Jayapura | Gempa bermagnitudo 6,0 mengguncang Kiunga, Papua Nugini, pada Kamis (29/10) siang. Getarannya dilaporkan terasa di sejumlah wilayah Indonesia, yakni Kabupaten Boven Digoel, Kota Jayapura, dan Merauke. Peristiwa ini berpusat di negara tetangga, bukan di wilayah Indonesia.
Kiunga berada di Papua Nugini, sementara wilayah yang merasakan guncangan berada di Tanah Papua, Indonesia. Karena itu, keterangan mengenai lokasi pusat gempa perlu dibedakan dari wilayah tempat getarannya terasa. Gempa tersebut berasal dari Kiunga, sedangkan laporan yang disebutkan mencakup Boven Digoel, Kota Jayapura, serta Merauke.
Informasi awal mengenai kejadian ini menempatkan magnitudo pada angka 6,0 dan waktu kejadian pada Kamis siang. Keterangan tersebut menjadi pokok peristiwa yang perlu dicermati: sumber guncangan berada di luar Indonesia, tetapi getarannya menjangkau beberapa daerah di Indonesia. Penyebutan wilayah-wilayah itu menggambarkan sebaran lokasi yang merasakan gempa, bukan letak pusatnya.
Bagi pembaca di wilayah Papua, perbedaan pusat gempa dan daerah yang merasakan getaran membantu menjelaskan bagaimana satu kejadian dapat tercatat di dua negara. Dalam peristiwa ini, Kiunga di Papua Nugini menjadi lokasi gempa, sedangkan Boven Digoel, Kota Jayapura, dan Merauke disebut sebagai wilayah Indonesia yang turut merasakan guncangan. Dengan demikian, berita ini bukan tentang gempa yang berpusat di salah satu kota tersebut.
Inti informasi yang tersedia tetap terbatas pada magnitudo, waktu, lokasi sumber, dan wilayah yang merasakan getaran. Gempa M 6,0 terjadi di Kiunga pada Kamis (29/10) siang dan terasa di tiga wilayah yang disebutkan di Papua, Indonesia. Penegasan lokasi itu penting agar laporan mengenai dampak rasa guncangan tidak disalahartikan sebagai penunjuk pusat gempa. Pusatnya berada di Papua Nugini; getarannya dirasakan hingga sejumlah wilayah Indonesia.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menyampaikan bahwa laporan masyarakat mengenai gempa M 6,0 di Kiunga menunjukkan perbedaan tingkat getaran di sejumlah wilayah. Keterangan tersebut menggambarkan apa yang dirasakan warga di lokasi masing-masing, bukan ukuran kerusakan. Di Boven Digoel, getaran dilaporkan mencapai skala intensitas III MMI. Sementara itu, laporan dari Kota Jayapura dan Merauke berada pada intensitas II MMI. Perbedaan angka ini mencerminkan variasi pengalaman masyarakat terhadap guncangan, sebagaimana tercatat dalam laporan yang diterima BMKG.
Untuk wilayah Boven Digoel, intensitas III MMI berarti getaran dirasakan nyata di dalam rumah. Warga dapat merasakan guncangan saat berada di dalam bangunan, dan sensasinya digambarkan seperti ada truk yang sedang berlalu. Gambaran tersebut merupakan penjelasan mengenai tingkat getaran yang dirasakan, sesuai keterangan skala MMI, dan tidak dengan sendirinya menyatakan adanya dampak atau kerusakan tertentu. Laporan ini membantu memberikan gambaran tentang bagaimana gempa terasa bagi masyarakat di wilayah tersebut. Pengalaman dapat dirasakan secara berbeda oleh setiap orang, bergantung pada posisi dan keadaan saat guncangan terjadi.
Di Kota Jayapura dan Merauke, getaran tercatat pada skala intensitas II MMI. Pada tingkat ini, guncangan dirasakan oleh beberapa orang, terutama dalam kondisi tertentu, dan dapat menyebabkan benda-benda ringan yang tergantung bergoyang. Keterangan tersebut menjelaskan respons yang dilaporkan warga tanpa menyiratkan dampak yang lebih besar daripada yang tercatat. Dengan demikian, laporan di kedua kota itu berbeda dari intensitas III MMI di Boven Digoel, baik dalam jumlah orang yang merasakan maupun tanda yang dapat diamati pada benda ringan yang tergantung. Penyampaian skala dan deskripsi ini memberi konteks mengenai sebaran rasa gempa di tiga wilayah tersebut. BMKG merangkum laporan masyarakat berdasarkan intensitas yang dirasakan, sehingga pembaca dapat membedakan tingkat guncangan yang dilaporkan tanpa menganggap semua daerah mengalami sensasi yang sama. Informasi itu tetap terbatas pada pengalaman yang disampaikan, bukan pernyataan tentang kondisi bangunan atau kerusakan di masing-masing lokasi. Oleh karena itu, penjelasan intensitas II dan III MMI sebaiknya dipahami sesuai definisinya: ukuran tingkat getaran yang dirasakan dan gejala yang dilaporkan, bukan penilaian dampak yang tidak disebutkan dalam laporan Wijayanto.
