Jakarta | Di berbagai hiasan yang identik dengan Halloween, labu menjadi salah satu penanda yang paling mudah dikenali. Perayaan ini diperingati setiap 31 Oktober di sejumlah negara, terutama di Amerika Serikat dan beberapa wilayah lain. Menjelang tanggal tersebut, gambar labu, dekorasi bertema seram, dan warna oranye kerap muncul di ruang publik, toko, maupun rumah yang ikut merayakan. Bentuk labu yang besar dan warnanya yang mencolok membuatnya mudah menarik perhatian, sekaligus cocok dipadukan dengan suasana misterius yang lekat dengan Halloween.
Labu yang digunakan sebagai hiasan biasanya diukir hingga menyerupai wajah menyeramkan. Kulitnya dilubangi untuk membentuk mata, hidung, dan mulut, dengan ekspresi yang dapat tampak jahil, marah, atau menakutkan. Setelah bagian dalamnya dibersihkan, sebuah sumber cahaya diletakkan di dalam labu. Cahaya itu tampak dari lubang-lubang ukiran dan menciptakan kesan dramatis, terutama ketika dekorasi ditempatkan di area yang remang-remang. Hiasan tersebut dikenal luas sebagai jack-o’-lantern dan sering dipajang di dekat pintu atau jendela. Setiap orang dapat membuat pola berbeda, sehingga tampilannya beragam.
Labu berukir bukan satu-satunya unsur visual Halloween. Orang-orang yang merayakannya juga dapat mengenakan kostum bernuansa horor atau mistis, seperti pakaian hantu, penyihir, atau tokoh fiksi menyeramkan. Anak-anak dan orang dewasa sama-sama bisa memilih busana kreatif, baik yang menakutkan maupun yang ringan dan lucu. Dalam suasana perayaan, kostum dan dekorasi labu sering saling melengkapi: satu menghadirkan karakter, sementara yang lain memberi latar yang khas. Meski demikian, kebiasaan dan cara merayakan Halloween dapat berbeda menurut tempat dan komunitas. Labu oranye berwajah bercahaya tetap menjadi simbol yang mudah dikenali, tetapi kehadirannya terutama berkaitan dengan tradisi Halloween di negara-negara yang merayakannya; hal ini tidak berarti tradisi tersebut berlangsung di Indonesia.
Hubungan labu dengan Halloween berawal dari cerita rakyat Irlandia, bukan dari kebiasaan awal masyarakat Amerika. Salah satu kisah yang paling dikenal ialah legenda Stingy Jack, seorang pria yang terkenal licik dan kikir. Cerita ini memiliki beragam versi, tetapi umumnya menggambarkan Jack berulang kali mengelabui Iblis agar terhindar dari hukuman atau memperoleh lebih banyak waktu untuk hidup. Ketika Jack akhirnya meninggal, menurut legenda, ia tidak diterima di surga. Iblis pun menolak memberinya tempat di neraka, tetapi memberikan bara api untuk menerangi jalan dalam kegelapan. Jack menaruh bara tersebut di dalam lobak yang telah dilubangi, lalu mengembara sambil membawa lentera itu. Kisah tersebut menjadi salah satu penjelasan rakyat tentang asal nama jack-o’-lantern.
Istilah jack-o’-lantern merujuk pada lentera yang dibuat dengan mengosongkan bagian dalam buah atau sayuran, kemudian mengukir bagian luarnya hingga menyerupai wajah. Bara api atau lilin ditempatkan di rongga itu sehingga cahaya tampak melalui lubang-lubang yang membentuk mata, hidung, dan mulut. Dalam tradisi lama, bahan yang digunakan tidak selalu labu. Di Irlandia dan wilayah lain di Kepulauan Britania, orang mengukir lobak, bit, atau sayuran akar yang tersedia setempat. Lentera berwajah menyeramkan tersebut dipercaya dapat mengusir roh jahat atau membantu menandai perayaan menjelang musim dingin. Makna dan praktiknya berbeda antardaerah, tetapi kisah Stingy Jack memberi tradisi itu tokoh dan cerita yang mudah diingat.
Ketika imigran Irlandia membawa kebiasaan Halloween ke Amerika Utara pada abad ke-19, mereka menemukan labu yang lebih besar dan lebih mudah diperoleh. Dibandingkan lobak, labu memiliki rongga luas, daging yang relatif mudah dikeruk, serta kulit yang dapat diukir dengan beragam pola. Ukurannya juga memungkinkan wajah terlihat jelas dari kejauhan, sementara proses menyiapkannya tidak serumit melubangi sayuran kecil dan keras. Karena alasan praktis tersebut, labu perlahan menggantikan lobak sebagai bahan utama jack-o’-lantern. Penggunaan labu kemudian menyebar luas melalui perayaan komunitas, dekorasi rumah, dan budaya populer. Kini, labu berukir menjadi lambang Halloween yang dikenal secara internasional, meskipun akar tradisinya tetap terkait dengan cerita rakyat Irlandia dan lentera sederhana yang dibawa Jack dalam legenda.
