Samarinda | Pertengahan pekan lalu, seorang anak berusia tiga tahun jatuh dari balkon lantai lima sebuah hotel di Samarinda, Kalimantan Timur. Saat kejadian, orangtuanya sedang sarapan di restoran hotel. Peristiwa ini mengundang perhatian pada pentingnya memastikan anak kecil berada dalam pengawasan yang memadai, terutama di lingkungan yang memiliki risiko jatuh, seperti balkon dan area bertingkat. Anak usia tiga tahun masih belum sepenuhnya memahami bahaya atau mampu menilai situasi secara mandiri. Karena itu, kedekatan orang dewasa dan pengamanan ruang menjadi bagian penting saat keluarga menginap di tempat yang tidak dikenal.
Beberapa hari kemudian, pendaki menemukan seorang anak di bawah usia tiga tahun menangis sendirian di dalam tenda di kawasan Gunung Prau, Jawa Tengah. Orangtua anak tersebut diketahui sedang melanjutkan perjalanan menuju puncak. Menurut keterangan mereka, anak itu dititipkan kepada seorang teman di tenda sebelah. Namun, orang tersebut sedang tertidur ketika anak terbangun. Kejadian ini menunjukkan bahwa kesepakatan untuk menjaga anak perlu disertai kepastian bahwa orang yang dipercaya benar-benar terjaga, siap mendampingi, dan memahami tanggung jawabnya.
Kedua peristiwa tersebut terjadi dalam keadaan dan lingkungan yang berbeda, sehingga tidak tepat untuk menyamakan penyebab maupun akibatnya. Namun, keduanya menjadi pengingat bahwa kebutuhan pengawasan perlu disesuaikan dengan usia anak dan kondisi di sekitarnya. Anak yang masih sangat kecil dapat terbangun, bergerak, atau mendekati area berbahaya tanpa mampu memperkirakan konsekuensinya. Saat orangtua perlu beristirahat, makan, atau melakukan kegiatan lain, pengaturan pengasuhan sebaiknya jelas dan aktif, bukan hanya berdasarkan anggapan bahwa anak berada dekat orang dewasa lain. Pemeriksaan berkala dan pembagian tanggung jawab secara tegas dapat membantu memastikan pendamping tetap hadir saat dibutuhkan. Langkah sederhana tersebut juga memberi anak rasa aman, baik ketika berada di hotel maupun saat mengikuti perjalanan di alam terbuka.
Psikolog klinis Indah Sulistyorini menjelaskan bahwa anak berusia tiga tahun belum mampu memahami konsekuensi dari tindakan yang dilakukannya. Pada tahap perkembangan ini, anak mungkin melakukan sesuatu tanpa dapat memperkirakan dampak yang akan muncul sesudahnya. Kemampuan untuk menimbang risiko dan menghubungkan tindakan dengan akibatnya masih berkembang, sehingga belum dapat disamakan dengan pemahaman orang dewasa.
Rasa ingin tahu yang kuat membuat anak terdorong untuk menjelajahi lingkungan di sekitarnya. Ia dapat tertarik pada benda, tempat, atau kegiatan baru, lalu mencoba mendekat dan berinteraksi tanpa menyadari kemungkinan bahayanya. Keinginan untuk mengetahui sesuatu tidak berarti anak telah memahami risiko yang melekat pada situasi tersebut. Pemahaman tentang bahaya pada usia ini belum berkembang secara memadai untuk menjadi dasar bagi keputusan yang aman.
Karena itu, anak berusia tiga tahun masih membutuhkan perlindungan dan pengawasan orang dewasa. Pengawasan bukan sekadar berada di dekat anak, tetapi juga memperhatikan lingkungan serta mengantisipasi keadaan yang dapat membahayakannya. Orang dewasa perlu mengambil peran dalam menilai situasi dan membatasi akses terhadap risiko, sebab anak belum dapat diandalkan untuk memperkirakan sendiri akibat dari tindakannya atau menjaga keselamatannya secara konsisten.
Indah mengingatkan orangtua agar tidak menilai kemampuan anak dengan menggunakan sudut pandang orang dewasa. Anak yang tampak berani, aktif, atau mampu melakukan beberapa hal sendiri tetap belum tentu memahami konsekuensi tindakannya. Sebelum mengajak anak melakukan suatu aktivitas, orangtua perlu mempertimbangkan tahap perkembangan dan kemampuannya sesuai usia. Jika kegiatan berpotensi menempatkan anak dalam situasi berisiko, pengaturan lingkungan, pendampingan, atau penundaan aktivitas dapat menjadi langkah yang lebih tepat. Memahami batas perkembangan anak membantu orangtua memberikan kesempatan untuk bereksplorasi sekaligus menjaga keselamatannya.
Keselamatan anak tidak hanya berkaitan dengan perlindungan dari cedera atau bahaya fisik. Rasa aman secara emosional juga merupakan kebutuhan penting, terutama pada masa awal kehidupan ketika anak sedang membangun kelekatan dengan orangtua atau pengasuh utamanya. Kehadiran orang dewasa yang dikenal, respons yang peka, dan rutinitas yang dapat diperkirakan membantu anak merasa bahwa kebutuhan serta sinyalnya akan diperhatikan. Bekal ini mendukung anak menghadapi lingkungan baru secara bertahap, sesuai kemampuan dan tahap perkembangannya.
Dalam peristiwa di tenda, misalnya, seorang anak yang terbangun lalu tidak menemukan orangtuanya dapat merasa takut, cemas, atau tidak nyaman. Anak seusia itu belum tentu memahami bahwa orangtuanya pergi hanya sementara untuk menuju puncak dan akan kembali. Penjelasan yang masuk akal bagi orang dewasa belum tentu dapat dipahami anak, khususnya saat ia baru bangun, berada di tempat asing, atau tidak melihat sosok yang biasanya memberinya ketenangan. Karena itu, pengalaman tersebut patut dipertimbangkan dari sudut pandang anak, bukan semata-mata berdasarkan niat orangtua.
Menurut keterangan Indah, pengalaman yang mengusik rasa aman dapat berpengaruh pada cara anak membangun hubungan dengan orang lain dan mungkin berkaitan dengan kelekatan yang kurang sehat di masa depan. Namun, hal ini bukan berarti satu kejadian tertentu pasti menimbulkan dampak jangka panjang. Pengaruhnya tidak sama pada setiap anak dan bergantung pada berbagai hal, termasuk usia, pengalaman sebelumnya, keadaan saat kejadian, serta dukungan dan respons yang diterima setelahnya. Orangtua dapat membantu dengan menenangkan anak, menjelaskan situasi menggunakan bahasa sederhana, dan memastikan ia kembali merasa didampingi. Memperhatikan kebutuhan emosional bukan berarti menghindari semua pengalaman yang membuat anak tidak nyaman, melainkan menyediakan pendampingan yang sesuai. Dengan demikian, keputusan menjaga anak mempertimbangkan keselamatan fisik sekaligus rasa aman yang sedang berkembang.Menitipkan anak tidak cukup hanya dengan memastikan ada orang dewasa lain di dekatnya. Pengawasan memang penting, tetapi orangtua juga perlu mempertimbangkan siapa yang menjaga, bagaimana orang tersebut berinteraksi dengan anak, serta apakah anak merasa aman bersamanya. Menurut Indah, hal ini terutama perlu diperhatikan ketika anak masih berusia di bawah tiga tahun. Pada tahap tersebut, anak mungkin belum mampu menjelaskan rasa takut atau ketidaknyamanannya dengan kata-kata. Karena itu, orangtua perlu mengamati respons anak, bukan hanya mengandalkan penilaian orang dewasa.
Kepercayaan anak kepada pengasuh tidak terbentuk secara otomatis. Anak perlu mengenal orang tersebut dan memiliki waktu untuk merasa nyaman melalui interaksi yang bertahap. Memperkenalkan seseorang sebagai teman yang baik atau orang yang dapat dipercaya belum tentu membuat anak langsung merasa aman. Orangtua dapat membantu proses ini dengan mempertemukan anak dan calon pengasuh lebih dahulu, mendampingi mereka saat berinteraksi, serta memperhatikan bahasa tubuh dan perubahan perilaku anak. Jika anak tampak gelisah, menarik diri, atau terus mencari orangtuanya, respons tersebut perlu ditanggapi dengan serius. Keakraban orang dewasa dengan keluarga tidak dengan sendirinya menggantikan kedekatan dan rasa aman yang dibutuhkan anak.
Indah mengingatkan pasangan muda agar tidak meninggalkan anak kecil tanpa pengawasan yang memadai. Keputusan untuk memiliki anak perlu disertai kesiapan untuk menempatkan kebutuhan dan keselamatan anak sebagai prioritas, termasuk saat orangtua harus mengatur pekerjaan, kegiatan sosial, maupun urusan pribadi. Kesiapan tersebut bukan hanya berkaitan dengan ketersediaan pengasuh atau perlengkapan, tetapi juga kematangan kognitif dan emosional orangtua. Kemampuan menilai risiko, menahan diri, dan mengelola emosi membantu orangtua mengambil keputusan yang lebih aman ketika menghadapi tekanan atau situasi tak terduga. Dengan pertimbangan yang cermat, pengasuhan dapat dilakukan tanpa mengabaikan rasa aman anak maupun tanggung jawab orangtua terhadap kebutuhannya.
Baca juga: Jamin Keselamatan Personel, Tim Kesehatan Latgabma SGS 2026 Gelar Medical Exchange Method | Prajurit Korem 161/Wira Sakti Hadirkan Keceriaan bagi Anak-Anak Terdampak Gempa NTT | Semangat Kemerdekaan Dimulai dari Anak-anak, Siti Nurlaela Dorong Budaya Bermain dan Berkarya






