Jakarta | Danantara tengah mengerjakan lebih dari 40 proyek yang mencakup berbagai bidang industri. Cakupan tersebut memperlihatkan luasnya agenda inisiatif yang sedang ditangani, mulai dari sektor yang berkaitan dengan kebutuhan dasar hingga bidang strategis dan teknologi. Paparan mengenai jumlah serta ragam proyek itu disampaikan oleh Chief Technology Officer Danantara, Sigit Puji Santosa, dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta, Senin, 26 Oktober 2026.
Dalam pemaparannya, Sigit menyebut energi sebagai salah satu bidang yang masuk dalam cakupan proyek. Selain itu, terdapat inisiatif di bidang pangan, kesehatan, dan pertanian. Keempat bidang tersebut berhubungan dengan kebutuhan masyarakat dan aktivitas produksi, sehingga menjadi bagian dari peta industri yang disebutkan Danantara. Namun, keterangan yang disampaikan dalam forum tersebut tidak merinci nama ataupun bentuk masing-masing proyek.
Ragam bidang lainnya meliputi telekomunikasi, pertahanan, maritim, dan material. Kehadiran telekomunikasi menandai cakupan industri yang terkait dengan konektivitas, sementara pertahanan dan maritim menunjukkan bahwa daftar tersebut juga mencakup sektor strategis. Bidang material turut disebut sebagai bagian dari keseluruhan peta proyek. Informasi yang tersedia tidak menjabarkan teknologi tertentu, perusahaan pelaksana, ataupun rincian kegiatan dalam setiap bidang itu.
Dengan demikian, lebih dari 40 proyek tersebut tersebar pada sejumlah sektor yang beragam, bukan hanya satu kelompok industri. Daftar yang disampaikan Sigit mencakup energi, pangan, kesehatan, pertanian, telekomunikasi, pertahanan, maritim, dan material. Paparan ini memberikan gambaran umum tentang keluasan bidang yang dijangkau oleh inisiatif Danantara. Rincian yang disampaikan berfokus pada jumlah proyek dan sektor terkait, tanpa memberikan keterangan lebih lanjut mengenai status, nilai investasi, maupun jadwal pengerjaan. Karena itu, informasi tersebut dapat dipahami sebagai pemetaan cakupan bidang, bukan uraian lengkap tentang setiap proyek yang sedang dikerjakan. Penyampaian ini berlangsung dalam forum teknologi dan investasi yang digelar di Jakarta pada 26 Oktober 2026, sebagaimana dicatat dalam keterangan mengenai acara tersebut.
Inisiatif energi yang disebutkan Sigit mencakup sejumlah teknologi dan tahapan pengembangan, dari pembangkit berbasis sumber terbarukan hingga pengolahan bahan baku dan limbah. Salah satu agenda yang disorot adalah pengembangan tenaga surya dengan kapasitas 100 gigawatt. Skala kapasitas tersebut menunjukkan besarnya sasaran yang dibahas, meski keterangan yang disampaikan tidak merinci jadwal pembangunan, lokasi proyek, maupun tahapan pencapaiannya. Karena itu, rencana tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari daftar inisiatif, bukan sebagai kapasitas yang telah beroperasi. Selain surya, Sigit juga menyebut pembangkit listrik tenaga nuklir sebagai salah satu bidang yang masuk dalam cakupan pengembangan energi.
Agenda lainnya adalah konversi batu bara menjadi dimetil eter atau DME. Menurut keterangan Sigit, upaya tersebut ditujukan untuk mengurangi ketergantungan pada LPG, yang selama ini memperoleh subsidi dalam jumlah besar. Tujuan itu merupakan penjelasan narasumber mengenai alasan inisiatif DME dibahas; keterangan tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa ketergantungan telah berkurang atau bahwa penghematan subsidi sudah tercapai. Pengembangan kilang juga termasuk dalam ragam inisiatif yang disebutkan. Penyebutan ini menunjukkan adanya perhatian pada fasilitas pengolahan energi, tetapi informasi yang tersedia belum menjelaskan jenis kilang, kapasitas, ataupun rencana pelaksanaannya secara terperinci.
Di sisi teknologi penyimpanan dan mobilitas, Sigit turut menyebut pengembangan baterai untuk kendaraan listrik. Inisiatif ini hadir berdampingan dengan agenda energi lainnya, tanpa keterangan lebih lanjut mengenai teknologi, bahan baku, atau skema produksi yang akan digunakan. Pengolahan limbah menjadi energi juga masuk dalam daftar. Pendekatan tersebut merujuk pada pemanfaatan limbah sebagai sumber energi, meski belum disampaikan jenis limbah maupun metode konversinya. Secara keseluruhan, daftar yang dipaparkan mencakup tenaga surya, nuklir, DME dari batu bara, kilang, baterai kendaraan listrik, dan energi dari limbah. Ragam itu menggambarkan luasnya bidang yang dibicarakan, sementara rincian proyek dan hasilnya masih bergantung pada informasi lanjutan dari pihak terkait.
