Jakarta | Tim drone Dragonfish 25 dari Jakarta dikerahkan oleh Komando Pasukan Khusus (Kopassus) untuk membantu pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Kehadiran tim tersebut ditujukan untuk mendukung satuan tugas di daerah, terutama Kodim 1011/Kuala Kapuas, dalam memperoleh gambaran kondisi wilayah yang lebih menyeluruh. Pemantauan udara diharapkan dapat membantu petugas mengenali area yang berpotensi terdampak, sehingga perkembangan situasi dapat diperhatikan dan menjadi bahan pertimbangan dalam upaya penanganan.
Ketua tim, Sersan Satu Reki, menyampaikan informasi mengenai penugasan itu di Posko Induk Tanggap Darurat Kekeringan dan Karhutla BPBD Kapuas pada Jumat. Ia menjelaskan bahwa pengerahan personel beserta perangkat drone dilakukan atas perintah Dankopassus dan merupakan tindak lanjut dari atensi Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad). Dukungan tersebut diberikan untuk membantu satuan tugas karhutla di wilayah Kapuas, khususnya Kodim 1011/Kuala Kapuas, dalam menjalankan pemantauan lapangan.
Dragonfish 25 digunakan sebagai sarana pendukung untuk mengamati kondisi wilayah dari udara. Informasi visual yang diperoleh dapat membantu petugas melihat perubahan situasi dan mengidentifikasi lokasi yang memerlukan perhatian lebih lanjut. Pemantauan ini melengkapi langkah yang dilakukan personel di lapangan, bukan menggantikan koordinasi maupun pemeriksaan langsung. Data dan pengamatan dari tim dapat disampaikan kepada satuan terkait sebagai masukan untuk menentukan tindak lanjut sesuai keadaan setempat.
Pengerahan tim tersebut berlangsung dalam konteks kesiapsiagaan menghadapi kekeringan dan ancaman karhutla. Dengan dukungan pemantauan udara, Kodim 1011/Kuala Kapuas dan unsur terkait diharapkan terbantu dalam mengikuti kondisi wilayah Kabupaten Kapuas secara lebih terarah. Kolaborasi tim Kopassus, BPBD, serta satuan tugas daerah menjadi bagian dari dukungan terhadap pemantauan dan penanganan potensi kebakaran. Informasi yang terkumpul dapat memperkuat kewaspadaan, membantu mengenali area berisiko, dan mendukung koordinasi apabila diperlukan langkah lanjutan. Penugasan ini menegaskan dukungan Kopassus kepada satgas karhutla sesuai arahan pimpinan, dengan fokus pada kebutuhan pemantauan di Kapuas.
Dragonfish 25 memiliki kemampuan terbang yang mendukung pemantauan wilayah luas selama operasi pengawasan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pesawat nirawak ini dapat mengudara sekitar tiga jam dalam satu penerbangan, sehingga petugas memiliki waktu untuk mengamati area sasaran tanpa harus segera mengakhiri misi. Jangkauannya yang hampir 100 kilometer juga memungkinkan pemantauan mencakup kawasan yang tersebar atau berada jauh dari titik kendali. Kombinasi durasi dan jangkauan tersebut berguna ketika tim perlu memperoleh gambaran kondisi lapangan secara lebih menyeluruh.
Untuk membantu mengenali sumber panas, Dragonfish 25 dilengkapi kamera termal. Sensor ini menangkap perbedaan temperatur pada permukaan dan dapat memberikan petunjuk mengenai area yang memiliki panas tidak biasa. Informasi visual termal dapat membantu petugas menilai lokasi yang perlu diperiksa lebih lanjut, termasuk titik yang berpotensi menjadi tempat awal kebakaran. Dengan demikian, pemantauan dari udara dapat mendukung proses pengawasan dan membantu mengarahkan perhatian tim, tetapi tidak dengan sendirinya memastikan penyebab atau keberadaan kebakaran. Hasil pengamatan tetap perlu ditafsirkan oleh petugas dan, bila diperlukan, diverifikasi melalui pemeriksaan lanjutan.
Kemampuan tersebut relevan bagi kawasan yang sulit dijangkau melalui jalur darat, misalnya area terpencil, lahan basah, atau bentang alam dengan akses terbatas. Dalam kondisi demikian, penerbangan dapat memberi pandangan dari atas tanpa mengharuskan petugas lebih dahulu mencapai setiap lokasi secara langsung. Citra dan pembacaan suhu yang diperoleh dapat menjadi bahan pemantauan bagi tim di lapangan, khususnya saat mengawasi wilayah yang luas selama operasi. Namun, durasi terbang dan jangkauan operasional tetap bergantung pada kondisi penerbangan, kebutuhan misi, serta pengaturan perangkat. Karena itu, Dragonfish 25 berperan sebagai sarana pendukung untuk memperluas pengamatan dan membantu mengidentifikasi area yang patut mendapat perhatian, bukan sebagai pengganti verifikasi langsung maupun tindakan penanganan karhutla oleh petugas.
