Kabupaten Ogan Komering Ulu | Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memetakan potensi formasi akuifer salin di bawah permukaan bumi sebagai salah satu pilihan lokasi penyimpanan karbon. Akuifer salin merupakan lapisan batuan berpori yang mengandung air dengan kadar garam tinggi dan dapat diteliti untuk mengetahui kemampuan serta keamanannya dalam menampung karbon dioksida. Pemetaan ini membantu pemerintah memahami kondisi geologi bawah tanah sebelum lokasi penyimpanan ditetapkan. Informasi mengenai susunan batuan, kedalaman, dan karakter cekungan menjadi dasar untuk menilai apakah karbon dapat disimpan dalam jangka panjang tanpa menimbulkan risiko bagi lingkungan maupun masyarakat.
Upaya tersebut berkaitan dengan pengembangan teknologi carbon capture and storage (CCS), yakni rangkaian kegiatan untuk menangkap karbon dioksida dari sumber emisi, mengangkutnya, lalu menyimpannya dalam formasi geologi. Teknologi ini ditujukan untuk menekan emisi gas rumah kaca, terutama dari kegiatan industri dan sektor energi, serta mendukung mitigasi perubahan iklim. Ketersediaan data geologi yang memadai diperlukan agar potensi penyimpanan dapat dievaluasi secara bertanggung jawab. Karena itu, pemetaan akuifer salin bukan sekadar pencatatan sumber daya bawah tanah, tetapi juga bagian dari persiapan teknis bagi penerapan CCS di Indonesia.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyatakan bahwa langkah pemetaan tersebut selaras dengan komitmen Indonesia dalam Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050). Strategi jangka panjang itu mencakup pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon sebagai salah satu pendekatan untuk mewujudkan pembangunan rendah karbon dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim. Dalam pelaksanaannya, Pusat Survei Geologi memusatkan kajian pada cekungan sedimen dan wilayah greenfield, yaitu area yang belum banyak dieksplorasi atau dikembangkan. Penelitian di wilayah-wilayah tersebut bertujuan mengidentifikasi formasi yang berpotensi menyimpan karbon dengan aman. Hasilnya diharapkan memberi landasan ilmiah bagi penilaian lebih lanjut, termasuk kajian kapasitas, karakter batuan penutup, dan risiko kebocoran. Dengan data yang terukur, pemerintah dapat menyusun tahapan pengembangan CCS berdasarkan kondisi geologi setempat, bukan hanya perkiraan umum. Pemetaan awal ini juga membantu menentukan lokasi yang layak diteliti lebih rinci sebelum keputusan investasi maupun penerapan teknologi dilakukan.Hingga 2025, pemetaan dan penyaringan regional terhadap formasi bawah permukaan mengidentifikasi 41 area akuifer salin yang berpotensi dipertimbangkan untuk penyimpanan karbon di Indonesia. Hasil tersebut memperkirakan potensi kapasitas teoretis sekitar 6.435 gigaton karbon dioksida (CO2). Angka ini menggambarkan besaran yang dihitung dari kajian awal atas wilayah dan karakteristik geologi yang dinilai relevan. Pemetaan regional membantu menyusun gambaran awal mengenai sebaran lokasi yang mungkin layak diteliti lebih mendalam, sekaligus menyediakan dasar untuk menetapkan prioritas evaluasi berikutnya. Identifikasi itu bukan berarti semua area memiliki kondisi seragam atau kesiapan operasional yang sama.
Akuifer salin adalah formasi batuan di bawah permukaan yang memiliki ruang pori dan mengandung air dengan kadar garam tinggi. Karena salinitasnya, air tersebut tidak layak dikonsumsi sebagai sumber air minum. Dalam kajian penyimpanan karbon, formasi semacam ini dapat dipertimbangkan sebagai tempat untuk menginjeksikan dan menyimpan CO2, asalkan sifat batuan, kedalaman, ketebalan, porositas, permeabilitas, serta lapisan penutupnya mendukung. Lapisan penutup yang memadai penting untuk membatasi pergerakan gas ke atas. Penilaian juga perlu mempertimbangkan kondisi tekanan, keberadaan jalur migrasi, dan kemungkinan interaksi CO2 dengan batuan maupun fluida di dalam formasi.
Besaran 6.435 gigaton CO2 perlu dibaca sebagai potensi teoretis hasil pemetaan dan penyaringan regional, bukan sebagai kapasitas penyimpanan yang telah digunakan atau terbukti siap dimanfaatkan. Skrining awal dapat menunjukkan wilayah yang patut dipelajari, tetapi belum menggantikan penyelidikan rinci pada setiap lokasi. Tahap lanjutan dapat mencakup pengumpulan data bawah permukaan, pemodelan, pengeboran eksplorasi, serta evaluasi risiko dan keselamatan. Penelitian tersebut diperlukan untuk memastikan apakah suatu area mampu menampung CO2 dalam kondisi yang stabil, dan untuk merancang pemantauan jangka panjang. Dengan membedakan potensi awal dari kapasitas operasional, angka regional ini dapat menjadi landasan perencanaan yang lebih terukur bagi pengembangan penyimpanan karbon.
