Saat Anak Ditinggal Tanpa Pengawasan: Dampak Emosional dan Pentingnya Rasa Aman

Saat Anak Ditinggal Tanpa Pengawasan: Dampak Emosional dan Pentingnya Rasa Aman

Samarinda | Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo menjelaskan bahwa anak yang ditinggal sendirian tanpa pengawasan orang dewasa dapat merasa takut dan kehilangan rasa aman. Ketika tidak ada orang dewasa yang mendampingi, anak mungkin tidak memahami dengan jelas apa yang sedang terjadi. Situasi tersebut dapat terasa mengancam baginya, terutama bila ia terbangun dan mendapati dirinya sendiri di tempat yang asing. Perasaan takut dalam keadaan seperti itu bukan sekadar soal keberadaan fisik seseorang di dekat anak, tetapi juga berkaitan dengan rasa aman yang dibutuhkan anak saat menghadapi keadaan yang belum ia pahami.

Vera, psikolog lulusan Universitas Indonesia, menekankan bahwa kemampuan anak menghadapi situasi berbeda dari kemampuan orang dewasa. Orang dewasa mungkin dapat mengenali keadaan, mencari penjelasan, lalu menenangkan diri. Anak belum tentu mampu melakukan hal yang sama. Jika terbangun sendirian di tempat asing, ia bisa kesulitan memahami mengapa ia berada di sana atau mengetahui apa yang harus dilakukan. Karena itu, tidak tepat menganggap anak akan otomatis mengerti bahwa keadaan tersebut aman hanya karena orang dewasa menilainya demikian. Cara anak memahami situasi masih terbatas, sehingga pengalaman sendirian dapat terasa membingungkan sekaligus menakutkan.

Perbedaan ini penting diperhatikan ketika orang dewasa menilai pengalaman anak. Anak yang belum dapat menjelaskan ketakutannya dengan jelas tetap mungkin merasa tidak aman. Ia juga belum tentu mampu meredakan rasa takutnya secara mandiri seperti yang dapat dilakukan orang dewasa. Menurut penjelasan Vera, ditinggal sendirian tanpa pengawasan dapat membuat anak merasa kehilangan rasa aman, khususnya saat ia terbangun di lingkungan yang tidak dikenalnya. Dengan memahami sudut pandang anak, orang dewasa dapat melihat bahwa kehadiran dan pengawasan bukan hanya persoalan praktis, melainkan bagian dari kondisi yang membantu anak merasa aman. Perhatian terhadap perasaan tersebut membuat pengalaman anak tidak disamakan begitu saja dengan cara orang dewasa menyikapi keadaan serupa.

Reaksi anak setelah mendadak ditinggal tanpa pengawasan dapat berbeda-beda. Sebagian anak mungkin menjadi lebih lekat dengan orang tua atau pengasuh, terus meminta ditemani, dan merasa gelisah ketika orang dewasa menjauh. Perubahan lain dapat terlihat saat tidur: anak sulit terlelap, terbangun pada malam hari, atau meminta seseorang tetap berada di dekatnya. Ada pula yang mulai takut berpisah, menolak pergi ke sekolah, atau enggan berada di ruangan sendirian. Perilaku ini dapat menjadi cara anak menunjukkan bahwa ia belum merasa tenang setelah mengalami situasi yang membingungkan atau menakutkan.

Namun, seperti dijelaskan Vera, kejadian tersebut tidak otomatis menimbulkan trauma berkepanjangan. Dampaknya dipengaruhi oleh keadaan saat anak ditinggal, termasuk berapa lama ia sendirian dan apakah ia menghadapi risiko atau merasa terancam. Usia serta kemampuan anak memahami kejadian juga berperan. Yang tidak kalah penting adalah respons pengasuh setelahnya: apakah anak didengarkan, ditenangkan, dan diberi penjelasan yang sesuai, atau justru dimarahi dan perasaannya dianggap sepele. Dukungan yang hangat dapat membantu memulihkan rasa aman, sedangkan pengabaian atau respons keras berpotensi memperpanjang kecemasan.

Psikolog anak dan remaja Sani Budiantini Hermawan juga menekankan bahwa usia dan tingkat kematangan memengaruhi cara anak memaknai pengalaman. Anak yang mendadak ditinggal bisa merasa bingung karena belum memahami mengapa orang dewasa pergi, lalu muncul kekhawatiran, ketakutan, bahkan panik. Pada anak yang lebih kecil, perasaan tersebut mungkin tampak sebagai tangisan atau kelekatan; anak yang lebih besar bisa mengungkapkannya melalui pertanyaan, kemarahan, atau sikap menarik diri. Jika pengalaman itu membuat anak merasa orang dewasa tidak dapat dipercaya atau lingkungan tidak aman, dampaknya dapat terlihat dalam hubungan dan rutinitas sehari-hari. Karena itu, pengasuh sebaiknya mengamati perubahan perilaku tanpa langsung memberi label, mengajak anak bercerita dengan tenang, dan menegaskan bahwa ia kini berada dalam keadaan aman. Bila kecemasan menetap atau mengganggu aktivitas, pertimbangkan berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Setelah mengalami peristiwa menakutkan, sebagian anak menunjukkan perubahan dalam cara mereka berpisah dari orang dewasa yang dipercaya. Sani menyampaikan bahwa anak mungkin menjadi enggan ditinggal, terus meminta berada dekat pengasuh, atau tampak gelisah ketika orang tua maupun pengasuh menjauh. Ada pula anak yang merespons dengan marah, menangis, atau menolak mengikuti kegiatan yang sebelumnya dapat dijalani sendiri. Reaksi setiap anak berbeda, sehingga perilaku tersebut sebaiknya dipahami sebagai tanda yang perlu diamati, bukan langsung dianggap sebagai kenakalan atau sikap manja.

Keinginan untuk terus berada di dekat orang dewasa dapat berkembang menjadi keterlekatan yang lebih kuat, terutama ketika anak belum merasa lingkungan sekitarnya aman. Ia mungkin berulang kali memastikan orang tua tetap berada di dekatnya, sulit bermain tanpa ditemani, atau menolak tidur sendiri. Pengasuh dapat menanggapi kebutuhan ini dengan tenang dan konsisten: dengarkan perasaan anak, akui bahwa ia merasa takut, dan beri penjelasan sederhana mengenai siapa yang menjaganya serta kapan orang tua akan kembali. Hindari memaksa anak berpisah secara tiba-tiba atau mempermalukannya karena membutuhkan kedekatan.

Vera menganjurkan orang tua membantu anak menenangkan diri dan membangun kembali rasa aman setelah pengalaman yang menakutkan. Rutinitas yang dapat diperkirakan, kehadiran orang dewasa yang responsif, serta kesempatan untuk bercerita atau bermain dapat mendukung proses tersebut. Orang tua juga perlu memperhatikan apakah perubahan perilaku berlanjut, semakin intens, atau mengganggu tidur, kegiatan belajar, hubungan dengan teman, dan aktivitas sehari-hari. Catat pola yang terlihat dan situasi yang memicunya agar kebutuhan anak lebih mudah dipahami. Jika kesulitan menetap atau menghambat keseharian, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog. Pendampingan profesional dapat membantu anak mengolah pengalaman sesuai usia dan kebutuhannya, sekaligus memberi keluarga arahan untuk merespons dengan tepat.

Dua peristiwa yang diberitakan dari Samarinda dan kawasan Gunung Prau menjadi konteks berbeda dalam pembahasan tentang anak yang berada tanpa pengawasan langsung. Pada Rabu (14/10), seorang anak berusia tiga tahun meninggal setelah terjatuh dari balkon kamar lantai lima sebuah hotel di Samarinda, Kalimantan Timur. Menurut keterangan polisi, orang tua anak tersebut sedang sarapan di restoran hotel ketika kecelakaan terjadi. Informasi yang tersedia menyampaikan urutan dan keadaan itu, tanpa memberikan keterangan lebih lanjut mengenai hasil penyelidikan atau penyebab lain.

Peristiwa lain yang disebut dalam bahan berkaitan dengan rekaman yang beredar, memperlihatkan seorang anak menangis di dalam tenda di lingkungan Gunung Prau, Wonosobo, Jawa Tengah. Anak itu disebut ditinggal orang tuanya, yang melanjutkan perjalanan menuju puncak. Keterangan tersebut menggambarkan situasi dalam rekaman sebagaimana disampaikan, tetapi tidak memuat rincian tambahan tentang waktu kejadian, lamanya anak berada di tenda, ataupun apa yang terjadi setelahnya. Karena itu, detail di luar informasi tersebut tidak dapat dipastikan dari bahan yang tersedia.

Kedua peristiwa ini perlu ditempatkan sebagai konteks pemberitaan secara terpisah, bukan sebagai kejadian yang identik. Latar, tempat, dan informasi yang dilaporkan berbeda, sehingga tidak tepat menyamakan keadaan anak di hotel dengan keadaan anak di kawasan pendakian. Demikian pula, uraian yang tersedia tidak membuktikan adanya hubungan sebab-akibat kedua peristiwa, atau menjadi dasar untuk menarik kesimpulan lebih luas tentang keadaan keluarga yang terlibat. Penyebutan yang cermat membantu pembaca memahami apa yang diketahui tanpa menambahkan dugaan.

Dalam membicarakan keselamatan dan rasa aman anak, penting untuk membedakan fakta yang dilaporkan dari tafsir.

Baca juga: Siaga Hadapi Karhutla, Dandim 1710/Mimika Tekankan Pentingnya Sinergitas | Prajurit Korem 161/Wira Sakti Hadirkan Keceriaan bagi Anak-Anak Terdampak Gempa NTT | Semangat Kemerdekaan Dimulai dari Anak-anak, Siti Nurlaela Dorong Budaya Bermain dan Berkarya