Fitur live streaming pada Dragonfish 25 memungkinkan hasil pemantauan udara ditampilkan secara langsung melalui monitor. Dengan cara ini, informasi yang diperoleh tim saat menjalankan operasi dapat disaksikan oleh pihak terkait tanpa harus menunggu seluruh kegiatan penerbangan selesai. Tampilan tersebut membantu menghubungkan kondisi di lapangan dengan para pimpinan yang bertugas memantau operasi dari lokasi berbeda. Pemanfaatannya menjadi bagian dari upaya mempercepat aliran informasi selama pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kapuas.
Menurut Reki, melalui fitur tersebut para pimpinan, termasuk kepala BPBD, dapat melihat kegiatan tim secara langsung. Cakupannya dimulai sejak pesawat melakukan penerbangan hingga proses pemantauan kondisi wilayah dari udara. Dengan demikian, pihak yang mengikuti siaran dapat memperoleh gambaran mengenai pelaksanaan tugas dan situasi yang terlihat selama operasi berlangsung. Informasi visual ini melengkapi komunikasi petugas di udara dan pihak yang memantau, sehingga perkembangan kegiatan dapat diketahui secara lebih cepat dan terhubung.
Penyaluran informasi secara langsung diharapkan membantu pihak terkait memahami kondisi lapangan sesuai kebutuhan operasi. Jika ada perkembangan yang perlu diperhatikan, gambaran dari pemantauan udara dapat menjadi bahan bagi pimpinan untuk menilai situasi dan mempertimbangkan langkah yang relevan. Fitur ini tidak dengan sendirinya menentukan tindakan tertentu, tetapi dapat mendukung proses pengambilan keputusan dengan menyediakan informasi aktual saat kegiatan berlangsung. Keputusan tetap disesuaikan dengan kondisi, kewenangan, dan kebutuhan operasi yang dihadapi.
Harapan lainnya, akses terhadap siaran langsung dapat mengurangi jeda pengamatan tim dan penerimaan informasi oleh pihak yang berkepentingan. Penyampaian yang lebih cepat berpotensi membuat koordinasi berjalan lebih responsif, terutama ketika pemantauan membutuhkan perhatian bersama. Melalui monitor, pimpinan dapat mengikuti jalannya penerbangan dan melihat wilayah yang sedang diperiksa, sementara tim tetap menjalankan tugas di lapangan. Integrasi pemantauan langsung dan komunikasi operasional ini diharapkan meningkatkan kesiapan dalam menanggapi informasi mengenai potensi karhutla, tanpa menggantikan penilaian petugas maupun prosedur yang berlaku.
Tim yang bertugas di Kabupaten Kapuas terdiri atas delapan personel militer dan dua instruktur. Komposisi ini mendukung pelaksanaan pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menggunakan drone Dragonfish 25. Personel militer menjalankan tugas lapangan, sementara instruktur mendampingi kegiatan pengoperasian serta pemanfaatan perangkat. Kehadiran instruktur juga menjadi bagian dari dukungan teknis bagi tim selama pemantauan berlangsung. Dengan pembagian tersebut, kegiatan dapat dilaksanakan oleh personel yang bertugas dengan pendampingan sesuai kebutuhan operasi. Informasi mengenai jumlah anggota dan susunan tim ini memberi gambaran tentang sumber daya yang disiapkan untuk mendukung pemantauan di wilayah Kapuas.
Durasi penugasan tidak ditetapkan sebagai jangka waktu yang berdiri sendiri, melainkan mengikuti perintah komando serta kebutuhan operasi di lapangan. Reki menyatakan bahwa tim akan tetap bertugas apabila mendapat perintah. Ia juga menegaskan bahwa personel akan mengikuti penugasan sampai seluruh tugas yang diberikan selesai. Dengan demikian, lama keberadaan tim di Kapuas bergantung pada arahan komando dan perkembangan kebutuhan pemantauan, bukan hanya pada rencana waktu tertentu. Pendekatan ini memungkinkan penugasan disesuaikan dengan situasi operasi. Selama masih ada instruksi dan kebutuhan, tim siap menjalankan tugas sesuai arahan, kemudian menyelesaikannya berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Dalam mekanisme koordinasi, tim drone berada di bawah koordinasi Kodim 1011/Kuala Kapuas. Susunan koordinasi tersebut menjadi jalur pengorganisasian kegiatan tim selama menjalankan pemantauan di wilayah kabupaten. Laporan awal kegiatan disampaikan kepada komandan kodim, sehingga informasi mengenai pelaksanaan tugas mula-mula diterima melalui unsur komando setempat. Penyampaian laporan ini membantu menjaga komunikasi tim lapangan dan pihak yang mengoordinasikan kegiatan.
Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla






