Pencairan Thwaites Berpotensi Gandakan Perkiraan Kenaikan Muka Laut

Pencairan Thwaites Berpotensi Gandakan Perkiraan Kenaikan Muka Laut

Jakarta | Penelitian terbaru yang diterbitkan pekan ini di jurnal Nature Communications menunjukkan bahwa Gletser Thwaites kehilangan massa es dengan cepat, lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya. Thwaites merupakan salah satu gletser terbesar di dunia dan berada di Antarktika Barat. Karena ukurannya yang sangat besar dan posisinya yang rentan, perubahan pada gletser ini menjadi perhatian penting bagi para ilmuwan yang mengamati kenaikan muka laut. Temuan baru tersebut menyoroti proses pencairan yang terjadi di bagian bawah es, bukan hanya perubahan yang tampak di permukaan.

Para peneliti mengkaji zona landasan, atau grounding zone, yakni wilayah tempat es yang sebelumnya bertumpu pada dasar batuan mulai terangkat dan mengapung di atas air laut. Batas ini dapat bergeser ketika es menipis atau ketika air laut menyusup ke bawah lapisan es. Pengamatan terhadap zona tersebut membantu menjelaskan bagaimana interaksi laut, batuan dasar, dan gletser memengaruhi kestabilan lapisan es. Hasil studi menunjukkan bahwa air laut hangat dapat meresap beberapa kilometer ke bawah gletser. Air itu mencapai bagian yang biasanya tersembunyi dari pengamatan langsung, lalu mencairkan es dari bawah.

Mekanisme ini penting karena pencairan pada sisi bawah dapat melemahkan es di dekat zona landasan dan mendorong batas tempat gletser bertumpu mundur. Ketika bagian es yang menahan aliran dari daratan berkurang, lebih banyak es dapat bergerak menuju laut dan berkontribusi pada kenaikan muka laut. Temuan tersebut memberikan gambaran lebih rinci tentang jalur masuk air hangat dan dampaknya terhadap kehilangan massa Thwaites. Peneliti menekankan bahwa proses di bawah permukaan perlu diperhitungkan dalam pemantauan maupun pemodelan. Jika mekanisme ini berlangsung lebih luas atau lebih cepat daripada yang diasumsikan, perkiraan sebelumnya tentang perubahan gletser dan kontribusinya terhadap kenaikan muka laut mungkin perlu ditinjau kembali. Studi ini tidak hanya memperbarui pemahaman mengenai laju pencairan, tetapi juga menunjukkan mengapa kondisi di zona landasan menjadi kunci untuk menilai masa depan gletser tersebut.

Penelitian terbaru memperkirakan bahwa Gletser Thwaites dapat menyumbang kenaikan muka laut global hingga 30 milimeter, atau sekitar 1,2 inci, pada 2100. Angka ini menggambarkan potensi kontribusi gletser tersebut dalam skenario yang dianalisis, bukan pengukuran kenaikan yang telah terjadi. Dengan kata lain, proyeksi itu menunjukkan kemungkinan dampak pada masa mendatang, bukan perubahan permukaan laut saat ini.

Besarnya perkiraan baru tersebut menjadi perhatian karena sekitar dua kali lipat proyeksi yang dihasilkan model lapisan es konvensional sebelumnya. Model-model terdahulu memperkirakan kontribusi Thwaites sekitar 15 milimeter, atau 0,6 inci, hingga tahun 2100. Perbandingan ini tidak berarti seluruh perkiraan lama keliru atau bahwa kenaikan tambahan sebesar 15 milimeter sudah dipastikan. Hasilnya menandakan bahwa pendekatan baru, yang menelaah proses penting di kawasan tempat gletser bertemu dasar laut, dapat menghasilkan gambaran risiko yang lebih tinggi.

Thwaites berada di Antarktika Barat dan mengalir menuju laut. Perubahan pada bagian yang menahan aliran es, termasuk interaksi es, dasar laut, dan air laut, dapat memengaruhi seberapa cepat es bergerak dan mencair. Jika proses tersebut berkembang sesuai kondisi yang dipertimbangkan dalam penelitian, lebih banyak es dapat berkontribusi pada kenaikan muka laut dibandingkan perkiraan model konvensional. Namun, hasil proyeksi tetap bergantung pada metode, asumsi, serta rentang kondisi yang digunakan dalam analisis.

