Denera Ungkap Hambatan PSEL Jakarta, dari Lahan hingga Administrasi

Denera Ungkap Hambatan PSEL Jakarta, dari Lahan hingga Administrasi

Jakarta | Proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di Jakarta belum dapat segera dieksekusi. Salah satu hambatan paling mendasar adalah ketersediaan lahan untuk membangun fasilitas pengolahan sampah modern di ibu kota. Di tengah kepadatan kawasan perkotaan, mencari lokasi yang memadai menjadi tantangan tersendiri sebelum pembangunan dapat berjalan. Persoalan ini menunjukkan bahwa rencana pengolahan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi atau rancangan fasilitas, tetapi juga pada kesiapan ruang yang dibutuhkan untuk mewujudkannya. Tanpa lahan yang sesuai, tahapan berikutnya dalam proyek sulit dipastikan dapat dimulai dalam waktu dekat.

CEO PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), Fadli Rahman, menyebut sulitnya memperoleh lahan sebagai tantangan terberat dalam membangun fasilitas tersebut. Jakarta merupakan wilayah yang sudah sangat padat, sehingga penyediaan ruang untuk infrastruktur baru menjadi perkara yang tidak sederhana. Fasilitas PSEL memerlukan lokasi yang dapat mendukung operasional pengolahan sampah, sementara ruang di ibu kota memiliki banyak kebutuhan dan pemanfaatan. Karena itu, pencarian lahan bukan sekadar urusan menemukan bidang kosong, melainkan bagian penting yang menentukan apakah rencana pembangunan dapat dilanjutkan. Kendala tersebut menjadi sorotan utama ketika Denera menjelaskan hambatan pelaksanaan proyek PSEL di Jakarta.

Fadli menyampaikan hal itu dalam media briefing di kantor Denera, Jakarta Selatan, pada Senin (19/10). Pernyataan tersebut menegaskan bahwa persoalan lahan masih perlu diatasi sebelum proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik dapat masuk ke tahap eksekusi. Kepadatan kota membuat penentuan lokasi fasilitas menjadi tantangan yang harus diperhitungkan sejak awal, terutama agar pembangunan dapat berjalan dengan mempertimbangkan kebutuhan ruang di Jakarta. Meski PSEL dirancang untuk mengolah sampah sekaligus menghasilkan listrik, fasilitasnya tetap membutuhkan tempat yang memadai. Dengan demikian, ketersediaan lahan menjadi prasyarat penting bagi rencana tersebut, dan pencarian solusi atas kendala ini akan berpengaruh pada kelanjutan proyek di ibu kota.

Selain persoalan ketersediaan lahan, proses administrasi di tingkat pemerintah daerah masih menjadi tahapan yang perlu diselesaikan sebelum pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Jakarta dapat berjalan. Denera masih menunggu penetapan lokasi resmi sekaligus kelengkapan administrasi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Selama keputusan mengenai lokasi belum ditetapkan dan dokumen pendukung belum rampung, persiapan proyek belum dapat beralih ke pelaksanaan fisik. Tahapan ini penting karena memberikan dasar bagi para pihak untuk melanjutkan rencana pembangunan secara terarah dan sesuai prosedur. Karena itu, lamanya proses administratif menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkiraan waktu eksekusi proyek.

Fadli menyampaikan bahwa rencana pembangunan PSEL di Jakarta tetap ada. Namun, rencana tersebut belum disertai kepastian kapan pekerjaan akan dimulai, sebab pelaksanaannya masih menunggu penyelesaian proses di lingkungan Pemprov DKI. Pemerintah provinsi saat ini masih memfinalisasi pilihan lokasi lahan terakhir yang akan ditetapkan sebagai tempat pembangunan. Dengan demikian, pembahasan proyek belum dapat dianggap sebagai tanda bahwa pembangunan segera dimulai. Penetapan lokasi dan penyelesaian administrasi harus lebih dahulu dilakukan sebelum jadwal pelaksanaan dapat dipastikan. Denera pun masih menunggu perkembangan dan keputusan resmi dari pemerintah daerah terkait tahapan tersebut.

Belum adanya tanggal pelaksanaan yang pasti menunjukkan bahwa kesiapan proyek tidak hanya bergantung pada rencana pembangunan atau kebutuhan pengelolaan sampah, tetapi juga pada keputusan formal pemerintah. Sampai lokasi resmi ditetapkan dan kelengkapan administrasi diselesaikan, belum dapat dipastikan kapan pembangunan PSEL Jakarta akan memasuki tahap eksekusi. Situasi ini membuat waktu pelaksanaan masih terbuka dan bergantung pada proses yang sedang berjalan. Pemfinalan pilihan lahan menjadi bagian penting dari rangkaian tersebut, sementara penyelesaian dokumen menjadi prasyarat administratif berikutnya. Karena itu, meskipun rencana proyek tetap dipertahankan, Denera belum dapat menyampaikan kepastian jadwal dimulainya pembangunan. Perkembangan lebih lanjut menunggu keputusan Pemprov DKI.

