Kabupaten Bantul | Hingga dasarian I Oktober 2026, data BMKG mencatat Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Pajangan di Kabupaten Bantul mengalami 161 hari berturut-turut tanpa hujan. Catatan tersebut menjadikan Pajangan sebagai lokasi dengan periode tanpa hujan terpanjang yang terpantau di Indonesia selama El Niño 2026. Rentang kering yang panjang ini menunjukkan kuatnya dampak kondisi atmosfer terhadap ketersediaan hujan di wilayah tersebut, terutama ketika musim kemarau belum berakhir.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II BMKG Yogyakarta, Mamenun, menjelaskan bahwa panjangnya periode kering di Pajangan berkaitan dengan musim kemarau serta El Niño yang masih berada pada level sangat kuat. Kedua kondisi itu turut melatarbelakangi rendahnya peluang hujan dan berlanjutnya hari-hari tanpa hujan. Dalam pemantauan iklim, periode tanpa hujan dihitung berdasarkan jumlah hari berturut-turut tanpa curah hujan yang memenuhi kriteria pengamatan. Karena itu, angka 161 hari mencerminkan akumulasi kondisi kering yang berlangsung terus-menerus, bukan sekadar hujan yang jarang turun.
Meski Pajangan mencatat angka paling panjang, lama periode tanpa hujan di pos-pos pengamatan lain di Indonesia tidak seragam. Catatan masing-masing lokasi bervariasi, dipengaruhi keadaan cuaca dan karakter wilayah, tetapi secara keseluruhan periode kering yang terpantau telah melampaui 60 hari. Di Kabupaten Bantul, pos SDA Pundong juga mencatat rentang tanpa hujan yang sangat panjang, yakni 159 hari. Angka ini hanya berselisih dua hari dari catatan BPP Pajangan, sehingga menggambarkan luasnya dampak kekeringan di sejumlah bagian wilayah tersebut.
Catatan tahun 2026 tetap belum menyamai rekor yang pernah terjadi pada 2015. Pada tahun itu, periode tanpa hujan mencapai 245 hari, lebih panjang 84 hari dibandingkan catatan BPP Pajangan hingga dasarian I Oktober 2026. Perbandingan tersebut memberi konteks terhadap tingkat kekeringan saat ini, sekaligus menegaskan bahwa periode kering yang tercatat di Bantul tergolong luar biasa panjang, meskipun masih berada di bawah rekor nasional sebelumnya.
BMKG memprediksi bahwa awal musim hujan tahun 2026/2027 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan datang lebih lambat daripada waktu normal. Perkiraan tersebut menunjukkan penundaan setidaknya tiga dasarian, atau sekitar 30 hari, jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologis periode 1991–2020. Dengan demikian, masa peralihan menuju musim hujan diperkirakan bergeser dari pola yang biasanya menjadi acuan dalam perencanaan cuaca dan kegiatan masyarakat di wilayah DIY.
Mamenun menyebut El Niño yang masih sangat kuat sebagai salah satu faktor yang memengaruhi mundurnya awal musim hujan. Kondisi tersebut menjadi bagian dari pertimbangan dalam membaca perkembangan iklim untuk musim 2026/2027. Prediksi mundur ini tidak hanya merujuk pada perbandingan terhadap waktu normal, tetapi juga mencerminkan pengaruh kondisi iklim yang berlangsung saat ini. BMKG memperkirakan El Niño kuat itu masih bertahan hingga awal 2027, sehingga faktor tersebut tetap relevan dalam memantau perubahan musim.
Keberlanjutan El Niño hingga awal 2027 berpotensi membuat kondisi kering berlangsung lebih lama di sejumlah wilayah. Potensi tersebut sejalan dengan perkiraan bahwa musim hujan di DIY akan mulai setidaknya sekitar satu bulan lebih lambat daripada rata-rata klimatologis. Namun, penjelasan ini merujuk pada prediksi yang disampaikan BMKG, bukan kepastian mengenai tanggal mulai hujan di setiap wilayah. Informasi tentang penundaan perlu dibaca sesuai cakupan perkiraan musim dan pembanding periode klimatologis yang digunakan.
Prediksi awal musim hujan 2026/2027 tersebut menempatkan El Niño kuat sebagai salah satu unsur penting dalam penilaian BMKG, dengan Mamenun sebagai sumber pernyataan mengenai faktor yang memengaruhi penundaan. Perkiraan bertahan hingga awal 2027 juga menunjukkan bahwa pengaruh kondisi itu dapat berlanjut melewati akhir tahun. Karena musim hujan diperkirakan mundur setidaknya tiga dasarian, sejumlah wilayah berpotensi menghadapi periode kering yang lebih panjang. Uraian ini terbatas pada prediksi waktu musim serta kemungkinan berlanjutnya kondisi kering sebagaimana disampaikan dalam bahan informasi BMKG.
