Dari Warisan Shin Tae-yong ke Sejarah Juara John Herdman Bersama Indonesia

Dari Warisan Shin Tae-yong ke Sejarah Juara John Herdman Bersama Indonesia

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, John Herdman menorehkan sejarah bersama Timnas Indonesia setelah membawa skuad Garuda menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Gelar itu diraih melalui final dramatis melawan Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 5 Oktober 2026. Pertandingan berlangsung ketat sejak menit awal dan memperlihatkan keberanian kedua tim untuk saling menyerang. Indonesia dan Thailand sama-sama mencetak dua gol sehingga skor tetap 2-2 hingga pertandingan memasuki akhir 120 menit.

Penentuan juara akhirnya harus dilakukan melalui adu penalti. Dalam situasi penuh tekanan di hadapan dukungan puluhan ribu suporter, para eksekutor Indonesia tampil lebih tenang dan efektif. Garuda menang dengan skor 4-2 pada babak tos-tosan tersebut. Hasil ini sekaligus mengantarkan Indonesia meraih trofi yang memiliki arti penting bagi perkembangan sepak bola nasional, terutama setelah penantian panjang untuk kembali berdiri sebagai juara di tingkat Asia Tenggara.

Bagi Herdman, keberhasilan itu menjadi pencapaian bersejarah setelah perjalanan kepelatihannya bersama Indonesia tidak selalu berjalan mulus. Performa Garuda pada fase awal turnamen sempat menuai kritik karena permainan tim dinilai belum konsisten, baik dalam membangun serangan maupun menjaga keunggulan. Tekanan tersebut bahkan membuat sebagian suporter meneriakkan nama Shin Tae-yong, pelatih yang sebelumnya meninggalkan warisan kuat dan ekspektasi besar di tubuh tim nasional.

Namun, Herdman mampu menjawab keraguan tersebut pada pertandingan paling menentukan. Ia menunjukkan kemampuan untuk menjaga fokus tim, memperbaiki pendekatan taktik, serta membangun ketahanan mental pemain ketika laga berjalan hingga adu penalti. Dalam konferensi pers seusai final, Herdman menyebut kemenangan atas Thailand dan gelar FIFA ASEAN Cup 2026 sebagai pencapaian terbaiknya di sepak bola untuk saat ini. Pernyataan itu menegaskan besarnya makna trofi tersebut, bukan hanya bagi sang pelatih, tetapi juga bagi Indonesia yang berhasil mengubah kritik menjadi perayaan bersejarah.

Keberhasilan Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 memiliki arti penting bagi perjalanan sepak bola nasional. Gelar tersebut menjadi trofi juara senior pertama Indonesia setelah penantian selama 35 tahun. Penantian itu dihitung sejak keberhasilan meraih medali emas SEA Games 1991 di Manila. Dengan demikian, pencapaian pada 2026 bukan sekadar tambahan gelar dalam catatan kompetisi, melainkan penanda berakhirnya periode panjang tanpa trofi juara di level senior.

Rentang waktu tersebut memperlihatkan besarnya makna kemenangan bagi skuad Garuda dan sepak bola Indonesia secara keseluruhan. Selama 35 tahun, berbagai generasi pemain dan tim telah berupaya membawa Indonesia kembali menjadi juara. Namun, baru pada FIFA ASEAN Cup 2026 target itu terwujud. Keberhasilan tersebut memberikan arti historis karena menghubungkan pencapaian generasi saat ini dengan warisan prestasi yang terakhir diraih melalui medali emas SEA Games 1991 di Manila.

Gelar itu diraih melalui kemenangan atas Thailand di hadapan pendukung Indonesia. Pertandingan berjalan hingga 120 menit sebelum pemenang ditentukan melalui drama adu penalti. Situasi tersebut menegaskan bahwa perjalanan menuju trofi tidak berakhir dalam waktu normal maupun setelah perpanjangan waktu. Setelah adu penalti selesai, skuad Garuda akhirnya mengangkat trofi FIFA ASEAN Cup 2026. Momen tersebut menjadi simbol keberhasilan Indonesia mengakhiri penantian 35 tahun dan menempatkan kemenangan atas Thailand sebagai bagian penting dalam sejarah sepak bola nasional. Trofi ini juga menjadi bukti bahwa pencapaian senior Indonesia kembali hadir setelah jeda panjang, sekaligus memberi bobot khusus pada kemenangan yang diraih melalui pertandingan hingga batas waktu maksimal dan penyelesaian lewat titik penalti.