Denera memilih memulai kajian kelayakan lebih awal sebagai langkah untuk menjaga laju persiapan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Jakarta. Langkah ini dilakukan ketika sejumlah proses administratif, termasuk perizinan dan penetapan lahan, masih perlu dituntaskan. Dengan menyiapkan kajian sejak dini, perusahaan berharap tahapan persiapan dapat berjalan paralel dengan penyelesaian urusan tersebut, bukan baru dimulai setelah seluruh proses administratif selesai. Pendekatan ini ditujukan untuk mengurangi waktu tunggu dan membantu proyek bergerak lebih cepat ketika prasyarat pelaksanaan telah terpenuhi.

Kajian kelayakan menjadi bagian penting untuk menilai kesiapan proyek sebelum pembangunan fisik dapat dilaksanakan. Namun, dimulainya kajian tidak berarti pekerjaan konstruksi telah berjalan, dan tidak pula menunjukkan bahwa seluruh izin sudah diterbitkan. Denera tetap perlu menunggu penyelesaian perizinan serta kepastian penetapan lahan sebelum tahap pembangunan dapat bergerak. Karena itu, persiapan yang dilakukan lebih awal perlu dipahami sebagai upaya mengantisipasi tahapan berikutnya, sekaligus menjaga agar proses teknis dapat segera berlanjut ketika keputusan dan persyaratan yang diperlukan telah tersedia.

Fadli menyampaikan komitmen untuk mempertahankan semangat percepatan proyek di tengah proses yang belum tuntas. Komitmen tersebut mencerminkan upaya perusahaan menjaga kesiapan dan koordinasi, tanpa mengabaikan tahapan administrasi yang harus dipenuhi. Denera menempatkan penyelesaian kajian sebagai bekal agar waktu setelah perizinan dan penetapan lahan rampung dapat dimanfaatkan secara efektif. Dengan demikian, target percepatan tetap diupayakan melalui persiapan yang lebih dini, sementara pelaksanaan pembangunan fisik tetap bergantung pada terpenuhinya prasyarat yang berlaku. Pendekatan ini menyeimbangkan dorongan untuk bergerak cepat dengan kebutuhan memastikan setiap tahapan berjalan sesuai ketentuan. Selama proses administratif berlangsung, kajian awal menjadi salah satu cara untuk mempertahankan momentum, bukan pengganti izin ataupun kepastian lahan. Denera menyatakan kesiapan melanjutkan tahapan proyek setelah persyaratan tersebut dipenuhi.Besarnya volume sampah harian menjadi salah satu alasan Jakarta memerlukan solusi pengolahan yang mampu bekerja dalam skala besar. Fadli menyebut, ibu kota menghasilkan hingga 9.000 ton sampah per hari. Angka tersebut menempatkan Jakarta di wilayah dengan produksi sampah terbesar di Indonesia, sekaligus menunjukkan bahwa persoalan ini tidak dapat ditangani hanya melalui langkah-langkah berskala kecil atau terbatas pada pengurangan sampah di sumbernya.

Dalam pandangan Denera, pemilahan sampah tetap memiliki manfaat dan perlu terus didorong. Pemisahan material yang dapat digunakan kembali atau didaur ulang dapat memberi dampak positif, baik bagi pengelolaan lingkungan maupun pemanfaatan sumber daya. Namun, upaya tersebut tidak serta-merta menghilangkan seluruh sampah yang dihasilkan. Setelah proses pemilahan, masih terdapat residu atau sisa sampah yang harus ditangani secara tepat agar tidak terus menumpuk.

Dengan jumlah timbulan yang mencapai ribuan ton setiap hari, sisa dari proses pemilahan pun dapat tetap berjumlah besar. Karena itu, pemilahan saja dinilai belum cukup untuk mengatasi keseluruhan timbunan sampah Jakarta. Diperlukan sistem lanjutan yang dapat mengolah residu secara terukur dan berkapasitas memadai. Tanpa dukungan fasilitas pengolahan berskala besar, beban sampah yang tidak terserap oleh proses daur ulang berpotensi tetap menjadi tantangan bagi pengelolaan kota.

Atas dasar tersebut, Denera menilai Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) penting bagi Jakarta. Teknologi ini dipandang sebagai bagian dari rangkaian penanganan sampah, bukan pengganti upaya pemilahan. Pemilahan dapat mengurangi dan mengarahkan sebagian material, sementara fasilitas pengolahan berkapasitas besar dibutuhkan untuk menangani sisa yang masih tersisa. Kombinasi keduanya dinilai lebih sesuai dengan skala persoalan di ibu kota. Kebutuhan tersebut menjadikan PSEL relevan dalam pembahasan strategi jangka panjang, terutama ketika Jakarta harus mengelola volume sampah harian yang tinggi secara berkelanjutan.

Baca juga: Diduga Beroperasi Tanpa Hambatan, Tambang Batu Bara Ngepon Tuban Kembali Dipertanyakan | Panglima TNI Kunjungi ITS Giuseppe Garibaldi di Jakarta | Sambut HUT ke-81 TNI, Bhakti Kesehatan TNI Layani Masyarakat di Jakarta