Dalam peta inisiatif Danantara, pangan dan kesehatan tercantum sebagai bidang yang turut mendapat perhatian. Rangkaian yang dipaparkan mencakup pengembangan produk farmasi biologis, vaksin, serta bahan baku obat-obatan. Penyebutan bidang-bidang tersebut menggambarkan cakupan proyek yang masuk dalam daftar inisiatif, bukan keterangan bahwa produk telah selesai dikembangkan, diproduksi, atau tersedia untuk masyarakat. Pengembangan farmasi biologis dan vaksin, misalnya, membutuhkan riset, fasilitas produksi, tenaga ahli, serta proses pengujian dan pemenuhan standar yang relevan.
Perhatian terhadap bahan baku obat juga menjadi bagian penting dari agenda kesehatan. Ketersediaan bahan baku dapat berkaitan dengan ketahanan rantai pasok dan kapasitas produksi dalam negeri. Namun, rincian mengenai bentuk proyek, lokasi, jadwal, mitra, maupun tahapan pelaksanaannya tidak dijelaskan dalam daftar yang dipaparkan. Karena itu, seluruh unsur tersebut sebaiknya dipahami sebagai inisiatif yang disebutkan, tanpa mengasumsikan bahwa pembangunan atau operasionalnya telah berlangsung.
Di bidang telekomunikasi dan teknologi digital, Sigit memaparkan sejumlah gagasan yang mencakup kecerdasan buatan (AI) nasional yang berdaulat, e-commerce nasional, dan cloud nasional. Daftar itu juga memuat pusat data berkapasitas 1 gigawatt, blockchain nasional, serta sistem kepercayaan (trust systems) untuk teknologi digital. Masing-masing disebut sebagai proyek atau inisiatif dalam cakupan agenda yang disampaikan. Kapasitas 1 gigawatt merujuk pada rincian yang disebut untuk pusat data, bukan bukti bahwa fasilitas dengan kapasitas tersebut telah dibangun atau beroperasi.
Rangkaian teknologi tersebut mencakup lapisan yang berbeda: kemampuan komputasi dan penyimpanan, layanan perdagangan digital, kecerdasan buatan, serta infrastruktur pencatatan dan kepercayaan. Jika dikembangkan, unsur-unsur itu dapat berkaitan dengan kebutuhan tata kelola data, keamanan, interoperabilitas, dan kepastian bagi pengguna. Akan tetapi, daftar yang dipaparkan belum dengan sendirinya menetapkan rancangan teknis atau model penerapan. Dengan demikian, proyek pangan, kesehatan, telekomunikasi, dan teknologi digital tersebut perlu dibaca sebagai agenda yang disebutkan dalam peta inisiatif Danantara, bukan sebagai capaian yang sudah terealisasi.
Di luar sektor energi dan teknologi digital, peta inisiatif Danantara juga mencakup bidang pertahanan, maritim, dan kedirgantaraan. Cakupan ini menempatkan kebutuhan penguatan kapabilitas pertahanan berdampingan dengan pengembangan sistem canggih untuk lingkungan kelautan. Ranah maritim dapat berkaitan dengan teknologi dan sarana yang mendukung kegiatan di laut, sementara bidang kedirgantaraan memperluas perhatian pada kemampuan yang terkait dengan ruang udara. Uraian tersebut menunjukkan luasnya kelompok sektor yang masuk dalam peta, tetapi tidak merinci bentuk setiap proyek, pihak pelaksana, maupun jadwalnya.
Pada klaster pertahanan, perhatian diarahkan pada peningkatan kapabilitas, termasuk pemanfaatan sistem yang lebih maju. Untuk bidang maritim, cakupan yang disebut meliputi sistem canggih kelautan, yang dapat menjadi bagian dari kebutuhan operasional dan pengelolaan aktivitas laut. Kedua ranah ini memiliki keterkaitan, namun tetap merupakan kategori yang berbeda dalam peta inisiatif. Penyebutan bidang kedirgantaraan turut melengkapi cakupan tersebut. Karena informasi yang tersedia tidak menjelaskan rincian teknis atau tahapan pelaksanaan, kategori-kategori ini sebaiknya dipahami sebagai area perhatian, bukan sebagai bukti bahwa proyek tertentu sudah berjalan atau mencapai hasil tertentu.
Klaster material maju melengkapi cakupan sektoral itu dengan sejumlah bahan dan teknologi penting. Daftar yang disebut mencakup unsur tanah jarang, tembaga, baja tahan karat, pelat baja, serta berbagai material canggih lainnya. Material-material tersebut memiliki karakter dan kegunaan yang beragam, sehingga pencantumannya menandakan perhatian pada kelompok bahan yang luas, bukan hanya satu komoditas. Kategori lain juga meliputi semikonduktor, termasuk chip dan perangkat komputasi. Dengan demikian, cakupan peta membentang dari bahan dasar hingga komponen teknologi.
Baca juga: Material Tambang Diduga dari Luar Koordinat IUP, PT Gondo Jaya Disorot






