Surabaya | Munawi, anggota Masyarakat Mitra Polisi Hutan (MMP), meninggal dunia pada Senin (19/10) di RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Ia sebelumnya menjalani perawatan intensif setelah mengalami luka bakar saat terlibat dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Kondisinya sempat kritis sebelum akhirnya dinyatakan meninggal.
Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menyampaikan kabar duka tersebut. Kabar wafatnya Munawi menambah jumlah petugas gabungan yang meninggal dalam penanganan kebakaran di kawasan konservasi itu menjadi lima orang. Kepergian Munawi menjadi kehilangan bagi rekan-rekan yang terlibat dalam upaya pemadaman, sekaligus menegaskan risiko yang dihadapi para petugas ketika bekerja di tengah kebakaran hutan dan lahan.
Munawi ikut dalam upaya menangani kebakaran di wilayah TNBTS sebelum mengalami luka bakar. Ia kemudian dibawa untuk memperoleh perawatan medis di Surabaya. Selama dirawat, kondisinya disebut kritis dan ia mendapat penanganan intensif di rumah sakit. Namun, perawatan tersebut tidak berhasil menyelamatkan nyawanya. Informasi mengenai wafatnya disampaikan pada Senin, 19 Oktober, dari RSUD Dr Soetomo.
Penanganan kebakaran di kawasan taman nasional melibatkan petugas gabungan, termasuk anggota MMP. Mereka bekerja untuk memadamkan api dan menangani dampak kebakaran di area yang memiliki kondisi medan serta lingkungan tersendiri. Dalam proses tersebut, keselamatan personel menjadi perhatian penting, sebab upaya pemadaman dapat membawa risiko cedera serius. Luka bakar yang dialami Munawi menjadi salah satu dampak dari keterlibatannya dalam operasi tersebut.
Dengan meninggalnya Munawi, jumlah korban jiwa dari petugas gabungan dalam penanganan kebakaran TNBTS bertambah menjadi lima orang. Kabar ini memperbarui catatan duka dalam rangkaian upaya pemadaman, setelah sebelumnya empat petugas dilaporkan meninggal. Pernyataan Rudijanta mengenai wafatnya Munawi mengonfirmasi kabar tersebut sekaligus menandai bertambahnya korban dalam penanganan kebakaran di kawasan Bromo Tengger Semeru.
Munawi merupakan satu dari 12 petugas dan relawan yang berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo. Mereka bertugas di Resort Tengger Laut Pasir, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah I, Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Upaya penanganan api di lokasi tersebut berlangsung sejak Kamis (15/10), ketika petugas berusaha mengendalikan kebakaran di tengah kondisi medan yang berat.
Dalam proses pemadaman, Munawi ditemukan dalam keadaan tak berdaya di tengah kepungan asap dan api. Situasi tersebut membuat upaya penyelamatan dan penanganan terhadapnya menjadi mendesak. Setelah ditemukan, ia segera dievakuasi dari area kebakaran untuk mendapatkan pertolongan medis. Munawi kemudian dibawa ke RSUD Dr Soetomo di Surabaya guna menjalani perawatan atas luka bakar yang dideritanya.
Perawatan medis diberikan setelah Munawi mengalami cedera ketika berada di lokasi pemadaman. Kondisi luka bakar yang dialaminya memerlukan penanganan di rumah sakit, sehingga ia dirawat secara intensif. Meski tim medis telah memberikan perawatan, kondisinya tidak membaik hingga akhirnya ia meninggal dunia setelah beberapa waktu menjalani perawatan.
Rudijanta menjelaskan bahwa Munawi meninggal setelah menjalani perawatan intensif pascapemadaman kebakaran. Keterangan tersebut menegaskan bahwa korban tidak meninggal di lokasi saat pertama kali ditemukan, melainkan setelah dievakuasi dan memperoleh penanganan medis. Kepergian Munawi menambah jumlah korban jiwa dalam peristiwa kebakaran di kawasan Bromo menjadi lima orang, termasuk korban yang sebelumnya telah dilaporkan meninggal dunia.
Keterlibatan Munawi bersama petugas dan relawan lainnya menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi tim di lapangan ketika menangani kebakaran. Asap tebal, kobaran api, serta kondisi area yang sulit dijangkau dapat membahayakan personel yang bekerja untuk mencegah api meluas. Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa proses pemadaman membutuhkan kewaspadaan dan perlindungan bagi seluruh petugas, sekaligus penanganan cepat apabila ada personel yang mengalami cedera.
Sebelum Munawi meninggal setelah menjalani perawatan, kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) telah merenggut nyawa empat orang yang terlibat dalam upaya pemadaman. Mereka menjadi korban saat bertugas di titik Pusung Lingker, Kabupaten Probolinggo, pada Kamis (15/10). Peristiwa tersebut menambah duka bagi tim gabungan dan warga yang berada di sekitar kawasan terdampak.
Empat korban jiwa itu adalah Sukaris, 55 tahun, petugas Balai Besar TNBTS; Hendra Rony Wagiyanata; serta Wisnu Yuda Pratama, 25 tahun, dan Sefriel Ardiansyah, 19 tahun. Wisnu dan Sefriel diketahui bekerja sebagai karyawan hotel di sekitar lokasi. Informasi yang tersedia menyebutkan identitas dan keterlibatan mereka dalam peristiwa tersebut, ketika upaya pengendalian api dilakukan di Pusung Lingker. Keempatnya merupakan bagian dari korban yang jatuh sebelum Munawi wafat.
Selain mereka yang meninggal, dua personel juga mengalami luka-luka dalam kejadian itu. Salah satunya adalah Munawi, yang sempat menjalani perawatan sebelum kemudian meninggal dunia. Dengan wafatnya Munawi, jumlah korban jiwa akibat kebakaran Bromo tersebut bertambah menjadi lima orang. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa dampak kebakaran tidak hanya berupa kerusakan kawasan, tetapi juga risiko serius bagi orang-orang yang terlibat langsung dalam penanganan api.
Korban luka lainnya, Suraji, bekerja sebagai sekuriti hotel di sekitar lokasi kebakaran. Ia masih dirawat secara intensif di RSUD Dr Soetomo akibat luka bakar. Kondisinya memerlukan penanganan medis, sementara keluarga dan pihak terkait menanti perkembangan perawatannya. Rangkaian korban meninggal dan luka-luka tersebut terjadi dalam konteks pemadaman di area Pusung Lingker, tempat tim gabungan berupaya mengatasi kebakaran. Informasi mengenai identitas korban dan kondisi Suraji menjadi bagian penting dalam pencatatan dampak peristiwa, sekaligus mengingatkan bahwa petugas dan pekerja di sekitar kawasan menghadapi bahaya ketika api meluas. Hingga Munawi dinyatakan meninggal, empat orang telah lebih dahulu kehilangan nyawa, sedangkan Suraji masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.Kepergian Munawi setelah menjalani perawatan menjadi duka mendalam bagi banyak pihak. Rudijanta menyampaikan bahwa kehilangan ini dirasakan oleh keluarga, rekan kerja, pihak Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), serta masyarakat Jawa Timur. Munawi bukan hanya anggota keluarga yang dicintai, tetapi juga rekan yang kehadirannya berarti bagi orang-orang di lingkungan kerjanya. Berita wafatnya menambah kesedihan atas kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bromo, yang telah merenggut nyawa sejumlah petugas. Duka tersebut juga mengingatkan bahwa para korban telah menjalankan tugas di tengah situasi yang berat. Rudijanta mengungkapkan belasungkawa dan berharap keluarga yang ditinggalkan memperoleh kekuatan dalam menghadapi kehilangan ini.
Balai Besar TNBTS turut menyampaikan penghormatan kepada Munawi dan para korban yang gugur sebelumnya. Penghormatan itu menjadi bentuk pengakuan atas kepedulian, pengabdian, serta kontribusi mereka selama menjalankan tugas. Bagi pihak TNBTS, kepergian para korban bukan sekadar kehilangan tenaga kerja, tetapi juga kehilangan sosok-sosok yang telah memberikan perhatian dan dedikasi bagi kawasan serta lingkungan kerja mereka. Pihak balai menyampaikan doa bagi almarhum, agar mendapat tempat terbaik, dan bagi keluarga yang ditinggalkan, agar diberi ketabahan. Ungkapan duka tersebut mencakup seluruh korban yang meninggal akibat peristiwa karhutla, termasuk mereka yang lebih dahulu gugur sebelum Munawi. Penghormatan ini sekaligus menyampaikan rasa terima kasih atas kepedulian dan pengabdian yang telah mereka berikan.
Ucapan belasungkawa dari berbagai pihak menunjukkan bahwa dampak peristiwa ini meluas dari keluarga korban hingga lingkungan kerja dan masyarakat Jawa Timur. Kehilangan Munawi menambah jumlah korban jiwa dalam kebakaran hutan dan lahan di Bromo menjadi lima orang.
Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla






