Pusatphoria 2026 Dorong Ekonomi Kreatif dan Buka Ruang Belajar bagi Siswa

Pusatphoria 2026 Dorong Ekonomi Kreatif dan Buka Ruang Belajar bagi Siswa

Kota Administrasi Jakarta Pusat Eric PZ Lumbun | Wakil Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat Eric PZ Lumbun menekankan bahwa ekonomi kreatif perlu didorong agar kreativitas tidak berhenti sebagai ruang berekspresi. Kegiatan kreatif dapat menjadi titik awal untuk mengembangkan gagasan, keterampilan, dan karya menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi. Karena itu, dukungan terhadap para pelaku dan calon pelaku kreatif perlu diarahkan pada kesempatan untuk mengembangkan usaha, bukan hanya pada penyediaan ruang untuk menampilkan karya. Pandangan ini menempatkan kreativitas sebagai potensi yang dapat terhubung dengan kebutuhan masyarakat dan kegiatan ekonomi.

Menurut Eric, salah satu sasaran pengembangan ekonomi kreatif adalah membuka peluang usaha. Gagasan yang berangkat dari kreativitas dapat mendorong seseorang merintis produk atau layanan, menguji kemungkinan pasar, dan membangun kegiatan usaha secara bertahap. Peluang tersebut dapat hadir di berbagai bidang, bergantung pada kemampuan, minat, serta sumber daya yang dimiliki masyarakat. Namun, sasaran ini merupakan arah yang perlu diupayakan, bukan pernyataan bahwa usaha tertentu telah terbentuk atau berhasil. Pendekatan yang mendorong kreativitas sekaligus pemahaman kewirausahaan dapat membantu masyarakat melihat karya sebagai kemungkinan untuk dikembangkan secara produktif.

Sasaran lain yang disampaikan ialah menciptakan lapangan kerja dan memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. Apabila potensi kreatif berkembang menjadi kegiatan usaha, kebutuhan terhadap tenaga kerja dapat terbuka seiring dengan proses pengembangan tersebut. Pada saat yang sama, kegiatan ekonomi kreatif diharapkan dapat memperluas sumber penghasilan dan menggerakkan aktivitas ekonomi di lingkungan masyarakat. Harapan itu menegaskan pentingnya upaya yang berkelanjutan, termasuk membangun keterampilan dan mempertemukan gagasan dengan peluang usaha. Dengan demikian, dorongan terhadap ekonomi kreatif tidak hanya berkaitan dengan kebebasan berekspresi, tetapi juga dengan sasaran ekonomi yang ingin diwujudkan: usaha yang berpeluang tumbuh, kesempatan kerja, dan kontribusi bagi perekonomian masyarakat.

Eric menilai perkembangan ekonomi kreatif di Jakarta Pusat tidak dapat bertumpu pada satu pihak saja. Pemerintah memiliki peran dalam membangun kebijakan dan menyediakan ruang kegiatan, sementara sekolah dan lembaga pendidikan dapat membantu siswa mengenali bidang kreatif sejak dini. Komunitas berkontribusi melalui pengalaman langsung, jaringan, serta kegiatan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Di sisi lain, pelaku industri kreatif dapat berbagi wawasan mengenai proses kerja, standar profesional, dan perubahan peluang di pasar. Kolaborasi antarpihak tersebut penting agar pengembangan sektor kreatif berjalan terarah dan memberi manfaat yang lebih luas.

Kerja bersama juga memungkinkan kegiatan kreatif menjadi ruang belajar yang relevan bagi generasi muda. Siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan dari kelas, tetapi dapat mencoba gagasan, bekerja dalam tim, menyelesaikan tantangan, dan melihat bagaimana sebuah karya dikembangkan. Pengalaman seperti ini membantu mereka mengasah kreativitas sekaligus keterampilan praktis, termasuk komunikasi, perencanaan, pemecahan masalah, dan penggunaan teknologi. Kesempatan untuk berinteraksi dengan komunitas maupun praktisi dapat memperluas pemahaman siswa tentang beragam bidang, dari desain dan seni hingga produksi konten dan kewirausahaan. Dengan begitu, potensi mereka dapat tumbuh melalui proses yang nyata, bukan sekadar pengenalan teori.

Menurut Eric, membuka akses terhadap pengalaman tersebut turut membantu siswa memahami bahwa ekonomi kreatif menawarkan beragam jalur masa depan. Sebagian mungkin tertarik membangun usaha, sedangkan yang lain dapat memilih profesi sebagai pekerja kreatif atau mengembangkan keahlian tertentu. Pengenalan terhadap peluang ini perlu disertai ruang untuk bereksperimen, bimbingan yang memadai, serta hubungan berkelanjutan pendidikan dan industri. Kegiatan seperti Pusatphoria dapat menjadi salah satu jembatan yang mempertemukan siswa dengan gagasan, keterampilan, dan pelaku di sektor kreatif. Agar dampaknya berkelanjutan, kolaborasi perlu dilanjutkan setelah acara, misalnya melalui program pendampingan, lokakarya, atau proyek bersama. Upaya konsisten ini dapat memperkuat ekosistem kreatif Jakarta Pusat sekaligus membantu generasi muda mempersiapkan diri untuk berkontribusi di dalamnya.