Dalam legenda yang dikenal sebagai kisah Jack, tokoh utamanya digambarkan sebagai sosok yang pelit dan licik. Ia gemar memperdaya orang lain demi kepentingannya sendiri, dan kecerdikannya tidak berhenti ketika berhadapan dengan manusia. Bahkan iblis pun menjadi sasaran tipu daya Jack. Watak tersebut menjadi bagian penting dari cerita: Jack bukan tokoh yang mengandalkan kekuatan, melainkan seseorang yang memakai siasat untuk mengatasi keadaan. Karena itu, kisahnya berpusat pada cara ia menjerat iblis dan memanfaatkan janji yang kemudian dibuat. Peristiwa itu memperlihatkan bahwa kelicikan Jack mampu membuat iblis berada dalam posisi sulit, meskipun iblis biasanya dipandang sebagai sosok yang menakutkan. Legenda ini menuturkan rangkaian kejadian tersebut secara sederhana, dengan tipu daya Jack sebagai inti kisah.
Pada suatu peristiwa dalam cerita, Jack berhasil menjebak iblis di atas sebuah pohon. Caranya adalah dengan mengukir tanda salib pada batang pohon itu. Setelah tanda tersebut terukir, iblis tidak dapat turun dari tempatnya. Dengan demikian, Jack membuat iblis terkurung di atas pohon dan tidak mampu melanjutkan langkahnya. Adegan ini menunjukkan siasat yang digunakan Jack: ia memanfaatkan tanda salib pada batang pohon untuk menahan iblis, bukan menghadapi iblis dengan kekuatan. Iblis berada dalam keadaan tidak berdaya, sementara Jack memegang kendali atas situasi. Cerita tidak menyebutkan cara lain yang dipakai Jack untuk menjebaknya; yang diceritakan ialah ukiran tanda salib dan akibatnya bagi iblis. Dari keadaan itulah kemudian muncul syarat yang menjadi bagian berikutnya dalam legenda tersebut.
Jack baru bersedia menolong iblis setelah iblis berjanji bahwa ia tidak akan mengambil jiwa Jack ketika Jack meninggal. Janji itu menjadi syarat bagi pertolongan: selama iblis masih terjebak di atas pohon, Jack meminta kepastian tersebut terlebih dahulu. Setelah iblis menyatakan kesediaannya untuk tidak mengambil jiwa Jack, barulah Jack menolongnya. Urutan ini penting dalam kisah. Mula-mula Jack menjebak iblis dengan mengukir tanda salib pada batang pohon, lalu iblis tidak dapat turun, dan kemudian Jack meminta janji sebagai imbalan sebelum memberikan bantuan. Legenda itu menggambarkan Jack tetap menggunakan kelicikannya, bahkan terhadap iblis, untuk memperoleh jaminan bagi dirinya sendiri. Dengan demikian, tipu daya dan janji tersebut menjadi pusat cerita tentang Jack yang menjebak iblis.
Dalam akhir legenda, Jack meninggal setelah menjalani hidup yang penuh tipu daya dan perilaku buruk. Ketika tiba di alam baka, ia tidak diterima di surga karena tindakannya semasa hidup. Namun, ia juga tidak dapat masuk neraka. Iblis pernah berjanji tidak akan mengambil jiwa Jack, sehingga janji itu tetap berlaku. Akibatnya, Jack harus mengembara tanpa tempat tujuan yang pasti, terperangkap di dua alam dan menjalani perjalanan yang panjang dalam kegelapan.
Melihat Jack kesulitan menemukan jalan, iblis memberinya sepotong bara api agar ia dapat menerangi langkahnya. Jack kemudian menempatkan bara tersebut di dalam sayuran yang telah dilubangi, sehingga cahayanya bertahan lebih lama dan tidak mudah padam tertiup angin. Gambaran pengembara yang membawa cahaya di dalam wadah berukir ini menjadi salah satu penjelasan populer mengenai asal-usul jack-o’-lantern. Lentera tersebut mengingatkan orang pada sosok Jack yang terus berjalan, membawa bara kecil sebagai satu-satunya penerang di tengah malam.
Dalam praktik masa kini labu disiapkan dengan memotong bagian atasnya kemudian isi.
Baca juga: Penuh Dengan Makna Kebersamaan, Dandim 0906/Kkr Hadiri Tradisi Beseprah






