Kabupaten Banyuwangi | Ribuan warga dari berbagai daerah di Indonesia memadati kawasan Pantai Marina Boom, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, pada Sabtu malam, 24 Oktober 2026. Mereka datang untuk menyaksikan pertunjukan kolosal Gandrung Sewu 2026, yang kembali menjadi perhatian masyarakat dan wisatawan. Menurut informasi pengelola pantai, PT Menara Maritim Indonesia, sekitar 20 ribu orang tercatat masuk ke lokasi kegiatan. Jumlah tersebut menunjukkan tingginya minat publik terhadap pertunjukan seni budaya yang digelar di pesisir Banyuwangi.
Kepadatan tampak di sejumlah bagian kawasan pantai ketika pengunjung berdatangan menjelang acara. Area sekitar lokasi pertunjukan dipenuhi warga yang ingin mengikuti rangkaian kegiatan, sementara akses menuju titik-titik tertentu menjadi lebih ramai. Besarnya jumlah pengunjung membuat suasana di Marina Boom terasa padat. Namun, angka sekitar 20 ribu itu merujuk pada orang yang tercatat memasuki kawasan, bukan keterangan bahwa seluruhnya dapat melihat pertunjukan secara langsung dari tempat yang sama.
Antusiasme tersebut memperlihatkan daya tarik Gandrung Sewu sebagai perhelatan budaya yang mengundang perhatian lintas daerah. Pertunjukan kolosal ini menampilkan kesenian Gandrung, salah satu identitas budaya Banyuwangi, dalam skala besar. Bagi sebagian pengunjung, acara itu menjadi kesempatan untuk mengenal tradisi setempat sekaligus menikmati agenda seni di ruang terbuka. Kehadiran penonton dalam jumlah besar juga menambah semarak kawasan pantai, meski kepadatan membuat pengalaman setiap orang di lokasi dapat berbeda.
Minat yang tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi penyelenggaraan acara dengan jumlah penonton besar. Pengaturan arus pengunjung dan akses menuju area pertunjukan penting agar suasana tetap tertib dan pengunjung dapat bergerak dengan aman. Data pengelola mengenai jumlah orang yang masuk memberi gambaran mengenai besarnya skala kunjungan pada malam itu. Di tengah keramaian, Gandrung Sewu 2026 kembali menegaskan posisi Banyuwangi sebagai tujuan kegiatan budaya yang mampu menarik masyarakat dari berbagai wilayah, sekaligus mempertemukan warga dan wisatawan dalam suasana perayaan seni tradisi.
Penyelenggaraan Gandrung Sewu 2026 mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama InJourney. Pada tahun ini, pertunjukan mengusung konsep glow in the dark, yang menghadirkan penampilan para penari pada malam hari. Konsep tersebut menjadi pembeda dari penyelenggaraan sebelumnya, yang digelar pada sore hari. Perubahan waktu dan pendekatan visual ini memperkenalkan suasana baru bagi masyarakat yang menyaksikan festival tahunan tersebut, sekaligus menjadi bagian dari upaya penyelenggara dalam menghadirkan pengalaman berbeda tanpa meninggalkan Gandrung sebagai inti pertunjukan.
Sebanyak 1.300 penari Gandrung tampil dalam konsep tersebut. Mereka mengenakan aksesori fosfor yang tampak menyala ketika pertunjukan berlangsung pada malam hari. Efek cahaya dari aksesori itu membuat para penari terlihat jelas dalam suasana gelap dan menjadi ciri yang paling menonjol pada penyelenggaraan tahun ini. Penggunaan aksesori bercahaya tersebut selaras dengan gagasan glow in the dark yang diusung panitia. Dengan demikian, unsur visual pertunjukan tahun ini bertumpu pada penampilan para penari dan aksesori fosfor yang mereka kenakan, bukan pada perubahan terhadap identitas Gandrung.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menjelaskan bahwa konsep baru ini menjadi daya tarik bagi masyarakat. Perbedaan dari pelaksanaan sebelumnya, terutama karena pertunjukan digelar malam hari dengan aksesori yang tampak menyala, memberi alasan tersendiri bagi warga untuk datang menyaksikan. Penjelasan tersebut menempatkan konsep glow in the dark sebagai daya tarik utama, sekaligus menunjukkan pilihan penyelenggara untuk menghadirkan format berbeda dari pertunjukan sore pada tahun-tahun sebelumnya. Dukungan pemerintah daerah bersama InJourney membantu penyelenggaraan konsep tersebut. Kehadiran 1.300 penari dengan aksesori fosfor pun menjadi gambaran utama Gandrung Sewu 2026, tanpa mengubah fokus acara dari kesenian Gandrung yang ditampilkan kepada masyarakat.