Eric mengapresiasi penyelenggaraan lokakarya film dan fesyen dalam Pusatphoria 2026 yang melibatkan siswa-siswi sekolah menengah kejuruan (SMK) di Jakarta Pusat. Menurutnya, kegiatan seperti ini dapat membuka ruang belajar yang lebih dekat dengan dunia kerja dan perkembangan ekonomi kreatif. Siswa tidak hanya memperoleh informasi secara umum, tetapi juga mendapat kesempatan untuk mengenal bidang kreatif melalui kegiatan yang dirancang bersama para praktisi.

Dalam lokakarya film, siswa dapat mempelajari keterampilan dan proses yang berkaitan dengan produksi karya audiovisual. Sementara itu, lokakarya fesyen memberi ruang untuk mengenali bidang yang mencakup gagasan, rancangan, dan pengembangan produk. Kedua bidang tersebut menunjukkan luasnya ragam peran dalam ekonomi kreatif. Keterlibatan praktisi menjadi bagian penting karena mereka dapat membagikan pengetahuan berdasarkan pekerjaan dan keahlian yang dijalani, sekaligus memperkenalkan gambaran mengenai profesi di masing-masing bidang.

Eric menilai siswa perlu memperoleh kesempatan untuk belajar langsung dari orang-orang yang berkecimpung di industri kreatif. Pertemuan tersebut dapat menjadi sarana bagi siswa untuk bertanya, memahami keterampilan yang dibutuhkan, serta berlatih melalui kegiatan yang relevan. Kesempatan berlatih juga membantu peserta mengenali proses kreatif secara lebih konkret, tanpa membatasi pembelajaran pada penjelasan di ruang kelas. Lokakarya ini diarahkan sebagai ruang pengenalan dan pembelajaran, bukan sekadar kegiatan untuk menyaksikan hasil karya.

Selain mengenal profesi, siswa juga perlu memahami bahwa ekonomi kreatif menawarkan peluang usaha. Wawasan mengenai proses produksi, pengembangan karya, dan kebutuhan pasar dapat memperluas cara pandang mereka terhadap kemungkinan berkarier maupun membangun kegiatan usaha di masa depan. Melalui lokakarya film dan fesyen, Pusatphoria 2026 menghadirkan kesempatan bagi siswa SMK untuk mengeksplorasi minat, mengenali bidang yang sesuai, dan memahami kompetensi yang dapat dikembangkan. Eric menekankan pentingnya ruang semacam ini agar generasi muda dapat memperoleh bekal awal untuk mempertimbangkan pilihan profesi dan peluang di sektor kreatif.Pusatphoria 2026 diselenggarakan oleh Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Pusat sebagai bagian dari peringatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah subsektor ekonomi kreatif, yakni musik, fesyen, kuliner, dan film. Ragam bidang tersebut memberi gambaran mengenai luasnya ekosistem kreatif sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal karya, proses, dan potensi yang berkembang di dalamnya.

Selain menampilkan berbagai subsektor, Pusatphoria juga menyediakan kegiatan pembelajaran melalui lokakarya film dan fesyen. Sebanyak 100 peserta mengikuti lokakarya tersebut, terutama siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) yang memiliki program keahlian terkait. Keterlibatan siswa menjadi bagian penting karena mereka dapat memperoleh ruang untuk memperluas pengetahuan, mengenali praktik di industri kreatif, serta mengembangkan minat dan keterampilan sesuai bidang yang dipelajari. Kehadiran lokakarya juga melengkapi rangkaian acara dengan pengalaman edukatif, bukan hanya menyuguhkan hiburan atau pameran karya.

Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Pusat, Shinta Nindyawati, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi edukatif sekaligus ruang apresiasi bagi para pelaku industri kreatif. Melalui pertemuan pelaku, peserta didik, dan masyarakat, Pusatphoria diharapkan dapat mempertemukan beragam gagasan serta mendorong pemahaman mengenai peran subsektor kreatif. Apresiasi terhadap karya dan proses para pelaku juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem yang saling mendukung.

Pelaksanaan Pusatphoria 2026 turut mencerminkan dukungan pemerintah kota terhadap perkembangan ekonomi kreatif. Dukungan tersebut diwujudkan dengan menyediakan ruang bagi masyarakat untuk berekspresi, berkolaborasi, dan mempromosikan karya. Dengan menghadirkan musik, fesyen, kuliner, film, serta lokakarya yang melibatkan siswa SMK, acara ini menghubungkan pembelajaran dengan pengenalan industri. Ruang semacam itu dapat membantu peserta melihat peluang di bidang kreatif dan mendorong pelaku untuk memperkenalkan karyanya kepada khalayak lebih luas.

Baca juga: TNI Fair 2026, Wujudkan Ruang Edukasi dan Kedekatan TNI dengan Masyarakat