Suhu maksimum di Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 35,2 derajat Celsius pada 3 Oktober 2026. Berdasarkan catatan hingga saat laporan, angka tersebut merupakan suhu tertinggi yang tercatat di DIY sepanjang 2026. Kondisi ini menjadi salah satu gambaran cuaca panas yang menyertai musim kemarau berkepanjangan, ketika hujan masih jarang turun di sejumlah wilayah. Meski demikian, suhu tersebut belum melampaui rekor tertinggi dalam catatan historis yang menjadi pembanding.
BMKG menjelaskan, salah satu faktor pemicu suhu tinggi adalah posisi gerak semu matahari yang berada di selatan ekuator dan melintasi wilayah Jawa. Situasi tersebut membuat radiasi matahari yang diterima DIY mencapai tingkat maksimal. Energi matahari yang kuat kemudian memanaskan permukaan dan udara di sekitarnya, terutama pada siang hari. Pengaruh posisi matahari ini berlangsung bersamaan dengan kondisi atmosfer lokal, sehingga suhu dapat meningkat meskipun perubahan cuaca tidak selalu terasa sama di setiap wilayah.
Tutupan awan yang minim turut membuat sinar matahari lebih leluasa mencapai permukaan. Awan biasanya dapat menghalangi atau memantulkan sebagian radiasi, tetapi langit yang relatif cerah mengurangi perlindungan tersebut. Selain itu, musim kemarau dan fenomena El Niño ikut menekan peluang terbentuknya hujan. Minimnya hujan berarti lebih sedikit pendinginan alami dari awan dan air hujan, sehingga panas dapat bertahan lebih lama. Kelembapan udara yang rendah juga dapat membuat udara terasa lebih kering, walaupun rasa panas yang dialami masyarakat dipengaruhi pula oleh kondisi lingkungan dan aktivitas masing-masing.
BMKG mencatat suhu maksimum tahun ini masih berada di bawah rekor historis 36,8 derajat Celsius, yang terjadi pada 12 Oktober 2024. Rekor tersebut tercatat dalam rentang pengamatan 2015–2025. Perbandingan ini membantu menempatkan angka 35,2 derajat Celsius dalam konteks catatan sebelumnya: suhu pada 2026 tergolong tinggi, tetapi belum menjadi yang tertinggi dalam periode historis tersebut. Warga tetap perlu memperhatikan kondisi cuaca, menjaga kecukupan cairan, dan membatasi paparan langsung terhadap matahari saat suhu terasa menyengat, terutama pada siang hari.Walaupun sebagian besar wilayah DIY masih mengalami cuaca kering dan panas, masyarakat tidak sebaiknya menganggap risiko cuaca ekstrem telah berlalu. BMKG mengingatkan adanya peluang hujan lebat, angin kencang, dan petir secara lokal pada 13–19 Oktober 2026. Kondisi tersebut dapat muncul di lokasi tertentu dan berubah dalam waktu singkat, meskipun wilayah sekitarnya tetap cerah. Hujan yang turun secara setempat juga berpotensi disertai angin kencang atau sambaran petir, sehingga warga perlu ketika beraktivitas di luar rumah. Periksa kondisi langit dan perkembangan prakiraan sebelum bepergian, terutama jika kegiatan berlangsung di area terbuka.
Di sisi lain, paparan suhu tinggi dan sinar matahari langsung tetap perlu dibatasi. Usahakan mengurangi kegiatan berat di luar ruangan, khususnya pada siang hari ketika panas terasa lebih terik. Jika kegiatan tidak dapat ditunda, pilih waktu yang lebih sejuk bila memungkinkan dan cari tempat berteduh secara berkala. Pastikan kebutuhan cairan tubuh tercukupi dengan minum air putih secara teratur, tanpa menunggu hingga merasa sangat haus. Topi atau payung dapat membantu mengurangi paparan matahari, sementara tabir surya dapat digunakan untuk melindungi kulit saat berada di luar. Langkah sederhana ini membantu mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat panas, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, dan orang yang bekerja di luar ruangan.
Kenali tanda dehidrasi dan kelelahan akibat panas, seperti rasa haus berlebihan, tubuh lemas, pusing, atau keluhan lain setelah lama terpapar suhu tinggi.
Baca juga: Kodim 0906/Kkr Bersama Forkopimda Dan Warga Gelar Sholat Istisqa Di Tengah Musim Kemarau | Ringankan Beban Warga Terdampak Kemarau, Kodim Bojonegoro Kembali Pasok 64.000 Liter Air Bersih ke 4 Kecamatan | Setetes Kepedulian Ditengah Kemarau, Lanud Sjamsudin Noor Kembali Hadir Salurkan Air Bersih Untuk Warga