Perkiraan 30 milimeter juga perlu dipahami sebagai kontribusi Thwaites, bukan total kenaikan muka laut global dari semua sumber. Pemuaian air laut akibat pemanasan dan kehilangan es dari wilayah lain turut memengaruhi perubahan global, tetapi tidak termasuk dalam angka khusus untuk gletser ini. Karena itu, angka tersebut tidak dapat dibaca sebagai prediksi lengkap bagi garis pantai mana pun. Penelitian ini memperlihatkan bahwa ketidakpastian dalam perilaku Thwaites dapat berpengaruh nyata terhadap perkiraan masa depan, sehingga pemantauan dan penyempurnaan model tetap penting. Selisih 15 dan 30 milimeter menegaskan perlunya menilai risiko secara hati-hati, tanpa menyamakan proyeksi dengan kepastian atau kejadian yang telah tercatat.Julukan “gletser kiamat” yang disematkan pada Thwaites mencerminkan besarnya konsekuensi yang mungkin terjadi jika gletser ini runtuh atau kehilangan kemampuannya menahan es. Thwaites berada di Antartika Barat dan membentang sekitar 192.000 kilometer persegi. Luas tersebut kurang lebih setara dengan Senegal dan lebih besar daripada Florida. Skala ini menjadikan perubahan pada Thwaites penting untuk dipantau, bukan hanya sebagai persoalan lokal di Antartika, tetapi juga karena dampaknya dapat menjangkau masyarakat pesisir di berbagai belahan dunia.

Thwaites merupakan bagian dari Lapisan Es Antartika Barat, hamparan es daratan yang menyimpan sejumlah besar air beku. Gletser ini, bersama gletser lain seperti Pine Island, berperan sebagai penahan yang memperlambat aliran es dari daratan menuju laut. Jika penahan itu melemah, lebih banyak es dapat mengalir ke laut, sehingga kehilangan massa berpotensi meningkat. Runtuhnya Thwaites juga dapat mengubah kestabilan kawasan di sekitarnya dan mempercepat pelepasan es dari bagian lain lapisan es. Karena itu, risiko yang dibahas bukan hanya hilangnya satu gletser, melainkan kemungkinan perubahan yang lebih luas pada sistem es Antartika Barat.

Dampak Thwaites sudah terlihat dalam kontribusinya terhadap kenaikan muka laut. Saat ini, gletser tersebut menyumbang sekitar 4 persen dari kenaikan muka laut global. Sejak tahun 2000, Thwaites telah kehilangan lebih dari 1 triliun ton es, dan kehilangan itu masih berlanjut dengan laju sekitar 50 miliar ton setiap tahun. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa proses pencairan bukan sekadar ancaman hipotetis di masa depan. Kehilangan es yang terus berlangsung menambah air ke lautan dan memperbesar tekanan jangka panjang terhadap wilayah pesisir, infrastruktur, serta komunitas yang rentan terhadap banjir pasang dan erosi. Meski demikian, julukan “gletser kiamat” tidak berarti bahwa keruntuhan seketika pasti terjadi. Istilah itu menekankan besarnya potensi dampak apabila Thwaites terus kehilangan kestabilan dan tidak lagi mampu menahan aliran es dari daratan Antartika.

Para ilmuwan telah memantau Gletser Thwaites secara saksama sejak diketahui pada dekade 1980-an bahwa es di kawasan tersebut mengalami kemunduran dengan cepat. Temuan itu menjadikan perubahan pada Thwaites perhatian penting dalam penelitian gletser. Pemantauan berkelanjutan membantu peneliti mengamati bagaimana kondisi es berubah dan mengenali faktor yang berkaitan dengan kemunduran tersebut. Sejak pengamatan awal itu, perhatian ilmiah tertuju pada proses yang berlangsung di sekitar gletser, termasuk interaksi air laut dan bagian bawah lapisan es. Dengan menelaah hubungan tersebut, para ilmuwan berupaya memahami tekanan yang bekerja pada Thwaites. Fakta bahwa kemunduran cepat telah dikenali beberapa dekade lalu menjadi dasar untuk terus mengawasi kawasan ini secara teliti.

Salah satu faktor utama yang menambah tekanan pada gletser adalah air laut hangat yang mengalir ke bawah lapisan es. Ketika air tersebut mencapai bagian bawah es, gletser menerima pengaruh langsung dari kondisi laut di sekitarnya. Karena itu, pengamatan tidak hanya berfokus pada perubahan yang tampak di permukaan, tetapi juga pada hubungan laut dan lapisan es. Aliran air hangat di bawah es menjadi bagian penting dalam memahami proses yang dapat berkaitan dengan kemunduran Thwaites. Para ilmuwan mempelajari bagaimana kondisi laut tersebut berhubungan dengan perubahan gletser, sambil terus mencermati perubahan yang terjadi di kawasan itu.