Osteoporosis Bisa Tak Terasa, Perwatusi Dorong Pencegahan Sejak Usia Muda

Osteoporosis Bisa Tak Terasa, Perwatusi Dorong Pencegahan Sejak Usia Muda

Kota Cirebon | Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi) mengingatkan bahwa osteoporosis dapat berkembang tanpa gejala yang jelas. Karena perubahan pada tulang sering tidak langsung terasa, seseorang mungkin tidak menyadari bahwa kepadatan tulangnya terus berkurang. Kondisi ini membuat pencegahan dan perhatian terhadap kesehatan tulang penting dilakukan sebelum muncul masalah yang lebih serius.

Dokter spesialis ortopedi Lusiana S. Yulianti menjelaskan hal tersebut dalam konferensi pers Hari Osteoporosis Nasional (HON) 2026 di Bandung pada Sabtu. Menurutnya, osteoporosis kerap baru terdeteksi ketika penderita mengalami patah tulang secara mendadak. Patah tulang dapat terjadi setelah benturan ringan atau aktivitas sehari-hari, sehingga kejadian tersebut terkadang menjadi petunjuk pertama bahwa kekuatan tulang telah menurun.

Sebelum mencapai osteoporosis, penurunan kepadatan mineral tulang dapat berlangsung melalui fase osteopenia. Pada tahap ini, kepadatan tulang berada di bawah tingkat normal, tetapi belum serendah ambang yang digunakan untuk mendefinisikan osteoporosis. Karena prosesnya berjalan bertahap dan umumnya tidak menimbulkan keluhan khas, osteopenia juga dapat luput diketahui tanpa pemeriksaan yang sesuai.

Gejala yang samar bukan berarti kondisi tulang tidak mengalami perubahan. Seseorang dapat merasa sehat dan tetap menjalankan kegiatan seperti biasa, padahal tulangnya menjadi lebih rapuh dari waktu ke waktu. Tanpa tanda awal yang mudah dikenali, mengandalkan rasa nyeri atau keterbatasan gerak saja untuk menilai kesehatan tulang dapat membuat seseorang terlambat mencari informasi maupun pertolongan.

Peringatan Perwatusi tersebut menyoroti pentingnya meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap osteoporosis, termasuk pada orang yang belum pernah mengalami patah tulang. Menunggu hingga cedera terjadi berarti perubahan kepadatan tulang mungkin baru diketahui pada tahap ketika dampaknya sudah nyata. Memahami bahwa osteoporosis dapat berkembang secara diam-diam membantu masyarakat memandang kesehatan tulang sebagai hal yang perlu diperhatikan secara berkelanjutan, bukan hanya setelah muncul keluhan.

Dengan demikian, kejadian patah tulang mendadak tidak selalu merupakan peristiwa yang berdiri sendiri; pada sebagian orang, hal itu dapat berkaitan dengan tulang yang telah melemah. Informasi mengenai osteopenia dan osteoporosis dapat membantu masyarakat memahami mengapa kondisi tersebut sulit dikenali sejak awal. Kesadaran ini menjadi dasar untuk tidak mengabaikan risiko hanya karena belum ada gejala, sekaligus mendorong perhatian lebih dini terhadap kesehatan tulang.

Lusiana menjelaskan bahwa risiko osteoporosis tidak sama perempuan dan laki-laki, terutama pada kelompok usia lanjut. Dalam statistik yang ia paparkan, satu dari lima perempuan berusia 50 tahun ke atas berisiko tinggi mengalami osteoporosis. Sementara itu, pada laki-laki berusia 50 tahun ke atas, angkanya adalah satu dari tujuh. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa perempuan menghadapi risiko lebih besar, meskipun osteoporosis tetap dapat terjadi pada kedua kelompok.

Kerentanan perempuan meningkat setelah menopause. Pada masa ini, kadar hormon estrogen menurun. Estrogen berperan dalam menjaga keseimbangan proses pembentukan dan penguraian tulang. Ketika kadarnya berkurang, tulang dapat kehilangan kepadatan lebih cepat, sehingga menjadi lebih rapuh dan rentan mengalami patah. Perubahan ini berlangsung tanpa selalu menimbulkan tanda yang terasa, sehingga seseorang mungkin tidak menyadari kondisi tulangnya sampai terjadi cedera atau pemeriksaan medis.

Angka yang disampaikan Lusiana menggambarkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan tulang seiring bertambahnya usia, khususnya bagi perempuan pascamenopause. Namun, pencegahan tidak sebaiknya baru dimulai setelah seseorang memasuki masa tersebut. Menurut pesan Lusiana, kebiasaan yang mendukung tulang perlu dibangun sejak usia muda, ketika tubuh masih berada dalam masa pertumbuhan dan dapat membentuk cadangan kepadatan tulang.

