Jakarta | Legenda Manchester United, Ryan Giggs, mengaku heran melihat kebiasaan pemain sepak bola modern yang saling berpelukan sebelum pertandingan dimulai. Menurutnya, gestur tersebut kini cukup sering terlihat dalam berbagai laga, baik ketika pemain memasuki lapangan maupun sesaat sebelum peluit pembuka dibunyikan. Ia menilai pemandangan itu menunjukkan adanya perubahan dalam cara pemain membangun suasana menjelang pertandingan, dibandingkan dengan kebiasaan yang berlaku pada masanya.
Pernyataan tersebut disampaikan Giggs dalam konferensi pers di Jakarta pada Jumat (9/10). Dalam kesempatan itu, mantan gelandang asal Wales tersebut membahas sejumlah hal mengenai sepak bola, termasuk perbedaan budaya pemain pada era sebelumnya dan generasi masa kini. Ia menuturkan bahwa berpelukan sebelum pertandingan bukan bagian dari rutinitas yang pernah dijalani ketika masih aktif membela Manchester United maupun tim nasional Wales.
Giggs mengatakan dirinya tidak terbiasa menunjukkan kedekatan semacam itu kepada lawan sebelum pertandingan. Pada eranya, persiapan menjelang laga lebih banyak diwarnai konsentrasi, ketegangan, dan keinginan untuk memenangkan duel di lapangan. Sapaan tetap dilakukan sebagai bentuk penghormatan, tetapi tidak selalu disertai pelukan atau gestur emosional seperti yang kerap terlihat sekarang. Karena itu, kebiasaan tersebut terasa asing baginya dan menjadi contoh perubahan karakter sepak bola modern.
Meski menyampaikan keheranan, Giggs tidak serta-merta menganggap kebiasaan para pemain masa kini sebagai sesuatu yang keliru. Ia hanya menegaskan bahwa setiap generasi memiliki cara berbeda dalam berinteraksi dan mempersiapkan diri sebelum bertanding. Bagi Giggs, perbedaan itu mencerminkan perkembangan budaya sepak bola, yang kini semakin menonjolkan persahabatan, rasa saling menghargai, serta hubungan antarpemain di luar persaingan selama 90 menit. Pengamatan tersebut sekaligus memperlihatkan sejauh mana atmosfer pertandingan telah berubah sejak dirinya masih menjadi pemain aktif.
Ryan Giggs melihat adanya perubahan yang cukup jelas dalam cara pemain sepak bola berinteraksi sebelum pertandingan. Menurut mantan pemain Manchester United tersebut, hubungan antarpemain pada masa aktifnya cenderung lebih terbatas dan berlangsung secara alami. Seorang pemain biasanya menyapa atau berbincang dengan lawan apabila mereka memang memiliki hubungan pribadi, pernah bermain bersama, atau tergabung dalam lingkungan tim yang sama. Interaksi semacam itu tidak otomatis terjadi kepada semua pemain yang ditemui di lapangan.
Giggs juga menjelaskan bahwa pelukan sebelum laga bukanlah kebiasaan umum pada zamannya. Pemain tidak terbiasa menunjukkan kedekatan fisik dengan setiap lawan, terlebih ketika pertandingan memiliki tingkat persaingan tinggi. Sapaan tetap dapat dilakukan, tetapi bentuknya lebih sederhana dan bergantung pada kedekatan masing-masing individu. Pola tersebut mencerminkan suasana kompetisi yang lebih kaku, meskipun hubungan profesional tetap berjalan dengan baik.
Dalam pandangannya, para pemain pada masa lalu bahkan tidak selalu saling menyukai, terutama ketika berada di kubu yang berseberangan dalam rivalitas besar. Namun, kondisi itu tidak berarti mereka kehilangan rasa hormat terhadap lawan. Giggs menekankan bahwa para pemain tetap memahami kualitas individu dan kekuatan tim yang mereka hadapi. Kesadaran tersebut membuat rivalitas berlangsung serius, tetapi masih disertai penghargaan terhadap kemampuan pihak lain. Sementara itu, generasi sekarang dinilai lebih terbuka dalam menampilkan keakraban sebelum pertandingan, termasuk melalui pelukan dan percakapan santai. Perubahan itu dapat dipengaruhi oleh meningkatnya hubungan lintas klub, media sosial, serta budaya sepak bola yang semakin global. Bagi Giggs, perbedaan tersebut bukan semata-mata menunjukkan bahwa salah satu generasi lebih baik, melainkan menggambarkan perubahan norma sosial dalam olahraga. Interaksi yang lebih hangat kini dianggap wajar, sedangkan dahulu batas persahabatan dan persaingan cenderung dijaga dengan lebih tegas.
Bagi Ryan Giggs, persaingan merupakan bagian penting dari semangat kompetisi sepak bola pada masa lalu. Pertandingan tidak hanya dipahami sebagai kesempatan untuk menunjukkan kemampuan teknis, tetapi juga sebagai arena untuk menguji keberanian, ketahanan mental, dan keinginan untuk menang. Karena itu, hubungan pemain dari dua tim tidak selalu dibangun melalui kedekatan sejak awal. Di lapangan, mereka datang dengan tujuan yang berbeda dan berusaha mempertahankan kepentingan tim masing-masing.
Giggs melihat rivalitas tersebut sebagai unsur yang membuat pertandingan terasa lebih hidup. Kontak fisik, adu argumen, serta perbedaan sikap selama permainan dianggap sebagai bagian dari dinamika olahraga, selama tetap berada dalam batas kewajaran. Seorang pemain tidak perlu bersikap bermusuhan secara pribadi, tetapi juga tidak harus menghilangkan jarak kompetitif dengan lawannya. Bagi generasi sebelumnya, sikap saling menghormati justru dapat muncul melalui persaingan yang kuat, bukan melalui keakraban yang ditunjukkan sejak sebelum pertandingan dimulai.
Setelah pertandingan berakhir, interaksi antarpemain biasanya berlangsung sederhana. Mereka berjabat tangan, menyampaikan pujian singkat, kemudian kembali ke ruang ganti atau meninggalkan lapangan. Tidak ada tuntutan untuk segera berbincang panjang, bertukar cerita, atau mengenal lawan secara lebih dekat. Hubungan profesional sudah dianggap cukup selama setiap pemain mampu menghargai perjuangan pihak lain dan menerima hasil pertandingan dengan sikap dewasa.
Situasi tersebut berbeda dengan suasana sepak bola modern yang dinilai semakin hangat dan terbuka. Kebiasaan saling berpelukan sebelum laga menjadi salah satu contohnya. Gestur itu dapat menunjukkan persahabatan, rasa hormat, serta hubungan yang lebih akrab di pemain, tetapi Giggs menilai perubahan tersebut juga membuat batas persahabatan dan rivalitas terlihat lebih tipis. Menurut pandangannya, pemain tidak harus langsung mengenal dekat lawan sebelum bertanding. Persaingan yang sehat tetap memiliki nilai, karena dari sanalah intensitas, emosi, dan daya tarik sebuah pertandingan terbentuk.
Ryan Giggs dikenal sebagai salah satu pemain Wales paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola Inggris. Ia menghabiskan seluruh karier seniornya bersama Manchester United, klub yang dibelanya selama 23 tahun di tim utama. Dalam rentang panjang tersebut, Giggs mencatat 963 penampilan, mencetak 168 gol, dan menyumbangkan 272 assist. Angka-angka itu menggambarkan konsistensi sekaligus besarnya peran pemain sayap tersebut dalam perjalanan Manchester United meraih berbagai kesuksesan. Giggs akhirnya memutuskan untuk gantung sepatu pada Juli 2014, setelah melewati salah satu karier terpanjang dan paling berprestasi di sepak bola modern.
Setelah tidak lagi bermain secara profesional, pandangan Giggs mengenai hubungan antarpemain perlahan berubah. Ketika masih aktif, perhatian utamanya adalah pertandingan, persaingan, dan upaya mengalahkan lawan di lapangan. Namun, setelah pensiun, ia mulai menyadari nilai hubungan yang dapat terjalin dengan para pemain yang dahulu menjadi rival. Giggs menceritakan bahwa dirinya pernah bermain bersama Gilberto dan Robert dalam berbagai kegiatan. Dari pengalaman tersebut, ia menyadari bahwa keduanya merupakan sosok yang hebat, sekaligus menyenangkan untuk diajak duduk dan minum kopi. Pertemuan di luar suasana kompetitif membuatnya melihat sisi pribadi para mantan lawan yang sebelumnya tidak banyak ia kenal.
Kini, Giggs cukup sering menghadiri berbagai acara bersama mantan rivalnya pada masa lalu. Ia menyaksikan bagaimana hubungan antarpemain berkembang menjadi lebih akrab setelah tekanan pertandingan dan persaingan profesional berakhir. Para pemain yang dahulu saling berhadapan dapat berbincang, bertukar pengalaman, bahkan membangun pertemanan yang berlangsung di luar sepak bola. Bagi Giggs, perubahan itu menjadi pelajaran penting tentang arti relasi dalam olahraga. Pada masa aktifnya, ia menganggap kedekatan semacam itu tidak diperlukan karena setiap pemain berada di sisi yang berbeda. Setelah pensiun, ia justru memahami bahwa persaingan hanya merupakan satu bagian dari perjalanan, sedangkan hubungan yang terbentuk sesudahnya dapat bertahan jauh lebih lama.
