Polemik Pusat Data di Georgia: Puluhan Juta Galon Air Terpakai Tanpa Tagihan

Polemik Pusat Data di Georgia: Puluhan Juta Galon Air Terpakai Tanpa Tagihan

Kota Fayetteville | Warga Fayetteville, Georgia, Amerika Serikat, memprotes penggunaan air dalam jumlah besar oleh kampus pusat data Quality Technology Services (QTS). Fasilitas tersebut dilaporkan telah memakai hampir 30 juta galon air, atau sekitar 113 juta liter, selama berbulan-bulan. Persoalan itu mencuat setelah diketahui bahwa pemakaian air tidak tercatat secara semestinya dan tidak ditagihkan kepada perusahaan, sehingga beban penggunaan sumber daya tersebut tidak tercermin dalam rekening layanan publik.

Besarnya konsumsi air menjadi perhatian utama karena berlangsung ketika wilayah Fayetteville menghadapi tekanan kekeringan. Sebelumnya, pemerintah setempat telah meminta warga menghemat air untuk menjaga ketersediaan pasokan. Imbauan itu mencakup pembatasan kegiatan rumah tangga dan larangan menyiram halaman pada waktu tertentu. Karena itu, kabar bahwa fasilitas industri dapat menggunakan puluhan juta galon tanpa pencatatan dan pembayaran yang jelas memicu pertanyaan mengenai pengawasan, keadilan, serta prioritas pengelolaan air.

Protes warga tidak hanya menyoroti nilai air yang digunakan, tetapi juga transparansi hubungan pengelola utilitas dan perusahaan pusat data. Masyarakat meminta penjelasan tentang bagaimana konsumsi QTS dapat berlangsung berbulan-bulan tanpa masuk ke sistem penagihan secara benar. Mereka juga mengkhawatirkan dampaknya terhadap pasokan lokal apabila ekspansi pusat data terus berjalan. Peristiwa ini memperlihatkan ketegangan kebutuhan industri digital yang membutuhkan fasilitas komputasi berskala besar dan kewajiban pemerintah melindungi sumber daya air, terutama ketika warga diminta mengurangi pemakaian dalam kondisi kering.

Hasil pemeriksaan otoritas pengelola air Fayette County mengungkap adanya dua sambungan air berskala industri yang menuju kompleks pusat data milik QTS. Temuan tersebut menjadi perhatian karena kedua sambungan itu tidak tercatat secara normal dalam mekanisme pengelolaan dan penagihan air setempat. Pemeriksaan dilakukan setelah muncul pertanyaan mengenai besarnya konsumsi air di fasilitas pusat data, yang membutuhkan pasokan signifikan untuk mendukung sistem pendingin dan operasional perangkat komputasi.

Menurut hasil pemeriksaan, salah satu sambungan dipasang tanpa sepengetahuan pihak berwenang. Artinya, instalasi tersebut tidak tercantum dalam informasi yang dimiliki otoritas ketika jaringan dan penggunaan air diperiksa. Sambungan kedua memang diketahui keberadaannya, tetapi tidak terhubung dengan akun perusahaan QTS. Akibatnya, pemakaian melalui jalur tersebut tidak masuk ke sistem penagihan resmi dan tidak menghasilkan tagihan rutin sebagaimana mestinya.

Setelah persoalan itu terungkap, QTS dikenai tagihan sebesar US$147.474. Nilai tersebut setara dengan hampir Rp2,6 miliar, bergantung pada kurs yang digunakan. Tagihan itu mencakup penggunaan lebih dari 29 juta galon air. Untuk menggambarkan skalanya, volume tersebut disebut sebanding dengan sekitar 44 kolam renang berukuran Olimpiade. Perbandingan ini memperlihatkan besarnya konsumsi air yang terakumulasi dari sambungan industri tersebut, meskipun penggunaan itu sebelumnya tidak tercermin dalam rekening perusahaan.

Berdasarkan laporan bertanggal Rabu, 14 Oktober 2026, QTS telah melunasi seluruh tagihan setelah menerima pemberitahuan resmi dari otoritas terkait. Pembayaran itu menyelesaikan kewajiban finansial atas penggunaan air yang ditemukan dalam pemeriksaan. Namun, kasus ini tetap menyoroti pentingnya pencatatan sambungan industri, pengaitan instalasi dengan akun pelanggan yang tepat, serta pengawasan terhadap konsumsi air pada kompleks pusat data. Kebutuhan pendinginan fasilitas digital yang terus berkembang membuat transparansi penggunaan sumber daya menjadi bagian penting dalam pengelolaan infrastruktur dan layanan publik.