Pemenuhan nutrisi, terutama kalsium, menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga tulang. Asupan yang memadai perlu disertai aktivitas fisik yang membantu pembentukan dan pemeliharaan tulang. Dengan demikian, perhatian terhadap pola makan dan gerak tubuh dapat menjadi kebiasaan jangka panjang, bukan sekadar respons terhadap meningkatnya risiko pada usia tertentu. Langkah tersebut juga relevan bagi laki-laki, walaupun angka risiko yang dipaparkan Lusiana lebih tinggi pada perempuan.

Memahami perbedaan risiko dapat membantu masyarakat mengambil keputusan pencegahan secara lebih dini. Perempuan yang mendekati atau telah mengalami menopause dapat memberi perhatian lebih pada kesehatan tulang, sementara keluarga dan lingkungan dapat mendukung kebiasaan sehat sejak anak-anak dan remaja. Pesan utamanya adalah membangun fondasi tulang melalui nutrisi dan aktivitas fisik sejak muda, agar upaya menjaga kesehatan tetap berlanjut sepanjang hidup.

Ketua Umum DPP Perwatusi, Anita A. Hutagalung, menekankan bahwa pencegahan osteoporosis perlu dimulai sejak usia muda. Upaya menjaga kesehatan tulang sejak dini membantu seseorang mempertahankan kemandirian fisik hingga usia lanjut. Menurutnya, perhatian pada tulang juga dapat mengurangi kekhawatiran terhadap risiko patah tulang yang dapat terjadi akibat osteoporosis, terutama ketika kondisi tersebut berkembang tanpa gejala yang jelas. Karena itu, edukasi dan kebiasaan aktif perlu diperkenalkan sebelum masalah tulang muncul, bukan hanya setelah seseorang memasuki usia lanjut.

Program Perwatusi dirancang untuk menjangkau berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak dan remaja hingga ibu muda serta lansia. Materi edukasi disertai latihan fisik yang terukur dan dapat disesuaikan dengan kemampuan peserta. Salah satu pilihan yang diperkenalkan ialah chair exercise atau senam kursi, sehingga orang yang membutuhkan gerakan lebih ringan tetap dapat berolahraga dengan panduan. Senam virtual Perwatusi telah mencapai 925 episode dan diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia, juga dari Malaysia serta Virginia, Amerika Serikat. Jangkauan ini memungkinkan kegiatan rutin diikuti lintas wilayah, sekaligus menjadi sarana untuk menyampaikan pesan mengenai aktivitas fisik dan kesehatan tulang.

Untuk memperkuat pelaksanaan program, Perwatusi menargetkan pencetakan 500 instruktur berkompetensi setiap tahun. Instruktur diharapkan dapat mendampingi latihan secara tepat dan memperluas akses edukasi di masyarakat. Jawa Barat menjadi salah satu fokus pengembangan program sepanjang 2026. Ketua TP PKK Jawa Barat sekaligus Ketua DPD Perwatusi Jabar, Samantha Dewi, menyoroti peran keluarga dalam edukasi kesehatan tulang. Kebiasaan bergerak, pemahaman tentang pencegahan, dan dukungan antaranggota keluarga dapat membantu pesan kesehatan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan melibatkan keluarga dan instruktur, edukasi dapat menjangkau lebih banyak generasi dan mendorong masyarakat menjaga tulang secara berkelanjutan.

Perwatusi menyiapkan puncak peringatan Hari Osteoporosis Nasional (HON) 2026 sebagai bagian dari upaya memperluas sosialisasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan tulang. Agenda tersebut dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 25 Oktober 2026, di Bale Rame, Kabupaten Bandung. Kegiatan ini mengangkat tema “Mendampingi Indonesia Bertulang Kuat” dan diperkirakan dihadiri sekitar 3.000 warga. Melalui pertemuan langsung dengan masyarakat, Perwatusi ingin mendorong pemahaman bahwa pencegahan osteoporosis dan pemeliharaan tulang perlu menjadi perhatian sejak usia muda.

Penyelenggaraan puncak HON 2026 mendapat dukungan Purnomo Yusgiantoro Center. Rangkaian acaranya dirancang untuk memadukan aktivitas fisik, informasi kesehatan, dan ruang diskusi bagi peserta. Warga dijadwalkan mengikuti senam tulang sehat bersama, memperoleh edukasi medis interaktif, serta menyimak talkshow mengenai pencegahan osteoporosis. Format tersebut diharapkan membantu menyampaikan informasi dengan cara yang mudah dipahami sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenali langkah-langkah praktis dalam menjaga tulang.

Purnomo Yusgiantoro, penasihat khusus presiden, dijadwalkan hadir untuk mendukung kampanye pemeliharaan kesehatan tulang. Kehadirannya akan menjadi bagian dari upaya menguatkan perhatian terhadap isu osteoporosis dan pentingnya pencegahan. Sosialisasi semacam ini juga memberi ruang bagi masyarakat untuk memperoleh informasi dari berbagai pihak, termasuk tenaga medis, serta memahami bahwa kesehatan tulang berkaitan dengan kebiasaan yang dibangun secara konsisten.

Baca juga: TNI Perkuat Sinergitas Lintas Sektor dalam Pencegahan Karhutla di Sambas | TNI intensifkan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Melawi Kalbar | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas