Jakarta | Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar unjuk rasa di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, pada Selasa sore, 20 Oktober 2026. Aksi tersebut berlangsung bersama sejumlah elemen massa lainnya. Kehadiran berbagai kelompok menjadikan kegiatan itu sebagai aksi yang melibatkan mahasiswa dan unsur masyarakat, dengan kawasan Tugu Tani menjadi titik berkumpul para peserta pada sore hari.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa BEM UI tidak mengenakan almamater. Hal itu menjadi salah satu ciri yang tampak dari kehadiran mereka di lokasi. Para peserta datang sebagai bagian dari massa yang berkumpul di kawasan tersebut, sementara kelompok-kelompok lain turut menyertai jalannya unjuk rasa. Informasi mengenai jumlah peserta disebut mencapai ratusan mahasiswa, tanpa keterangan lebih terperinci mengenai komposisi seluruh massa yang ikut serta.
Peristiwa ini berpusat di Tugu Tani, sebuah kawasan di Jakarta Pusat yang menjadi lokasi aksi pada hari itu. Unjuk rasa digelar pada Selasa sore, sehingga waktu dan tempat pelaksanaannya menjadi informasi utama terkait kegiatan tersebut. BEM UI tercatat sebagai salah satu kelompok mahasiswa yang terlibat, bersama sejumlah elemen massa lainnya. Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai identitas setiap kelompok peserta dalam informasi yang tersedia.
Aksi tersebut dapat dicatat sebagai kegiatan unjuk rasa yang diikuti ratusan mahasiswa BEM UI dan unsur massa lainnya. Namun, keterangan mengenai tuntutan, latar belakang penyelenggaraan, ataupun rangkaian kegiatan selama aksi tidak dirinci. Karena itu, uraian mengenai peristiwa ini terbatas pada keikutsertaan mahasiswa dan elemen masyarakat, lokasi pelaksanaan, serta waktu kegiatan. Dengan informasi tersebut, inti peristiwa pada Selasa sore di Tugu Tani tetap dapat disampaikan tanpa menambahkan rincian yang belum diketahui.
Para mahasiswa BEM UI yang hadir dalam aksi di Tugu Tani memutuskan untuk tidak mengenakan jas almamater. Pilihan tersebut berkaitan dengan cara mereka menempatkan diri di tengah peserta aksi lain. Dengan tidak memakai atribut kampus, mereka ingin melebur dan membaur bersama elemen masyarakat sipil yang juga berkumpul di titik aksi. Keputusan itu disampaikan sebagai bagian dari upaya agar kehadiran mahasiswa tidak tampil terpisah dari kelompok-kelompok lain yang mengikuti kegiatan tersebut.
Koordinator Sosial dan Politik BEM UI, Hafidz Hernanda, menjelaskan bahwa tidak mengenakan almamater dimaksudkan agar aksi berlangsung lebih inklusif. Keterangan itu menjadi penjelasan atas pilihan para mahasiswa untuk meninggalkan atribut identitas kampus saat berada di lokasi. Menurut Hafidz, langkah tersebut berkaitan dengan keinginan untuk menyatu bersama elemen masyarakat sipil lainnya. Pernyataan itu menegaskan tujuan yang disampaikan penyelenggara mengenai cara para mahasiswa berpartisipasi dalam aksi di Tugu Tani.
Dengan demikian, keputusan tersebut bukan sekadar soal penggunaan pakaian, melainkan pilihan untuk hadir tanpa penanda almamater ketika berkumpul bersama peserta lain. Para mahasiswa memilih membaur di titik aksi, sedangkan Hafidz menyebut tujuan langkah itu adalah mendorong aksi yang lebih inklusif. Tidak mengenakan jas almamater menjadi bentuk sikap yang mereka ambil dalam konteks kegiatan tersebut. Keterangan BEM UI itu menjelaskan alasan yang disampaikan para peserta, yakni agar dapat berada bersama elemen masyarakat sipil lainnya tanpa menonjolkan identitas kampus melalui atribut almamater. Penjelasan ini mempertahankan maksud yang disampaikan Hafidz, tanpa menambahkan alasan lain di luar tujuan untuk melebur, membaur, dan membuat aksi lebih inklusif. Di lokasi, pilihan itu memungkinkan para mahasiswa hadir sebagai bagian dari kumpulan peserta aksi, sebagaimana dijelaskan oleh koordinator BEM UI tersebut.
