Pemulihan Psikologis Pengungsi Gempa Manggarai Masih Membutuhkan Dukungan

Pemulihan Psikologis Pengungsi Gempa Manggarai Masih Membutuhkan Dukungan

Kabupaten Manggarai | Pemerintah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan psikososial warga yang mengungsi setelah gempa pada pertengahan Agustus 2026. Kebutuhan tersebut mencakup pendampingan bagi warga yang mengalami trauma dan masih berupaya memulihkan kondisi psikologis di tengah situasi pengungsian. Pengakuan ini menunjukkan bahwa penanganan dampak bencana tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik, tetapi juga perhatian terhadap kesejahteraan mental para penyintas. Dukungan psikososial diperlukan agar warga dapat menghadapi tekanan dan rasa takut yang muncul setelah mengalami gempa.

Bupati Manggarai Herybertus Nabit mengakui bahwa keterbatasan sumber daya menjadi kendala bagi pemerintah daerah dalam mendampingi warga yang mengalami trauma. Pernyataan itu disampaikan saat ia ditemui di posko tanggap darurat Kabupaten Manggarai, di Ruteng, pada Minggu malam, 18 Oktober 2026. Dengan menyampaikan keterbatasan tersebut, pemerintah daerah mengakui bahwa kemampuan yang tersedia belum memadai untuk menangani kebutuhan trauma seluruh warga terdampak. Artinya, pendampingan belum dapat menjangkau setiap pengungsi yang memerlukannya secara menyeluruh. Pernyataan tersebut menjadi gambaran mengenai tantangan yang dihadapi pemerintah dalam memberikan dukungan setelah bencana.

Kondisi itu menegaskan adanya jarak kebutuhan warga dan kapasitas pendampingan yang dapat disediakan. Pengungsi yang mengalami trauma membutuhkan perhatian yang sesuai dengan kondisi masing-masing, sementara keterbatasan sumber daya membatasi kemampuan pemerintah daerah untuk memberikan dukungan secara merata. Karena itu, pemulihan psikologis perlu tetap menjadi bagian dari respons terhadap gempa, bukan hanya perhatian tambahan setelah kebutuhan darurat lainnya ditangani. Pengakuan Bupati Nabit juga memperlihatkan bahwa warga terdampak masih membutuhkan dukungan dalam menghadapi dampak emosional bencana. Sampai kebutuhan tersebut dapat ditangani dengan memadai, pemulihan psikologis para pengungsi masih memerlukan perhatian dan pendampingan yang berkelanjutan.

Pemerintah Kabupaten Manggarai berharap dukungan dari berbagai pihak dapat memperluas jangkauan pendampingan psikologis bagi warga yang terdampak gempa. Upaya pemulihan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik setelah bencana, tetapi juga dengan kondisi emosional dan psikososial masyarakat. Karena itu, keterlibatan beragam unsur dinilai penting agar perhatian terhadap pemulihan dapat menjangkau lebih banyak warga, termasuk mereka yang belum memperoleh pendampingan.

Sejumlah perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat telah turut membantu penanganan psikososial bagi warga terdampak. Kehadiran berbagai pihak tersebut menjadi bagian dari dukungan yang dibutuhkan dalam merespons dampak gempa. Pemkab Manggarai mengharapkan kerja sama dan perhatian semacam ini dapat terus mendorong jangkauan bantuan yang lebih luas. Dengan dukungan bersama, kebutuhan psikologis masyarakat dapat lebih diperhatikan dalam proses pemulihan, tanpa mengabaikan bahwa kondisi dan kebutuhan setiap kelompok warga mungkin berbeda.

Namun, pendampingan yang tersedia sejauh ini masih berfokus pada anak-anak sekolah. Fokus tersebut menunjukkan bahwa sebagian warga telah menjadi sasaran perhatian, tetapi belum berarti seluruh kelompok terdampak telah terjangkau. Warga di luar kelompok anak sekolah juga dapat memerlukan dukungan psikososial setelah mengalami bencana. Oleh sebab itu, perluasan perhatian menjadi hal yang penting agar kebutuhan mereka turut dikenali dan dipertimbangkan. Harapan Pemkab Manggarai terhadap dukungan berbagai pihak berkaitan dengan kebutuhan untuk menjangkau kelompok yang lebih beragam. Upaya ini dapat membantu memastikan bahwa pemulihan psikologis tidak terbatas pada satu kelompok saja, melainkan memberi ruang bagi lebih banyak warga terdampak untuk memperoleh perhatian yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Gempa tidak hanya merusak rumah dan fasilitas, tetapi juga dapat mengguncang sumber penghidupan warga. Bagi orang dewasa yang kehilangan tempat bergantung secara ekonomi, ketidakpastian tentang pekerjaan, pendapatan, dan pemenuhan kebutuhan keluarga dapat menambah tekanan psikologis. Upaya membangun kembali kehidupan sehari-hari berlangsung bersamaan dengan proses menghadapi kehilangan, sehingga beban yang dirasakan tidak selalu tampak dari kondisi fisik semata. Situasi ini perlu dipahami sebagai bagian dari pemulihan pascabencana, bukan sekadar persoalan bantuan material. Dukungan sosial dan akses terhadap layanan psikologis dapat membantu warga menghadapi kecemasan serta menata kembali harapan mereka.

