Dari Sopir Truk ke Pengantar Wisata Dugong, Musa Menopang Keluarga dari Laut Alor

Dari Sopir Truk ke Pengantar Wisata Dugong, Musa Menopang Keluarga dari Laut Alor

Kabupaten Alor | Di perairan Pantai Mali, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, Musa Serang mengantar wisatawan yang ingin melihat dugong bernama Mawar. Pada usia 56 tahun, ia menjalani rutinitas sebagai pengantar pengunjung di laut, dengan perahu kayu sebagai sarana untuk membawa mereka menyusuri kawasan pantai. Dari atas perahu, perjalanan menjadi kesempatan bagi wisatawan untuk mengenal dugong yang hidup di perairan setempat. Bagi Musa, pekerjaan ini menghubungkan dirinya dengan laut sekaligus menjadikannya bagian dari pengalaman para pengunjung di Pantai Mali.

Musa sebelumnya bekerja sebagai sopir truk. Kini, ia mengandalkan kegiatan mengantar wisatawan untuk menopang keluarganya. Peralihan pekerjaan tersebut membuat laut menjadi ruang kerja sehari-hari, sementara perahu kayunya menjadi alat utama untuk membawa pengunjung mencari Mawar. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan dari pantai ke perairan tempat dugong terlihat; bagi wisatawan, kegiatan itu juga memberi kesempatan untuk menyaksikan satwa tersebut. Musa menjalankan perannya dengan membawa pengunjung menuju pengalaman yang menjadi tujuan mereka datang ke Pantai Mali.

Pemandangan pantai dan perahu kayu memberi konteks sederhana bagi rutinitas itu. Wisatawan datang dengan harapan melihat Mawar, sedangkan Musa mengantar mereka di perairan Alor. Pertemuan pengunjung, pemandu lokal, dan dugong menjadikan kegiatan tersebut bagian dari wisata di Pantai Mali. Di balik perjalanan yang terlihat singkat, terdapat pekerjaan yang membantu Musa memenuhi kebutuhan keluarganya. Kisahnya memperlihatkan bagaimana sumber penghidupan dapat bertumpu pada kegiatan wisata laut, tanpa melepaskan keterkaitannya dengan lingkungan sekitar. Setiap kali membawa wisatawan, Musa menjalankan tugas yang kini menjadi bagian dari kehidupannya: mengantar pengunjung untuk melihat Mawar di perairan Pantai Mali.

Perahu kayu milik Musa menjadi bagian penting dari pekerjaannya mengantar wisatawan menikmati laut Alor. Perahu itu dibuatnya sendiri, dengan kemampuan dan pengalaman yang ia kumpulkan selama bekerja. Cat berwarna kuning, putih, dan biru kehijauan membuatnya mudah dikenali di perahu-perahu lain. Bentuknya sederhana, tetapi cukup untuk membawa penumpang menyusuri perairan dan mendekati kawasan tempat wisatawan berharap dapat melihat dugong. Bagi Musa, perahu tersebut adalah sarana untuk mengubah pengetahuan tentang laut menjadi layanan yang bisa ditawarkan kepada pengunjung.

Di bagian atas, terpasang atap dari terpal berwarna gelap yang memberi perlindungan dari terik matahari selama perjalanan. Di sisi kiri dan kanan terdapat cadik, penyangga yang membantu menjaga keseimbangan perahu ketika bergerak di atas air. Perlengkapan itu tidak menjadikannya kapal mewah, tetapi menunjukkan bagaimana Musa menyesuaikan perahu dengan kebutuhan sehari-hari di laut. Wisatawan dapat duduk di dalamnya, sementara Musa mengendalikan perjalanan dan memperhatikan kondisi perairan. Kesederhanaan perahu juga mencerminkan usaha yang tumbuh dari keterampilan, kerja tangan, dan sumber daya yang tersedia.

Nilai perahu itu bagi Musa jauh melampaui fungsinya sebagai alat transportasi. Perahu kayu tersebut merupakan modal usaha yang memungkinkan dirinya memperoleh penghasilan dari kegiatan wisata. Setiap perjalanan memberi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sekaligus mempertahankan pekerjaan yang bergantung pada laut. Penghasilan itu menjadi tumpuan untuk membesarkan lima anaknya dan mendukung kehidupan keluarga. Karena itu, menjaga perahu tetap layak digunakan berarti menjaga keberlangsungan usaha dan harapan keluarga. Dari perahu sederhana bercat cerah itu, Musa menjalankan peran sebagai pengantar wisata sekaligus pencari nafkah. Laut Alor menyediakan ruang bagi pekerjaannya, sedangkan perahu buatannya menjadi penghubung potensi wisata setempat dan kebutuhan keluarga yang ia tanggung setiap hari.