Gempa berkekuatan magnitudo 6,0 yang berkaitan dengan kawasan Kiunga tercatat terjadi pada pukul 10.55 WIB, atau sekitar pukul 12.55 WIT. Perbedaan waktu tersebut perlu diperhatikan saat membaca laporan, karena sejumlah wilayah yang merasakan guncangan berada di Papua dan sekitarnya, yang menggunakan Waktu Indonesia Timur. Dengan demikian, waktu kejadian yang disebutkan dalam WIB setara dengan dua jam lebih awal daripada waktu setempat di wilayah tersebut.
Pusat gempa berada di darat, sekitar 171 kilometer tenggara Oksibil, Papua Pegunungan. Keterangan ini menunjukkan lokasi sumber gempa berdasarkan perkiraan koordinat dan jaraknya dari Oksibil, bukan berarti Oksibil merupakan satu-satunya daerah yang terdampak atau merasakan getaran. Oksibil digunakan sebagai titik rujukan geografis untuk menjelaskan posisi pusat gempa secara lebih mudah dipahami.
Kedalaman gempa tercatat sekitar 42 kilometer. Angka kedalaman menggambarkan jarak sumber gempa dari permukaan bumi, bukan jarak pusat gempa dari kota atau wilayah yang merasakan guncangan. Karena sumbernya berada pada kedalaman tersebut, karakter getaran yang dirasakan di berbagai lokasi dapat berbeda, bergantung lain pada jarak dari pusat gempa serta kondisi tanah setempat.
Informasi lokasi pusat gempa juga perlu dibedakan dari daftar wilayah yang merasakan guncangan. Boven Digoel, Jayapura, dan Merauke disebut sebagai daerah yang merasakan dampak getaran, tetapi ketiganya bukan lokasi pusat gempa. Pusatnya berada di darat, di sekitar 171 kilometer tenggara Oksibil, sedangkan wilayah-wilayah tersebut berada pada posisi berbeda dan dapat mengalami tingkat guncangan yang tidak sama. Pemisahan informasi ini membantu pembaca memahami laporan: waktu kejadian adalah 10.55 WIB atau sekitar 12.55 WIT, kedalaman sumber sekitar 42 kilometer, dan lokasi episentrum berada di sekitar Oksibil, Papua Pegunungan. Jarak serta arah yang disebut dalam laporan merujuk pada posisi pusat gempa, bukan batas wilayah yang merasakan getaran.
BMKG menilai gempa bermagnitudo 6,0 yang berpusat di wilayah Kiunga sebagai gempa dangkal. Penilaian tersebut didasarkan pada letak episentrum serta kedalaman hiposentrum, yakni titik di dalam bumi tempat gempa bermula. Kombinasi lokasi pusat gempa dan kedalaman sumbernya menjadi dasar untuk menggolongkan peristiwa ini sebagai gempa dangkal. Keterangan mengenai karakteristik gempa tersebut disampaikan oleh Wijayanto, yang menjelaskan analisis BMKG terhadap sumber guncangan di kawasan itu.
Menurut penjelasan Wijayanto, gempa tersebut dipicu oleh aktivitas sesar aktif. Sesar merupakan bidang atau zona retakan pada kerak bumi, dan pergerakan di sepanjangnya dapat melepaskan energi yang kemudian terasa sebagai guncangan. Berdasarkan mekanisme sumbernya, peristiwa ini termasuk gempa dengan mekanisme sesar geser, atau strike slip. Pada mekanisme tersebut, pergerakan utama terjadi secara mendatar di sepanjang bidang sesar. Identifikasi jenis mekanisme sumber membantu menggambarkan proses yang berkaitan dengan terjadinya gempa, tanpa mengubah penilaian BMKG mengenai lokasi dan kedalaman sumbernya.
Analisis tersebut menjadi bagian dari keterangan BMKG mengenai gempa yang guncangannya dirasakan di Boven Digoel, Jayapura, dan Merauke. Wijayanto juga menyampaikan pembaruan pemantauan aktivitas gempa setelah kejadian utama. Hingga laporan tersebut disampaikan, BMKG belum melihat adanya aktivitas gempa bumi susulan. Keterangan mengenai belum teramatinya gempa susulan itu merujuk pada hasil pemantauan sampai waktu laporan disampaikan, sebagaimana dijelaskan oleh Wijayanto. Informasi tersebut melengkapi penjelasan mengenai klasifikasi gempa sebagai gempa dangkal, pemicunya berupa aktivitas sesar aktif, serta mekanisme sumbernya yang berupa sesar geser.






