Penyemaian Dry Ice Diikuti Perbaikan Jarak Pandang di Palembang

Penyemaian Dry Ice Diikuti Perbaikan Jarak Pandang di Palembang

Kota Palembang | BPBD Sumatera Selatan menyebut penyemaian dry ice membantu mengurangi kabut asap di Palembang. Perbaikan kondisi terlihat pada jarak pandang dan kualitas udara setelah dua sortie penyemaian dilakukan pada Kamis (15/10). Kepala Pelaksana BPBD Sumsel M. Iqbal Alisyahbana menyampaikan keterangan tersebut di Palembang pada Sabtu. Menurutnya, perubahan yang teramati menjadi indikasi bahwa upaya penyemaian memberikan dampak terhadap kondisi udara di wilayah itu, meskipun pemantauan tetap diperlukan untuk melihat perkembangan selanjutnya.

Jarak pandang merupakan salah satu indikator yang dapat diamati ketika kabut asap menyelimuti suatu kawasan. Setelah operasi penyemaian berlangsung, kondisi di Palembang dilaporkan membaik, bersamaan dengan kualitas udara yang juga menunjukkan perubahan. Keterangan BPBD ini menyoroti hasil yang terlihat setelah dua sortie, tanpa menyebutkan angka jarak pandang atau ukuran kualitas udara secara terperinci. Karena itu, informasi yang disampaikan menggambarkan arah perubahan kondisi, bukan ukuran kuantitatif yang dapat dibandingkan langsung dengan keadaan sebelumnya.

Penyemaian dry ice dilakukan sebagai upaya untuk membantu menangani kabut asap. Pelaksanaan dua sortie pada Kamis tersebut menjadi bagian dari respons terhadap kondisi udara yang mengganggu, sementara hasilnya kemudian dipantau oleh pihak terkait. Pernyataan Iqbal pada Sabtu menegaskan bahwa perbaikan telah terlihat setelah kegiatan itu, terutama pada aspek jarak pandang dan kualitas udara. Namun, perubahan kondisi tidak serta-merta berarti kabut asap telah hilang sepenuhnya atau kualitas udara telah kembali normal. Pemantauan lanjutan tetap penting untuk mengetahui apakah perbaikan bertahan dan bagaimana keadaan berkembang dari waktu ke waktu.

Informasi BPBD Sumsel memberi gambaran awal mengenai hasil penyemaian di Palembang, sekaligus menunjukkan pentingnya menilai dampak melalui kondisi yang dapat diamati. Warga dapat mengikuti pembaruan resmi mengenai kualitas udara dan jarak pandang, khususnya bila kabut asap kembali menebal. Keterangan mengenai dua sortie itu juga membantu menjelaskan waktu pelaksanaan tindakan dan perubahan yang dilaporkan sesudahnya. Dengan penyampaian yang merujuk pada pengamatan, masyarakat memperoleh informasi bahwa kondisi membaik, sambil tetap memahami bahwa perkembangan udara perlu dicermati secara berkelanjutan.

Pelaksanaan penyemaian dry ice di Palembang dilakukan secara bertahap dalam tiga sortie. Setiap sortie menggunakan pesawat yang membawa 800 kilogram dry ice. Dengan demikian, jumlah bahan yang disemai pada setiap penerbangan sama, sedangkan totalnya bertambah mengikuti jumlah sortie yang telah dilaksanakan.

Pada Kamis (15/10), pesawat melakukan dua sortie. Kedua penerbangan tersebut membawa total 1,6 ton dry ice. Kegiatan kemudian dilanjutkan pada Jumat (16/10) dengan satu sortie yang berlangsung sekitar pukul 10.00 WIB. Penerbangan ketiga menambah 800 kilogram bahan, sehingga akumulasi dry ice yang disemai hingga Jumat mencapai 2,4 ton.

Perkembangan jarak pandang juga menjadi salah satu hal yang disampaikan dalam pelaksanaan kegiatan ini. Iqbal menyebut jarak pandang sempat berada pada angka 25 meter, sebelum meningkat menjadi sekitar 2.000 meter setelah dua sortie. Perbandingan tersebut menunjukkan perubahan yang cukup besar kondisi jarak pandang yang sangat terbatas dan kondisi setelah dua penerbangan penyemaian dilakukan.

Angka tersebut menggambarkan perubahan yang dilaporkan selama rangkaian kegiatan, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh faktor yang memengaruhi jarak pandang. Penyampaian urutan pelaksanaan dan hasil pengamatan secara terpisah membantu memberi konteks mengenai jumlah bahan yang digunakan serta perubahan kondisi yang terpantau. Dalam laporan ini, jarak pandang setelah dua sortie disebut meningkat dibandingkan keadaan sebelumnya, ketika angka yang tercatat hanya 25 meter.