Sebelum dikenal sebagai pengantar wisatawan untuk melihat dugong di Alor, Musa bekerja sebagai sopir truk. Pekerjaan itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya, tetapi pada suatu waktu ia memutuskan untuk berhenti dan mencari peluang lain. Peralihan tersebut membawanya ke sektor pariwisata, bidang yang menawarkan cara berbeda untuk memperoleh penghasilan sekaligus berhubungan langsung dengan laut dan pengunjung yang datang ke wilayahnya. Keputusan meninggalkan pekerjaan lama bukan berarti ia langsung memiliki usaha yang mapan. Musa perlu mencoba kesempatan yang tersedia dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan wisatawan.

Sejak 2019, Musa menggantungkan hidup pada kegiatan mengantar wisatawan dari Pantai Mali menuju perairan tempat dugong, yang kerap disebut Mawar, terlihat. Perjalanan itu menjadi layanan wisata yang menghubungkan pantai dengan lokasi pengamatan di laut. Bagi pengunjung, perjalanan tersebut membuka kesempatan untuk menyaksikan satwa laut secara langsung. Bagi Musa, kegiatan mengantar wisatawan menjadi pekerjaan yang dijalani secara berkelanjutan setelah ia beralih profesi. Pengalaman sebagai pengemudi sebelumnya memberi latar belakang dalam mengantar orang, meski pekerjaan barunya berlangsung di atas perairan, bukan di jalan raya.

Musa menyebut usaha tersebut menghasilkan keuntungan sekitar Rp5 juta hingga Rp6 juta per bulan. Angka itu merupakan kisaran keuntungan yang ia akui dari kegiatan wisata, bukan ukuran pendapatan dalam bentuk lain. Penghasilan dari mengantar pengunjung menjadi sumber nafkah yang menopang kebutuhan keluarganya. Perubahan profesi ini memperlihatkan bagaimana kegiatan wisata alam dapat membuka peluang ekonomi bagi warga setempat, terutama ketika mereka terlibat langsung dalam layanan bagi wisatawan. Namun, hasil usaha tersebut berkaitan dengan kegiatan pengantaran ke lokasi pengamatan dan tidak serta-merta menggambarkan seluruh pendapatan pariwisata di kawasan itu. Bagi Musa, pekerjaan yang dimulai pada 2019 itu menjadi pilihan mata pencaharian setelah meninggalkan pekerjaannya sebagai sopir truk.Kisah Musa memperlihatkan bagaimana pekerjaan di laut dapat menjadi tumpuan bagi kehidupan keluarga. Setelah menjalani pekerjaan sebagai sopir truk, ia beralih mengantar wisatawan untuk melihat dugong di perairan Alor. Usaha wisata bahari itu menghubungkan keterampilan dan pengalamannya dengan potensi alam setempat, sekaligus menjadi sumber penghasilan yang membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Perjalanan tersebut bukan sekadar perubahan jenis pekerjaan, melainkan upaya mencari nafkah melalui kesempatan yang tersedia di lingkungannya.

Dalam judul sumber kisah ini, kebanggaan Musa juga dikaitkan dengan anaknya yang masuk TNI Angkatan Darat. Informasi yang tersedia hanya menyampaikan hal itu secara umum. Tidak disebutkan nama anak, waktu penerimaan, lokasi penugasan atau pendidikan, maupun pernyataan langsung Musa mengenai perasaannya. Karena itu, kebanggaan tersebut dapat dicatat sebagai bagian dari gambaran keluarga, tetapi tidak tepat untuk menambahkan rincian, latar peristiwa, atau kutipan seolah-olah berasal dari Musa. Batas informasi ini penting agar kisah tetap akurat dan tidak memberi kesan bahwa detail yang belum diketahui telah terkonfirmasi.

Meski rincian tentang anaknya terbatas, hubungan usaha Musa dan kehidupan keluarganya tetap dapat dipahami melalui peran pekerjaan tersebut sebagai penopang. Penghasilan dari mengantar pengunjung memberi arti praktis bagi usaha yang ia jalankan: pekerjaan itu membantu keluarga, sementara kegiatan wisata turut memperkenalkan kekayaan laut Alor kepada orang lain. Kisahnya menunjukkan bahwa mata pencaharian lokal dapat bertumpu pada pengetahuan tentang wilayah sendiri dan layanan kepada pengunjung. Pada akhirnya, fokus utama tetap pada upaya Musa mencari nafkah dari laut dan menjaga usaha wisata baharinya agar terus menopang keluarga, tanpa mengisi bagian yang belum dijelaskan oleh sumber.

Baca juga: Tak Hanya Logistik, Hercules TNI AU Bawa Dukungan Kesehatan dan Peralatan Untuk Menopang Perjuangan Pasukan Karhutla Kalsel