Direktur Sistem Air Fayette County, Vanessa Tigert, menjelaskan bahwa penggunaan air dalam jumlah besar oleh QTS terjadi akibat kekeliruan prosedur. Pada saat itu, wilayah tersebut sedang beralih dari sistem pencatatan lama ke sistem meteran pintar. Dalam masa transisi tersebut, mekanisme pencatatan dan penagihan tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga puluhan juta galon air tercatat telah digunakan tanpa segera disertai tagihan kepada perusahaan.

Setelah persoalan itu diketahui, QTS kemudian melakukan pembayaran atas penggunaan air tersebut. Namun, otoritas setempat memutuskan tidak menjatuhkan denda kepada perusahaan. Keputusan itu memicu kemarahan publik, terutama karena warga Fayette County sebelumnya diminta membatasi konsumsi air untuk menghadapi kondisi kekeringan. Bagi banyak warga, tidak adanya sanksi menimbulkan kesan bahwa aturan penghematan air diterapkan secara tidak seimbang.

James Clifton, warga yang pertama kali membongkar dokumen tagihan tersebut, menyampaikan protes terhadap kebijakan itu. Ia menilai pemerintah menekan warga agar mengurangi penggunaan air, sementara QTS justru menguras persediaan air daerah. Pernyataan tersebut mencerminkan kekecewaan warga yang merasa telah diminta menanggung beban konservasi, sedangkan perusahaan besar tidak segera menghadapi konsekuensi atas pemakaian airnya.

Dokumen yang diperiksa Clifton juga menunjukkan besarnya posisi QTS dalam konsumsi air di wilayah tersebut. QTS disebut sebagai salah satu konsumen air terbesar di Fayette County dan menempati posisi pertama berdasarkan volume pemakaian pada sebagian besar bulan. Data itu memperkuat perhatian publik terhadap pengawasan pelanggan industri serta kejelasan prosedur pencatatan. Kasus ini juga mendorong pertanyaan mengenai kesiapan sistem meteran pintar, mekanisme verifikasi tagihan, dan perlakuan yang seharusnya diberikan kepada perusahaan ketika terjadi kesalahan administratif.

QTS membantah anggapan bahwa fasilitas pusat datanya di Fayetteville menggunakan puluhan juta galon air untuk menjalankan sistem pendingin. Menurut perusahaan, angka pemakaian air yang tinggi pada tahun sebelumnya tidak menggambarkan kebutuhan operasional fasilitas secara permanen. Lonjakan tersebut dikaitkan dengan aktivitas pembangunan yang bersifat sementara, bukan dengan konsumsi rutin setelah kampus pusat data beroperasi penuh.

QTS menjelaskan bahwa air digunakan selama pekerjaan konstruksi untuk mencampur beton, mengendalikan debu, serta mendukung persiapan lahan. Berbagai kegiatan tersebut memang memerlukan pasokan air dalam jumlah besar selama tahap pembangunan, terutama ketika pekerjaan tanah dan infrastruktur berlangsung secara intensif. Perusahaan menyatakan bahwa setelah fasilitas selesai dan beroperasi normal, penggunaan air akan terbatas pada kebutuhan domestik, termasuk kamar mandi dan dapur bagi pekerja serta pengguna gedung.

Penjelasan ini menempatkan perdebatan pada perbedaan konsumsi air selama konstruksi dan kebutuhan air dalam kegiatan operasional sehari-hari. Namun, pembangunan kampus pusat data QTS di Fayetteville masih berlangsung dan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga hingga lima tahun untuk selesai. Karena itu, besaran konsumsi air pada masa mendatang masih menjadi perhatian publik, khususnya di wilayah yang menghadapi tekanan terhadap ketersediaan air.

Perdebatan tersebut berlangsung dalam konteks pertumbuhan industri pusat data di Georgia. Negara bagian itu telah memiliki lebih dari 200 fasilitas data center, sementara penolakan warga terhadap pembangunan baru terus bertambah. Kekhawatiran mengenai air, listrik, dampak lingkungan, dan perubahan tata ruang turut mendorong tuntutan agar proyek-proyek tersebut diawasi lebih ketat. Pada bulan sebelumnya, Dewan Kota Fayetteville memutuskan melarang pembangunan pusat data baru di seluruh zona kota. Keputusan itu diambil ketika kawasan tersebut berada di tengah kondisi kekeringan, sehingga klaim mengenai sumber dan pola pemakaian air menjadi bagian penting dalam menilai kelanjutan rencana pembangunan.

Baca juga: Tanggap Darurat, Kodim Bojonegoro Terus Pasok Puluhan Ribu Liter Air Bersih ke Wilayah Kekeringan