Selain perkembangan jarak pandang, kualitas udara di Palembang turut menjadi perhatian. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Palembang dilaporkan menurun. Sebelum penyemaian dilakukan, kualitas udara berada dalam kategori berbahaya. Informasi ini menunjukkan kondisi yang melatarbelakangi perhatian terhadap kualitas udara, sekaligus perkembangan ISPU yang dilaporkan setelah kegiatan berlangsung. Secara keseluruhan, pelaksanaan penyemaian berlangsung dalam tiga sortie dari Kamis hingga Jumat, dengan jumlah dry ice mencapai 2,4 ton. Sementara itu, jarak pandang yang sempat hanya 25 meter dilaporkan meningkat menjadi sekitar 2.000 meter setelah dua sortie, disertai penurunan ISPU Palembang dari kondisi sebelumnya yang masuk kategori berbahaya.

BPBD Sumatera Selatan berharap penyemaian dry ice dapat kembali dilakukan sebagai salah satu upaya membantu mengurangi kabut asap yang masih menyelimuti Palembang. Harapan tersebut muncul setelah kegiatan penyemaian sebelumnya diikuti perbaikan jarak pandang. Namun, kondisi itu belum cukup untuk memastikan bahwa penyemaian menjadi penyebab tunggal perubahan tersebut. Kabut asap dapat dipengaruhi beragam faktor, sehingga perubahan yang terlihat perlu dinilai dengan cermat sebelum dampaknya dinyatakan secara pasti. Karena itu, kemungkinan pelaksanaan kembali penyemaian masih perlu mempertimbangkan hasil pemantauan dan koordinasi dengan instansi terkait, sekaligus perkembangan kondisi di lapangan.

BPBD menegaskan bahwa penyemaian yang telah dilakukan masih berstatus uji coba. Efektivitasnya belum menjadi kesimpulan final, baik dalam hal mengurangi kabut asap maupun memperbaiki jarak pandang. Untuk mendapatkan penilaian yang lebih terukur, direncanakan kajian bersama BMKG, BNPB, dan Kementerian Kehutanan. Kajian tersebut akan menelaah dampak penyemaian berdasarkan kondisi cuaca dan pengamatan yang tersedia, termasuk apakah perubahan jarak pandang dapat dikaitkan dengan kegiatan tersebut. Para pihak juga akan menilai berapa lama pengaruh penyemaian dapat bertahan setelah pelaksanaan, sehingga informasi mengenai manfaat dan batas waktunya tidak hanya bergantung pada pengamatan sesaat.

Iqbal menyampaikan bahwa evaluasi perlu dilakukan secara berkelanjutan, dengan memperhatikan dinamika kabut asap serta perubahan kondisi atmosfer. Pengamatan tidak hanya akan melihat keadaan saat penyemaian berlangsung, tetapi juga perkembangan pada waktu-waktu berikutnya. Salah satu hal yang turut diperhatikan adalah kemungkinan kaitan perbedaan suhu pada siang dan malam dengan penurunan kabut asap pada malam hari. Hubungan tersebut masih perlu dikaji, bukan dianggap sebagai penjelasan yang sudah terbukti. Dengan melibatkan BMKG, BNPB, dan Kementerian Kehutanan, BPBD berharap penilaian dapat membedakan dampak penyemaian dari pengaruh faktor lain. Hasil kajian nantinya dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan apakah upaya serupa layak dilakukan kembali, serta bagaimana pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kondisi setempat.

Pesawat yang melakukan penyemaian dry ice masih diberangkatkan dari Lampung untuk mendukung upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BPBD berharap membaiknya kondisi udara dan jarak pandang di Palembang dapat membuka peluang bagi operasi penanganan melalui jalur udara. Visibilitas yang lebih baik penting agar pesawat dan helikopter dapat beroperasi dengan lebih aman, sekaligus membantu petugas menentukan langkah sesuai kondisi di lapangan. Perbaikan ini juga diharapkan mengurangi hambatan yang sebelumnya membatasi kegiatan udara, meskipun pelaksanaannya tetap bergantung pada penilaian keselamatan dan perkembangan cuaca. Dengan demikian, keberangkatan pesawat penyemaian dari Lampung tetap menjadi bagian dari upaya yang berjalan, sambil memantau peluang dukungan udara lainnya.

Sementara itu, operasi modifikasi cuaca dengan menggunakan natrium klorida masih menunggu perkembangan awan hujan yang memungkinkan bahan semai disebarkan. Penyemaian tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan jadwal, karena keberhasilannya bergantung pada kondisi atmosfer dan keberadaan awan yang sesuai. Apabila pemantauan menunjukkan atmosfer mendukung terbentuknya awan hujan, BPBD akan berkoordinasi dengan BMKG. Informasi serta analisis BMKG akan menjadi dasar untuk mempertimbangkan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Koordinasi tersebut diperlukan agar tindakan yang diambil sesuai dengan kondisi meteorologis, sekaligus memastikan sumber daya udara digunakan pada waktu yang memungkinkan.