Keputusan mahasiswa BEM UI untuk tidak mengenakan almamater dalam aksi di Tugu Tani dapat dipahami sebagai cara memperluas makna kehadiran mereka. Tanpa penanda institusi yang biasanya melekat pada pakaian tersebut, aksi tidak semata-mata ditampilkan sebagai kegiatan yang mewakili kepentingan mahasiswa atau kampus. Pilihan itu memberi penekanan bahwa mahasiswa hadir sebagai bagian dari masyarakat, dengan pengalaman dan kepedulian yang juga berhubungan dengan kehidupan bersama. Dengan demikian, pakaian menjadi salah satu unsur penyampaian pesan, bukan sekadar pilihan praktis. Sikap tersebut membantu menunjukkan bahwa ruang aksi terbuka bagi aspirasi yang lebih luas daripada suara satu kelompok saja.
Dalam kerangka itu, aksi dapat dipandang sebagai ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan pandangan sekaligus mengambil bagian dalam percakapan publik. Mahasiswa tidak harus memisahkan identitas akademiknya dari perannya sebagai warga masyarakat. Keduanya dapat hadir berdampingan, meskipun pada momen tertentu simbol kampus tidak ditonjolkan. Tidak mengenakan almamater, karena itu, bukan berarti menghapus latar belakang mereka, melainkan menggeser fokus agar partisipasi tidak dibaca hanya melalui afiliasi institusional. Perhatian dapat diarahkan pada kehadiran para peserta dan maksud umum mereka untuk menyuarakan aspirasi sebagai bagian dari kehidupan bersama.
Penekanan pada aspirasi bersama juga membuka pemahaman bahwa aksi mahasiswa tidak selalu harus dipersempit menjadi urusan internal kampus. Mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat yang dapat menyampaikan pandangan mengenai kepentingan publik, tanpa perlu menjadikan pakaian atau identitas organisasi sebagai batas utama. Pilihan untuk tidak memakai almamater memberi ruang bagi pesan tersebut untuk tampil lebih inklusif, sekaligus mengingatkan bahwa partisipasi warga dapat datang dari berbagai latar. Dalam konteks aksi di Tugu Tani, pemaknaan ini menempatkan mahasiswa sebagai peserta dalam ruang publik: mereka membawa suara sendiri, tetapi juga hadir dalam hubungan yang lebih luas dengan masyarakat. Aksi pun dapat dipahami sebagai kesempatan untuk berbagi aspirasi, mendengar, dan menunjukkan keterlibatan bersama.
Unjuk rasa di kawasan Tugu Tani berlangsung bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Momentum tersebut menjadi konteks waktu bagi aksi yang diikuti mahasiswa, termasuk perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia. Para peserta menyampaikan pendapat di ruang publik, sementara perhatian tertuju pada jalannya kegiatan dan kondisi di sekitar lokasi. Bertepatan dengan peringatan masa pemerintahan itu, aksi berlangsung sebagai bagian dari penyampaian aspirasi mahasiswa. Informasi mengenai situasi lapangan menunjukkan bahwa kegiatan berjalan tertib, dengan orasi disampaikan secara bergantian di hadapan para peserta yang berkumpul.
Sejumlah perwakilan mahasiswa secara bergantian berorasi di hadapan peserta aksi. Pergantian pembicara memberi kesempatan kepada beberapa perwakilan untuk menyampaikan aspirasi, sementara peserta lainnya menyimak jalannya orasi. Penyampaian pendapat dilakukan di lokasi aksi dan menjadi bagian utama dari kegiatan tersebut. Berdasarkan keterangan mengenai suasana di tempat, keadaan terpantau kondusif selama kegiatan berlangsung. Tidak disebutkan adanya gangguan yang mengubah situasi menjadi tidak terkendali. Dengan demikian, perhatian di lokasi tetap tertuju pada orasi dan aspirasi yang disampaikan oleh para mahasiswa. Situasi yang kondusif juga menggambarkan bahwa penyampaian pendapat berlangsung dalam suasana relatif tertib.
Aparat kepolisian berjaga di sekitar lokasi untuk menjaga ketertiban selama mahasiswa menyampaikan pendapat. Kehadiran petugas berlangsung bersamaan dengan orasi para perwakilan dan kegiatan peserta di kawasan Tugu Tani. Penjagaan tersebut menjadi bagian dari pengamanan di ruang publik, agar aktivitas aksi dapat berlangsung tertib. Secara keseluruhan, suasana di lokasi dilaporkan kondusif: peserta mengikuti orasi, perwakilan mahasiswa berbicara secara bergantian, dan aparat berada di sekitar kawasan. Rangkaian kondisi ini menunjukkan jalannya aksi dalam konteks dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, tanpa keterangan mengenai insiden yang mengganggu ketertiban. Keterangan tentang suasana dan penjagaan tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi lapangan saat aspirasi disampaikan. Fokus kegiatan tetap pada penyampaian pendapat oleh mahasiswa di hadapan peserta, dengan aparat menjalankan penjagaan di sekitarnya.