Sebelum John Herdman memulai babak baru bersama Timnas Indonesia, kursi pelatih kepala diisi oleh Shin Tae-yong. Pelatih asal Korea Selatan itu ditunjuk pada akhir 2019 dan menjalani masa kerja hingga Januari 2025. Periode tersebut berlangsung dalam fase penting bagi perkembangan sepak bola nasional, sehingga kepemimpinannya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan terbaru tim nasional.

Dalam catatan pertandingan bersama Timnas Indonesia, Shin Tae-yong memimpin 57 laga. Dari jumlah tersebut, tim meraih 26 kemenangan, mencatatkan 14 hasil imbang, dan mengalami 17 kekalahan. Angka-angka itu memberikan gambaran mengenai rekam jejaknya selama menangani skuad Garuda, sekaligus menjadi dasar untuk melihat kontribusinya secara terukur.

PSSI kemudian mengakhiri kontrak Shin Tae-yong pada Januari 2025. Keputusan tersebut menandai berakhirnya masa kepelatihan yang berlangsung selama lebih dari lima tahun sejak penunjukannya. Pergantian pelatih itu juga membuka ruang bagi arah baru dalam pengelolaan tim nasional, dengan perhatian publik kemudian beralih kepada sosok yang dipilih untuk meneruskan pekerjaan tersebut.

Shin memang tidak mempersembahkan trofi bagi tim senior Indonesia selama masa tugasnya. Namun, catatan itu tidak menghapus perubahan yang dibawanya maupun sejumlah pencapaian penting yang ditinggalkan. Kehadirannya berkontribusi pada proses pembentukan dan pengembangan tim, termasuk dalam membangun fondasi bagi generasi pemain yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan Timnas Indonesia. Karena itu, era Shin Tae-yong dapat ditempatkan sebagai salah satu periode penting sebelum hadirnya kepemimpinan baru. Penilaiannya perlu bertumpu pada keseluruhan masa kerja, catatan pertandingan, serta perubahan yang terjadi, bukan semata-mata pada ada atau tidaknya trofi di tingkat senior.

Shin Tae-yong meninggalkan warisan penting selama menangani tim nasional Indonesia. Di level senior, salah satu pencapaian terbesarnya adalah membawa Garuda lolos ke Piala Asia 2023. Keberhasilan tersebut menjadi semakin berarti karena Indonesia untuk pertama kalinya mampu menembus babak 16 besar turnamen kontinental itu. Dalam fase gugur, perjalanan Indonesia berakhir setelah kalah 0-4 dari Australia. Meski demikian, pencapaian tersebut memperlihatkan perkembangan kompetitif tim sekaligus meningkatkan kepercayaan diri sepak bola nasional.

Shin juga mencatat sejarah melalui Kualifikasi Piala Dunia 2026. Indonesia berhasil mencapai putaran ketiga, sebuah capaian yang belum pernah diraih Garuda sebelumnya. Langkah itu menempatkan Indonesia di tim-tim terbaik Asia dan memberikan pengalaman berharga bagi banyak pemain. Persaingan pada fase tersebut berlangsung lebih berat, tetapi keberhasilan mencapainya tetap menjadi salah satu tonggak terbesar dalam perjalanan tim nasional modern. Program yang dibangun Shin turut memberi ruang lebih besar kepada pemain muda untuk beradaptasi di level internasional.

Kontribusinya tidak hanya terlihat pada tim senior. Bersama Garuda Muda, Shin membawa Indonesia menembus semifinal Piala Asia U-23 2024. Hasil itu membuat tim berada hanya selangkah dari tiket Olimpiade Paris. Namun, peluang tersebut akhirnya sirna setelah Indonesia kalah dalam pertandingan perebutan tempat ketiga. Kegagalan itu tidak menghapus arti pencapaian mereka, karena generasi U-23 telah menunjukkan kemampuan bersaing dengan negara-negara kuat di Asia.

Perjalanan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir berlangsung melalui pergantian era kepelatihan. Setelah periode Shin Tae-yong, tanggung jawab beralih kepada Patrick Kluivert, sebelum John Herdman melanjutkan proyek tersebut. Setiap pelatih membawa pendekatan dan tantangan berbeda. Pada akhirnya, era Herdman menghadirkan gelar bagi tim senior, melengkapi rangkaian proses panjang yang sebelumnya dibangun melalui fondasi dan pencapaian Shin bersama Indonesia.