Kabupaten Seruyan | Helikopter MI-17V5 milik TNI Angkatan Darat dengan nomor registrasi HA-52 jatuh di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, pada Rabu, 4 November 2026. Saat kejadian, pesawat tersebut sedang menjalankan misi waterbombing, yakni upaya menjatuhkan air dari udara untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Insiden itu terjadi dalam rangkaian tugas penanggulangan karhutla yang melibatkan unsur udara.
HA-52 tergabung dalam satuan tugas udara penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Dalam tugas seperti ini, helikopter berperan mendukung operasi di wilayah yang sulit dijangkau tim darat, dengan membawa air untuk diarahkan ke titik kebakaran. Kehadiran unsur udara menjadi bagian dari upaya terpadu menghadapi karhutla, terutama ketika api berada di lokasi yang memerlukan dukungan dari atas.
Kecelakaan tersebut terjadi ketika misi pemadaman tengah berlangsung. Informasi mengenai peristiwa ini menegaskan bahwa helikopter berada dalam tugas operasional waterbombing, bukan penerbangan rutin yang terpisah dari penanganan kebakaran. Dua prajurit TNI AD dilaporkan gugur dalam insiden tersebut. Peristiwa ini sekaligus menyoroti risiko yang menyertai pengerahan personel dan pesawat dalam operasi penanggulangan bencana di lapangan.
Hingga informasi yang disampaikan dalam laporan awal, penyebab jatuhnya helikopter belum dijelaskan. Karena itu, tidak tepat untuk menyimpulkan faktor tertentu sebagai pemicu kecelakaan tanpa keterangan resmi yang mendukung. Fokus pada fakta yang telah diketahui membantu membedakan kronologi misi dari dugaan mengenai penyebab. Perkembangan lebih lanjut mengenai penanganan insiden dan hasil pemeriksaan dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap setelah diumumkan oleh pihak berwenang.
Dua personel TNI AD meninggal dunia dalam insiden jatuhnya helikopter saat melaksanakan tugas waterbombing di Seruyan. Mereka adalah Letkol CPN (Anumerta) Dudi Firmansya dan Kapten CPN (Anumerta) Nurhafiz Akbar. Keduanya gugur ketika menjalankan tugas dalam operasi penanganan kebakaran melalui pemadaman dari udara. Kepergian kedua prajurit tersebut menjadi kehilangan bagi keluarga, satuan, serta institusi TNI AD. Nama dan pangkat mereka disampaikan sebagai bagian dari informasi mengenai korban dalam peristiwa tersebut. Masyarakat pun menyampaikan perhatian dan duka atas gugurnya para personel yang sedang menjalankan tugas negara. Peristiwa ini juga mengingatkan bahwa pelaksanaan operasi udara memiliki risiko, terutama ketika dilakukan untuk mendukung penanganan keadaan darurat di lapangan.
Atas pengabdian dan pengorbanan mereka, Letkol CPN (Anumerta) Dudi Firmansya dan Kapten CPN (Anumerta) Nurhafiz Akbar memperoleh kenaikan pangkat luar biasa secara anumerta. Masing-masing menerima kenaikan satu tingkat lebih tinggi dari pangkat sebelumnya. Pemberian pangkat tersebut diberikan setelah keduanya gugur dalam pelaksanaan tugas, sehingga penyebutan nama dan pangkat mereka kini mencantumkan keterangan anumerta. Penghargaan itu menandai pengakuan institusi atas pengabdian para prajurit, sekaligus menjadi bentuk penghormatan kepada mereka yang kehilangan nyawa saat bertugas. Kenaikan pangkat berlaku bagi masing-masing personel dan tidak mengubah fakta bahwa keduanya merupakan korban dalam insiden helikopter di Seruyan.
Dengan demikian, identitas kedua prajurit yang gugur tercatat sebagai Letkol CPN (Anumerta) Dudi Firmansya dan Kapten CPN (Anumerta) Nurhafiz Akbar. Penulisan nama serta pangkat tersebut perlu dipertahankan sesuai keterangan yang disampaikan, termasuk ejaan Firmansya dan tambahan status anumerta. Keduanya memperoleh kenaikan pangkat luar biasa masing-masing satu tingkat lebih tinggi setelah gugur. Informasi ini menegaskan penghormatan terhadap pengabdian mereka, tanpa mengurangi perhatian pada duka keluarga dan rekan-rekan satuan. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari catatan operasi waterbombing di Seruyan, ketika dua personel TNI AD kehilangan nyawa dalam tugas. Pemberian pangkat secara anumerta menjadi pengakuan atas pengorbanan mereka dan jasa yang telah diberikan selama menjalankan tanggung jawab sebagai prajurit. Nama keduanya patut dikenang dalam pemberitaan tentang insiden tersebut.
Sertu Hery Prasetyo masih dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan di lokasi jatuhnya helikopter TNI AD saat menjalankan misi waterbombing di Seruyan. Hingga informasi terbaru disampaikan, keberadaan prajurit tersebut belum dipastikan. Tim gabungan terus melakukan upaya pencarian di area kejadian, sementara jumlah personel yang dinyatakan gugur dikoreksi menjadi dua orang. Dengan demikian, Sertu Hery Prasetyo tercatat sebagai satu personel yang masih dicari, bukan sebagai korban yang telah dipastikan meninggal dunia.
Informasi mengenai perkembangan tersebut disampaikan oleh Berton SP Panjaitan, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB. Ia menyampaikannya dalam siaran pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB pada Kamis, 5 November 2026. Keterangan itu menjadi pembaruan atas informasi awal mengenai jumlah korban dalam insiden tersebut. BNPB menyampaikan bahwa proses pencarian masih berlangsung dan perkembangan situasi di lapangan menjadi perhatian tim yang terlibat dalam penanganan kejadian.
Berton juga meralat keterangan awal yang sempat menyebut tiga personel gugur. Menurut keterangan terbaru, dua prajurit dinyatakan gugur, sedangkan satu personel lainnya, yakni Sertu Hery Prasetyo, masih dalam pencarian oleh tim SAR gabungan. Perbedaan informasi awal dan pembaruan ini penting untuk diperhatikan agar laporan mengenai korban tetap mengacu pada data terbaru yang disampaikan secara resmi. Selama pencarian belum berakhir, status Sertu Hery tetap sebagai personel yang belum ditemukan. Tim SAR gabungan melanjutkan upaya di lokasi kejadian, dan informasi berikutnya dapat mengikuti hasil pencarian serta pembaruan resmi dari pihak berwenang.Berton menyampaikan belasungkawa atas musibah jatuhnya helikopter TNI AD saat menjalankan misi waterbombing di Seruyan. Ia menyampaikan duka mendalam kepada keluarga para prajurit yang gugur dalam peristiwa tersebut. Kehilangan anggota keluarga merupakan beban yang berat, terlebih ketika kabar duka datang dalam situasi yang tidak mudah. Ungkapan simpati itu ditujukan kepada keluarga yang terdampak, sekaligus menjadi pengingat bahwa para korban dan orang-orang terdekat mereka patut mendapat perhatian serta dukungan.
Dalam menyampaikan rasa dukanya, Berton juga mengajak publik untuk menunjukkan kepedulian dengan cara yang bijaksana. Masyarakat dapat memberi ruang bagi keluarga korban untuk menghadapi masa sulit ini, serta tidak menyebarkan kabar yang belum dipastikan. Sikap saling menghormati dan doa dapat menjadi bentuk dukungan yang berarti bagi mereka yang tengah berduka. Peristiwa ini membawa kesedihan bagi keluarga prajurit yang gugur dan bagi semua pihak yang mengikuti kabarnya, sehingga ungkapan belasungkawa perlu disampaikan dengan empati.
Berton mengajak masyarakat untuk mendoakan personel yang masih dicari agar segera ditemukan. Ia juga berharap keluarga para korban diberi ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi musibah ini. Ajakan tersebut menjadi penutup ungkapan duka sekaligus seruan agar publik turut memberikan dukungan moral melalui doa. Bagi keluarga yang kehilangan orang tercinta, perhatian dan kepedulian dari lingkungan sekitar dapat membantu mereka melewati masa berduka. Publik diharapkan menjaga sikap penuh empati, menghormati keluarga yang terdampak, serta bersama-sama memanjatkan doa bagi personel yang masih dicari dan bagi keluarga korban agar diberi kekuatan menghadapi keadaan ini.
Baca juga: Prajurit Lanud Raden Sadjad Natuna Uji Ketahanan Fisik dalam Latihan Lintas Medan | Pesan Prabowo pada HUT ke-81 TNI: Prajurit Harus Selalu Bersama Rakyat | Kasum TNI : Mahasiswa dan Prajurit TNI Meriahkan Tinju Amatir Rakyard Rumble Piala Panglima TNI
40 kunjungan