Pemetaan awal akuifer salin menunjukkan bahwa potensi penyimpanan karbon terbesar yang dirinci Lana berada di Kalimantan. Wilayah ini diperkirakan memiliki kapasitas sekitar 4.824 gigaton CO2e yang tersebar di 12 area. Sejumlah lokasi yang masuk dalam pemetaan lain Bengkayang, Entikong, Tabang, dan Puruk Cahu. Besarnya angka tersebut menjadikan Kalimantan salah satu kawasan penting untuk ditelaah lebih lanjut, meskipun estimasi kapasitas belum dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh area siap digunakan untuk penyimpanan karbon.
Di Jawa, potensi yang teridentifikasi mencapai sekitar 1.225 gigaton CO2e di 15 area. Cakupannya meliputi Sragen, Banyumas, Kediri, hingga Bogor. Sementara itu, Sumatra diperkirakan memiliki potensi sekitar 386 gigaton CO2e pada 14 area, termasuk Padang Sidempuan, Muara Enim, dan Baturaja di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan. Perbedaan angka antarpulau memberi gambaran awal mengenai persebaran kapasitas, tetapi belum menjadi dasar tunggal untuk menentukan lokasi proyek. Kondisi geologi bawah permukaan, karakter batuan, dan kualitas data di masing-masing area tetap perlu diperiksa.
Rincian regional ini sejalan dengan prioritas Badan Geologi untuk meneliti cekungan sedimen yang belum berproduksi minyak dan gas bumi, termasuk kawasan frontier yang masih kurang dieksplorasi. Fokus tersebut membantu memperluas pilihan lokasi di luar lapangan migas yang sudah dikenal. Dalam konteks akuifer salin, kajian juga diarahkan untuk mengoptimalkan pemahaman mengenai lapisan batuan berpori yang mengandung air asin dan berpotensi menjadi tempat injeksi serta penyimpanan CO2.
Untuk menilai potensi secara lebih terarah, survei geologi dan penyaringan regional diperlukan sebelum investigasi yang lebih rinci. Tahap awal ini dapat membantu mengidentifikasi cekungan dan area yang layak diprioritaskan berdasarkan informasi geologi yang tersedia. Hasil pemetaan kapasitas di Kalimantan, Jawa, dan Sumatra dengan demikian berfungsi sebagai acuan untuk menyusun kegiatan penelitian lanjutan, bukan sebagai kepastian kapasitas operasional. Verifikasi lapangan dan kajian teknis tetap diperlukan guna memastikan keamanan penyimpanan jangka panjang serta kesesuaian setiap lokasi dengan rencana pengembangan.Rencana pemetaan akuifer salin akan dilaksanakan secara bertahap, dengan cakupan kajian lapangan yang diperluas dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Pada 2026, kegiatan dipusatkan di kawasan Bali hingga Nusa Tenggara. Fokus tersebut menjadi tahap awal untuk menghimpun informasi lapangan mengenai formasi geologi yang berpotensi mendukung penyimpanan karbon dioksida (CO2). Pendekatan bertahap ini memungkinkan pengumpulan data dilakukan sesuai rencana wilayah yang telah ditetapkan, sebelum cakupan pemetaan bergerak ke bagian Indonesia lainnya.
Berikutnya, pada periode 2027–2028, pemetaan direncanakan meluas ke Sulawesi hingga Papua. Perluasan ini akan membawa kajian ke wilayah yang lebih luas di Indonesia bagian timur, melanjutkan pekerjaan yang dimulai dari Bali dan Nusa Tenggara. Dengan tahapan tersebut, pengumpulan informasi geologi untuk penyimpanan CO2 tidak hanya berfokus pada kawasan awal, tetapi direncanakan mencakup pula Sulawesi dan Papua. Rencana waktu dan wilayah itu menggambarkan urutan pelaksanaan kajian lapangan, dari tahap 2026 menuju tahap berikutnya pada 2027–2028.
Lana menyampaikan bahwa basis data geologi untuk penyimpanan CO2 menjadi fondasi bagi pengembangan proyek penangkapan dan penyimpanan karbon atau CCS di Indonesia. Informasi yang dihimpun melalui pemetaan diharapkan menyediakan dasar geologi yang diperlukan dalam pengembangan proyek tersebut.
Baca juga: Bukan Sekadar Jalan Santai, 10 Ribu Peserta Satukan Langkah di HUT TNI






