Karhutla Ponorogo Meluas ke 56 Desa, Luas Area Terbakar Tembus 341,85 Hektare

Karhutla Ponorogo Meluas ke 56 Desa, Luas Area Terbakar Tembus 341,85 Hektare

Ponorogo | Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo mencatat kebakaran hutan dan lahan dengan luas area terbakar mencapai 341,85 hektare hingga 30 September 2026. Catatan tersebut menunjukkan bahwa dampak kebakaran telah tersebar di wilayah yang cukup luas dan tidak hanya terjadi pada satu kawasan. Peristiwa ini menjadi gambaran serius mengenai kerentanan area hutan dan lahan di Kabupaten Ponorogo selama periode kemarau.

Area terdampak tersebar di 56 desa yang berada di 17 kecamatan di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Sebaran tersebut memperlihatkan luasnya wilayah yang perlu mendapat perhatian dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. Data BPBD menjadi dasar penting untuk memetakan kawasan terdampak serta memahami skala kebakaran yang tercatat sampai akhir September 2026.

Di kawasan hutan, kondisi semak yang mengering dan tumpukan daun kering menjadi material yang mudah tersulut ketika kemarau berlangsung. Vegetasi yang kehilangan kelembapan dapat membantu api menyebar apabila terkena sumber pemicu. Lapisan daun kering yang menumpuk di permukaan tanah juga dapat menjadi bahan bakar alami, terutama ketika kondisi lingkungan membuatnya cepat terbakar.

Dengan area terbakar yang mencapai 341,85 hektare, kebakaran hutan dan lahan di Ponorogo mencakup wilayah yang luas, mencakup puluhan desa dan belasan kecamatan. Sebaran di 56 desa menunjukkan bahwa dampak peristiwa tersebut perlu dipahami berdasarkan kondisi setiap kawasan yang terdampak. Pencatatan hingga 30 September 2026 memberikan gambaran mengenai besarnya area yang telah terbakar di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo, Masun, menyebut data kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026 jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2024. Keterangan tersebut disampaikan Masun melalui pesan singkat pada Jumat, 9 Oktober 2026.

Berdasarkan data yang disampaikan, karhutla pada 2024 tercatat terjadi di 26 desa yang tersebar di 11 kecamatan. Luas lahan yang terbakar pada periode tersebut mencapai 91,7 hektare. Angka itu menjadi pembanding untuk melihat peningkatan kejadian karhutla di Ponorogo pada tahun ini.

Pada 2026, jumlah wilayah terdampak meningkat menjadi 56 desa di 17 kecamatan. Sementara itu, luas area yang terbakar mencapai 341,85 hektare. Dengan demikian, luas lahan terbakar bertambah sekitar 250,15 hektare dibandingkan 2024, atau meningkat lebih dari tiga kali lipat. Cakupan wilayahnya juga meluas, baik dari jumlah desa maupun kecamatan yang terdampak.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa karhutla tahun ini memiliki skala yang jauh lebih besar daripada dua tahun sebelumnya. Kenaikan luas area terbakar berlangsung seiring dengan bertambahnya jumlah desa dan kecamatan yang masuk dalam catatan kejadian. Data itu menjadi gambaran mengenai meluasnya dampak karhutla di wilayah Ponorogo sepanjang 2026.

Pernyataan Masun juga menegaskan pentingnya mencermati perkembangan karhutla berdasarkan data wilayah dan luas lahan terdampak. Pada 2024, kejadian tercatat pada 26 desa dan 11 kecamatan dengan luas 91,7 hektare. Adapun pada 2026, catatan tersebut meningkat menjadi 56 desa dan 17 kecamatan dengan area terbakar 341,85 hektare. Perbandingan faktual ini memperlihatkan peningkatan signifikan sebagaimana disampaikan oleh BPBD Ponorogo.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyebut kondisi kemarau yang semakin ekstrem sebagai salah satu faktor utama meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Ponorogo. Wilayah tersebut telah mengalami lebih dari 60 hari tanpa hujan, sehingga kelembapan tanah dan vegetasi menurun secara signifikan. Dalam kondisi seperti ini, sumber api yang relatif kecil sekalipun dapat dengan mudah memicu kebakaran, terutama ketika muncul di area yang memiliki banyak material kering.

Kebakaran tidak hanya terjadi di kawasan hutan, tetapi juga menjangkau hutan rakyat yang dikelola masyarakat. Vegetasi yang mengering, semak-semak, rerumputan, serta serasah berupa tumpukan daun kering menjadi bahan bakar alami yang mudah terbakar. Material tersebut dapat membuat api cepat menjalar dari satu titik ke titik lain, khususnya apabila berada di lahan yang luas dan sulit dijangkau petugas. Kondisi lahan yang kering juga meningkatkan potensi munculnya titik api baru akibat aktivitas manusia, baik yang disengaja maupun karena kelalaian.

Masun menjelaskan bahwa suhu udara yang tinggi turut memperbesar risiko kebakaran. Panas yang berlangsung terus-menerus membuat kadar air dalam tumbuhan semakin rendah, sehingga vegetasi menjadi lebih mudah tersulut. Keberadaan angin kemudian dapat mempercepat pergerakan api, membawa bara dan percikan ke area lain, serta menyulitkan upaya pemadaman. Karena itu, kebakaran yang semula berskala kecil berpotensi meluas dalam waktu singkat apabila tidak segera ditangani.

BPBD juga memperkirakan Ponorogo belum memasuki musim hujan pada Oktober 2026. Artinya, periode kering masih dapat berlangsung dan menjaga tingkat kerawanan karhutla tetap tinggi. Masyarakat di sekitar kawasan hutan dan lahan terbuka perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama dengan tidak membakar sampah atau membuka lahan menggunakan api. Pemantauan titik rawan dan pelaporan dini menjadi langkah penting untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi bencana yang lebih luas.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo menunjukkan bahwa Kecamatan Slahung menjadi wilayah dengan luas kebakaran hutan dan lahan terbesar. Hingga pendataan terakhir, area yang terbakar di Slahung mencapai 81,3 hektare. Luasan tersebut menempatkan Slahung pada posisi teratas di kecamatan lain yang terdampak karhutla di Ponorogo.

Wilayah dengan kebakaran terluas berikutnya adalah Kecamatan Bungkal, dengan area terdampak mencapai 64,5 hektare. Setelah itu, Kecamatan Sambit mencatat luas lahan terbakar sebesar 42,5 hektare. Kecamatan Jenangan berada di urutan selanjutnya dengan 35,5 hektare, sementara Kecamatan Kauman mencatat kebakaran seluas 30 hektare. Data ini memperlihatkan bahwa kebakaran telah menyebar ke sejumlah wilayah dengan karakter lahan dan tingkat kerawanan yang berbeda.

Besarnya luas area terdampak menjadi perhatian karena sebagian lokasi berada di sekitar hutan, lahan pertanian, serta kawasan yang dipenuhi vegetasi kering. Kondisi tersebut dapat membuat api lebih cepat menjalar, terutama ketika cuaca panas, angin bertiup kencang, dan sumber air sulit dijangkau. BPBD Ponorogo mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai sumber api, termasuk pembakaran sampah, puntung rokok, maupun aktivitas memasak dan pengelasan di area terbuka.

Warga juga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar. Praktik tersebut berisiko menyebabkan api tidak terkendali dan meluas ke lahan milik warga, kawasan hutan, atau permukiman di sekitarnya. Jika menemukan titik api, masyarakat diharapkan segera menjauh dari lokasi berbahaya, melaporkannya kepada aparat atau petugas terkait, serta tidak melakukan pemadaman seorang diri apabila kondisi api membesar. Menjaga kebersihan lahan, membuat sekat bakar bila diperlukan, dan saling mengingatkan merupakan langkah bersama untuk mencegah karhutla meluas serta mengurangi potensi kerugian yang lebih besar.