penting, terutama dalam membangun lingkungan kerja yang lebih terbuka dan memberi kesempatan untuk mengembangkan keterampilan.
Kesempatan bagi perajin penyandang disabilitas juga tetap terbuka pada masa mendatang. UMKM tersebut menyampaikan bahwa siapa pun yang memiliki minat dan ingin bergabung masih dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan serta kemampuan yang diperlukan dalam proses pembuatan tas. Sikap ini memperlihatkan adanya komitmen untuk mempertahankan akses yang inklusif, tanpa menutup peluang bagi calon perajin yang ingin belajar, bekerja, dan berkontribusi. Dengan demikian, pertumbuhan usaha diharapkan dapat berjalan berdampingan dengan manfaat sosial bagi lebih banyak pihak.
Langkah untuk memperkenalkan produk secara lebih luas dilakukan melalui keikutsertaan dalam pameran Inacraft yang berlangsung pada 7–11 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center, Jakarta. Partisipasi tersebut menjadi kesempatan bagi UMKM untuk menampilkan karya sekaligus memperkenalkan identitas usahanya kepada pasar yang lebih luas. Sumber menyebutkan harapan agar kehadiran di Inacraft dapat membantu memperluas jangkauan pasar, terutama di kawasan Jabodetabek. Selain itu, UMKM tersebut berharap memperoleh peluang untuk mengikuti pameran-pameran strategis berikutnya, sehingga akses promosi dan pengembangan jaringan usaha dapat terus dibuka secara bertahap.