Festival Gandrung Sewu 2026 di Pantai Marina Boom digelar secara gratis, sehingga masyarakat dapat datang untuk menyaksikan pertunjukan tanpa membeli tiket. Untuk mengakomodasi penonton, panitia menyiapkan total 7.300 kursi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.300 kursi diperuntukkan bagi orang tua atau wali para penari. Kursi lainnya disediakan bagi masyarakat umum yang ingin menonton langsung. Penyediaan tempat duduk ini menjadi salah satu upaya panitia untuk mengatur kebutuhan penonton dalam acara yang menarik banyak pengunjung.
Selain kursi, panitia juga menyediakan layar LED di dua titik. Layar tersebut memungkinkan pertunjukan disaksikan melalui tayangan, termasuk oleh pengunjung yang tidak berada tepat di depan area pementasan. Dengan demikian, fasilitas yang disiapkan mencakup tempat duduk bagi sebagian penonton serta pilihan untuk mengikuti pertunjukan melalui layar. Pengaturan ini dimaksudkan untuk membantu lebih banyak orang menikmati rangkaian acara, sementara festival tetap terbuka bagi masyarakat luas secara gratis.
Namun, kursi dan layar LED belum dapat menampung seluruh pengunjung yang datang. Kapasitas kawasan Pantai Marina Boom tetap terbatas, sedangkan jumlah warga yang ingin menyaksikan Gandrung Sewu cukup besar. Akibatnya, sebagian warga tidak dapat masuk ke kawasan atau tidak bisa menonton pertunjukan secara langsung seperti yang mereka harapkan. Kondisi ini menunjukkan bahwa fasilitas yang tersedia belum sepenuhnya sebanding dengan kebutuhan penonton. Meski panitia telah menyiapkan ribuan kursi dan layar di dua titik, keterbatasan ruang di lokasi membuat pengalaman menyaksikan acara tidak dapat dirasakan secara langsung oleh semua pengunjung.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang menunjukkan antusiasme besar terhadap Gandrung Sewu 2026 di Pantai Marina Boom. Kehadiran pengunjung dalam jumlah tinggi, termasuk warga dari berbagai daerah, memperlihatkan kuatnya minat masyarakat untuk menyaksikan pertunjukan budaya tersebut. Ipuk mengapresiasi dukungan dan semangat pengunjung yang turut meramaikan acara, sekaligus memberi perhatian pada pengalaman warga yang datang ke lokasi.
Di tengah antusiasme itu, Ipuk juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang telah hadir tetapi belum dapat masuk atau menikmati pertunjukan secara langsung. Kepadatan pengunjung membuat sebagian warga tidak memperoleh kesempatan menyaksikan pertunjukan dari area yang tersedia. Permintaan maaf tersebut ditujukan kepada mereka yang sudah meluangkan waktu dan datang ke Pantai Marina Boom, tetapi tidak dapat mengikuti acara sebagaimana diharapkan. Pemerintah daerah memahami bahwa situasi itu dapat menimbulkan kekecewaan, terutama bagi pengunjung yang telah menempuh perjalanan untuk menyaksikan gelaran tersebut.
Ipuk menyatakan pengalaman selama penyelenggaraan dan masukan masyarakat akan menjadi bahan evaluasi bagi pelaksanaan Gandrung Sewu berikutnya. Evaluasi itu diarahkan untuk mempertimbangkan cara meningkatkan kenyamanan penonton, termasuk dalam pengelolaan arus kedatangan dan akses menuju area pertunjukan. Berbagai tanggapan warga dapat membantu penyelenggara mengenali hal-hal yang perlu diperhatikan, tanpa mengabaikan keterbatasan kapasitas lokasi. Penataan untuk acara mendatang juga perlu mempertimbangkan keselamatan pengunjung, pelaku pertunjukan, serta pihak lain yang terlibat. Dengan demikian, rencana perbaikan yang disampaikan bupati tetap bertolak dari kapasitas tempat dan kebutuhan menjaga keselamatan semua pihak, sementara pengalaman masyarakat menjadi salah satu pertimbangan dalam meninjau penyelenggaraan berikutnya.
Baca juga: TNI Fair 2026, Stand Pusterad Dipadati Ribuan Pengunjung Hadirkan Edukasi dan Beragam Inovasi | Tarif Resmi Rp100 Ribu, Jasa Calo SIM di Tulungagung Disebut Rp800 Ribu