Kerentanan tersebut dapat berbeda pada setiap kelompok usia. Warga lanjut usia dinilai menghadapi risiko lebih besar karena kesempatan untuk kembali bekerja atau mencari sumber penghasilan baru cenderung lebih terbatas. Ketika pekerjaan, usaha, atau dukungan ekonomi yang sebelumnya menopang kehidupan mereka terganggu, pilihan untuk memulihkan penghidupan pun mungkin tidak seluas yang dimiliki kelompok usia produktif. Kondisi ini dapat memperpanjang rasa tidak aman dan menimbulkan kekhawatiran mengenai kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, keadaan lansia perlu diperhatikan secara khusus dalam perencanaan pemulihan, termasuk dalam pendataan kebutuhan dan penyaluran bantuan yang sesuai.

Bupati Herybertus menyampaikan kekhawatiran bahwa ketidakpastian masa depan dapat mendorong sebagian lansia merasa putus asa. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan risiko bunuh diri, sebagai kemungkinan yang perlu diantisipasi melalui perhatian dan pendampingan yang tepat. Kekhawatiran itu bukan pernyataan bahwa kasus bunuh diri telah terjadi, melainkan penekanan atas pentingnya mengenali tekanan psikologis dan faktor kerentanan sedini mungkin. Menurut Herybertus, penanganan kelompok ini membutuhkan perhatian khusus dari tenaga profesional, agar kebutuhan kesehatan mental dapat dinilai dan ditangani secara memadai. Pendampingan sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang peka, berkelanjutan, serta terhubung dengan dukungan keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, pemulihan dapat menjangkau bukan hanya kebutuhan ekonomi, tetapi juga rasa aman dan kesejahteraan psikologis warga lanjut usia.

Lebih dari dua bulan setelah gempa yang terjadi pada pertengahan Agustus 2026, ribuan warga Manggarai masih menjalani kehidupan dalam kondisi pengungsian. Data Pemerintah Kabupaten Manggarai mencatat 1.301 warga masih berada di 17 posko. Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian warga tetap tinggal di tempat penampungan bersama, sementara warga lainnya memilih atau perlu mengungsi secara mandiri di sekitar tempat tinggal mereka.

Pemkab Manggarai juga mencatat 7.091 warga mengungsi secara mandiri dengan mendirikan tenda di dekat rumah masing-masing. Dengan demikian, pengalaman pengungsian tidak hanya berlangsung di posko resmi, tetapi juga di lingkungan permukiman warga. Dalam pencatatan yang sama, sebanyak 1.054 jiwa masuk dalam kelompok rentan. Data ini menggambarkan besarnya jumlah masyarakat yang terdampak dan beragamnya kondisi tempat mereka menjalani masa setelah gempa.

Angka-angka tersebut menjadi konteks bagi harapan Herybertus agar penanganan psikososial menjangkau seluruh kelompok terdampak, bukan hanya warga yang menetap di posko. Ia berharap pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dapat membantu upaya tersebut. Dukungan yang diharapkan mencakup warga dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia, yang menghadapi situasi pengungsian di posko maupun secara mandiri. Data mengenai 1.301 penghuni posko, 7.091 pengungsi mandiri, serta 1.054 jiwa dalam kelompok rentan memberi gambaran skala warga yang perlu diperhatikan dalam upaya pendampingan psikososial. Harapan itu menempatkan keterlibatan berbagai unsur sebagai bagian penting dari perhatian terhadap kondisi psikologis masyarakat terdampak, tanpa membatasi jangkauan bantuan hanya pada satu kelompok pengungsi atau rentang usia tertentu. Selama ribuan warga masih berada di posko dan tenda dekat rumah, perhatian terhadap kebutuhan psikososial seluruh kelompok terdampak tetap menjadi hal yang diharapkan Herybertus.

Baca juga: Puspsi TNI Bersama Kodim 1612/Manggarai dan Yonif TP 834/WM Berikan Trauma Healing kepada Penyintas Gempa | Tak Hanya Logistik, Hercules TNI AU Bawa Dukungan Kesehatan dan Peralatan Untuk Menopang Perjuangan Pasukan Karhutla Kalsel | TNI Salurkan Dukungan Peralatan Penanganan Karhutla ke Kalimantan Tengah